We Never Know

We Never Know
Wali Nikah



Pernikahan antara dokter Rio dengan Jesica semakin dekat. Jesica berusaha keras untuk menjadi seseorang yang bisa terus mengimbangi dan mendampingi calon suaminya.


"Siang ini kujemput ya.... " ucapnya dari balik ponselnya.


"Ga usah, kita ketemu di butik aja Mas..." sambung Jesica.


"Minta antar sopir, jangan pergi sendiri."


"Tapi..."


"Ok...kita ketemu di butik jam 14.00." Dokter Rio memutuskan sepihak. Meski demikian, Jesica selalu senang menerima keputusan apapun dari dokter Rio yang sekarang ia panggil "Mas".


"Eh...Sell mumpung ketemu, ini ada undangan dari gue sama Jesi." Rio memberikan undangan resepsinya pada Sella. Bagaimana pun dia adalah rekan kerja dan sahabatnya, meski sekarang hubungan mereka tengah kurang baik.


"Lo ngundang gue?"


"Terserah lo mau dateng apa engga, kalo elo masih anggep gue temen lo, dateng, kalo engga, fine....terserah!"


Dokter Rio pergi begitu undangan untuk Sella sudah benar-benar di tangannya. Sella tak habisa pikir, sahabatnya benar-benar menambatkan hatinya pada seorang gadia kampung yang pernah cacat bahkan buruk rupa seperti Jesica Anabela. Sella sempat berpikir tak akan mau melihat pernikahan mereka berdua, tapi tak ada gunanya sekalipun ia mengumpat seumur hidupnya karena kalah saing dengan gadis lugu itu.


"Ok gue dateng ke resepsi pernikahan kalian," teriaknya setelah melihat Rio melangkah agak jauh.


Tanpa menoleh sedikit pun Rio berjalan sambil mengacungkan jempolnya dan melepas jas dokternya. Beberapa perawat dan dokter muda yang tak kalah cantik dari Sella memghampirinya. Menanyakan perihal undangan yang mereka terima.


"Dokter Rio....apa kamu sungguh akan segera mengakhiri masa lajangmu? Kenapa begitu cepat, ummmm..... bagaimana dengan kencan kita yang sempat gagal waktu itu?" tanya seorang perawat senior yang berstatus janda.


"Maafkan aku sus, sepertinya aku harus membersihkan namaku dari hati dan pikiran kalian. Aku sudah menemukan separuh jiwaku. Lupakan tentang kencan itu ya!" jawab dokter Rio sambil mengedipkan satu matanya. Bukannya lupa, klepek-klepek iya. Susah memang jadi playboy ganteng dan tajir. Kemana pun melangkah ada saja yang ia tinggalkan untuk memikat kaum hawa.


Dokter Rio segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu butik antara rumahnya dengan rumah sakit tempat ia bekerja. Dia mempunyai waktu 2 jam untuk memastikan sebagian atribut untuk resepsinya nampak sempurna.


"Maaf sayang, dari tadi?" tanya dokter Rio setelah memarkir mobilnya.


"Lima belas menitan..."


"I'm sorry to late...."


"Nevermind, it's okay...."


"Ladies first...." dokter Rio mempersilakan Jesica untuk masuk ke butik terlebih dahulu. Jesica jatuh di tangan laki-laki yang tepat. Dia bagaikan putri cantik dari salah satu kerajaan sebrang.


Ponsel Jesica berdering, Nadine, ibunya menelponnya.


"Ya bu...."


"Masih di butik?" tanya ibunya.


"Iya, Jesica baru aja sampai, Ibu mau kesini?"


"Mmm...mungkin agak telat nak, gimana?"


"Ga apa-apa Bu....Pak Candra gimana?"


"Itu urusan ibu, lanjutkan aja ya... 30 menit lagi ibu sampai." Nadine menutup telponnya.


"Gimana?" tanya dokter Rio.


"Pak Candra masih tetap sama. Ibu pergi sendirian. Mas....gimana mungkin aku menikah tanpa wali?"


"Kita bicarakan setelah Ibu datang, ya...?"


Jesica mengangguk, dia berusaha menahan tangisnya. Menutupi rasa sedihnya. Tidak lama, Nadine tiba di butik itu. Jesica dan dokter Rio sudah selesai fitting baju pengantin mereka. Sebuah foto ditunjukan kepada Nadine oleh pemilik butik. Ia menjadi sangat terharu.


"Bu...bisa bicara sebentar?"


"Tentu my sweety..." jawab Nadine.


Mereka memilih sebuah kafe dekat butik.


"Ada apa?" tanya Nadine.


"Sebenarnya gini Bu....aku agak sungkan untuk mengutarakan ini, tapi ini harus, mmm....siapa yang jadi wali nikahku?"


