
Prestasi yang ditorehkan Ana semakin menumpuk, semua penghargaan, juara perlombaan hingga nilai harian semakin mengharumkan nama Jesica Anabela di SMP 3 Malang. Siapa yang tidak mengenal dirinya. Semua guru dan karyawan memuji atas kepintarannya, mengbaikan latar belakang Ana yang hanya cucu nenek penjual pecel pincuk. Beberapa diantaranya bahkan mengidolakan dirinya. Kehidupan yang sederhana, kepintaran dan kecerdasan otak diatas rata-rata serta wajah ayu dan good attitude menjadi sorotan utama dan point plus untuk seorang Ana.
"Ana...bu guru sangat bangga padamu, teruslah menjadi bintang yang bersinar untuk kami," ucap wali kelasnya seusai pelajaran selesai. Dewa mendengar pujian gurunya kepada Ana. Hatinya panas, emosinya memuncak.
"Heh.... tukang cari muka, emang harus banget jualan muka, jualan pecelmu gak laku ya?" semprot Dewa setelahnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Ana benar-benar tak mengerti.
"Kamu benar-benar gak tau malu ya. Kamu mau menyingkirkan aku sebagai sainganmu? Coba saja kalo bisa!"
"Sama sekali enggak Wa....Aku tak pernah berfikir seperti itu."
"Halaah!!"
Dewa meninggalkan Ana dengan sewot. Kakinya berjalan dengan cara dihentak-hentakan. Ana hanya geleng-geleng dengan ulah Dewa yang "pernah" menjadi sahabatnya.
"Liat aja An...aku akan mengubah nasibmu! Apa pun caranya!" gumam Dewa sambil terus berjalan meninggalkan lingkungan sekolah.
***
(Ujian Akhir Sekolah)
List Pembagian Kelompok Ujian Praktek Kimia
Kelompok 1
1._____ 3.____
2._____ 4.____
Kelompok 2
1._____ 3.____
2._____ 4.____
Kelompok 3
Jesica Anabela 3.____
Dewa Anggoro 4.____
Kelompok 4
1.____ 3.____
2.____ 4.____
"Hish...ngapain sekelompok sama Ana sih?" Dewa menggerutu setelah melihat namanya berurutan dengan nama Ana.
"Wa...kita sekelompok, mudah-mudahan kita bisa bekerja sama seperti dulu," harap Ana.
"Jangan berharap ya!" jawab Dewa ketus.
Begitu besar kebencian Dewa terhadap Ana, hingga pikiran kotornya terbesit. Akan ada kejadian yang buruk akan menimpa Ana. Waktu untuk ujian praktek kimia semakin dekat. Dewa semakin bulat niatannya untuk mencelakai Ana demi mendongkrak prestasinya kembali naik. Hingga suatu hari yang paling menakutkan itu benar-benar terjadi.
Dentuman keras diiringi asap hitam mengepul di udara. Semua siswa yang sedang praktek di laboratorium kimia sontak lari tunggang langgang. Begitu pula para guru dan karyawan, mereka segera menyelamatkan para siswanya. Naasnya ada dua orang murid yang terjebak dalam ruangan tersebut. Mereka adalah Dewa dan Ana. Mereka berdua masih berada di dalam ruangan itu.
"Dewaaaaa..... " teriak Ana memanggil-manggil Dewa. Tak ada jawaban dari sahabatnya, membuat Ana semakin panik. Dia terus mencari-cari keberadaan Dewa.
"Toloooong......"
Ana mendengar suara rintihan dari seseorang. Dia sangat yakin suara itu berasal dari Dewa. Setelah cukup lama mencari-cari, Ana menemukan Dewa yang tak bisa berjalan karena tertimpa meja yang terbakar. Dia bergegas menggulingkan meja untuk menolong Dewa. Dewa selamat, namun dengan sengaja dia menjatuhkan bahan kimia dan sialnya mengenai wajah Ana. Ana histeris, ketakutan dan menangis. Bukannya menolong Ana, Dewa justru berlari meninggalkan Ana seorang diri. Ana merintih sambil mengesot ke arah pintu. Tiba-tiba ...
BRAAAAK....
Sebuah botol uji terbang dan mendarat tepat di salah satu telinga Ana dan pecah karena suhunya terlalu panas. Ana kaget dan terpental dengan keras ke salah satu sudut ruangan, pelipisnya terbentur sisi wastafel yang lumayan tajam. Darah mengucur dari sana. Ana semakin histeris. Ambulans dan pemadam segera datang, Ana segera di evakuasi. Ana di larikan ke rumah sakit terdekat. Ana langsung mendapat penanganan dari ruang ICU.
