Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 3



Bukan hanya kak Ivan yang bilang bahwa dia akan tetap menjadi orang yang kukenal. Ada juga Kak ari, teman dekat kak Ivan. Justru anehnya kata-kata yang keluar dari pria itu jauh lebih manis dari kata-kata yang pernah aku dengar sebelumnya. Hanya kata seperti ini yang keluar dari dia, “Tidak peduli kamu berubah sejauh apa, selagi kamu berada disisi kami dan tak pernah pergi dari kami, itu sudah cukup.” Dia bahkan menegaskan bahwa perubahan sikapku bukan berarti sikapnya padaku turut berubah. Aku tetap adik mereka yang ceria.


Kak Ari memang sudah sangat mengenalku dan juga keluargaku, itu karena kak Ari sudah bersahabat dengan kak Ivan sejak mereka masuk SMP. Kurang lebih sudah delapan tahun mereka bersahabat, begitu juga aku mengenal dan sama-sama akrab dengan kak Ari. Jadi, wajar saja jika sekarang aku bisa sedekat kak Ivan mengenal kak Ari. Bahkan ketika liburan sekolah tiba pun kak Ari tak hanya mengajak kak Ivan liburan tapi juga selalu mengajakku. Tentunya atas persetujuan ayah dan bunda.


Namun karena mereka berdua jugalah aku selalu berbalik dan merindukan diriku yang dulu. Diriku yang seceria ketika aku bersama kak Ivan dan kak Ari. Aku terkadang merasa kesal dengan perubahan sikapku sendiri. Aku terkadang harus menjadi seseorang yang acuh dan sombung dihadapan seseorang karena aku takut mereka mendekatiku hanya ada maunya. Aku taku mereka bermain-main dengan kebaikanku dan justru akhirnya aku yang terluka.


Tapi aku juga tidak suka ketika tiba-tiba aku harus memutar balik sikapku menjadi gadis ceria ketika bersama dengan Mitha dan Angle begitupun ketika aku bertemu dengan kak Ivan dan kak Ari. Itu membuatku berpikir betapa banyak muka yang aku tampilkan pada setiap orang berbeda, aku mengaturnya seperti aku tidak punya ketulusan untuk menganggap mereka semua dengan pandangan yang sama.


Sejujurnya aku selalu ingin menunjukan sisi ceriaku pada setiap orang, aku ingin berteman dengan siapapun tanpa memilih, aku ingin menjadi teman yang dapat diandalkan tanpa harus ragu untuk menolong orang lain. Tapi aku juga terlalu takut untuk kecewa, aku takut niat baikku juga dimanfaatkan oleh mereka.


Tak dapat dipungkiri kalau kak Ivan ataupun kak Ari sering menemukanku sedang menangis dan saat mereka bertanya apa yang terjadi, dengan entengnya aku hanya mengatakan tidak terjadi apa-apa. Anehnya baik kak Ivan ataupun kak Ari akan percaya begitu saja dengan jawabanku. Pernah aku bertanya pada kak Ari tentang alasan dia mempercayai jawabanku, dan yang dia katakan,, dia hanya tidak mau membuatku mencari alasan lain, jika dia bertanya lebih banyak padaku, justru dia takut kalau aku akan berbohong pada mereka.


Terdengar manis bukan? Tapi percaya atau tidak, itu dia lakukan juga pada kak Ivan. Dipersahabatan mereka juga diterapkan cara bagaimana bertindak ketika salah satunya sedang memiliki masalah. Satu hal yang mereka garis bawahi adalah jangan membiarkan sahabatmu menjadi seorang pembohong hanya karena kau ingin tahu masalah orang lain.


Mungkin itu alasannya kenapa persahabatan antara kak Ari dan kak Ivan bisa sangat awet sampai saat ini. Jarang sekali aku melihat keduanya bertengkar. Sekalipun bertengkar pasti tidak akan bertahan lama. Mereka tidak terbiasa berbohong, mereka saling percaya karena mereka selalu berkata jujur. Sungguh, aku iri dengan persahabatan yang mereka punya. Aku tidak tahu apakah persahabatanku dengan Mitha dan Angle bisa sekuat persahabatan Kak Ivan dan kak Ari atau tidak.


Namun aku selalu berharap persahabatanku dengan siapaun akan secerah cuaca pada hari ini. Semua warga SMA Negeri 1 Nusa Bangsa sudah menempatkan dirinya dilapang sekolah, mereka berjejer rapi menikmati upacara hari Senin seperti minggu-minggu sebelumnya.


