We Never Know

We Never Know
Talak



Sebulan.....


Dua bulan....


Tiga bulan...


Dokter Rio hampir melupakan kalau dia sudah beristri. Wanita cantik nan seksi bekas pasiennya juga semakin rajin berkunjung ke klinik. Ditambah lagi statusnya yang kini sudah berpisah dengan suaminya. Walau hanya sekadar menyapa, wanita bernama Mona itu kerap kali ditemui sedang makan siang di klinik dokter Rio.


"Dok... apa kamu tidak ingin hubungan kita lebih serius dari ini?"


"Mmm....maksudmu?"


"Maksudku, nikahi aku!"


"Tapi aku masih beristri Mona."


"Bisa apa istri gilamu itu? Bahkan dia tidak ada di sini, dia ga pernah melayanimu seperti seorang istri. Apa kamu betah hidup seperti ini terus? Apa kamu tau kapan istrimu kembali? Apa kamu ga malu punya istri gila? Apa kamu mau aku dengan pria lain?"


Mendengar hasutan wanita penggoda itu, dokter Rio berfikir akan menduakan Jesica yang tengah berjuang demi kesehatan mentalnya tanpa menceraikannya. Ternyata wanita penggoda menolak untuk di duakan, dia ingin dinikahi jika dokter Rio sudah menceraikan Jesica. Sementara di Magelang, Jesica bebarapa kali menanyakan keberadaan suaminya. Beberapa kali juga dokter Rio mengabaikan panggilan dari kepala rumah rehabilitasi.


***


"Dokter....dimana suami Jesi?" tanya Jesica suatu hari.


Dokter jaga sedikit bingung dengan pertanyaan Jesica lantaran 6 bulan terakhir, dokter Rio yang merupakan suami Jesica memang tak berkabar dan sulit sekali dihubungi.


"Nanti dokter coba hubungi yah...." jawab dokter beralasan.


"Bilang sama suami Jesi, kalo Jesi kangeeeen banget. Kayanya suami Jesi udah ga sayang sama Jesi ya? Jesi kan jadi sedih. Nih Jesi cuma punya fotonya aja. Suami Jesi ganteng banget yah?" cerocos Jesica sambil memperlihatkan fotonya dengan dokter Rio.


"Jesi....suami kamu kan dokter, mungkin dia sibuk, makanya ga ada waktu ke sini. Di sini kan kamu sama suster, sama temen-temen juga kan. Jadi kamu jangan sedih. Nanti kalo kamu udah sehat, bisa cepet pulang ya!"


Dokter segera menenangkan perasaan Jesica yang sepertinya sudah mengalami sedikit kestabilan. Sebelumnya ia tidak pernah menanyakan keberadaan dokter Rio, namun sejak dokter Rio tidak pernah lagi berkunjung, justru Jesica beberapa kali bertanya. Itu perkembangan bagus untuk kesembuhannya. Sebaliknya, dokter kepala sedikit was-was dengan keberadaan dokter Rio, sebab rumor kedekatan dirinya dengan seorang wanita lain sudah sampai ke telinganya. Dan itu akan berdampak buruk untuk psikis Jesica jika ia mengetahuinya. Sebisa mungkin, dokter dan semua suster di rumah rehabilitasi mencoba menutupi kabar tersebut.


Di Bintaro, dokter Rio sedang menggila dengan wanita lain. Dia benar-benar dibutakan cinta, seperti halnya waktu ia tengah tergila-gila dengan Jesica. Akal sehatnya entah dimana. Jiwa playboynya mungkin kembali hadir setelah sekian tahun berhasil ia kubur rapat-rapat bersama cintanya pada Jesica kala itu. Namun kini pertahanan benteng itu telah runtuh bersama hilangnya anak-anaknya dan kondisi Jesica saat ini. Tekatnya bulat untuk menceraikan Jesica dan menikahi Mona.


"Mona....hari ini aku akan ke Magelang, aku ga bisa mengajakmu, akan kuurus perceraianku dengan Jesica supaya aku bisa segera menikah denganmu."


"Aku ikut ya?" rengeknya.


