We Never Know

We Never Know
Tuliku Tamengku



Ujian Nasional SMP sudah berakhir, hari kelulusan segera datang. Tak heran jika seorang Jesica Anabela yang menjadi juara umum di sekolahnya. Beasiswa dan penghargaan kembali di raih oleh gadis malang tersebut.


"Selamat Nak...kamu masih menjadi penerus impian nenekmu, masih jadi kebanggaan kami dengan kondisimu yang ....." Pesan dari kepala sekolah terputus dengan genangan air matanya.


"Terima kasih Pak Yusri.... ini semua berkat para guru yang sudah dengan sabar mendidik Ana, menjadikan Ana orang yang pintar dan mudah-mudahan menjadi orang yang berguna. Meski Ana sudah menjadi manusia yang tak sempurna lagi, menjadi manusia yang cacat wajahnya, tapi perlu kalian ketahui, hati dan pikiran Ana masih sempurna. Dia tidak akan menjadi hitam, beku, membatu atau mendendam dengan siapapun atau apapun. Hanya satu pesan Ana pada seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup Ana selain Simbok, Ana tidak pernah membecinya, Ana hanya ingin tetap menjadi sahabatnya tanpa embel-embel status sosial. Bukan salahku menjadi cucu simbok yang hanya penjual pecel pincuk. Jika Ana bisa meminta, Ana juga ingin dilahirkan dari rahim seseorang yang berkecukupan, bukan seperti ini. Tapi, Ana juga tidak pernah menyesal dibesarkan oleh simbok, dengan didikan simbok, Ana menjadi manusia yang kuat, bersih, sabar dan harus menjadi manusia yang mau memaafkan."


Isi pidato singkat Ana sebagai perwakilan murid membuat seisi gedung mengeluarkan tisu dari saku pakaian mereka. Meski ada yang tetep pada pendiriannya, membenci dan tak mau memandang wajahnya yang kini tidak lagi sempurna.


"Dasar, penjilat!!" gumamnya.


Ana turun dari mimbar, guru-guru memeluknya bergantian. Antara salut, trenyuh dan simpatik pada Ana. Simbok menyusul memeluk cucu kesayangannya setelah antrian yang cukup panjang.


"Ana...cucu simbok... meski kamu mengalami beban yang begitu berat, tetaplah kuat, meski wajahmu sudah tak secantik dulu, biarkan hatimu semakin cantik, kamu adalah harta simbok satu-satunya."


***


"Mbok.....Simbok....Ana lolos beasiswa pendidikan masuk SMA N 3 Malang," Ana berlari dan berteriak lupa diri menghampiri Simbok yang tengah meladeni para pelanggannya di teras depan. Mereka berpelukan sejenak.


"Masya Allah nasibmu bagus sekali An," tutur Bu RT, pelanggan setia pecel Simbok sejak ia masih duduk di bangku SD.


"Semua berkat do'a Simbok!" sahut Ana.


"Betapa menyesalnya mereka ya Mbok?" lanjut Bu RT.


"Mereka siapa Mbok?" tanya Ana penasaran.


"Ini sudah bu...." sela Simbok. Terdengar seperti hendak menutupi masa lalu Ana.


"Wah...belum ada kembaliannya!"


"Udah ambil aja...itung-itung buat syukuran Ana yang mau masuk SMA," tukas Bu RT.


"Matursuwun Bu RT...." ucap Simbok dengan wajah sumringah. Betapa tidak, sepagi itu mereka sudah mendapat rezeki nomplok, empat pincuk pecel dengan harga seratus ribu rupiah.


"Liat An.... masih ada yang menyayangi kamu selain Simbok... pasti di luar sana, masih banyak Bu Rt-Bu RT lain yang akan terus memberikan dukungannya untukmu!"


Ana tampak manggut-manggut setengah terharu. Dia menahan air matanya agar tidak sampai jatuh. Mulai detik itu, Ana berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi gadis yang lebih kuat, lebih sabar dalam menghadapi hari-harinya yang pasti akan lebih banyak lagi cobaan dan ejekan dari teman-teman barunya di SMA.


