
Mbok....Mbok...Mbok Darmi...!!!
Alarm yang menunjukan pukul 06.00, yang artinya, Simbok harus bergegas mengusung rebusan bermacam-macam dedaunan, rempeyek teri dan bumbu kacang serta beberapa gulungan daun pohon pisang ke teras rumah. Dengan tergopoh-gopoh Simbok menghampiri Bu RT untuk segera memenuhi pesanannya. Ana, cucu kesayangannya menyusul langkah Simbok dengan membawa bakul nasi.
"Mbok...biasa ya, bisa diantarkan ke rumah?" tanya Bu RT begitu melihat Simbok dan Ana dari balik bilik rumahnya.
"Nggih...nggih Bu RT....nanti dibawa Ana sekalian berangkat sekolah seperti biasa," jawab Simbok pelan.
"Makasih Mbok Darmi....ini uangnya saya bayar sekalian ya." Bu RT menyerahkan selembar uang duapuluh ribuan.
***
Empat puluh tahun sudah, Simbok menjalani rutinitasnya sebagai penjual pecel pincuk. Awalnya Simbok berjualan keliling, karena usianya sudah lanjut, Simbok hanya berjualan di teras rumah.
"Mbok....mana pesanan Bu RT, aku udah mau berangkat sekolah."
Ana menjadi kurir setia untuk mengantar semua pesanan pecel pincuk Simbok. Simbok memberikan beberapa bungkus pecel pincuk pesanan pelanggan setianya, termasuk pesanan Bu RT.
"Ini punya Bu RT," menyerahkan 4 bungkus pecel ke plastik yang berbeda.
"Lainnya?" tanya Ana menunggu instruksi selanjutnya dari Simbok.
"Bu Joko 2, Soimah 1, Pak Juned 3, terus...itu siapa ya namanya, yang rumahnya depan balai desa itu loh An...." jabar Simbok.
"Bu Kusini?" jawab Ana.
"Oooo....iyo...iyo, pintere kamu ini nak, Simbok beruntung punya cucu kaya kamu An!" Simbok mengusap kunciran rambut Ana yang sudah usang. Ana hanya senyum mendengar pujian Simbok.
"Sisanya pesanan Bu Kusini, Mbok?" tanyanya memperjelas pesanan.
Simbok hanya mengangguk sambil membenahi posisi duduknya seraya memegangi pinggangnya.
"Udah setengah tujuh aja, bisa-bisa aku telat sampai sekolah." Ana mempercepat langkahnya.
***
07.00
"Mana Ana, jam segini belum juga sampai?" gerutu Dewa, sahabat baik Ana dari sekolah dasar.
"Dor!!!," Ana mengagetkan Dewa dari belakang.
"Kemana aja kamu?" tanya Dewa sambil mengelus dadanya karena kaget.
"Kamu nyariin aku?"
"Yaiyalah ..... kirain ga masuk!"
"Ga mungkin lah Wa....sejak kapan aku membolos sekolah," jawab Ana santai.
"Seragam kamu kenapa kok kotor?"
"Oh ini.... santai, nanti bisa dibersihkan kok, ayok kita masuk kelas," ajak Ana sambil menggandeng tangan Dewa. Noda bekas bumbu pecel pincuk Simbok menempel di salah satu lengan seragam putih birunya.
Setiap mata memandang ke arah Dewa dan Ana, ini sudah biasa. Mereka sering menjadi pusat perhatian teman-temannya. Tak jarang sorotan guru juga menerangi perjalanan mereka. Begitulah kisah persahabatan Ana dan Dewa, sering membuat iri teman-teman sekelasnya. Ana dengan wajah kebule-buleannya, siapa yang menyangka dia hanya seorang cucu dari nenek penjual pecel pincuk. Dewa, anak konglomerat yang sudah pasti tampan dan necis, ditambah otaknya yang encer. Tak jarang dia menjadi rebutan bagi siswa perempuan di SMP 3 Malang.
***
11.00
"Ssst....baca!" Sambil melempar robekan kertas yang diisi pesan kemudian diremas menjadi bola dan dilemparkan ke arah tempat duduk Ana.
"Hah,apa?" Ana memberikan isyarat kurang mengerti maksud Dewa.
Ana menganggukan kepala tanda mengerti.
(Isi pesan Dewa)
Nanti siang pulang sekolah jangan langsung pulang ya, kita jajan dulu di kantin, aku yang traktir! Hari ini aku ulang tahun, Papa ngasih aku uang jajan lebih
Ana tidak langsung menjawab pesan dari Dewa, ia sungguh ingin menerima ajakan sahabatnya, tapi ia sadar kewajibannya sepulang sekolah. Ada Simbok yang dengan sabar menunggunya pulang. Sepanjang pelajaran, hanya itu yang dipikirkan oleh Ana, ia menjadi kehilangan fokus.
"ANA.....JE…SI…CA ANA…BE…LA!!!" seru guru matematika di jam terakhir pelajaran siang itu.
"M-Maaf Bu!"
"Kamu melamun?"
"Ndak Bu....eee…itu…, " Ana mencari alasan yang tepat.
