We Never Know

We Never Know
Sesal Terdalam



Jesica memang harus dipulangkan, siang itu, suster memberikan kabar kepada pengacara dokter Rio. Tak ada jawaban apa pun, mantan suami Jesica sengaja mengabaikan berita dari pengacaranya. Dia yang sedang berbulan madu dan bahagia diatas penderitaan istrinya, mantan istrinya, lebih tepatnya.


"Sus....kok suami Jesica ga dateng-dateng ya?" tanyanya panik


Sama halnya dengan Jesica, suster jaga pun lebih panik, bingung harus bersikap seperti apa. Seminggu lamanya ia menunggu penjemputan, tak kunjung datang. Dokter kepala sengaja mengosongkan waktunya di hari Minggu itu untuk mengantarkan Jesica ke Jakarta, Bintaro tepatnya. Satu-satunya alamat yang ia ketahui untuk bisa memulangkan salah satu pasiennya yang sudah kembali sehat. Seharusnya ini menjadi hari bahagianya, tapi sang dokter justru merasa ragu dan sedih akan kepergian Jesica.


***


(21.00 WIB)


"Benar ini rumahmu, apa kamu ingat?" tanya dokter kepala sambil memastikan halaman rumah yang sedang ia lihat dari kejauhan, dengan secarik kertas ditangannya.


Jesica tampak mengangguk tanpa ragu. Mereka berdua turun. Dari balik pintu gerbang nan megah, seorang security menghampiri.


"Neng Ana," sapanya syahdu.


"Mamang....." jawab Jesica pasti.


Segera pintu gerbang dibuka, security tampak membisu lalu mematung. Lidahnya kelu, begitu pun Jesica dan sang dokter. Meski yakin itu adalah rumah Jesica, dokter kepala ragu, apakah ia akan diterima kembali di rumah itu, sedangkan kebenaran belum diketahui oleh Jesica.


"Dokter Rio ada?" tanya sang dokter.


"Eee....anu," jawabannya terputus.


Sang dokter segera menangkap arah pembicaraan itu.


"Ada siapa di dalam?" lanjut dokter.


"Hanya bibi, asisten rumah tangga di rumah ini, ibu dokter," jawab security.


Tiba-tiba, Jesica melangkah tanpa ragu dan menggandeng tangan dokter. Security tak bisa berbuat apa pun selain mempersilakan semua berlalu begitu saja.


"Alamaaaak....begimane ini!" cemasnya setelah Jesica tak nampak dari pelupuk matanya.


Jesica membuka pintu megah rumahnya, bibi menyambut dengan histeris. Bi Mumun memeluk Jesica sambil bercucuran air mata.


"Bibi?" tanya dokter.


"Iya bu dokter, terimakasih sudah mengantarkan neng Ana, dokter."


"Tidak masalah, bisa bicara sebentar?"


Bi Mumun mengangguk mengiyakan. Mereka berjalan ke arah teras rumah, sementara Jesica tengah duduk di sofa empuk favoritnya sambil memainkan rambutnya serta melihat seisi rumah itu.


"Akhirnya aku kembali ke rumah ini, baunya masih sama, catnya pun tak ada yang berubah, mmmmmhhh.....aku rindu sekali dengan rumah ini!" gumamnya.


Bibi tampak sedang menjelaskan apa yang sudah terjadi di rumah itu, dokter pun dengan tenang meresponnya.


"Kita tidak bisa terus-menerus menutupi kebenarannya, biarkan dia tau, perlahan-lahan. Bibi kenal baik dengan Jesi?"


"Dia sudah kuanggap seperti anak sendiri dok."


"Baguslah, saya titip Jesi, Bi. Jika ada yang membuatnya kembali depresi, segera hubungi saya. Ini nomer saya."


Dokter meninggalkan rumah bak istana itu. Bibi menerima beberapa botol obat yang harus Jesica minum dengan rutin selama masa pemulihannya. Bibi mengantarkan ke kamarnya dulu. Kamar yang pernah menjadi sarang cintanya bersama dokter Rio. Malam itu, Jesica tertidur pulas memeluk pakaian tidur suaminya.


***


06.00


"Neng....." sapa bibi lembut dari luar kamar.


"Masuklah bi, ga dikunci."


Bibi masuk membawa sarapan dan beberapa butir obat sesuai pesan dokter malam itu.


"Dimana suamiku?"


