
Sejak pertemuannya dengan Ana, sahabat kecilnya, Dewa sering memata-matai kegiatan yang Ana lakukan. Berita pencarian orangtua kandungnya pun terdengar sampainke telinga Dewa.
👨💼: An...bisa kita ketemu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, please (Dewa)
....
"Dewa?" gumam Jesica setelah melihat nitifikasi pesan di ponselnya.
🙎♀️: Ada apa Wa? Aku tak bisa keluar tanpa izin dokter Rio
👨💼: Sebentar aja, aku bisa membantumu mencari orangtua kandungmu
🙎♀️: Darimana kamu tau?
👨💼: Nanti kuceritakan, bisa ya? Atau aku ke rumahmu aja?
.......
Jesica meminta izin keluar sebentar pada dokter Rio. Dia menyetujui, ini pertama kalinya Jesica keluar kamar sejak informasi tentang orangtuanya didapatkannya. Dokter Rio meresa lega, dia beranggapan kalau Jesica mulai kembali bangkit dari keterpurukan yang kesekian kalinya.
"Jangan terlalu jauh ya... minta Bibi menemani kamu, maaf aku ada jadwal pagi, ga bisa nganterin dan nemenin kamu Jes...."
"Ga apa-apa dok...aku cuma ke taman deket rumah, ga usah, kayaknya Bi Mumun sedikit sibuk, aku pergi sendiri, paling 30 menit, ga akan lama."
"Ok...hati-hati, aku ga mau kamu kenapa-napa Jesi!"
"Iya, aku bisa jaga diri."
🙎♀️: Wa...kita ketemu di taman dekat rumahku bisa? Sekarang, aku cuma punya waktu 30 menit untuk menemuimu
👨💼: Ok
****
(Di taman)
"An...." sapanya begitu melihat Ana muncul dari balik pepohonan yang berjajar di sekitar taman. Rupanya Dewa lebih dulu sampai di taman.
"Apa yang mau kamu sampaikan padaku tentang orangtuaku, bagaimana kamu tau aku sedang mencari mereka?" ucap Jesica tanpa basa-basi.
"Sebelumnya, aku mau minta maaf soal kejadian beberapa belas tahun yang lalu, aku sungguh minta maaf telah membuat wajahmu......"Belum sempat Dewa melanjutkan kata-katanya, Jesica memotongnya.
"Itu masa lalu Wa, aku udah melupakannya!" jawab Jesica agak ketus.
"Kamu maafin aku atas kejadian itu?"
Jesica tidak menjawab, dia lebih memilih mengalihkan topik pembicaraannya.
"Langsung aja Wa... waktuku ga banyak!"
"Ok.... aku denger kamu lagi nyari orangtua kandungmu? Benar namanya Candradinata dan Nadine?"
"Yang aku tau begitu, bagaimana kamu tau?"
"Aku bisa membantumu, asalkan kamu ijinkan aku untuk kembali menjadi sahabatmu, seperti dulu."
Jesica menyetujui persyaratan dari Dewa. Meski pernah disakiti olehnya yang berdampak puluhan tahun, lantas tak membuat seorang Jesica menjadi pendendam. Dia bukan tipe gadis yang seperti itu. Setelah pertemuannya dengan Dewa di taman, siang itu, Jesica kembali bersemangat. Setiap hari ia selalu berharap mendapat kabar bagus dari Dewa. Tepat sebulan setelah persetujuannya dengan Jesica, Dewa sudah menemukan alamat kediaman orangtua kandung Jesica.
"Wa....terimakasih atas bantuanmu." ucapnya begitu tulus.
"Sama-sama, senang bisa kembali membantumu. Aku senang jika kamu bisa ketemu sama orangtua kandungmu, artinya kamu bukan cucu Simbok penjual pecel pincuk."
"Apa maksudmu berkata begitu? Emangnya kenapa kalo aku cucu Simbok penjual pecel pincuk? Aku ga pernah menyesal dibesarkan oleh Simbok, asal kamu tau Wa...Simbok udah seperti nenek kandungku."
"M-maaf....aku ga bermaksud seperti itu An..."
"Udah lah Wa..."
"Kamu marah?"
"Tepatnya tersinggung, kamu ga boleh begitu Wa...emang kenapa dengan profesi itu. Itu halal, itu ga merugikan orang lain, itu juga ga ....."
"Iya An... aku salah. Maaf sekali lagi ya?"
"Kapan kamu kesana?"
"Aku akn kesana dengan dokter Rio, aku ga bisa melibatkanmu terlalu jauh dengan urusanku Wa. Maaf ya. By the way...kamu bisa secepat ini darimana?"
"Aku kerja di BIN, jadi staff khusus. Ini mudah buat aku An...koneksiku banyak."
