
Kejadian pagi itu, membuat Ana merasa malas untuk berangkat sekolah. Biasanya, selepas adzan shubuh, ia bergegas ke dapur membantu Simbok mempersiapkan dagangan kemudian bersiap ke sekolah, tapi pagi ini, Ana bermalas-malasa, gerakannya tak secepat biasanya.
“Kamu ndak enak badan, An?” tanya Simbok panik sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Ana.
“Enggak mbok, mungkin sedikit masih ngantuk, semalam Ana mengerjakan PR sampai larut.” Ana mencari alasan untuk membohongi Simbok agar tidak sedih.
“Maafkan Simbok ya….” Ucap Simbok sedih.
"Mbok....Ana mau berhenti sekolah aja ya..." ucap Ana tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Ana mau bantuin Simbok jualan aja!"
"Dengerin Simbok, Simbok udah mati-matian nyekolahin kamu dari SD loh nduk! Kamu sekolah tinggal sebentar lagi, kamu mau Simbok mati berdiri dengan rasa sedih!?" tutur Simbok. Ana terdiam mendengar perkataan Simbok. Air matanya mulai turun. Simbok segera menyadari dan memeluk tubuh Ana yang ramping.
"Maafkan Simbok," ucap Simbok sambil memeluk cucunya.
“Ga apa-apa Mbok,bukan salah Simbok… Ana yang salah Mbok, Ana ga pandai bersyukur. Maafkan Ana ya Mbok...” ucap Ana, kemudian ia bergegas ke sekolah dengan membawa bungkusan pecel pincuk untuk pelanggan Simbok.
Sekarang, sudah tidak ada lagi Dewa yang menunggunya di depan kelas untuk sekadar berbagi cerita. Hanya ada dirinya yang melangkah gontai menghabiskan hari-harinya sampai tamat SMP nanti, masih ada sekitar 6 bulan lagi. Itu menjadi waktu yang sangat lama bagi Ana untuk menyelesaikannya, yang artinya masih ada 180 hari lagi baginya untuk menguatkan hati dan telinga, mendengarkan olokan teman-temannya setiap hari, termasuk Dewa.
“Heh…tukang pecel, masih ada nyali juga buat berangkat sekolah!” ucap Dewa sengit begitu melihat Ana duduk di sebelahnya.
Ana mencoba tak menggubris perkataan Dewa. Jika bukan Dewa, sahabat baiknya, dulu, mungkin perkataan itu tak akan sesakit ini.
“Selain tak tau malu, kamu tuli juga ya?” imbuhnya.
Sontak kelas menjadi gaduh. Ana mencoba tetap diam, menangis batinnya mendengar tawa yang begitu menggema memenuhi isi ruang kelas mereka.
“Ternyata usahamu mendapatkan beasiswa hanya untuk menyamai kami, bersekolah di SMP favorit, kamu itu gak pantes sekolah disini. Ini sekolahnya anak orang kaya, anak pintar, dan anak-anak cantik, bukan seperti kamu, dasar tak tau malu!” tambah yang lain.
Jika dia bercermin, nyatanya Ana lah yang paling cantik diantara teman satu kelasnya. Hanya nasib yang kurang memihak padanya. Andai Ana orang yang tidak penyabar mungkin dia bisa membalikan semua tuduhan teman-temannya. Memang Ana pintar, selalu ranking satu dikelas, selalu menang lomba cerdas cermat, puluhan penghargaan sudah pernah ia dapatkan, sekolah tak pernah membayar, itu semua karena kerja kerasnya, semua karena usahanya untuk menjadi pintar. Benar memang, dia sekolah hanya mengandalkan beasiswa pendidikan, sejak dulu, sejak sekolah dasar. Memangnya salah jika miskin harta tapi kaya hati dan otak. Tidak ada aturan yang melarang anak orang miskin untuk bisa bersekolah di sekolah favorit kan?
“Kalian sudah puas mengejekku?”
Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Ana. Dewa segera menarik lengan Ana.
“Mau kemana?” tanya Dewa kemudian.
“Bukan urusanmu!” jawab Ana pendek.
Ana pergi meninggalkan kelas hingga jam pelajaran terakhir. Dia tidak pulang, tidak mungkin baginya untuk pulang sebelum jam sekolah berakhir, Simbok pasti akan kecewa dengannya. Dia menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah.
“Kenapa tidak masuk kelas? Malu ya!” ejek Dewa begitu melihat Ana merapikan tasnya untuk berkemas pulang.
“Aku tidak mencuri, kenapa harus malu?” jawab Ana dengan tenang.
Ana pergi begitu ia selesai merapikan isi tasnya. Dia menemukan secarik kertas, dia sempat membacanya sebagian, itu menyakitkan. Ana meremas kertas itu dan memasukannya ke tong sampah. Seperti tidak pernah membaca apa pun, dia melenggang keluar kelas. Seseorang yang menulis di secarik kertas tersebut pasti merasa kesal sendiri dengan ekspresi datar Ana.
