
“Mendingan gue kasih tahu sama semuanya deh,” gumamku. Tanpa sadar aku maju ke depan kelas dan menceritakan masalah pak Ehwan yang tadi aku dengar. Mitha dan Angle tampak bingung dengan apa yang aku lakukan. Tentu, mereka pasti bingung keberanian dari mana sampai aku nyari perhatian orang lain kayak gini. Yap, ini adalah pertama kalinya aku memberikan pengumaman pada teman sekelasku dan pengumuman yang aku berikan adalah sebuah masalah yang tentunya tidak disukai sebagian orang.
Aku memperhatikan wajah teman sekelasku yang ikut bingung juga dengan apa yang aku lakukan sekarang. Aku pun mulai curiga bahwa mereka tidak peduli dengan apa yang aku katakana atau bahkan bisa jadi mereka menganggap apa yang aku katakan sekarang adalah sebuah kebohongan untuk mencari perhatian mereka.
“Benarkah? Kalau begitu, gimana kalau kita ikut mendaftar di festival itu? Sekalian cari pengalaman. Itu akan sangat membantu bukan?” usul Adit, sang ketua kelas juga murid yang paling pintar Matematika di kelasku.
Anak-anak yang lain tampak setuju dengan usulan Adit, tapi mereka masih bingung harus menampilkan apa di festival nanti. Apalagi deadlinenya cukup dekat, itu terlalu mendadak buat mereka. Sementara, mereka juga pasti harus berlatih. Padahl, aku yakin sebenarnya Adit, yang mengusulkan juga masih bingung sendiri mau menampilkan apa di festival nanti kalau dia ikut jadi peserta. Dia bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan dalam acara pentas seperti ini, apalagi hubungannya sama seni dan juga music.
“Festivalnya masih satu bulan lagi kan? Masih ada waktu untuk memikirkannya. Yang terpenting pak Ehwan tidak harus ganti rugi untuk kegagalan festivalnya. Lagian kalau festival yang pertama ini berhasil, beliau bisa melangsungkan season kedua. Itu akan sangat membantu beliau,” jelas Adit penuh percaya diri.
“Aku dengar, kompetisi besar seperti ini juga bisa sangat membantu kita untuk masuh universitas yang kita pilih nantinya,” tambah Gilang. Dia adalah murid teladan yang berhasil menggeser sipintar Matematika dengan duduk di peringkat utama kelas sebagai siswa IPA 2 yang jago diberbagai mata pelajaran. Apalagi dia juga punya mata pelajaran andalan. Dia adalah murid terbaik dalam mata pelajaran Bahasa Inggris dalam satu sekolah ini.
Mendengar penjelasn Adit dan juga Gilang, akhirnya anak-anak pun setuju dan semua sepakat untuk ikut festival itu, termasuk aku yang dipaksa Mitha dan Angle untuk ikut berpartisipas di Festival itu. Padahal tanpa mereka pinta pun aku pasti akan melakukannya, apalagi menyanyi adalah salah satu hobiku.
Hari ini aku senang karena ku bisa menceritakan apa yang ingin aku sampaikan pada orang lain. Terlebih rasa takutku terhadap pemikiran jahat orang lain juga sedikit berkurang. Aku senang respon teman sekelasku yang cukup solid dan kompak secara keseluruhan. Aku pikir kedepannya aaku akan lebih berani lagi untuk mengatakan apa yang ingin aku katakana walaupun sindrom penakut itu masih saja muncul tiba-tiba dalam pikiranku.
Hari ini, setelah jam istirahat kedua, Adit membagikan formulir pendaftaran untuk festival music. Dia juga membagikan formulirnya ke kelas yang lainnya yang mungkin ada siswa yang berminat untuk mengikutinya. Beruntung karena dia adalah wakil ketua osis, jadi dia memiliki koneksi dengan beberapa teman sangkatan dan juga senior dan juniornya.
Setelah pelajaran berakhir, tiba-tiba Gilang menghampiriku dan memintaku untuk menjadi satu tim dengannya di festival nanti. Aku tahu alasan dia memintaku untuk bergabung dengannya. Dia tahu aku mempunyai kak Ivan yang berkompeten di bidang seni seperti ini. Gilang hanya ingin memanfaatkanku untuk membuatnya berhasil menjuarain kompetisi itu dan bisa membuatnya masuk universitas yang dia mau dengan mudah.
Walau begitu, dalam kebingungan yang melanda, Mitha dan Angle selalu dating tepat waktu, mereka bilang pada Gilang bahwa aku sudah satu tim dengan Mitha dan Angle dan konsep yang sudah mereka ambil sangat cocok untuk wanita. Walau begitu Gilang masih mengelak kalau dia masih bisa ikut bagian dalam tim mereka karena tidak ada batasan jumlah anggota dalam setiap tim dan ada banyak peran yang bisa ditambahkan dalam setiap pertunjukan.
“Heishh,, Mitah barusan udah nolak lo. Lagian konsep yang kita pake emang cuman cocok dipake sama cewek aja,” tambah Angle yang ikut membela Mitah.
Dengan putus asa Gilang melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari hadapan kita bertiga. Tapi aku merasa tidak enak telah memperlakukan dia seperti itu. Aku pun memanggil Gilang kembali. Gilang menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku. Dia memasang wajah seolah mengharapkan sesuatu.
“Gue minta maaf. Kita gak bermaksud nolak lo. Gue tahu kalau lo masuk ke tim kita, kita balakan sangat terbantu sama kehadiran lo. Lo tahu sendiri kalau kita pengen menang dengan kemampuan kita sendiri, sejelek apapun penampilan kita nantinya.”
Gilang menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang aku maksud dan dia pun segera pamit untuk pulang lebih dulu. Setelah Gilang pergi giliran Adit yang dating menghampiriku. Aku kira dia memiliki tujuan yang sama dengan yang Gilang katakana tadi tapi ternyata aku salah besar.
“Gak usah ngerasa bersalah sama Gilang. Sebagai gantinya nanti aku tawarin dia buat masuk tim aku di festival nanti,” kata Adit penuh dengan senyuman. Senyuman yang sebenarnya dapat dilihat cukup tulus, tapi pikiran itu sudah sulit membedakan mana senyuman tulus dan mana senyuman palsu. Aku hanya bisa menilai senyuman tulus itu dari Mitha, Angle, kak Ari dan juga kak Ivan.
“Adit, kelihatannya beda sama laki-laki lainnya. Dia juga punya wajah yang ganteng. Gue perhatiin kayaknya dia suka deh sama lo,” ujar Angle yang entah mengapa membuatku teringat akan perkataannya satu tahun yang lalu tentang para laki-laki yang hanya ingin berpacaran denganku karena ada maunya.
“Dia emang pinter dan gak mungkin juga manfaatin gue karena nilai Bahasa Inggris gue bagus. Tapi gimana kalau misalkan dia juga cuman lihat gue sebagai gadis cantik, kayak kebanyakan cowok lain yang nilai dari fisik, dimana baru sebulan kenal gue udah bisa maki-maki gue seenaknya!” suaraku sepertinya terdengar kesal membuat Angle bahkan Mitha tidak lagi membicarakan soal Adit.
Bersambung