
"Nadine...dengarkan aku...silakan saja kalau kamu mau hidup dengan anak harammu itu, ingat, sampai kapan pun aku ga sudi mengakuinya sebagai anakku. Ngerti?" ucap Candradinata sambil menahan emosinya. Laki-laki itu sungguh menggilai Nadine, ibu kandung Jesica. Meski dia tau Nadine sudah tidak perawan lagi saat menikah dengan dirinya. Yang menjadi kekurangannya adalah sifat pendendamnya yang tak kunjung hilang. Laki-laki yang menghamili Nadine adalah rekan bisnis Candradinata yang berkhianat. Namun itu puluhan tahun yang lalu, jauh sebelun kejadian pahit itu menimpa Nadine.
"Mas....Jesica kasihan, hidupnya sangat berat dengan semua beban hidup yang menimpanya. Itu bukan keinginannya terlahir dengan kondisi seperti ini. Untung saja dia ditemukan oleh nenek yang baik saat itu. Kalau tidak, mungkin aku ga bisa melihatnya saat ini."
"Aku ga peduli Nadine. Aku beri pilihan untukmu, bertahan disini atau keluar bersamanya dan kita bercerai!" Candradinata memberikan pilihan yang sulit.
Dengan segala pertimbangan, Nadine memutuskan untuk tetap bersama suaminya. Lagi-lagi ia harus kembali berpisah dengan putrinya yang baru saja ia temukan. Nadine tak berdaya untuk melawan suaminya, bagaimanapun, dia adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Mungkin sama halnya dengan Jesica dan dokter Rio.
"Ga apa-apa Bu...Jesica akan sering mengunjungimu." Jesica memberikan sebuah janji dan ia pergi meninggalkan rumah itu bersama dokter Rio.
Hatinya kembali hancur lebur karena keaadaan ini.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang dok, bahkan setelah aku bertemu dengan orangtua kandungku, hidupku lebih hancur dari sebelumnya. Mungkin memang aku tak pantas terlahir dari keluarga yang ....."
"Sssst....." Dokter Rio menghentikan perkataanku.
"Kita pulang, kita bicara di rumah."
"Maaf dok....aku ga bisa ikut denganmu. Aku akan menginap di sekitar sini."
"Tapi...."
"Dokter.....aku mohon," ucap Jesica memelas.
Akhirnya dokter Rio mengizinkan Jesica untuk sementara waktu terpisah dengannya. Mereka berpisah di persimpangan jalan. Tiba-tiba ponsel Jesica berdering.
"Dewa...."
"Gimana An?"
"Emmm.....aku ga bisa menceritakannya disini Wa."
"Kamu dimana An?"
"Mau pulang dari rumah Ibu."
"Ok ok....kamu bisa datang ke apartemenku yang tak jauh dari rumah orangtuamu!"
Jesica memesan taxi online menuju alamat yang diberikan oleh Dewa. Jesica menceritakan semua kejadian yang baru saja ia alami.
"Jadi kamu bukan anak kandung Candradinata, pengusaha terkenal itu?"
Jesica hanya mengangguk kemudian.
"Lalu?"
"Entahlah...kupikirbaku akan bahagia setelah menemukan mereka, nyatanya, ini membuatku tersudut. Aku merasa hina, Wa."
"Hina?"
"Ya...aku adalah anak haram yang tak diinginkan oleh orangtuaku."
"Maksudmu?"
"Gila sih....jadi Ana cewek haram! Bisa celaka tujuh turunan gue!" batin Dewa sambil berpura-pura menaruh simpati pada Jesica.
"By the way....aku ada kerjaan mendadak An... aku rasa kita cukup disini dulu ya. Aku harus dinas luar kota," ucap Dewa berbohong.
"Apa aku boleh menempati apartmenmu selama kamu pergi Wa...aku masih ingib bertemu sesekali dengan Ibuku."
"Ga bisa!" jawab Dewa ketus.
Jesica segera menangkap sinyal yang Dewa berikan. Dia tak menginginkan kejadirannya setelah tau apa yang terjadi dengan dirinya. Baik masa lalu atau saat ini. Jesica bertahan 2 minggu di sekitar Bogor. Uangnya tak cukup banyak untuk menyewa apartmen, dia menyewa satu kamar kos yang sudah lengkap dengan perabotan di dalamnya.
