We Never Know

We Never Know
Sebatang Kara



Setelah kejadian malam itu, Simbok harus di rawat inap di puskesmas. Selama 2 bulan, Ana harus mondar-mandir untuk sekolah, kerja paruh waktu kemudian ke puskesmas untuk menemani Simbok malam harinya. Terpaksa Ana harus kerja serabutan sepulang sekolah, memang semua biaya puskesmas ditanggung pemerintah, tapi Ana tetap butuh makan dan kebutuhan sekolahnya harus dipenuhi. Dengan kondisi wajahnya yang demikian, membuatnya hanya bisa bekerja sebagai buruh kasar. Bahkan pelayan toko saja tak diterima. Suatu hari, Ana terlambat sekolah, dia tidak bisa mengenakan seragam putih abu-abunya lantaran bajunya kotor usai dia kerja lembur sebagai buruh cuci piring pada sebuah acara besar di kampungnya.


"Heh...enak aja sekolah ga pake seragam!" ucap Dewa begitu melihat Ana sedang menyapu halaman sekolah karena masuk terlambat.


Ana masih diam, melanjutkan hukumannya.


"Heh budeg!!"


Akhirnya Ana benar-benar mencopot alat bantu pendengarannya.


"Kamu ngomong aja terus, aku ga masalah, emang aku tuli, kenapa emangnya?" tantang Ana.


"Dasar cacat!"


Benar, seberapa kasarnya omongan itu, Ana tak akan mendengar. Dewa akan malu dan berhenti dengan sendirinya.


"Ada apa Dewa?" tanya Bu Ayla.


"Tidak Bu..." jawab Dewa berdalih.


"Kembali ke kelas!"


"Anabela, bisa ke kantor sebantar?"


Ana mengikuti Bu Ayla menuju ruang BK.


"Dimana seragammu?"


"Kotor Bu."


"Kamu tau ini sekolah favorit, semua siswa harus patuh dengan peraturan yang ada. Dengan terpaksa Ibu akan beri kamu surat peringatan," jelas Bu Ayla.


Ana paham betul konsekuensinya. Tapi, memang keadaan yang membuatnya tidak memungkinkan memakai seragam sekolahnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia diberi surat teguran. Hari itu sungguh hari yang sangat kacau bagi Ana. Wajar jika dia sempat naik darah karena ulah Dewa dan teman-temannya.


***


Di puskesmas...


Ana langsung membentangkan tikar daun pandan kepunyaan Simbok yang sengaja ia bawa ke puskesmas. Dia merebahkan dirinya di bawah ranjang puskesmas.


"Kenapa An?" tanya Simbok cemas melihat cucunya tak bersemangat seperti biasanya.


"Cuma capek Mbok," jawab Ana singkat dan tetap pada posisinya.


"Ada masalah ya?"


"Ndak!"


Ana tertidur sejenak, Simbok membiarkan cucu kesayangannya tertidur.


18.45


"Mbok...Ana harus pergi dulu. Mungkin malam ini Simbok tidur di sini sendirian." Ana pamit kepada Simbok tanpa memberikan alasan kenapa atau kemana ia harus pergi. Belum sempat Simbok menjawab, Ana sudah menghilang di balik gorden hijau khas puskesmas.


Hari ini adalah hari pertama Ana bekerja sebagai pelayan di sebuah warung makan dekat kantor kecamatan. Tentu saja dengan syarat yang ia terima sebelum pada akhirnya dia mulai bekerja sementara menggantikan pegawai warung makan itu lahiran.


"Jangan lupa pake maskernya sampai bawah mata, rapatkan tudungmu!" Pemilik warung mengingatkan kembali.


Ana sadar, dia akan menakuti pengunjung warung jika wajahnya terbuka. Wajahnya tertutup rapat layaknya seseorang yang bercadar. Hanya dua buah matanya yang nampak, membuat sorot matanya yang tajam dan hangat menjadi daya tariknya.


"Kamu baru ya?" tanya seorang bapak-bapak yang sedang menunggu pesanan makanannya. Ana hanya mengangguk, sesuai perintah majikannya untuk tidak terlalu banyak bicara dengan pelanggan yang datang.


"Maaf pak, saya banyak kerjaan, saya akan bawakan pesanan makanan bapak ke sini secepatnya!" jawab Ana mencari alasan.


"Harus kamu ya!" perintahnya kemudian.


Ana tak bisa menolak, dia adalah raja disini. Sedangkan Ana hanya pelayan yang baru bekerja, dia bisa kehilangan pekerjaannya jika membuat masalah.


