
Dokter Rio mengambil cuti satu minggu untuk berbulan madu dengan Jesica. Gadis malang dan buruk rupa yang kini menjadi istrinya. Wajah dan aura Jesica semakin terpancar setelah menikah dengan dokter muda itu. Tutur katanya yang lembut, perilakunya yang sopan dan anggun membuat semua orang semakin mengagumi Jesica, istri jelita sang dokter muda.
Dokter Rio dan Jesica berbulan madu di Dieng, suasana pegunungan yang memukau dan cuaca dingin sangat mendukung liburan mereka. Mereka berdua sangat menyukai alam. Terlalu banyak kebetulan dalam hubungan asmara mereka. Banyak pula perbedaan yang harus disatukan untuk saling melengkapi.
***
Satu bulan pernikahan, Jesica hamil. Kasih sayang dan perhatian dokter Rio semakin menjadi. Apa pun yang diinginkan Jesica, selalu dikabulkan.
"Mas...." ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Kamu kepengin apa sayang?"
"Aku mau ke stasiun."
"Ngapain? Ini tengah malem loh.. jam 00.15, besok aja ya?" bujuknya. Mungkin karena dokter Rio baru tidur satu jam yang lalu, makanya dia menawar keinginan istrinya.
"Ya udah...." lemas Jesica mengiyakan.
Jesica memunggungi suaminya yang kembali tertidur. Tiga puluh menit kemudian, dokter Rio samar-samar mendengar sesegukan dan isak tangis. Dibaliknya badan istrinya.
"Kamu kenapa nangis sayang? Ada yang sakit? atau kamu lapar? Mau makan apa?" tanyanya berentet. Rupanya dokter Rio lupa, beberapa menit yang lalu dia baru saja menolak keinginan istrinya yang tengah mengandung.
"Enggak...Mas, aku ga kenapa-napa."
"Bohong.... bilang dong sayang, nanti si utun ikut sedih loh kalo Mamahnya nangis kek gini," bujuk dokter Rio.
"Tapi, katamu besok aja, aku ga tau kenapa aku nangis, air mataku tiba-tiba aja ga bisa berenti Mas."
Dokter Rio nampak bingung saambil berusaha mengingat, namun usahanya gagal.
"Apanya yang besok aja?" tanyanya lembut sambil mengelus perut istrinya yang mulai membuncit.
"Stasiun."
"Ngapain?"
"Mau liat kereta Kutojaya, Mas."
Dokter Rio tertawa, terbahak tepatnya.
"Astaga....kamu ngidam kok ya aneh-aneh aja. Yaudah ayo kita ke stasiun."
"Pake jaket hangat, pakai kaos kaki dan sarung tangan, di sana ada sweater juga. Pakai semuanya, jangan sampai masuk angin."
"Mas...kita cuma ke stasiun loh, bukan ke puncak atau kutub."
"Jadi berangkat atau engga?"
"Ok...aku pakai semuanya."
"Gitu dong."
Dokter Rio mengmudikan mobil mewahnya sambil tersenyum sendiri merasakan keinginan istrinya yang semakin tidak masuk akal saat hamil.
"Memang tadi aku bilang apa sampai kamu nangis begitu?" tanyanya sambil menyetir.
"Kamu bilang besok aja ke stasiun, padahal kan aku kepengin sekarang."
****
Mereka membeli dua buah tiket kereta api on the spot agar bisa masuk ke dalam stasiun, namun sesungguhnya mereka tidak akan pergi ke manapun. Hanya ingin melihat lampu dan klakson kereta api Kutojaya sesuai yang diinginkan Jesica saat itu.
"Mana ya Mas?"
Jesica mengangguk sambil mengelus perutnya dan mencari tempat duduk untuk menunggu suaminya mencari apa yang ia inginkan. Sepuluh menit kemudian, dokter Rio kembali.
"Sayang....kereta apinya baru aja pergi jam 21.00 dan kembali lagi pukul 08.00 nanti, kita lihat kereta yang lain ya."
Kali ini keinginan Jesica sungguh tak bisa ditawar. Dia bersikeras menunggu hingga kereta api yang diinginkannya datang. Benar saja pukul 08.00 kereta api Kutojaya datang dari arah barat. Klakson yang begitu memekakan telinga terdengar, mata Jesica yang hampir tertutup karena mengantuk kembali berbinar. Wajahnya berseri begitu kereta api memasuki jalur 2. Sorot depan kereta yang begitu mencorong membuat Jesica melonjak kegirangan. Sebaliknya dokter Rio kewalahan menenangkan istrinya agar tidak membuat gerakan spontan yang mebuat rahimnya tergoncang. Sepanjang Jesica melompat, dokter Rio memeluk perut istrinya dari belakang.
"Udah...udah...udah cukup sayang, ini loh perutmu, si utun stress nanti kegoncang terlalu kencang." Dokter Rio terus membujuk istrinya, lompatan itu berhenti seiring kepergian kereta api ke stasiun berikutnya.
"Udah puas? Kita pulang yuk, lihat matamu kayak mata panda, berkantung, astaga....istri siapa itu? Apa kata dokter lain melihat istriku yang cantik ini kurang tidur."
"Sayang...kenapa sih kamu begini?"