"Ibu ga yakin juga tentang ini, yang jelas bukan Candradinata yang datang."


"Lalu?"


"Mungkin, ibu akan menghubungi ayah biologismu, Seno," jawab Nadine ragu.


"Ga ada cara lain sayang...kamu ngerti kan? Ibu dalam situasi yang sulit, tapi ini harus dilakukan. Udah...pokoknya kamu tenang aja, ibu pastikan si Seno akan datang sebagai wali nikahmu."


Jesica sedikit lega, namun kecemasan lain menyelimutinya.


"Bagaimana dengan hubungan Ibu dan Candradinata setelah ini. Bagaimana pula laki-laki itu dengan Ibu?" batinnya setelah mendengar penjelasan ibunya.


"Sayang....." ucap dokter Rio membuyarkan lamunan Jesica.


Sayang...."


"Jesi?" ucapnya sekali lagi.


"Ya mas, kenapa?"


"Kamu yang kenapa? Are you okay?" tanya dokter Rio.


"I'm okay..." jawab Jesica sekenanya.


"Ibu harus segera pulang, nanti ibu kabari lagi ya... maaf ibu tak bisa membantu terlalu banyak." Nadine pergi meninggalkan putri dan calon suaminya. Di dalam mobil mewah "BMW" dengan kecapatan tinggi itu, Nadine mencoba menghubungi Seno dengan perasaan yang tidak tenang.


"Halo Seno....aku Nadine?"


"Oh...Nadine, ya...tentu aku ingat dirimu, ternyata kamu masih menyimpan nomorku. Ada apa sayang?"


"Jangan panggil aku seperti itu, aku masih mempunyai suami, Candra!"


"Aku tau suamimu dengan baik, apa kabar kalian, pernikahan kalian baik-baik aja?"


"Ga perlu basa-basi, aku membutuhkan bantuanmu, pertama dan terakhir kalinya!"


"Dengan senang hati Nadine...."


"Anakmu bulan depan akan menikah, datanglah dan jadilah wali nikahnya!"


"Astaga, dia masih hidup? Kudengar Candra menyuruhmu untuk membunuh bayi kita?"


"Kamu ga perlu tau alasannya, aku hanya minta kamu untuk datang sebagai wali nikahnya, setelah itu menghilanglah dari kehidupannya!"


"Tentu...tentu sayang, aku akan mengabulka semua permintaanmu, tenang aja!"


"Aku akan kirimkan undangannya."


Nadine menutup telponnya dengan tangan bergetar. Berjuta rasa berkecamuk dalam hatinya. Antara senang bisa menghubungi Seno untuk wali nikah putrinya, serta rasa bersalah karena melanggar janji dengan suaminya untuk tidak pernah berhubungan dengan laki-laki bajingan seperti Seno. Tapi, ini adalah keadaan darurat. Tak mungkin pula Candradinata menjadi wali nikah Jesica, sebab ia sama sekali tidak mau tau tentang anak itu.


🧔 : Ternyata anak kita sangat cantik, mirip sekali denganmu, Nadine


💃: STOP! Jangan pernah menghubungi aku lagi Seno!


🧔: Aku ga pernah menghubungimu, bukankah kamu yang lebih dulu menelponku?


💃: Aku terpaksa melakukannya


🧔: Udahlah Nadine, jika kamu di ceraikan oleh Candra, aku siap menjadikanmu istri ke tiga ku!


💃: Cih.....ga sudi aku menjadi istrimu!


Nadine segera menghapus jejak percakapannya dengan Seno. Dia tak ingin hubungan pernikahannya dengan Candradinata rusak karena laki-laki gila itu.


"Maafkan aku Mas, aku ga bermaksud menyembunyikan ini semua, tapi seperti ini jalan yang kamu mau!" gumamnya.


****


"Jesi....apa kamu memberikan undangan kita pada sahabat kecilmu?"


"Menurutmu bagaimana baiknya Mas?"


"Undang aja, itu urusannya mau datang apa engga, ya?"


Jesica mengangguk, sebenarnya ia tidak begitu menginginkan kahadiran Dewa dalam hari pernikahannya, tapi ia memutuskan untuk tetap mengirim undangan virtual kepada Dewa.


Pernikahan mewah diselenggarakan, Sella dan Dewa hadir diantaranya. Seno hadir sebagai wali nikah Jesica. Untuk yang pertama kalinya dia bisa melihat kedua orangtuanya, meski dalam hubungan yang sangat tidak baik. Jesica tidak berbicara lain selain kata terima kasih dari mulutnya. Begitu pula Nadine, mereka berdua pulang dengan arah yang berbeda.


Mungkinkah Jesica hidup bahagia dengan dokter Rio setelah mereka menikah?