Seketika, ruangan menjadi sunyi nan sepi.


"Bibi...." ulang Jesica.


"Oh...dokter Rio sedang dinas luar kota ya?"


"Kenapa bukan fotoku dan dokter Rio?" gumamnya.


"Ini foto siapa bi? Kenapa mereka mesra sekali? Kenapa mereka mengenakan gaun putih seperti waktu aku menikah dengan dokter Rio?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Jesica.


Air mata mulai membanjiri piyama satin yang masih ia kenakan. Bibi tak kuasa menahan sakit yang dialami Jesica. Bi Mumun menceritakan sebisanya seraya memeluk tubuh yang kini kurus tak terurus itu.


"Dimana sekarang?"


"Me...me..mereka sedang...."


"Honeymoon?"


Bibi hanya mengangguk, Jesica menangis sejadi-jadinya. Memberantaki semua yang ada di atas meja rias kesayangannya. Pecah, berantakan, berserakan, semua hancur lebur bersama dengan tangisnya yang tak terbendung. Sebutir pil berhasil menenangkan Jesica. Bibi memapahnya kembali ke tempat tidur itu.


"Bi...aki boleh sendiri?" pinta Jesica.


Bibi keluar dengan perasaan cemas.


"Nduk...nduk, apes tenan nasibmu cah ayu. Pancen wong wedok kae njaluk dikepruki. Kapanane ono wektu, tak waleske kabeh nggo koe nduk. Ojo kuatir nduk, umpamane koe nganti diusir, aku siap melu lungo bareng koe nduk! Ben wae den Rio golek simbok anyar. Aku ora peduli neh!" gerutu Bi Mumun sambil mengepel lantai marmer di rumah itu.


***


"Sayang....aku dapet kabar dari Om Jodi, pengacaraku, kalau Jesi, mantan istriku udah dipulangin dari Magelang."


"Terus....?"


"Dia sekarang di rumah."


"Dasar ga tau malu, dia bukan lagi ratu di rumah itu, kenapa ia masih berani pulang ke sana?"


"Kamu harus menjaga emosimu di depannya ketika nanti kalian bertemu. Bagaimanapun dia pernah menjadi istriku. Jesica pernah menderita karena keegoisanku. Kami pernah melewati masa sedih dan senang bersama-sama..Please, biarkan dia tinggal untuk sementara waktu. Dia sebatang kara, tak ada siapa pun di luar sana. Ya, sayang?"


"Terserah kamu!"


Sesampainya di rumah, dokter Rio langsung bisa menemukan mantan istrinya. Ada bibi juga di sana. Bibi sengaja pasang badan menyambut kepulangan majikannya. Menyiapkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Wanita bernama Mona, yang kini menjadi majikan dan ratu di rumah itu berhasil menahan emosinya. Begitu pula dengan Jesica. Kali ini, sikapnya sedingin es dan pandangannya kosong. Bahkan ia mengacuhkan kehadiran Rio. Seseorang yang sangat ia rindukan, satu-satunya orang yang ingin ia temui belakangan. Dalam semalam saja, impiannya dan kebahagiaannya sirna bak rembulan di telan awan mendung menggelayut.


"Jes...." sapa dokter Rio kaku.


Jesica hanya menoleh tanpa ekspresi.


"Kamu udah pulang?"


Lagi-lagi, Jesica tak memberi jawaban. Hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan laki-laki yang pernah ia jadikan sebagai malaikat penolongnya. Dokter Rio mendekati Jesica, duduk disampingnya. Jantungnya berdegub kencang, sama seperti perasaannya dulu ketika mereka masih bersama. Bi Mumun masih memperhatikan tingkah mereka berdua. Bagaimanapun, dokter Rio adalah majikannya, dia sudah mengasuh Rio puluhan tahun, layaknya ibu kandung. Bibi merasa iba dengan pemandangan dihadapannya.


"Cubo, iso lewih sabar den... ora ngene kedadeane," batinnya sambil mengelus dadanya.


Pagi yang cerah


Namun, tidak dengan suasana hati kami


Tetesan embun dari dedaunan


Tak serta merta menyejukan hati kami


Embusan angin


Membuat suasana menjadi beku


Sungguh pilu


Ternyata kisah kita berakhir sendu


Andai waktu bisa kuulang


Sungguh aku tak ingin mengenalmu


Menjadi bagian dari hidupmu


Adalah sesal terdalamku