"Begini gimana maksudnya Mas?"
"Makin ke sini nyidam kamu makin aneh!"
"Maafkan aku ya Mas....aku juga ga ngerti, besok-besok kalo aneh ga usah diturutin Mas!"
"Eh... ya ga gitu sayang, maaf ya."
Begitulah pasangan muda itu mengakhiri setiap pertengkaran-pertengakaran kecil yang mereka buat sendiri.
***
Kandungan Jesica makin besar, sama seperti cintanya dokter Rio yang semakin besar. Tiba-tiba suatu malam, usai dokter Rio menyelesaikan jadwal piketnya di rumah sakit, dia menemukan pasien yang sedang hamil masuk ICU. Bergegas ia menghampiri si pasien dan siapa yang dia lihat di ranjang pasien itu?
"Sayang!!!"
Bergegas ia melakukan pemeriksaan, segera menghubungi unit obgyn untuk segera mendapat penanganan.
"Jesi...Jes... kamu bisa mendengar suaraku?" Dokter Rio mulai panik, pikirannya kacau, ratusan pasien berhasil ia tangani, kenapa begitu istrinya yang terkulai lemah di ambang maut, justru dia tak berdaya?
Dokter kandungan yang tak lain juga merupakan sahabat dokter Rio segera datang, Jesica masuk ruang operasi. Janinnya harus diangkat. Hati sang dokter muda begitu hancur dengan kabar bahwa istrinya harus keguguran. Begitu juga dengan Jesica. Hampir sebulan lamanya mereka terlarutbdalam suasana duka. Disini dokter Rio mencoba menguatkan istrinya.
"Sayang, kita relakan calon anak kita ya....bagaimanapun jika dipertahankan, akan membuatmu bahaya..." jelas dokter Rio.
Dengan berbagai cara, Jesica berusaha mengikhlaskan calon anak pertamanya yang masih berusia 5 bulan dalam kandungan. Tak lama setelahnya, Jesica kembali hamil. Kali ini janinnya kembar 2. Betapa senangnya pasangan muda itu. Setelah kehilangan anak pertamanya, kini mereka akan mempunyai 2. Penjagaan super ketat diberikan kepada Jesica. Segala macam vitamin kandungan diminumnya. Berbagai makanan yang kaya akan vitamin dan gizi di konsumsinya, tak lupa susu hamil dengan berbagai merk terkenal rekomendasi dokter terbaik.
Sembilan bulan 10 hari dilalui Jesica tanpa keluhan. Hari itu menjadi hari paling mendebarkan bagi pasangan muda itu, dalam hitungan jam mereka akan menjadi orangtua.
"Kamu pasti bisa sayang, yang kuat ya...." ucap dokter Rio dengan segala kasih sayangnya.
"Aku kuat, kamu yang kuat juga, do'ain aku ya Mas..." pinta Jesica sambil meneteskan air mata.
Jesica masuk ruang operasi. Empat dokter spesialis beriringan. Lampu operasi dinyalakan, anestesi diberikan di tulang punggungnya. Kakinya mulai kebas, jantungnya berdebar, goresan pisau operasi dan sobekan gunting terasa namun tak sakit. 40 menit berlalu, terdengar tangisan bayi perempuan, namun yang satu belum juga menandakan dia baik-baik saja. Dokter segera memberi tindakan pada si kembar. 15 menit akhirnya si bayi laki-laki yang mungil dan tampan menangis. Dokter terkejut setelah mengamati kejanggalan pada salah satunya.
"Dia tidak normal, katakan pada dokter Rio."
Bidan memberitau kondisi kedua bayi mereka. Jesica belum mengetahuinya. Dia masih belum sadarkan diri setelah tadi darahnya sempat naik. Ini tidak membahayakan nyawa sang ibu. Dokter Rio yang awalnya sangat senang mendengar kedua bayi dan ibunya selamat, kini menjadi sedikit murung. Pasalnya selama di kandungan, hasil pemeriksaan tidak menunjukan gejala aneh. Keduanya nampak sehat dan normal. Tapi takdir berkata lain. Satu diantaranya tak mempunya lubang anus dan jantungnya mengalami kebocoran. Membuat tubuh si bayi sempat biru karena kekurangan oksigen.
***
"Dimana si kembar?" tanya Jesica begitu siuman.
"Ada sayang....tapi....kamu yang sabar ya, jagoan kita sepertinya mengalami kelainan, dia sedang di ruang NICU."
Ibu mana yang hatinya tak runtuh mendengar anak yang baru di lahirkannya harus berada dalam ruangan anker itu.
"Sayang....kamu masih punya bidadari kecil ini yang sangat cantik. Bibirnya sangat mirip denganmu, lihatlah....matanya...mataku ada dalam dirinya." Dokter Rio meletakan anaknya di dekat Jesica.
"Tenang sayang....apa pun akan kulakukan demi jagoan kita. Kamu segera sehat, kita akan pulang berempat dalam keadaan sehat. Kamar mereka yang lucu sudah menanti kepulangannya." Dokter Rio memeluk Jesica sebagai tanda terimakasihnya yang sudah berjuang demi si kembar. Kecupan hangat untuk si bidadari kecil pun tak ketinggalan.