Seorang guru menghampiri kediaman Simbok. Terlihat Simbok sedang menunggu pembeli pecel pincuk. Wajahnya berseri begitu melihat seseorang mendekati gubuknya.
"Mau beli pecel berapa bungkus nak?" tanyanya semangat.
Guru yang datang menjadi ragu untuk mengatakan cucunya sedang di rumah sakit. Tapi, tak ada cara lain untuk menghindarinya, tujuannya kesana memang untuk mengatakan hal tetsebut.
"Bukan...bukan Mbok, saya gurunya Ana, ingin mengabarkan bahwa Jesica Anabela, cucu Simbok sedang di rawat di RSIA Muhamadiah Malang."
"Gusti Pangeraaaan....!"
Simbok jatuh, air matanya berlinang. Suaranya gemetaran, Simbok mengikuti sang guru itu untuk menemui Ana. Simbok berjalan dipapah, langkahnya sangat pelan, membuat si guru sedikit ragu, apakah akan kuat melihat kondisi Ana yang cukup parah akibat kecelakaan itu.
Di RSIA Muhamadiah Malang....
Simbok dan guru sampai, langsung menuju ke depan ruang ICU. Ada beberapa murid termasuk Dewa dan beberapa guru serta kepala sekolahnya.
"Ana....Ana?" teriak lirih Simbok.
Bapak kepala sekolah mendekati Simbok, menenangkannya dan memberinya segelas teh hangat. Dokter keluar dari ruangan, semua harap-harap cemas.
"Bagaimana kondisi murid saya, dokter?"
"Kondisinya sangat parah Pak...wajahnya tersiram larutan kimia yang cukup membahayakan, ini menimbulkan luka bakar pada wajahnya. Kemudian..... bagian vital telinganya juga mengalami kerusakan yang cukup berisiko si pasen akan mengalami cacat pendengaran."
Simbok lemas kemudian tak sadarkan diri. Terlihat wajah para guru dan teman-temannya prihatin dengan kondisi Ana saat itu, kecuali Dewa. Wajahnya datar, bagaikan tak berdosa. Andai ada kebenaran mencuat, mungkin Dewa tak akan setenang saat itu.
"Keluarganya?" tanya dokter.
"Hanya neneknya yang sudah sepuh, sampaikan saja pada kami, dokter," ucap kepala sekolah.
"Baiklah...begini bapak, saudari Ana akan mengalami cacat wajah, dia harus menggunakan masker transparan agar luka wajahnya tak terpapar debu atau panas matahari secara langsung, jika tidak, ini akan beresiko wajahnya terinfeksi. Dia bisa sembuh dengan jalan operasi plastik atau bedah wajah. Begitu juga dengan telinganya, itu bukan cacat permanen, tapi cukup mengganggu. Untuk sementara dia bisa menggunakan alat bantu pendengaran."
Penjelasan dokter membuat para guru tercengang.
"Bagaimana Ana bisa melewati ini semua Pak, dia pasti akan syok dengan berita ini," tanya wali kelasnya pada kepala sekolah.
"Kita hanya bisa menguatkannya semementara. Selanjutnya kita hanya bisa menyerahkan semua ini padanya. Sebenarnya saya tak tega dengan kondisi ekonominya, tapi pihak sekolah tak mungkin membiayai operasi bedah yang seperti dokter tadi katakan. Itu memerlukan biaya yang sangat banyak."
Satu bulan kemudian.....
Jesica Anabela, cucu seorang nenek penjual pecel pincuk yang mengalami cacat wajah dan tuli, membuatnya semakin minder, terlebih keadaan ekonominya, tak memungkinkan bagi Ana untuk bisa mengembalikan wajahnya seperti sediakala.
"Mbok...jangan sedih, hanya wajah dan pendengaran Ana yang terganggu. Ana masih punya otak untuk berfikir, masih punya hati yang akan selalu bersih seperti yang Simbok selalu ajarkan. Biarlah teman-teman selalu mengejek Ana, mereka akan lelah dan diam dengan sendirinya. Ini bukan salah Simbok, Ana janji, setelah ini Ana akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di SMA N 3 Malang, seperti impian Simbok. Do'akan Ana selalu ya Mbok....biar Ana kuat!."
Simbok membalasnya dengan belaian lembut layaknya seorang ibu pada anaknya. Simbok tak kuasa melihat ketegaran dan kesabaran hati cucunya itu.