"Biasa Bu...ini kan jam terakhir, pasti perutnya keroncongan. Bukan cuma Ana, pasti anak-anak lain juga mengalami gagal fokus seperti Ana saat ini!" celetuk Dewa, seolah dia sedang memberi perlindungan pada Ana.
"Halah....Dewa, dasar caper!!" timpal salah satu temannya.
"Sudah...sudah!!" Bu Guru melerai siswanya yang beradu mulut.
Teng...teng...teng!!
"Yes!" seru Ana girang mendengar bel pulang sekah. Dia lupa berhutang jawaban kepada Dewa. Ana langsung berlari usai pelajaran selesai. Dewa menyusulnya dari belakang. Menarik lengan baju Ana yang terlihat sudah usang. Maklum, selama hampir 3 tahun di SMP itu, Ana tidak pernah menggantinya dengan seragam baru. Bukan karena tidak mau, tapi keadaan yang memaksanya. Ia terpaksa memakai semua seragamnya 3 tahun berturut-turut. Bahkan satu sisi baju olahraganya yang sobek di bagian ketiak, ia tambal sendiri dengan bantuan Simbok yang menjahitkannya. Sekarang bukan hanya baju olahraganya yang ditambal, seragam putih birunya pun sepertinya juga akan mengalami nasib yang sama.
"Yaaaah....Dewa!" pekik Ana. Membuat semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Stttt....pelanin suaramu! Dewa memberikan isyarat.
"Lihat, bajuku robek!" sambil menunjukan seragamnya yang sobek di bagian pundak kanannya.
"Maaf...maaf An, aku ga sengaja! Ini pakai jaketku dulu!" Sambil memberikan jaket yang sedang dipakainya.
"Makasih ya...oh ya, soal itu, aku ga bisa Wa, aku harus langsung pulang. Lain kali saja ya." Ana bergegas pulang sebelum Dewa memberi jawaban.
[Kenapa dia....seperti sedang menutupi sesuatu dariku?] tanya Dewa dalam hati.
Dari dalam kelas terdengar suara riuh memanggil-manggil nama Dewa. Dewa memang sengaja menraktir teman-temannya satu kelas itu kecuali Ana. Salah satu temannya menghampiri Dewa menanyakan keberadaan Ana.
"Jelas saja dia langsung pulang, sepulang sekolah kan dia selalu membantu neneknya berjualan pecel pincuk keliling kampung Wa," celetuk Joni, salah satu tetangganya yang kurang suka dengan Ana.
"Eh??" Dewa terkejut dengan ucapan Joni.
"Kamu gak tau, selama ini kamu berteman dengan siapa?" tambah Joni yang berusaha memperkeruh suasana.
Dewa hanya menggeleng. Memang benar, selama ia berteman dengan Ana belum pernah sekalipun ia main ke rumah Ana. Bahkan alamatnya saja dia tidak tau. Mereka hanya berkomunikasi di sekolah saja, selebihnya tidak ada komunikasi di luar sekolah. Wajar jika Dewa tidak tau siapa Ana sebenarnya. Tapi apakah itu sungguh masalah besar untuk mereka. Selama ini persahabatan mereka baik-baik saja, tanpa ada embel-embel status sosial bukan?
"Sepulang sekolah, ikutlah denganku, akan kutunjukan dimana rumah Ana," ajak Joni.
Benar saja, Dewa termakan ucapan si Joni. Dewa tidak percaya, Ana hanya seorang cucu penjual pecel pincuk. Rumahnya? Jangan ditanya bagaimana bentuknya, memang lingkungannya sangat bersih, tapi kondisi rumahnya sangat memprihatinkan.
Keesokannya.....
"An... jadi selama ini kamu membohongi aku? Kamu tinggal di rumah reyot itu? Kamu cuma cucu seorang nenek penjual pecel pincuk?" omel Dewa pagi-pagi sebelum guru datang. Semua teman sekelasnya memandang sinis ke arah Ana. Berbagai tatapan didapat Ana pagi itu. Ada yang menunjukan ekspresi melas, jijik, benci dan masih banyak lagi ekspresi yang tidak bisa diungkapkan, intinya, Ana merasa tersudutkan.
Pagi terburuk yang pernah dialami Ana selama 15 tahun semasa hidupnya. Ana hanya bisa menangis. Dia tak ingin menjelaskan apapun kepada siapa pun. Akan sia-sia, bagaimana pun dia menjelaskan kelebihannya, mereka yang membenci Ana tak akan merubah pandangan itu. Di mata mereka, Ana hanyalah anak miskin yang tinggal di gubuk reyot dengan seorang nenek tua penjual pecel pincuk keliling yang mengandalkan uang beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Mereka tak akan melihat sisi baik Ana. Bahkan mungkin Ana jauh lebih baik, lebih pintar dan lebih sabar dari mereka yang mengolok-oloknya seperti pagi itu.
[Apa salahnya menjadi cucu seorang nenek penjual pecel pincuk, toh sejauh ini aku bisa bersaing dengan mereka, bahkan aku jauh lebih sering mendapatkan prestasi daripada mereka?]