We Never Know

We Never Know
Kang Rusuh



"Jesi....bersiaplah, aku akan menjemputmu siang nanti!" perintah dokter Rio lewat suara di balik ponselnya.


"Tapi...." sangkal Jesica.


"Aku tidak butuh sangkalan, lekas, 10 menit lagi aku sampai rumah!"


Jesica mau tak mau bersiap untuk makan siang pertamanya setelah mereka resmi menjalin hubungan.


"Apakah itu perintah dari seorang majikan? atau seorang pacar?" gumamnya sambil menaburkan bedak tipis dan mengoleskan liptint di bibirnya. Ya... sejak ia menguasai ilmu kecantikan dari dokter Sella, Jesica jauh lebih pintar merawat diri. Terlebih sekarang dia sudah mempunyai kekasih hati.


Tiiiiit.....


"Ah...dokter Rio udah sampai, lebih cepat dari peringatannya."


"Ana....den Rio udah nunggu di depan," teriak Bi Mumun dari luar kamarnya. Bi Mumun satu-satunya orang yang tetap memanggilnya dengan panggilan Ana.


"Ya Bi...aku segera keluar."


5 menit dokter Rio menunggu kedatangan Jesica, tak kunjung datang, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke rumah melihat apa yang sedang dilakukan oleh Jesica.


"Jes....jes....aku udah nunggu 10 menit loh, dan kamu belum juga keluar?"


"Apanya yang 10 menit? Dokter baru memberitauku 5 menit yang lalu, katanya sampai dalam 10 menit, belum juga 10 menit, udah di depan rumah. Sekarang, baru nunggu 5 menit, dokter bilang udah sepuluh menit."


"Astaga....Jesica Anabela, perhitungan sekali kamu ini. Aku tau kamu begitu teliti dengan segala hal, tapi please....just at the time!"


Jesica keluar sambil merapikan kunciran rambutnya. Dokter Rio terbelalak melihat Jesica yabg keluar dari kamarnya. Tampak sangat berbeda dengan kesehariannya. Siang itu, meski hanya polesan tipis di wajahnya, membuat aura cantiknya semakin bersinar.


"Ehm..." Jesica membuyarkan lamunan dokter Rio.


"Jadi pergi?" tanya Jesica. Dokter Rio speechless.


"Jadi pergi?" tanya Jesica sekali lagi.


"Y-ya...tentu aja," jawab dokter Rio terbata.


"You look so beautifull," bisik dokter Rio sambil mengikuti langkah Jesica.


***


"Jangan berlebihan, saya bisa melakukannya sendiri dokter Rio." Jesica menolak bantuan kecil dari dokter Rio.


"Aku pacarmu, kenapa kamu menolaknya?"


"Dok...kalau hanya menarik sebuah kursi, saya bisa ngelakuinnya sendiri." Jesica tetap pada pendiriannya.


"Ok..ok!" Dokter Rio memilih tidak berdebat karena sebuah kursi. Dokter Rio mendekatkan tangannya ke balik kepala Jesica, ia sedikit kaget. Ikat rambut yang terpasang ditariknya perlahan, sontak membuat rambut Jesica yang sedikit pirang tergerai, lepas dibalik wajahnya yang tak kalah mempesona.


"Biarkan rambutmu terurai, begini lebih cantik," ucap dokter Rio sembari sedikit merapikan letak rambut Jesica. Jesica tak menolak, juga tak mengiyakan. Dalam hatinya mungkin masih bertanya-tanya, kenapa dokter muda itu bisa menyukai gadis seperti dirinya.


"Jes...are you okay?"


"Yes...i'm okay."


Begitu banyak penyesuaian yang harus Jesica lakukan sejak ia menjadi kekasih dokter Rio. Mulai dari kebiasaan berpakaian, merias wajah, perilaku, pengetahuan, dan hampir semuanya harus ia sesuaikan. Ia sungguh tak ingin membuat dokter Rio malu dengan posisinya menjadi kekasih seorang gadis kampung. Mungkin sebagian dari mereka tak begitu peduli dengan masa lalu Jesica, yang dilihat adalah Jesica saat ini, yang memiliki paras ayu, kulit putih dengan rambut sedikit pirang, badan yang cukup tinggi serta otak yang tak kalah pintar dengan pasangannya. Siapa yang menyangka dia hanya lulusan SMA. Begitu besar keinginannya untuk memperbaiki dirinya agar sedikit sepadan dengan dokter Rio. Akhirnya Jesica Anabela menyelesaikan pendidikan tingginya dalam waktu 3,5 tahun dengan peringkat cumlaude.


***


"Jes... aku punya sesuatu untukmu, semoga kamu suka," dokter Rio mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari balik jas dokternya.