Dua minggu lamanya, dokter Rio dan Jesica berjauhan. Ini membuat dokter muda itu merasa cemas sepanjang waktu. Dia memutuskan untuk segera meminang pujaan hatinya. Berhubung Jesica sudah ada keluarganya, dokter Rio akan menemui Nadine dan Candradinata, meski ia bukan ayah kandung Jesica.
Keesokannya, dokter Rio ke Bogor bersama Jesica menuju rumah Candradinata. Kebetulan mereka ada di rumah.
"Maaf Om Candra...kedatangan kami kembali kesini adalah untuk meminta restu dari kalian, saya akan melamar Jesica untuk menjadikannya istri saya Om...Tante," jelas dokter Rio tanpa panjang lebar begitu bertemu Candradinata dan Nadine.
"Kamu ga perlu meminta izin padaku, dia bukan siapa-siapa buatku. Nikahi saja dia semaumu."
"Mas!" sela Nadine.
"Ya...nak Rio, saya merestui hubungan kalian. Saya titip Jesica, jaga dia baik-baik. Sayangi dia nak Rio," pinta Nadine dengan nada serak.
"Pasti Tante..."
Mulai saat itu, hubungan Jesica dan dokter Rio selangkah lebih maju. Dokter Rio semakin mantap untuk hidup bersama Jesica. Sebaliknya, Jesica malu dan ragu untuk bersanding dengan dokter Rio, dokter muda, tampan, kaya dan terpandang.
"Dok...apa kamu yakin dengan semua ini?" tanya Jesica memastikan.
"Kenapa Jes?"
"Apa kamu ga malu punya istri seperti aku? Bagaimana dengan orangtuamu?"
"Kamu cantik, baik, pintar, apa lagi yang aku cari? Orangtuaku biar menjadi urusanku. Kamu ga usah khawatirkan itu."
"Aku ga memaksakan kamu untuk terus menolongku, apalagi terlibat langsung dalam kehidupanku yang ga jelas begini."
"Apa maksudmu, aku udah nentuin pilihanku sendiri, aku ga akan salah langkah, puluhan gadis udah kupacari, hanya kamu yang memiliki hatiku Jes...percaya padaku. Aku udah nyaman dekat denganmu. Aku ga mau dengar semua alasanmu untuk terus menghindariku Jes..."
"Entah berapa puluh kali aku mengucapkan terimakasih padamu dok...mungkin seumur hidupku tak akan cukup untuk membayar semua kebaikanmu."
"Kamu masih saja memanggilku dokter? Aku calon suamimu Jesica.... please...relax!"
"I know....but...."
"Kamu belum biasa, biasakan lah untuk memanggilku Mas, Sayang, Bang, atau apapun semaumu asalkan bukan dokter!"
"Iya Mas...aku akan coba mulai sekarang."
"Kita pulang ke Bintaro ya...kamu ga perlu lagi tinggal di Bogor. Jika kamu mau ketemu ibumu, aku bisa mengantarnya. Bi Mumun akan senang kamu kembali."
Jesica mengangguk. Sedikit perasaan lega namun kecemasan dan ketersudutan terus menyelimuti hati kecil seorang Jesica Anabela. Dia akan selalu merasa dirinya hina, meski orang yang menyayanginya tidak berpikir demikian. Benar, kadang status sosial memang penting, tapi itu menjadi tak penting jika seseorang yang berharga dalam hidup kita tidak pernah mempersalahkan status kita. Jika ada satu dari sepuluh orang yang menghargai kita, setidaknya mempertahankan dia lebih penting dari pada berusaha mati-matian mengubah pandangan ke sembilan lainnya untuk menerima kita. Belum tentu usaha kita berhasil, mungkin justru kita akan kehilangan satu orang yang spesial itu. Jesica Anabela, gadis malang yamg berusaha mengubah takdirnya, selalu ada petualangan setiap hari yang harus ia selesaikan sebelum akhirnya ia dapat menjadi dewasa pada hari itu.