Hari pertama masuk SMA menjadi hari yang paling berat bagi Ana akhir-akhir ini. Dia akan menghadapi dunia baru, dia takut kehadirannya akan bernasib sama kala SMP.


"Bagaimana ini, bagamana kalau aku tidak baik-baik saja. Bagaimana kalau aku kembali di ejek oleh teman- teman baruku?" gumam Ana sembari berdiri di depqn pintu gerbang sekolah barunya.


Benar saja, semua mata tertuju pada Ana. Bak alien yang tersesat di bumi, picingan mata mereka membuat Ana semakin grogi bahkan ragu untuk melangkahkan kakinya.


"Aku akan mencopot alat ini," sambil mencopot alat bantu pendengarannya kemudian mengantonginya di saku roknya.


"Dengan begini, aku tak akan sakit hati dengan perkataan mereka."


Perasaannya sedikit membaik, langkah kakinya mantap menginjak ke lingkungan baru tersebut. Meski puluhan mata menatapnya, saat itu Ana jauh merasa lebih baik daripada waktu pertama kali dia menggunakan topeng transparan di SMP. Ana menebarkan senyuman setiap kali dia berpapasan dengan seseorang. Beberapa merasa aneh dengan sikap Ana. Seperti tidak sedang terjadi apa pun. Dia melenggang dengan santainya menuju ruang kelas barunya. Baru ketika guru memasuki kelas, Ana terlihat memakai kembali alat bantu pendengarannya. Seluruh percakapan seisi kelas kembali bisa didengarnya, sedikit lega bisa mendengar kembali, tapi itu tak akan baik untuk Ana.


Terlihat guru mulai ragu untuk membuka percakapan pada Ana seusai jam pelajaran berlalu.


"Jesica Anabela?"


"Iya bu...?"


"Bisa ikut bu guru ke kantor sebentar?"


Ana hanya mengangguk tanpa berkata. Mereka berdua menuju ruang BK. Hanya ada Ana dan Bu Ayla selaku wali kelasnya.


"Maaf jika akan menyinggung kamu An...sejak kapan kamu mengalami ini?" tanya ragu dan terdengar sangat hati-hati.


"Oh...ini Bu?" Ana tampak menunjuk ke arah wajahnya.


Bu Ayla hanya mengangguk.


"Luka ini kudapat saat ujian akhir sekolah, ketika sedang membuat percobaan di laboratorium kimia sekolah kami Bu."


"Kenapa kamu tidak berobat?"


"Maaf bu... saya hanya tinggal dengan nenek, hidup kami pas-pasan. Kami tak cukup biaya jika harus melakukan operasi besar pada wajah saya. Biaya untuk bedah wajah sangat mahal, belum lagi saya juga harus operasi pada bagian vital telinga kanan saya," papar Ana.


"Jadi kamu.....?"


"Ya...selain wajah saya yang cacat saya juga tuli."


Ana mengakui kekurangannya sambil meneteskan air mata. Bu Ayla memeluk erat muridnya.


"Maaf....maafkan pertanyaan ibu, nak."


"Tidak masalah Bu." Ana mengelap air matanya dengan ujung lengan bajunya.


Bu Ayla masih melihat lembar potofolio milik Ana. Dia sangat kagum dengan prestasi yang didapatnya sejauh ini.


"Ana...apa kau yakin hanya tinggal dengan nenek saja?"


"Kenapa Bu?"


"Melihat prestasimu, rasanya Ibu sulit mempercayainya. Dimana orangtuamu?" tanya Bu Ayla kemudian.


"Oh...begitu rupanya. Ibu yakin, kedua orangtuamu adalah orang yang sangat pintar, bijak dan rendah hati. Pasti beliau mewariskannya padamu."


Ana terdiam, bahkan dia sama sekali tidak mengenali orangtuanya. Sekadar foto saja simbok tak pernah menunjukan pada Ana.


"Ada lagi Bu?"