"Oh...ini kenapa kamu bisa tau apa yang sedang aku lakukan?"
Dewa nyengir.
"Bangga aku, sahabatku jadi orang hebat. Congrats!" Jesica menyalami Dewa. Dewa sedikit salah tingkah. Mungkin perasaannya sedikit berbeda dengan kondisinya dulu. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan olehnya.
Jesica menyampaikan informasi yang ia dapatkan dari Dewa. Dokter Rio senang, namun ekspresinya tidak bisa ditebak. Sepertinya ia tidak suka dengan hubungannya dengan Dewa, tapi bagaimanapun juga, Dewa sudah membantu Jesica menemukan alamat orangtua kandungnya. Itu yang menjadi impian terbesar bagi kekasihnya, bertemu ibu kandungnya. Dokter Rio tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan Jesica. Baru saja dia kembali menemukan harapannya.
"Aku akn mengantarmu besok ya?" tawar dokter Rio.
Sebenarnya Jesica agak keberatan harus menunggu besok, tapi dia tau kesibukan kekasihnya yang berprofesi sebagai dokter bedah. Jadwalnya pasti sangat padat. Beruntung Jesica menjadi bagian dari kehidupan dokter Rio. Dokter Rio selalu berusaha memprioritaskan Jesica.
***
Selepas shubuh, dokter Rio dan Jesica sudah bersiap menuju kediaman orangtua kandung Jesica sesuai alamat yang diberikan Dewa di kawasan Bogor. Sedikit dekat dengan villa yang pernah ditempati Jesica kala itu.
"Dok....aku ga sabar ketemu ibu kandungku," katanya sambil memegang tangan dokter Rio yang sedang mengemudikan mobilnya.
Sekarang Jesica sedikit lebih rileks menjalani hubungannya dengan dokter Rio. Setidaknya tidak ada kata "saya" diantara mereka. Cukup "aku" dan "kamu", itu sudah cukup menghilangkan jarak sosial diantaranya.
"Jes...makasih ya?"
"Hmmm.....apanya? Kenapa? Harusnya aku yang berterima kasih."
"Kamu udah jadi gadis yang kuat, yang mau bangkit, yang mau berjuang."
"Ini semua karena kamu!"
Lega rasanya, terdengar sangat manis, mungkin banyak gadis yang lebih cantik, yang lebih baik, yang lebih pintar, yang lebih kaya tentunya. Entah mengapa dokter Rio menjatuhkan pilihannya kepada Jesica, seseorang yang belum jelas latar belakangnya pada saat itu.
"Kita sampai, ayo turun."
"Eh...."
"Kenapa?"
"Nyangkut."
"Iya, harusnya aku membawanya ke bengkel, dari kemarin jadwalku terlalu sibuk, biar kubantu ya?"
Jesica mengangguk, dokter Rio sedikit kesusahan melepas seatbelt yang terbelit di pinggang Jesica. Dokter Rio sedikit mendekat lagi agar ia lebih leluasa melepas kaitannya. Tanpa sengaja hidung mereka bersatu. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, mendadak mobil menjadi panas, keringat mereka bercucuran. Ini bukan pertama bagi dokter Rio bertatapan sedekat itu dengan gadis lainnya yang sering ia pacari. Tapi pertama kalinya mereka berdua sedekat ini.
"Ah...akhirnya," ucapnya. Dokter Rio segera menjauh dari Jesica.
"S-sory...."
Jesica mengangguk malu, mereka keluar bersamaan. Jesica tak cukup kuat untuk bertemu ibunya yang tinggal berjarak beberapa meter di depan matanya. Nampak bangunan yang begitu megah di depan matanya. Jesica hampir tak percaya kalau itu adalah rumah orangtuanya.
"Tenang Jes....aku ada di samping kamu," ucap dokter Rio seraya menggenggam tangan Jesica erat.
Perasaan Jesica sedikit tenang dengan adanya dokter Rio di sampingnya. Pagar besi yang begitu tinggi dengan penjagaan yang terbilang ketat. Wajar, mereka adalah orang terpandang dan berduit banyak.
"Ketemu siapa, jika belum ada janji, kalian ga bisa masuk. Majikan saya sangat sibuk." Security memberi peringatan.
"Lepaskan kalungmu, berikan padanya," ucap dokter Rio pada Jesica.
"Untuk apa?"
"Lakukan aja, mereka akan keluar dengan sendirinya."
Jesica melakukan apa yang dikatakan oleh dokter Rio.
"Berikan kalung itu pada Bu Nadine, beliau pasti mengerti."
Security masuk ke dalam bangunan mewah itu dengan membawa kalung pemberian Jesica. Dengan jantung berdebar, Jesica yang masih ditemani dokter Rio menunggu kedatangan Bu Nadine di luar pagar.