We Never Know

We Never Know
Ternyata Anak Haram?



"Jesi....kenapa kamu memakai dua liontin, apa yang satu ini begitu penting?" tanya dokter Rio yang tak sengaja melihatnya.


"Iya, ini adalah peninggalan orangtuaku, ini diberikan Simbok sehari sebelum Simbok akhirnya masuk puskesmas dan meninggal."


"Maaf, aku ga tau," sesal dokter Rio.


"Ga apa-apa dok... kalung ini juga yang membuatku datang ke ibu kota, aku mencari keberadaan mereka yang entah dimana," terang Jesica.


"Maksudmu?"


"Ternyata aku bukanlah cucu kandung Simbok, aku di temukan di depan teras rumah kami di Malang. Kalung ini adalah pemberian satu-satunya orangtua kandungku, ini mungkin bisa kugunakan untuk mencari mereka. Tapi aku ga tau harus mulai dari mana."


"Boleh kulihat?"


Jesica melepas salah satu kalungnya, sialnya tersangkut oleh rambutnya. Dia kesusahan, dokter Rio membantunya, otomatis Jesica harus menyibakan rambutnya ke depan, membuat leher jenjangnya terpampang di depan dokter Rio. Dokter Rio mencium dengan jelas aroma tubuh Jesica dan mencoba menciumnya. Jesica menolak dan mendorong sedikit tubuh kekasihnya.


"Maaf...." sesal dokter Rio.


"Aku ga bermaksud......" lanjutnya.


Jesica tersenyum kemudian mengangguk. Dia mengerti, dokter Rio tak bermaksud demikian. Dokter Rio mengamati kalung itu dengan detil, sekejap saja dia mengerti.


"Ini adalah edisi terbatas pada masanya, terbuat dari emas putih. Kurasa orangtua kandungnu bukanlah orang biasa."


"Maksud dokter?"


"Ya.... yang kutahu, seseorang yang bisa mendapatkan emas mewah seperti ini hanya kalangan tertentu."


"Dokter yakin?"


Rio mengangguk.


"Apa kamu tak mempunyai foto mereka sama sekali?"


Jesica menggeleng, namun ia sedikit lega, setidaknya ia berasal dari orangtua yang berada. Dokter Rio menjelaskan detil tentang kalung tersebut.


"Besok akan kutanyakan siapa pembeli kalung ini pada temanku. Aku harap kamu segera menemukan orangtua kandungmu. Kuantar ke kamar ya, ini udah malem, besok kita lanjutkan lagi."


Jesica dan dokter Rio masuk ke kamar masing-masing. Memang mereka tinggal satu atap selama ini. Selama 5 tahun bahkan lebih, sebelumnya Jesica pun memang sudah tinggal dengan dokter Rio, sebelum ia menjadi kekasihnya. Tidak ada yang terjadi selain bersentuhan kulit seperti biasa, dokter Rio begitu melindungi Jesica, pun sebaliknya, Jesica begitu menghormati dokter Rio. Dia tidak mau, nama baik kekasihnya dipertaruhkan hanya karena cinta sesaat.


"Aku ga sabar nunggu besok. Tapi....jika memang benar seperti dugaan dokter Rio, kenapa mereka membuangku? Apa kehadiranku tak diinginkan. Atau jangan-jangan....ah tidak.....Simbok mengajariku untuk tidak menerka sesuatu yang belum jelas, begitu juga dokter psikiater itu. Aku ga boleh terlalu overthingking. Aku ga perna tau apa yang akan terjadi ke depannya," gumamnya.


Jesica terus memikirkan tentang kalung itu, tak sadar waktu sudah menunjukan pukul 04.00. Tiga puluh menit setelahnya, matanya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dia tertidur.


"Bi....sampaikan pada Jesica, saya harus berangkat lebih pagi, sepertinya dia masih tidur, tadi saya ke kamarnya tapi ga ada jawaban."


"Siap den.... tenang aja. Den dokter ga usah cemaskan neng Ana." Bibi begitu menyayangi mereka berdua layaknya seorang ibu. Begitu pula sebaliknya.


Seharian itu dokter Rio sibuk menghubungi rekan-rekannya yang berprofesi sebagai detektif. Hingga beberapa hari ke depan, su detektif mencari informasi terkait kalung Jesica. Tidak butuh waktu terlalu lama, 2 hari setelahnya, dokter Rio mengantongi sejumlah informasi tentang orangtua Jesica melalui jejak kalung yang ia berikan saat Jesica bayi.


