We Never Know

We Never Know
Pasien atau Pelakor?



Dokter Rio kini sudah membuka praktek sendiri di dekat rumahnya. Itu adalah impian mereka berdua setelah menikah. Alasannya agar lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu berdua serta bersama anak-anaknya. Namun Tuhan berkehendak lain. Sejak kepergian Jesica ke rumah rehabilitasi jiwa, klinik praktek milik dokter Rio pun semakin ramai. Dari kalangan berdasi hingga tukang becak sering berobat ke klinik miliknya. Kadang dokter Rio merasa kewalahan menangani pasien-pasiennya. Dia hanya mempunya seorang perawat untuk membantunya serta admin untuk mengatir semuanya.


"Impian kita sudah terwujud sayang, sayangnya kamu ga ada disini denganku," gumamnya selesai praktek.


Dia merebahkan badannya di salah satu ranjang pemeriksaan. Karyawan kliniknya sudah pulang, bahkan rolling doornya hampir tertutup. Tiba-tiba ada seorang pasien. datang dengan mengerang kesakitan. Bukan karena pasien itu yang cantik dan semok lantas dokter Rio mempersilakan pasiennya masuk untuk mendapatkan pertolongan. Wanita muda itu penuh memar dan luka yang terlihat masih baru dan beberapa luka robek masih mengeluarkan darah segar.


"Too....looong....." rintih wanita muda yang hampir pingsan.


Samar-samar dokter Rio mendengarnya dan mengecek ke luar klinik. Benar dugaannya, dengan gesit dan sifat kemanusiaannya, dokter Rio langsung membawa pasiennya masuk. Diobatinya semua luka di sekujur tubuh wanita itu. Setelah semuanya selesai, dokter Rio memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa yang terjadi dengan Anda, maaf saya lancang."


"Aku habis dipukuli oleh suamiku, rumahku di seberang klinik ini. Aku sering mendengar kalau dokter pemilik klinik ini baik dan tampan. Ternyata benar."


"Di pukuli? Dimana suami Anda?"


"Dia semalaman ga pulang, begitu pulang dalm kondisi mabuk berat, dia menghajarku habis-habisan. Aku kewalahan meladeni orang gila itu. Padahal...kami belum lama menikah, tapi aku udah ga kuat lagi hidup dengannya, tolong aku dok...."


"Mmmm..... maaf nama Anda?"


"Panggil aja Mona."


"Baik Nona Mona, mohon maaf sebelumnya, saya ga bisa menolong Anda lebih dari seorang dokter dengan pasiennya. Kalau itu sudah KDRT kenapa tidak dilaporkan polisi aja? Semua akan diselesaikan dengan hukum. Oh ya...pengobatanmu udah selesau. Tidak usah membayar, anggap saya menolong Anda sebagai bentuk kemanusiaan."


Mona hanya terbengong-bengong melihat dokter muda dihadapannya. Lagi-lagi dokter Rio memberikan perhatian yang mungkin wajar baginya tapi spesial untuk orang lain, sepeeti halnya pada Mona. Itu mungkin akan membuat semuanya menjadi salah paham, terutama untuk wanita muda itu.


"Ga bisa kah aku menginap disini? Hanya untuk malam ini!"


"Maaf...klinik ini tidak ada fasilitas rawat inap, sebaiknya kamu pulang ke rumah. Klinik ini juga harus tutup sekarang."


Mona pun mengalah untuk saat itu. Dia pilang ke rumahnya di seberang klinik dokter Rio. Untunglah suaminya yang gila itu masih tertidur pulas setelah menghajar istrinya.


"Ada-ada saja kelakuan pria jaman sekarang. Dia pikir siapa, bisa memperlakukan wanita seenaknya!" gumamnya sambil mengeluarkan mobilnya dari garasi.


22.00


"Aku sangat merindukanmu Jesica...."


Tepat pukul 09.00 dokter Rio sampai, pengurus rumah rehabilitasi sudah mempersiapkan tempat spesial untuk kunjungan salah satu pasiennya dengan keluarganya. Jesica mendapat perhatian khusu dari rumah rehabilitasi lantaran dokter Rio memesan kelas VVIP untuk fasilitas istrinya. Bagaimanapun Jesica tetaplah istri yang masih sangat dicintainya. Kondisinya masih sama dengan awal dia masuk ke rumah rehabilitasi itu. Miris memang, tapi.mau bagaimana lagi.


