
“Ini alasan aku gak mau bahas soal pacar kak,” kataku. Kak Ivan dan kak Ari sama-sama menatapku. Aku yakin mereka mengetahui apa maksud dari perkataanku.
“Yaudah, terserah kamu aja deh, toh siapapun pacar kamu nanti,, cuman kamu yang berhak nentuin,” ujar kak Ari. Keadaan semakin memanas, aku berharap, sikap kak Ari yang seperti ini bukan karena kak Ari cemburu dengan kisah masa laluku, lagipula sejauh ini kak Ari dan kak Ivan tidak pernah ikut campur dengan masalah asmaraku.
“Oh iya, besok jangan lupa ajak Mitha sama Angle ke rumah buat ngebahas festival kalian,” ujar kak Ivan.
“Emangnya besok kak Ivan gak kerja?”
“Kerja, tapi jam setengah lima udah pulang kok,” jawab kak Ivan.
“Iya, nanti aku kabarin mereka.”
“Bagus deh, kamu sendiri percayakan sama kakak tentang konsep yang kakak buat?”
“Iya kak, aku percaya.”
Sejak membahas tentang pacar, kak Ari tidak banyak bicara dan hanya mendengarkan obrolanku dengan kak Ivan yang membahas tentang festival. Padahal sebelumnya kak Ari cukup antusias karena ingin membantuku dan juga kak Ari dalam acara festival nanti.
Ketika selesai membakar jagung, kami kembali duduk di depan api unggun. Kak Ari mengeluarkan gitar andalannya sejak SMA. Gitar akusti itu mengingatkanku dengan penampilan kak Ari dan kak Ivan yang mereka bawakan ketika diacara graduation SMA-nya mereka.
Mungkin saking berbakatnya mereka, saat masih SMA pun mereka sudah berhasil membuat lagu dan menampilkan lagu itu khusus buatku yang berhasil masuk SMA Favorit sesuai dengan yang ayah dan bundaku inginkan.
Kak Ari mulai memetic satu per satu nada di gitar itu dan kak Ivan sendiri mulai menyanyikan lagu pertama yang mereka buat itu dengan suara merdu mereka. Lagu itu benar-benar mengingatkankku tentang perjuanganku untuk bisa masuk SMA Negeri 1 Nusa Bangsa dan juga mengingatkaku betapa mati-matiannya kak Ivan menyemangatiku, menasihatiku dan mengantar jemputku untuk mengurus seleksi masuk SMA itu.
Aku ingat dengan jelas bahwa dulu, aku tidak memiliki rasa percaya diri untuk lolos masuk SMA Negeri 1 Nusa Bangsa, apalagi saat itu aku sudah mulai asyik bermain dengan sahabat-sahabatku dan menemukan kebahagian selain dari belajar dan ke perpustakaan. Bahkan sekarang, aku sudah benci yang namanya perpustakaan.
Bukan hanya itu, aku tidak bisa melewatkan pertiannya kak Ari padaku. Dia adalah satu-satunya orang yang selalu peduli dengan kesehatanku. Dia adalah orang yang selalu pertama menanyakan sarapanku, makan siangku, aku sudah olahraga atau belum, dan lain sebagainya. Dia bahkan masih sempat menanyakan padaku tentang tes-tes yang harus aku lakukan, beberapa kali dia mengajariku tentang beberapa soal Matematika yang menurutku sulit.
Dan ada satu hal, dimana aku tidak akan pernah melupakan satu hal ini. Itu adalah ketika kedua orang tuaku yang sempat diejek beberapa orang, baik tetangga atau rekan mereka karena mengira aku tidak akan lulus masuk SMA bergengsi seperti SMA Nusa Bangsa.
Satu hal yang membuatku menyesal karena hari perpisahan itu adalah ketika kak Ari yang pada saat acara graduationnya, dia menyatakan perasaannya padaku. Waktu itu aku juga baru kelas satu SMA.