***
“Mbok…Ana pulang!” Ana masuk ke dalam bilik kamar Simbok, ia tak menemukan simbok di manapun. Ruangan itu terlalu kecil bagi Ana untuk berteriak memanggil simbok. Tempat terakhir mencari simbok yaitu di dekat sumur biasanya dia mengambil air. Benar dugaan Ana, dia menemukan simbok tersungkur dekat bilik bambu. Wajahnya pucat pasi, badannya begitu dingin, kebaya tua yang dipake simbok basah kuyup.
"Astaga!!! Simbok!" Ana histeris melihat kondisi simbok yang tersungkur tak berdaya. Ana mengangkat badan simbok yang kecil. Tubuh Ana masih cukup kuat untuk hanya sekadar memapah simbok sampai ke dalam rumah.
"Dari kapan simbok disana?"
"Ke puskesmas ya Mbok?"
"Enggak mau nduk... ," Simbok menolak.
Dengan berat hati, Ana menuruti Simbok, merawati luka memar yang ada. Ana menangisi Simbok, sebenarnya bukan itu saja yang membuat Ana menangis berlinang air mata, ia menumpahkan semua bebannya, semua kesedihannya pada air mata itu. Malam itu, Ana tidur sambil berjaga kalau-kalau Simbok tiba-tiba membutuhkannya.
03.30
Ana sudah sibuk di dapur, asap dari tungku kayu sudah tercium. Bergegas, Simbok menghampiri Ana.
"Ana....hari ini ga usah jualan pecel dulu gak apa-apa," bujuk Simbok.
"Kalau kita tidak berjualan, kita tidak bisa memutar uang ini Mbok...lagian rempeyek teri sisa kemarin masih cukup untuk hari ini Mbok," tolak Ana. Dia bersikukuh ingin tetap berjualan.
"Mbok ga usah khawatir, Ana bisa kok, ini gampang Mbok."
Ya, Ana telah membantu Simbok menyiapkan semua dagangan hingga menjadi kurir sejak ia berusia 7 tahun, artinya ia sudah berpengalaman menjadi penjual pecel pincuk selama kurang lebih 8 tahun. Tepat pukul 05.00 Ana menyelesaikan semuanya. Dia baru ingat, hari itu ada pelajaran olahraga, bajunya yang sempat robek pada tambalan pertamanya belum sempat ia jahit. Sebelum ia menyelesaikan persiapan sekolahnya, pelanggan Simbok sudah menunggu di teras rumahnya.
"Mbok....Mbok Darmi, saya pesan pecelnya 3 bungkus ya. Ga usah diantar, saya ambil sekarang aja ya," salah satu pelanggan setia Simbok yqng tak mungkin ditolak kehadirannya. Ana bergegas membungkus pesanan tersebut.
"Ga sekolah An?"
"Sekolah Bu...," jawab Ana singkat sambil terus membuat pincuk selanjutnya.
"Lha...seragamu sobek begitu, apa ndak malu sama teman-temanmu?"
Pertanyaan Ibu itu membuat hati Ana pedih. Tapi memang begitu keadaannya sekarang. Ia tak bisa berbuat banyak, apalagi membeli seragam baru. Ada sedikit tabungan, itu akan dipergunakannya utuk masuk SMA, itupun kalau nanti pengajuan beasiswanya kembali disetujui.
"Tanggung mau ganti yang baru Bu...sebentar lagi kan sudah lulus SMP," jawab Ana mencari alasan yang tepat.
"He eh betul juga katamu An....coba anakku kaya kamu, cepet kaya loh Ibu ini!"
"Ibu bisa aja," terpaksa Ana larut dalam gurauan Ibu itu. Sekadar pelepas stress pagi hari, pikir Ana.
Setelah semua pelanggan Simbok bubar, Ana ke sekolah. Waktu menunjukan pukul 07.00. Sudah pasti terlambat, namun bukan itu yang jadi masalah. Ejekan dari Dewa dan teman sekelasnya lah yang menjadi ganjalan hati Ana. Meski begitu ia tetal pergi sekolah.
"Heh penjual pecel, kok telat!" Suara iseng mulai bermunculan.
"Ya iyalah...kan harus ngulek bumbu pecel dulu, cium aja seragamnya, pasti bau sambel!" Imbuh yang lain.
"Kalo aku sih malu!"
"Kita pesen makan siang pecel aja sama dia!"
"Jangan, jangan nanti kita di kasih racun lagi!"
"Ssst....!!" Guru olahraga menghentikan ocehan teman-teman Ana.
Ana menarik napas panjang, menahan emosinya. Selain bidang akademik, Ana jago olahraga, badannya gesit dan cekatan, nilainya selalu A.
"Yaiyalah nilai olahraganya selalu A, secara dia kan harus mondar mandir nyiapin dagangan pecelnya, belum lagi ngulek bumbu, nganter pesenan. Kalau lambat, pembelinya pada kabur!" sela Dewa seusai penilaian pelajaran olahraga.
Mereka serentak menertawai Ana. Ana berlari ke kamar mandi. Dia tersedu-sedu menahan air matanya jangan sampai berlinang. Itu akan menjadi masalah baru lagi untuknya.