
Ana menerima tawaran dokter Rio untuk bekerja di villanya, di Bogor. Dokter Rio mengantarkan Ana ke vila tersebut.
"Maafkan saya dokter... begitu merepotkanmu," ucap Ana begitu sampai di villa. Terlihat mewah namun sedikit tidak terawat.
"Saya udah lama banget ga kesini, tolong jagalah villa ini, kamu bisa tidur dimanapun yang kamu mau, ini, jika kamu butuh apa pun, kabari saya atau Bi Mumun, jangan sungkan An," pinta dokter Rio sambil memberikan salah satu ponselnya yang jarang ia pakai.
"Terimakasih dok...."
"Saya langsung pergi ya!" dokter Rio langsung meninggalkan Ana di villa tanpa bertanya apakah Ana bisa menggunakan ponsel pintar miliknya atau tidak. Ana masuk ke villa, kesan pertama begitu masuk adalah terkagum-kagum hingga mulutnya ternganga.
"Ckckck....begini kalo di kampung udah rumah gabungan pejabat sekelurahan ini, meski dibilang ga dirawat, tapi villa ini jauh lebih bersih dari rumah Simbok dulu." Ana membersihkan beberapa sarang laba-laba yang bergelantung di beberapa sudut ruangan.
"Aku capek sekali, entah berapa hari aku bisa membersihkan seluruh bagian villa ini. Tadi Bi Mumun bawain aku apa ya?" gumamnya sambil membuka bingkisan yang dibawakan oleh Bi Mumun. Sambil menikmati bekal yang ia bawa, Ana mengambil ponsel yang diberikan oleh dokter Rio kepadanya sebelum pergi.
"Ini gimana cara pakenya, seumur-umur baru pegang hape begini. Loh kok ini gambar apel kroak begini ya?" Ana terheran-heran dengan ponsel ditangannya. Meski IQ-nya di atas rata-rata tapi masalah teknologi dia sangat tertinggal jauh, sebutlah gaptek.
"Ini nyalainnya gimana ya?"
Ana terus berbicara sendiri sambil membolak balikan ponsel pintar di tangannya seraya berusaha mengoperasikannya.
4 Missed called ....
"Ini maksudnya panggilan tidak terjawab? Siapa yang manggil. Aduuuh....ck....ini gimana aku pakenya?"
***
Bi Mumun called...
Sekadar feeling, Ana menyapukan jarinya ke atas, kemudian menempelkan ponsel ke telinganya.
"Haloo.....Ana?" terdengar suara Bi Mumun dari kejauhan. Ana masih belum menjawabnya, dia membolak-balikan ponselnya.
"Haloo...An, ini Bi Mumun, apa kamu baik-baik aja An?" tanyanya lagi. Ana menjauhkan ponsel dari telinganya, kemudian menjawab Bi Mumun dengan sedikit berteriak. Di balik suara dari ponsel itu, bibi terdengar tertawa terpingkal-pingkal. Sekarang bibi paham, Ana tidak bisa memakai ponsel pintarnya.
Seminggu setelah dokter Rio meninggalkan Ana di villanya, dia berencana mengunjungi Ana bersama Bi Mumun. Selepas subuh, mereka jalan dari Bintaro menuju Bogor.
"Tidak ada yang kelupaan Bi?"
"Aman terkendali den...."
Bi Mumun dengan Rio terbilang sangat dekat, sudah tidak ada rasa sungkan di antara keduanya. Rio sudah menganggap Bibi sebagai keluarganya sendiri. Tak jarang, mereka pergi berbelanja berdua ke pasar tradisional.
2 jam kemudian.....
"Astaghfirullah....kaya mudik aja, padahal cuma ke Bogor, rasanya jauh banget ya Den..." keluh bibi sambil meregangkan badannya yang kaku.
Begitu melihat bibi dan dokter Rio datang, Ana langsung berlari menghampiri mereka berdua.
"Bi....aku kangen sama Bi Mumun," sambut Ana sambil memeluk erat Bi Mumun.
"Bagaimana An, kerasan?" tanya dokter Rio ramah. Ana hanya mengangguk malu.
"Kudengar dari Bibi, kamu ga bisa pake ponsel yang kuberikan padamu ya, benar begitu?" Lagi-lagi Ana hanya mengangguk.
Mereka masuk ke dalam villa, Bi Mumun mengajari Ana cara mengoperasikan ponselnya. Sementara dokter Rio berkeliling dan menikmati hawa sejuk di taman belakang villa miliknya. Sedikit banyak, Ana mengerti cara kerja ponselnya, bibi terpingkal-pingkal ketika Ana menanyakan merek ponselnya.
***
"Malam ini kita nginep disini aja ya bi....cuaca ga bagus, jalanan pasti macet, besok pagi kita balik ke Bintaro, kebetulan saya jadwal jaga malem, jadi waktunya sedikit santai," runding dokter Rio kepada Bi Mumun.
Dokter Rio memulai pembicaraan yang cukup serius dengan Ana tentang masa depannya. Mungkinkah dia menaruh sebuah harapan pada seorang gadis cacat seperti Jesica Anabela?