Langit biru dan angina sepoi-sepoi menggambarkan bendera merah putih yang elok berkibar diatas sana. Wahh,, betapa senangnya aku menjadi anak kelahiran Bangsa Indonesia yang sempurna baik dari alam dan sikap para pribuminya, hehe.


Pembina upacara hari ini adalah bapak Ehwan Dermawan yang merupakan guru wali kelas 12 IPS 2. Kebetulan beliau adalah ketua kesiswaan di sekolah tercinta ini. Guru yang paling taat pada ketertiban sekolah dan selalu menegaskan siswa-siswanya untuk selalu menaati tata tertib juga. Maka dari itu, semua anak tampak gelisah begitu pak Ehwan mengucapkan salam pembuka. Kami semua sudah sangat hapal sepanjang apa pidato yang akan disampaikan beliau ketika menerima tugas sebagai pembina upacara.


Beliau pasti akan menyampaikan pidato yang sangat panjang walaupun para siswa terkadang merasa apa yang disampaikan beliau sama sekali tidak penting. Seperti menjaga kebersihan kelas. Bahkan beliau bisa dengan sabar memberitahu kembali tata tertib sekolah yang sebenarnya sudah tercantum di lembaran sekolah yang tertera juga di setiap ruangan di sekolah ini.


Tapi justru aneh, hari ini beliau berpidato cukup singkat. Beliau hanya mengevaluasi secara keseluruh atas jalannya upacara hari ini serta sedikit nasihat agar para murid selalu rajin belajar. Ada yang aneh, tidak biasanya beliau seperti ini.


Setelah upacara selesai, anak-anak terus membicarakan beliau. Entah kenapa mereka justru mengungkapkan kalau mereka merindukan pak Ehwan yang cerewet di pidato upacara. “Atau mungkin beliau sedang marah sama salah satu murid? Jadi, tidak banyak bicara. Bagaimana kalau itu anak dari kelas itu?” ucap Mitha sudah seperti kaleng rusak kalau bergosip seperti ini.


Saat pak Ehwan masuk ke kelas untuk jam pelajaran pertama, mereka pun akhirnya sepakat untuk meminta maaf kepada pak Ehwan kalau salah satu murid dikelas kami membuat kesalahan kepada beliau. Namun pak Ehwan tak banyak merespon dan juga cara mengajar pak Ehwan sekarang tidak seseru biasanya. Suasana kelas benar-benar hening kecuali suara spidol yang beliau mainkan di papan tulis.


“Baik anak-anak, materi bapak cukup sampai disini saja. Untuk sisa waktu yang masih banyak ini bisa kalian gunakan untuk latihan soal,” kata pak Ehwan sembari membereskan peralatan mengajarnya. Suasana di kelas benar-benar terasa canggung, tidak ada yang berani berbicara atau bertanya, padahal biasanya jika pak Ehwan yang mengajar, banyak sekali murdi yang ingin bertanya tentang materi yang baru saja di ajarkan.


“Bapak!” panggil Arga. Murid laki-laki yang duduk dipaling pojok kelas.


“Iya, kenapa Arga?” Yah, pak Ehwan mengenal anak nakal itu. Tidak ada guru di sekolah ini yang tidak mengenal kenakalannya.


“Apa kami membuat kesalahan? Maksudku, ada yang membuat bapak merasa marah? Gaya mengajar bapak hari ini tidak seru seperti hari-hari sebelumnya. Kami merindukan bapak yang dulu,” celetuk Arga. Teman sekelas yang paling konyol di kelasku ini membuat semua orang yang ada di kelas bingung dengan sikap Arga. Sebab Arga adalah satu-satunya orang dikelasku yang paling tidak suka dengan jam pelajaran. Apalagi untuk bertanya seperti barusan. Dia hanya mengikuti jam pelajaran untuk mata pelajaran pak Ehwan saja.


“Tidak Arga, tida ada apa-apa, bapak hanya kelelahan saja. Jadi, kamu tidak usah mengkhawatirkan hal itu. Maaf yah ketika kamu sedang semangat belajar pelajaran bapak, justru bapak sedang tidak semangat mengajar,” beliau menjeda ucapannya sejenak untuk menarik nafas.


“Yasudah, bapak akhiri pelajarannya. Sisa waktu digunakan dengan baik untuk belajar mandiri, pokoknya latihan soalnya dikerjakan yah. Minggu depan akan bapak cek dan yang mengerjakan paling banyak dengana skor sempurna akan mendapat reward dari bapak,” ucap pak Ehwan yang lagi-lagi mengatakan soal waktu yang tersisa masih banyak. Sepertinya pak Ehwan juga masih ingin mengajar. Setelah mengatakan itu, beliau mempercepat kegiatannya membereskan peralatannya lalu keluar dari kelas.


Bersambung.