Setidaknya sebulan sekali dokter Rio mengunjungi Jesica. Namun, akhir-akhir ini, dokter Rio sudah jarang menelpon bahkan berkunjung ke Magelang lagi. Alasannya karena kliniknya terlalu ramai. Bahkan dia menambah perawat satu lagi untuk membantunya. Itu benar. Tapi di sisi lain, mungkin juga karena salah satu pasiennya yang hampir tiap hari datang ke klinik tanpa memerlukan pengobatan atau perawatan. Ya..wanita muda yang pernah ditolongnya, kini menjadi pasien tetap yang setiap hari databg ke klinik.


"Doook....ini makan siang untukmu," suaranya begitu halus dan menggoda. Ini membuat dokter Rio tersipu malu karenanya. Wajar saja, sejak Jesica masuk ke rumah rehabilitasi tidak ada lagi yang memberikan perhatian seperti layaknya suami istri. Dokter Rio merindukan belaian seorang wanita di sisinya. Dia mengakuinya, dan dengan gamblang ia mengutarakan perasaannya pada wanita muda bernama Mona itu.


"Hampir satu tahun, aku hidup sendiri. Sejak istriku kumasukan ke rumah rehabilitasi jiwa. Aku seperti kembali menjadi perjaka lagi. Jujur, aku ga bisa hidup tanpa wanita di sisiku."


"Kenapa kamu ga nikah lagi, kamu tampan, mapan, masih muda."


"Aku masih menjadi suaminya, mana mungkin aku bisa menikah lagi!"


"Mmm.... kenapa ga ceraikan saja istrimu itu?"


"Dia begini juga karena salahku, aku terlalu terobesesi dengan kesempurnaan untuk kedua anak kembarku. Dan aku melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan aku kehilangan mereka."


"Maaf...aku turut prihatin. Kamu bisa bercerita semuanya padaku, aku akan selalu ada untukmu."


Perhatian-perhatian yang diberikan wanita itu semakin membuat dokter Rio nyaman bersanding dengannya. Bahkan sudah 6 bulan lamanya ia tidak pernah mengunjungi Jesica. Sesekali ia menelpon ke kepala rumah rehabilitasi untuk menanyakan kabar tentang istrinya. Jesica sudah mengalami kemajuan pesat untuk kesembuhan psikisnya. Seringkali dia menanyakan pada perawatnya dimana suaminya. Jawaban dari mereka sama, sedang sibuk di klinik karena pasiennya terlalu banyak. Itu tak menjadi masalah untuk Jesica saat itu, karena dia belum sembuh benar.


"Dok, apa kamu sibuk besok? Sesekali berliburlah, untuk apa kamu bekerja sekeras ini. Bukankah tak ada yang menuntutmu untuk bekerja terlalu keras?"


"Liburan? Ga pernah kupikirkan liburan sendiri tanpa istri dan anak-anak dengan usiaku yang semakin menua Mon."


"Aku bisa menemanimu jika kamu mau, suamiku pasti sedang asik menghabiskan uangnya untuk berjudi dan bermain dengan wanita lain. Bagaimana, kamu mau?"


"Kenapa kamu ga cerai aja dengan suamimu? Kamu masih betah bertahan dengan laki-laki begitu?"


"Aku hanya kawin siri dengannya, tak perlu perceraian resmi. Aku akan segera meninggalkannya."


Tampak ekspresi aneh dari wajah dokter Rio begitu mendengar Mona akan meninggalkan suaminya. Apa dia berharap lebih hubungannya dengan Mona menjadi sebuah hubungan yang lebih serius?


"Mon...mari kita liburan, aku punya vila di Bogor. Kita kesana ya, kamu keberatan?"


Mona menyambut ajakan dokter Rio dengan semangat, tanpa berpikir dua kali, Mona mengiyakannya. Tepat awal bulan, dimana setiap tanggal 2, yang seharusnya menjadi hari pertemuannya dengan istrinya, hari itu justru dokter Rio pergi dengan wanita selain istrinya.