"Tentu saja dokter, dengan senang hati." Ana terlanjur menaruh hati pada dokter muda tersebut, mana mungkin dia melewatkan kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
"Begini An.... sebenarnya saya tidak enak mengatakannya, tapi ini sangat mempengaruhi kehidupanmu selanjutnya, masa depanmu masih panjang, kehidupanmu tidak bisa begini terus. Mmmm... apa kamu tidak ingin operasi bedah wajah?" tawar dokter Rio sambil memegang dagu Ana dan mengangkatnya sedikit ke atas.
"Aku yakin sekali, parasmu sangat cantik sebelum ini, kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang sebanding dengan ....." Belum sempat dokter Rio menyelesaikan perkataannya, Ana bangkit dari posisinya.
"Tapi....."
"Masalah biaya, tenang aja, saya yang akan menanggung semua biaya pengobatanmu An. Percayalah, setelah ini, kamu akan mendapatkan kehidupanmu yang baru!"
Tanpa persetujuan dari Ana, dokter Rio sudah merencanakan matang-matang operasi besar yang akan dilakukan bersama timnya. Sebulan kemudian, dokter Rio termasuk dokter Sella dan beberapa dokter senior lainnya siap untuk melakukan operasi wajah sesuai permintaan dokter Rio.
"Kamu siap?" tanya dokter Rio setelah melihat Ana memakai baju operasinya.
"Saya punya satu permintaan dok!" kata Ana.
"Katakan!"
"Biarkan telinga saya tetap seperti ini. Dokter Rio hanya boleh melakukan operasi pada wajah saya, bagaimana dok?"
"Tentu, kita masuk ruangan sekarang ya?!"
Ana mendapat perlakuan khusus dari dokter Rio. Namun rekan dokternya bersikap biasa saja, itu tampak wajar bagi mereka. Dokter Rio dikenal bertangan dingin, berhati hangat, serta pandai memikat hati wanita. Siapa yang tidak kepincut dengan dokter muda dan tampan sepertinya?
3 jam kemudian.....
"Alhamdulillah...semua berjalan lancar, kamu bisa membuka perbanmu seminggu lagi," tutur dokter Rio sambil mendorong ranjangnya ke ruang perawatan.
"Selama kamu di rawat di sini, Bi Mumun akan menemanimu." Ana hanya mengangguk. Jantungnya berdegub cepat, seperti ketika pertama kali ia bertemu dengan dokter Rio.
"Kenapa aku ini?" gumamnya setelah dokter Rio meninggalkan dirinya di ruang perawatan.
***
Seminggu kemudian.....
"Kita buka perbanmu ya..." ucap dokter Rio yang didampingi dokter Sella disebelahnya.
"Pelan-pelan Sel..." katanya memberi peringatan pada dokter Sella.
"Bawel banget lo! Dia spesial banget emangnya?" tanya dokter Sella sedikit kesal pada sahabatnya. Meski ia tau, Rio adalah dokter muda yang terkenal playboy.
"Gadis kampungan aja di demenin!!" gerutunya sambil membuka perban pada wajah Ana.
Betapa terkejutnya Sella setelah melihat perubahan pada wajah Ana. Dia mundur beberapa langkah. Sebaliknya, Rio mendekati Ana, bahkan mengelus lembut wajah Ana yang sekarang terlihat sempurna untuk seorang gadis muda sepertinya.
"Perfect!! Kita sukses besar Sell!" ucapnya puas. Sella pergi begitu melihat Ana dan Rio sedang bercakap-cakap. Dokter Rio mengabaikan dokter Sella yang pergi begitu saja.
(Di kamar mandi)
"Gue bisa kalah saing dengan cewek kampungan itu, ternyata dia lebih cakep daripada gue, Rio bisa beneran suka sama dia," gumamnya. Sella menyadari dirinya telah lama menyukai sahabatnya, namun setiap kali ia mengungkapkan perasaannya, Rio bersikap sama seperti yang dia lakukan pada kebanyakan perempuan. Menurut Rio, tidak ada yang spesial dengan Sella, dia adalah rekan kerja dan sahabatnya, tidak lebih.
Dokter Sella masih bercermin sambil mematutkan dirinya di depan kaca besar itu.
"Apa gue begitu tidak menarik di mata Rio? Kenapa perasaan gue mengatakan kalo mereka berdua memiliki sebuah hubungan spesial? Gue ga bisa biarin Ana jadian sama Rio. Itu terlalu sempurna buat dia, dia ga pentes ngedapetin Rio. Gue harus misahin mereka, sebelum Rio bener-bener suka sama gadis kampungan itu!
Dokter Sella masih bicara dengan bayangannya sendiri di cermin. Mungkin malaikat di samping kanan kirinya tengah bingung menulis amal dan dosa yang dilakukannya secara bersamaan. Di satu sisi, dia sudah berhasil melakukan operasi besar untuk kebaikan Ana selaku pasiennya, di sisi lain dia merasa iri dan menyesal telah membuat Ana menjadi gadis sempurna.
"Shiiit!!" Sella memukul ke arah cermin.