
Tidak ada mimpi yang melemahkan. Mimpi itu akan melemah karena kita tidak punya penopang yang bisa membuat kita tetap semangat buat meraih apa yang kita tuju yang sering kita sebut dengan mimpi."
Hari ini ketua kelas dari kelasku sudah memberikan kembali formulir pendaftaran kepada pak Ehwan dan beliau tampak senang melihatnya. Anak-anak pun sudah mulai banyak berlatih untuk acara kompetisi itu. Ada yang menampilkan drama, menanyi, membaca puisi bahkan ada yang menarikan tarian tradisional. Semua tampak bersemangat untuk keberhasilan acara ini.
Di tengah-tengah ke asyikan menontoni mereka yang sedang latihan tiba-tiba Adit menghampiriku.
"Kamu nggak latihan?" katanya sambil duduk di bangkunya Angle yang sebangku denganku.
"Aku akan latihan setelah pulang sekolah." kataku.
Aku melihat Adit tersenyum sambil menatapku. Ada apa sebenarnya dengan Adit? Akhir-akhir ini dia sering sekali menatapku sambil tersenyum.
"Wahh, kamu anak yang rajin juga. Kamu tidak mau menggangu pelajaranmu tapi tetap latihan untuk memenuhi acara festival ini. Aku kagum sama sifat kamu."
"Tidak ko, itu saran yang di berikan kakakku."
"Tetap saja, kau menurutinya kan? Berarti kau juga mempunyai perhatian lebih pada pelajaranmu. Aku saja sampai malu di buatnya."
"Kenapa malu? Kau kan tidak melakukan kesalahan."
"Hanya malu saja. Aku itu terkenal dengan anak yang rajin. Tapi ada yang lebih rajin dariku. Aku tidak sekeras dirimu dalam mencapai sesuatu," ucap Adit yang masih saja menampilkan senyumannya.
"Oh iya, bagaimana dengan Gilang? Kau jadi satu tim dengannya?"
Adit mengangguk. Dia bilang, dia dan Gilang akan menampilkan yang terbaik untuk pak Ehwan. Anehnya, aku merasa perkataan itu tidak tulus, aku merasa kalau Gilang dan Adit mengikuti acara ini hanya agar mereka bisa masuk universitas dengan mudah.
"Yasudah, aku mau latihan lagi, aku pergi dulu ya."
Karena timku harus berlatih dengan kak Ivan, timku jadi lebih sering berlatih di tempat kerjanya kak Ivan. Tapi kami tidak melakukannya di jam pelajaran. Kita akan latihan setelah pulang sekolah. Itu adalah saran terbaik dari kak Ivan walaupun kak Ivan tahu kita akan sering lihat teman-teman kita latihan di sekolah. Dan mungkin akan sedikit cemburu melihat hasil latihan mereka.
Di sana kak Ivan punya studio yang sangat keren yang biasa di gunakan untuk latihan penari-penari profesional milik manajemen perusahan di tempat kak Ivan kerja. Kami di latih sudah seperti tim yang sudah profesional. Kak Ivan pun tidak pernah hilang kepercayaan kalau timku bisa seprofesional yang kak Ivan gambarkan selama ini.
Aku juga lebih sering bertemu kak Ari karena kak Ari di pindah tugaskan oleh perusahaan yang membuat kak Ari dan kak Ivan satu kantor. Aku senang lihat persahabatan kak Ivan dan kak Ari.
Tidak sedikit pun terlihat dari mereka untuk membuat keributan. Mereka selalu bisa mengontrol diri mereka kalaupun ada kesalah pahaman. Membuat persahabatan mereka tampak sangat abadi.
Selesai latihan buat pembukaan di penampilan itu hari ini kak Ivan mulai menjelaskan konsep pertama untuk penampilan aku, Mitha dan Angle. Kak Ivan menginginkan lagu pop kesukaan Mitha untuk Mitha tampilkan sendiri di acara nanti dan lagu seriosa yang Angle sukai untuk Angle tampilkan sendiri. Sementara aku lagu hiphop yang teramat aku sukai.
Kak Ivan tahu betul aku itu menyukai lagu hiphop. Tapi kak Ivan juga tahu bahwa aku tidak bisa membawakan lagu itu secara keseluruhan. Jangankan keselurahan lagu itu, setengah dari lagu itu saja aku tak bisa bawakan.
"Tapi aku nggak bisa," kata Mitha dan Angle berbarengan. Tadinya aku juga mau bilang seperti mereka berdua tapi aku tidak bisa mengucapkan itu di depan mereka berdua. Aku takut kak Ivan down dan tidak jadi melatih aku, Mitha dan Angle.
"Kalian bisa ko, kan ada kak Ivan yang ngajarin kalian. Kalian bakal latihan dari yang modah dulu ko. Percaya ya sama kakak."
Mitha dan Angle mengangguk tanda mengerti, aku yakin Angle dan Mitha mengangguk karena tidak mau membantah ucapan kak Ivan lagi yang sudah bekerja keras buat penampilan kita bertiga.