"Jes....bisa kita bicara sebentar, mungkin akan sedikit membuatmu terkejut, tapi bagaimanapun kamu harus tau."


"Apa ini ada hubungannya dengan orangtua kandung saya?"


Dokter Rio mengangguk sambil mengatur posisi yang tepat untuk mereka mengobrol empat mata. Cukup privasi, di sebuah restoran dengan VIP room menjadi tempatnya.


"Aku sudah tau, orangtuamu masih hidup, mungkin ada di Jakarta, tapi aku belum tau tepatnya dimana. Namanya adalah Ibu Nadine istri dari Bapak Candradinata. Candradinata sendiri yang kutau adalah pengusaha sukses dan kaya raya sejak dulu, garis keturunannya memang tergolong ningrat. Cuma itu yang bisa kukorek, selanjutnya kita busa mencari tau lagi."


"Aaaa......saya senang sekali mendengar kabar ini dok, ini berarti banget. Akan kupikirkan selanjutnya."


"Mmmm....begini, beliau ini bukan orang sembarangan, rahasia kehidupan mereka sangat terjaga, tidak sembarang orang bisa mendapatkan informasi detil tentang mereka."


Jesica menjadi pesimis lagi mendengar kelanjutan penjelasan dari dokter Rio.


"Kamu tenang aja Jes...aku pasti akan terus membantumu kok, detektif sewaanku juga bukan orang sembarangan. Kamu liat, 2 hari mereka dapat menemukan informasi emas ini. Kamu ga usah khawatir." Dokter Rio terus memberi semangat kepada Jesica agar ia tak putus asa.


Sebulan.....dua bulan...tiga bulan....


Dokter Rio terus mengumpulkan semua informasi tentang pengusaha kaya bernama Candradinata, terutama tentang masa lalunya sekitar 24 tahun yang lalu. Sedikit demi sedikit ia mengantonginya. Memang tak mudah dan ia merogoh kantongnga dengan nominal yang tidak bisa dikatakan sedikit, tapi semua ia lakukan demi Jesica, demi kekasihnya.


"Dok...bagaimana?" tanyanya setelah mereka selesai makan malam.


"Apapun yang kamu dengar, please...calm down. I know you are strong girl...understand?"


"I'm promise...."


"Berdasarkan informan yang aku dapetin, emmm.....Bu Nadine memang ibu kandungmu, tapi Candradinata bukan ayah kandungmu."


"Maksudnya?" tanya Jesica.


"Jadi...sebulan sebelum mereka menikah, Bu Nadine dibawa kabur oleh seseorang yang mengaku sebagai pesaing bisnis Bapak Candradinata. Namun setelah ditelusuri, ternyata orang itu juga menyukai ibumu. Ibumu diperkosa oleh laki-laki itu. Candradinata murka, dia mencari tau siapa yang melakukannya, hingga akhirnya ia ditemukan, kemudian dihajar habis-habisan dan dijebloskan ke penjara. Dia tau, laki-laki itu adalah pemilik bar yang cukup terkenal di ibu kota. Menurut pengakuannya, ibumu pernah menjadi wanita penghibur, entah benar atau tidak. Candradinata terlanjur jatuh cinta dengan ibumu, dia mau menerima semua masa lalu ibumu asalkan meninggalkan si laki-laki itu dan menikah dengannya. Candradinata tidak tau bahwa ibumu sudah mengandungmu sebelum mereka menikah. Hingga akhirnya terlahir lah kamu, Candradinata mengetahui kamu bukanlah darah dagingnya. Ia meminta membunuhmu yang masih bayi. Ibumu tak tega, dia kabur dari rumah dan membuangmu ke Malang dan meninggalkan liontin yang kamu miliki itu. Ibumu kembali ke suaminya dan mengakui telah membunuh bayinya. Sampai sekarang mereka hidup damai, namun belum punya keturunan."


Jesica begitu syok dengan informasi yang diberikan dokter Rio. Dia menangis sejadi-jadinya. Mengurung dirinya berhari-hari tanpa makan dan minum. Dia menganggap dirinya kotor, dirinya adalah anak dari hasil hubungan yang tidak seharusnya.


"Kenapa aku harus mengetahuinya setelah aku berhasil bangkit dari masa laluku yang menyedihkan. Kenapa aku harus dilahirkan dari hasil hubungan yang seperti itu? Apa aku tak berhak hidup bahagia? Aku harus mencari orangtuaku sesegera mungkin, aku harus mendengar penjelasan dari ibuku sendiri secara langsung ."