Mona akhirnya menurut, hari itu juga, dokter Rio membawa berkas talaknya untuk Jesica. Selanjutnya akan diurus oleh pengacaranya. Dokter kepala rumah rehabilitasi tidak kaget melihat kedatangan dokter Rio dengan sejumlah berkas di tangannya. Dia sudah menduga jauh-jauh hari tentang ini. Sejak terdengar kabar dokter Rio sedang bermain api cinta dengan wanita lain. Dokter Rio pergi dari rumah rehabilitasi tanpa menemui Jesica. Begitu urusannya selesai, ia langsung pergi. Tentu dengan menjanjikan sejumlah uang sampai kesehatan Jesica kembali. Dokter kepala sengaja melarangnya untuk menemui Jesica demi kesehatannya.


Dokter Rio pulang dengan hati lega. Tepat 6 tahun pernikahannya, Jesica resmi berpisah dengan suaminya. Suami yang selama ini menjadi malaikat penolongnya.


"Dokter.....dokteeeer....itu suami Jesi, kenapa Jesi ga ketemu sama suami Jesi?" teriak Jeaica setengah berlari melihat ekor mobil dokter Rio. Mobil itu adalah mobil pilihan mereka berdua sebulan setelah mereka menikah. Hadiah dari orangtua dokter Rio saat itu. Sungguh Jesica mengingat hal kecil itu sekarang?


Sejak hari itu, Jesica menjadi wanita pemurung, setiap hari ia menangis, menanyakan dokter Rio. Dia sudah mendapat ingatannya kembali di saat dokter Rio sudah resmi menceraikannya. Tubuhnya kurus kering, rambutnya acak-acakan, matanya sembab karena menangis sepanjang hari. Di lain sisi, dokter Rio tengah berbahagia mempersiapkan pernikahan keduanya dengan Mona. Wanita penggoda yang berhasil menaklukan si dokter tampan yang baik hati. Hitungan hari, pernikahan mereka segera dilaksanakan.


"Itu siapa den dokter?" tanya Bi Mumun yang melihat seorang wanita masuk kamar dokter Rio.


"Namanya Mona, Bi?"


"Mona?" tanya Bi Mumun masih belum paham.


"Sebentar lagi aku akan menikahinya."


"Menikah?? Tapi neng Ana?"


"Aku sudah menceraikan dia, Bi. Mona akan menggantikan kedudukan Jesica di kamar itu. Udah terlalu lama aku sendirian kan Bi. Hubunganku dengannya udah deket banget, ga baik jika tanpa hubungan. Gimana Bi, Mona cantik kan?"


Bibi tak menjawab apa pun, tepatnya tak menyangka. Bahkan Bibi tau luar dalamnya seorang Ana di mata bibi. Dia tengah berjuang demi kesembuhannya, penyakit jiwa yang tak akan di dapat jika bukan karena keserakahan dokter Rio, majikannya itu. Bi Mumun pamit ke dapur sambil beralasan.


"Astaga....kenapa den Rio malah menikah lagi. Apa dia ga sabar nunggu bininya sembuh, padahal neng Ana sakit kan karena ulahnya juga. Den.... den.... keburu ga betah dianggurin lama-lama. Emang semua laki-laki sama aja, keburu gatel kalo lama ga dipake apa gimana!?" umpat bibi kesal.


Kekesalannya sungguh beralasan. Mengingat perjuangannya dulu hingga akhirnya mereka kehilang anak-anak mereka. Ingin rasanya bibi menjambak rambut pelakor itu.


"Wong wedok guaatel tenan... ora ngerti yen lanangan wis enek bojone. Rupamu yo ora ayu, menang buokong gedi wae. Tak unyel-unyel raimu ajur... kurang ajar tenan kae wong wedok!" Bi Mumun mengumpat sambil mencuci piring.


***


28 November, pernikahan mewah kedua yang diselanggarakan oleh dokter Rio bersama wanita keduanya setelah Jesica yang berhasil merebut hatinya lebih dulu. Semua bersuka cita hari itu, kecuali Jesica, seolah dia tau apa yang sedang terjadi di luar sana. Suami yang sangat di cintainya sudah menikahi wanita lain, bahagia selain dengan dirinya.


Keesokannya......


Semua pasien di rumah rehabilitasi menjalani tes rutin kesehatan, ini merupakan tes fisik dan psikis untuk mereka. Bagi mereka yang mempunyai hasil diatas 85, maka akan dipulangkan ke keluarganya. Begitu pula Jesica, nilainya mendekati sempurna. Menunjukan jika dia mendekati waras. Namun hati para pengurus rumah rehabilitasi tak sampai untuk menyampaikan titipan dokter Rio beberapa hari terakhir yang berisi gugatan cerainya.


Apakah Jesica bisa bertahan menghadapi situasi yang semakin memberatkannya??