Setelah pembicaraan ini selesai aku, Mitha dan Angle pamit pulang duluan karena kak Ivan masih harus lanjut kerja. Kak Ivan masih ada tugas tambahan dari atasannya yang membuat kak Ivan tidak bisa pulang bareng sama aku.
"Kakak nggak pulang bareng kak Ivan?" tanyaku.
"Kakak kamu masih ada tugas yang harus dia kerjakan sendiri. Jadi, kakak nggak bisa bantu. Makanya kakak pulang duluan. Mau pulang bareng kakak? Naik mobil loh. Jadi kalian nggak perlu ngeluarin uang buat ongkos pulang hari ini," tawar kak Ari yang tentu saja di sambut baik oleh Mitha dan Angle.
Dan akhirnya kita bertiga numpang mobil kak Ari buat pulang. Di perjalanan kak Ari terus membuat lelucon sampai Mitha dan Angle tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan komplek perumahannya.
Angle dan Mitha pun turun dari mobil dan pamit pulang duluan. Tinggal aku dan kak Ari. Kak Ari meminta aku menemani dia makan chiken di dekat rumahku. Dia bilang sudah lama dia tidak makan chiken. Merasa berhutang budi karena kak Ari sudah mengantarkan Mitha dan juga Angle aku pun mengangguk mengiyakan.
Sesampainya di restoran chiken yang kak Ari bilang, kak Ari juga menawarkan aku buat pesan karena kak Ari sangat yakin aku juga belum makan sejak pulang sekolah. Aku hanya menurut tidak mau bikin kak Ari merasa kecewa kalau aku menolak tawarannya.
Seperti biasa kak Ari akan memanjakan orang di hadapannya dengan topik pembicaraan yang menyegarkan. Dan di tengah obrolan itu tiba-tiba kak Ari membahas aku yang juga belum punya pacar.
Aku kini menjelaskan pada kak Ari kalau aku sudah memiliki orang yang aku cintai. Hanya saja aku masih belum yakin untuk memulai hubungan dengan orang itu. Kak Ari juga bertanya kenapa aku masih belum yakin untuk memulai hubungan dengan orang yang kucintai kalau aku sudah mencintainya.
"Apa orang itu tidak mencintaimu?" tambah kak Ari.
"Orang itu sangat perhatian padaku. Tapi orang itu adalah sahabat terbaik kakakku, aku takut menyakiti perasaan orang itu dan membuat persahabatan kakaku hancur," ungkapku yang membuat kak Ari cukup terkejut.
"Apa orang itu aku?" Tanya kak Ari.
Aku mengangguk.
"Aku takut suatu hari nanti aku menyakiti perasaan kakak dan membuat persahabatan kakak sama kak Ivan berantakan," Jelasku sekali lagi. Kak Ari tersenyum, tampak terlihat dari wajahnya kalau kak Ari teramat bahagia dengan pernyataanku barusan.
Kak Ari memegang kedua telapak tanganku dengan sangat lembut dan mulai menjelaskan bahwa dalam persahabatan kak Ari dan kak Ivan tidak pernah menyatukan tentang sebuah hubungan percintaan. Mereka berdua sangat mengerti arti seorang sahabat dan juga seorang kekasih. Keduanya adalah hal yang berbeda.
Sekalipun hubungan aku dan kak Ari dalam masalah, kak Ari dan kak Ivan tidak akan membawanya dalam persahabatan mereka. Bahkan kak Ari juga berjanji tidak akan membuat kak Ivan kecewa. Kak Ari juga mengerti betapa sayangnya kak Ivan padaku begitupun sebaliknya.
Kak Ari sangat mengerti kalau salah satu di antara aku dan kak Ivan sedih maka yang satunya lagi akan merasa sedih. Untuk itu kak Ari juga berusaha agar tidak membuat salah satunya menangis karena kak Ari. Dan dengan terang-terangan kak Ari bilang bahwa kak Ari sangat menyayangiku juga kak Ivan.
"Jadi kamu gak perlu khawatir soal persahabatan kakak sama kak Ivan. Persahabatan kami berdua akan abadi selamanya," ujar kak Ari yang berhasil membuat aku meneteskan air mata.
"Kamu nangis? Apa kakak membuatmu terluka? Apa kakak terdengar seperti memaksamu untuk jadi pacar kakak?" ucap kak Ari terdengar sangat khawatir.
"Maafin aku kak," kataku yang semakin terisak. Aku yakin pasti orang-orang di restoran sudah mulai melihat mejaku karena aku menangis
"Kenapa kamu minta maaf? Kalau kamu masih belum bisa jadi pacar kakak, kakak akan nunggu kamu ko."
Aku menggeleng, bukan itu yang kumaksud. Aku hanya merasa bersalah karena selama ini belum bisa percaya sama perasaan kak Ari yang sudah teramat mencintaiku dan kak Ivan.
"Maafin aku ka," Tapi lagi-lagi hanya itu yang bisa kukatakan.
Bersambung