Sebuah liontin angsa dari emas putih, terlihat sangat elegan. Dokter Rio mengalungkan ke leher Jesica.


"Perfect!" katanya.


"Dokter ga perlu melakukan ini padaku," ucap Jesica sedikit sungkan.


"Aku serius dengan hubungan kita, kita udah pacaran hampir 5 tahun, bagaimana kalau....." belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, seseorang berjas dengan sepatu pantofel hitam menghampiri meja mereka berdua.


Jesica menoleh, sambil mengingat apakah ia sungguh mengenal pria di depannya yang bergaya necis, tak kalah tampan dari dokter Rio.


"Apa kamu lupa denganku?" tanyanya kemudian.


"Emmm.... Dewa?" tebak Jesica.


"Ah...syukurlah, kamu masih mengingatku dengan baik. Udah lama banget kita ga ketemu, sejak lulus SMA ya?" celotehnya dengan wajah berbinar.


[Mana mungkin aku melupakanmu Wa.... kamu adalah alasan hidupku menderita, kamu yang membuatku cacat, tuli, malu dan minder selama masa remajaku. Ga mungkin aku bisa melupakan semuanya, meski kita pernah menjadi sahabat baik kala itu, tapi luka itu akan selalu membekas untukku]


"Tentu aja aku ingat," jawab Jesica.


"Siapa?" tanya dokter Rio.


"Perkenalkan, namaku Dewa, sahabat Ana waktu kecil. Cukup lama kami bersama, aku kenal baik dengannya, begitu juga dengan dia. Kami selalu menghabiskan waktu muda kami berdua. E...."


"Hanya teman kecil saja dok..." potong Jesica, ia tak ingin mendengar bualan Dewa.


Jesica tidak mau usahanya untuk bangkit, kemudian hancur kembali karena seseorang yang pernah melukainya kembali hadir dalam kehidupannya saat ini.


"Okay...." jawab dokter Rio singkat.


"Boleh aku gabung dengan kalian?" tanya Dewa.


Mereka berdua terpaksa mengangguk, mengiyakan Dewa untuk ikut makan bersama mereka. Dewa begitu banyak bercerita tantang kedekatannya dengan Jesica pada waktu sebelum kecelakaan itu terjadi. Dewa dan Jesica saling bertukar nomer ponsel.


***


Setelah pertemuannya yang pertama dengan Jesica, Dewa sering menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Beberapa kali mereka bertemu di rumah sakit tempat dokter Rio bekerja. Sella yang sempat melihat mereka mengobrol di kantin rumah sakit, diam-diam mendekati Dewa dan mengajaknya bertemu.


"Kenalkan, nama gue Sella, lo kenal dengan Jesica?" tanyanya pada pertemuan keduanya dengan Dewa.


"Tentu aja, gue sahabat kecil Ana....mmm maksud gue Jesica. Kenapa?" tanya Dewa.


"Lo suka sama Jesica?"


"Bukan urusan lo Sel."


"Gue bisa bantu lo!" tawar Sella.


"Yakin?"


"Gue sahabat dokter Rio, pacar Jesica yang sering lo temui itu."


"Mereka udah pacaran?"


"Bentar lagi tunangan!"


"What?" Dewa terkejut.


"Gimana tawaran gue?"


Dengan senang hati, Dewa sepakat dengan penawaran Sella. Meski awalnya ragu, demi kembali dekat dengan Jesica ia menyanggupi persyaratan yabg diajukan oleh Sella. Jesica yang sekarang adalah wanita impian bagi pria dewasa. Tentu saja Dewa terpikat begitu ia melihat Jesica saat ini.


Dewa semakin gencar mendekati Jesica, bahkan sempat mendatangi ke rumahnya yang juga rumah dokter Rio. Lama kelamaan, dokter Rio risih dengan kehadiran Dewa dalam kisah cintanya bersama Jesica.


"Rio.... gue liat tadi Jesica pergi dengan seseorang, apa kamu tau?" ucap Sella setelah mereka selesai rapat tim dokter rumah sakit. Sella terus mengompori situasi agar semakin panas. Semua adalah rencananya dengan Dewa agar hubungannya dengan Jesica berantakan. Dengan demikian Dewa bisa mendapatkan Jesica dan Sella bisa kembali dekat dengan Rio. Rio adalah ambisi untuk Sella. Meski berkedok sahabat dan rekan kerja, jauh di lubuk hatinya, Sella ingin memiliki Rio sebagai kekasihnya.


Rio hanya menjawab dengan nada dingin, berusaha tidak ikut terpancing dengan


situasi yang dibuat panas oleh Sellla.


"Gue tau siapa Dewa dan gue lebih percaya pacar gue daripada lo Sell, sorry!"