"Sudah, sudah cukup. Kamu bisa kembali!"


Begitu keluar dari ruang BK, Ana disambut oleh Dewa dan teman-teman barunya.


"Heh...si buruk rupa, Bu Ayla mengusirmu dari sekolah ini ya?!" celetuk Dewa tanpa basa-basi.


Teman-teman menertawainya. Ana hanya diam, berusaha tak menggubris ejekan Dewa.


"Jelas lah...mana mungkin sekolah favorit begini mempunyai siswa yang cacat sepertimu!" tambah Dewa.


"Dengar ya Dewa... selama ini aku diam demi kebaikanmu. Aku sama sekali tak mengusikmu, aku tidak pernah menyinggungmu, tak pernah meladeni kegilaanmu. Bahkan aku tak pernah membalas semua kejahatan yang pernah kamu lakukan padaku. Apa kamu tidak bosan selalu mengangguku? Apa kamu puas setelah mengejeku sekian lama? Aku diam bukan berati lemah. Kita liat, siapa yang otaknya lebih berisi!!"


Ana melakukan pembelaan. Dewa kalah telak, teman-temannya bengong melihat Dewa dengan Ana yang tengah berseteru.


***


"Mbok....Ana pulang!"


"Bagaimana hari pertamu sekolah An?"


"Ya...gitulah Mbok!"


"Sabar ya! Simbok akan terus menabung untuk operasi wajahmu!"


"Iya Mbok...ga usah khawatir. Selama ada Simbok, Ana akan baik-baik aja!"


"Istirahatlah..."


Ana masuk kamar, bilik bambu tepatnya. Dia merebahkan diri di dipan bambu yang sudah reot. Sambil mengingat pertanyaan gurunya tentang siapa orantuanya. Terbesit dalam benak Ana untuk menanyakannya pada Simbok.


19.00


Ana menghampiri Simbok yang sedang mengelus-elus kedua kakinya sambil membawakan segelas teh tawar.


"Mbok Ana boleh tanya sesuatu?"


"Tanyakan!"


"Seperti apa wajah orangtua Ana?"


"Kenapa?"


"Ana penasaran aja Mbok."


"Simbok tak memiliki fotonya."


Ana terdiam, begitu juga simbok.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya simbok.


"Setelah belasan tahun, kalo dipikir-pikir, Ana belum pernah melihat sekilaspun wajah orangtua Ana, Mbok. Apa mereka cantik dan gagah seperti yang dibayangkan oleh Ana? Apa kepintaranku diturunkan juga oleh mereka, Mbok?" Ana bertanya sambil meletakan kepalanya di pangkuan Simbok.


Simbok gelagapan menjawab pertanyaan Ana. Simbok hanya bisa membatin.


[Jujur, Mbok juga ndak tau siapa kamu sebenarnya, Simbok hanya menemukanmu di tumpukan sayuran di depan gubuk ini, mungkin kamu sengaja dibuang oleh orangtuamu]


"Sebentar...Simbok punya ini An..." Simbok bangkit dari duduknya dan mengambil sesuatu dari bawah ranjang bambunya.


"Apa itu Mbok?"


"Itu adalah kalung pemberian Ibumu, hanya itu satu-satunya yang ditinggalkan Ibumu saat itu."


Ana menerima liontin cantik bertuliskan "JESICA ANABELA".


"Jadi namaku diberikan oleh Ibu, Mbok?"


"Tentu saja, ini satu lagi." Simbok memberikan buntalan koran yang dibalut plastik kresek berisikan baju terakhir yang Ana pakai saat simbok menemukannya.


"Ini baju bayiku?"


Simbok hanya mengangguk.


"Kenapa Simbok baru memberikannya sekarang?"


"Apa itu berguna untukmu?"


Ana hanya terdiam. Dia membenahi pemberian Simbok. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Ana segera berlari.


"Mbok...Simbok!!!" Ana panik, dia berteriak meminta bantuan. Tetangga segera membawa Simbok ke puskesmas.