15 menit kemudian....


"Silakan..." sambil meletakan beberapa pirung pesanan orang tersebut dengan sangat sopan.


"Tunggu!" katanya.


"Ya?"


"Aku tak pernah makan sendirian. Duduklah disini!" sambil menggeser sebuah kursi kosong untuk Ana.


Ana masih menurut. Waktu berjalan sangat lambat. Ana mulai panik, perasaannya tak menentu. Bapak-bapak itu membuatnya merasa tak nyaman. Waktu kerjanya sebenarnya sudah habis. Tiba-tiba datang kepala pelayan membisikan sesuatu pada Ana.


"An...kamu dapat bonus ekstra dari bos jika lembur hari ini!" bisiknya, lantas pergi.


Ana tak berkutik sedikit pun. Kini Ana tau siapa yang sedang dihadapinya. Dia adalah bapak-bapak hidung belang, dia tukang jajan di luar. Ingin sekali rasanya Ana menarik kumis lebat orang yang ada di depannya.


"Kulihat matamu begitu bersinar, seperti bulan purnama di luar sana. Suaramu bikin bulu kudukku berdiri. Jarimu sangat lentik, aku yakin wajahmu sangat ayu, aku ingin...." Bapak-bapak menarik masker Ana dan......


"Heh....Wongso!!!!!!"


Wongso, bos atau pemilik warung makan itu lari terbirit-birit menghampiri pelanggan emasnya.


"Kenapa bos?" tanya Wongso gugup.


"Setan!! Kau mempekerjakan gadis cacat seperti dia?" Bapak-bapak itu menendang tubuh Ana. Ana jatuh tersungkur ke lantai, piring dan gelas pecah berkeping-keping melukai telapak tangannya.


"Tadi sudah keperingatkan, jangan menggodanya!"


Plaaaaaak......


Tamparan mendarat di pipi Ana yang sudah tersingkap, dia menangis dan lari meninggalkan warung makan itu. Darah di telapak tangannya masih keluar, ditambah lagi luka lebam dekat bibirnya. Tepat pukul 03.00, Ana sampai di puskesmas. Dia tak menemukan simbok di ranjangnya.


"Sus...mana Simbok?" tanya Ana pada suster jaga.


"Satu jam yang lalu, nenekmu menghembuskan napas terakhirnya. Sebelumnya dia terus memanggil namamu. Dia menitipkan ini untukmu." Secarik kertas diberikan oleh suster kepada Ana.


"Simbooooook!" Ana menangis tak henti Matanya sembab, bengkak dan hitam di sekitar kelopak matanya karena tak tidur semalaman.


Seminggu itu, Ana minta izin tak masuk sekolah. Sekolah memaklumi kondisi Ana. Setiap hari, Bu Ayla selalu menyempatkan untuk memberikan tugas pengganti kehadirannya di sekolah. Kini, hidup Ana benar-benar sangat berat. Dia hidup sebatang kara. Jiwanya kosong, hanya kesedihan yang berlarut-larut yang ia rasakan setelah kepergian Simbok.


"Surat dari Simbok...ya aku belum membacanya." Ana berjalan mencari secarik kertas yang dititipkan oleh suster di puskesmas kala terakhir Simbok masih ada.


"Ana.... orangtuamu mungkin masih hidup, carilah mereka." Semakin hancur hati Ana membaca pesan singkat dari almarhumah Simbok.


***


Kesedihan Ana semakin memudar seiring berjalannya waktu. Yang dia kerjakan, semuanya hampir tak ada artinya, hanya untuk tetap hidup, mungkin itulah yang dipikirkan Ana. Tiga tahun dilaluinya, Ana tamat SMA dengan prestasi yang bisa dibilang sangat memuaskan. Dia bisa mengalahkan Dewa dan teman-teman seangkatannya yang selalu menghinanya selama ia bersekolah dengan prestasi yang gemilang.


"Mbok...sepertinya Ana harus pergi dari sini. Jika begini terus, hidup Ana akan hancur, Ana akan mencari orang tua Ana, Ana akan pergi ke ibu kota. Do'kan Ana, Mbok." Ana memeluk kuburan Simbok yang mulai ditumbuhi rumput.


Ana merapikan baju-bajunya ke dalam tas usang satu-satunya yang ia miliki. Tidak lupa liontin pemberian Simbok ia gantungkan di lehernya yang jenjang. Ana pergi bermodal niat dan tekad yang kuat untuk bisa bertemu dengan orangtua kandungnya.