Flashback On
Kak Ivan tiba-tiba nyeletuk, “Gara-gara kakak atau kak Ari nih?”
Aku terdiam kaget mendengar pertanyaan kak Ivan. Aku menatap kak Ari yang sudah tersenyum manis padaku. Tampan sekali, aku akui itu, kalau kulit putih milik kak Ari dengan bentuk dagunya yang tirus serta hidung mancung bisa membuat siapa saja jatuh cinta pada wajah itu.
“Tentu saja,, kak,, dua-duanya,” balasku yang sudah pasti kelihatan sangat gugup.
“Oke, oke, terserah kamu aja deh. Kakak mau ke toilet dulu, kamu disini dulu sama kak Ari yah,” ucap kak Ivan, lantas pergi meninggalkanku hanya berdua dengan kak Ari.
Karena takut suasan menjadi canggung, aku pun mencoba membuka pembicaraan, “Kita satu sekolah cuman satu tahun, nggak kerasa banget yah kak?”
“Iya, kakak pasti bakal kangen banget ke kantin bareng kamu. Baru aja kemarin kakak neraktir kamu, sekarang kita udah harus pisah aja,” kata kak Ari. Aku melihat wajak kak Ari yang berubah murung. Dia tampak sedih karena harus berpisah dengan sekolah ini. Atau mungkin karena dia akan merindukan masakan kantin paling the best yang pernah kita temui.
“Aku juga, aku pasti kangen banget ke kantin bareng sama kakak dan juga kak Ivan. Aku bahkan belum sempet bales neraktir kalian,” kataku ikut menyetujui perkataan kak Ari.
“Kakak juga bakal kangen sama kamu,” kata kak Ari tiba-tiba. Detik itu juga jantungku berhenti berdetak untuk beberapa detik. Tatapanku focus pada mata kak Ari, aku merasa kak Ari sedang membicarakan hal lain, sebab pada awalnya kukira kak Ari sedang membicarakan perpisahannya dengan sekolah tercinta.
Namun aku tidak mau berpikir tidak jauh untuk menyiratkan perkataannya kak Ari. “Ah iya, aku juga pasti kangen banget ko sama kakak,” kataku yang anehnya malah membuatku semakin gugup.
“Sebelum kakak pergi dari sekolah ini, apa kakak bisa minta sesuatu dari kamu?” tanya kak Ari dengan nada sedikit memohon. Mungkin karena terlalu gugup, aku nurut saja. Aku mengiyakan permintaannya kak Ari. Saat itu juga kak Ari maju satu langkah lebih dekat denganku lantas memelukku.
Tangan kekarnya mengusap pungunggungku sampai aku bisa merasakan seluruh lengannya menempel pada pungungku. Dia menangkupkan dagunya diatas bahuku. Nafasnya bahkan terasa sangat dekat dengan leherku. Namun satu hal yang ingin aku pastikan saat itu, tidak bisa aku rasakan dengan jelas, bahkan sampai detik ini. Aku ingin tahu saat itu aku terdiam kaku menahan nafas atau aku terlalu sibuk menata jantungku yang berdegup kencang. Aku sama sekali tidak bisa tahu.
Sebuah nafas kecil terasa di leherku, kak Ari mulai bersuara dengan nada yang cukup pelan dan sangat lembut, aku berasa merasakan bahwa detak jantung kak Ari kini sudah tidak beraturan, “Kakak,, sayang sama kamu Put. Kakak,, cinta sama kamu. Apa kamu punya perasaan yang sama kayak perasaan yang kakak punya buat kamu?” tanya kak Ari masih berada dalam pelukanku.
Mataku membelalak tidak percaya. Bukan ini terlalu cepat? Aku sama sekali tidak menduganya. Aku pikir kak Ari menyayangiku sama seperti kak Ari menyayangi kak Ivan sebagai sahabatnya. Aku pikir perasaannya padaku tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak membayangkan kalau kak Ari menyukaiku.
Flashback Off
Bersambung