Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 1



Waktu itu sangat berharga bukan? Terasa sakit ketika kita tidak bisa menghabiskan waktu untuk apa yang kita inginkan apalagi waktu untuk bisa bersama dengan orang-orang yang kita sayang. Penyesalan akan terjadi ketika kita tidak memanfaatkan waktu dan menghargai waktu yang kita punya. Sesuatu yang tidak bisa diulang kembali.


Walau begitu sebenarnya kita tidak perlu sedih atau khawatir, kita selalu punya kesempatan untuk memperbaikinya dan takan pernah terlambat untuk mulai memperbaikinya. Semuanya tergantung kepada pilihan kita, apakah ingin memperbaikinya atau menyerah karena semuanya sudah tidak sesuai harapan?


Siapapun bisa merasakan penyesalan. Namun apa yang aku alami ketika aku mendapati penyesalan itu datang padaku aku hanya ingin menuntut pada tuhan agar aku bisa kembali ke start dimana aku belum melakukan kesalahan apapun. Ketika aku gagal, aku ingin membuang kesalahan-kesalahan itu jauh-jauh dari hidupku, menghindarinya sebisaku. Padahal masalah yang selalu datang pada siapapun pasti akan membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.


Kegagalan mengingatkan kita tentang seperti apa terjatuh dan terluka. Kegagalan membuat kita belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita capai hanya dengan proses yang singkat dan mudah. Percayalah, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, semuanya kamu terima sesuai dengan usahamu sendiri. Aku harap kita bisa ingat kalimat ini, “Suatu saat aku, kamu, kita akan memetic buahnya jika kamu tidak menyerah dan terus belajar untuk tumbuh menjadi lebih baik.”


Maka dari itu, kita selalu dituntut untuk bisa selalu percaya diri. Sudah lama aku selalu mengatakan ini, sebuah kalimat yang selalu kak Ari ajarkan, “Aku tidak akan jatuh kelubang yang sama. Aku kuat dan aku bisa!”


Kalimat itu selalu menjadi kalimat penyemangat yang datang dari keberanian dirimu sendiri. Namun apa yang biasanya kita lakukan ketika gagal, ketika kita tidak tahu harus berbuat apa ketika gagal, ketika kita tidak menemukan seorang pun yang akan membawa kita pada arah yang benar? Hal yang paling bodoh yang pernah aku lakukan adalah masih saja selalu berfoya-foya dengan waktu. “Masih ada hari esok.” Kata itu yang selalu aku ucapkan ketika aku merasa aku tidak bisa melakukan sesuatu, padahal aku sendiri tidak tahu kebahagiaan hari esok itu untuk siapa? Apakah hari esok aku masih memiliki jatah kebahagiaan? Yang harusnya kulakukan adalah kerja keras, mencari solusi dan memperbaikinya.


Maka dari itu, sekarang aku akan memperkenalkan diriku yang tengah beranjak dewasa yang belajar bijaksana dan berusaha untuk tenang ketika menghadapi masalah. Cara yang aku pegang saat ini agar aku tetap bisa menjaga kewarasanku adalah dengan menulis.


Aku sangat suka menulis, jika kalian adalah orang-orang terdekatku, kalian akan menemukan bahwa buku tulis yang aku punya selalu penuh tak pernah ada lembar kertas yang kosong. Itu karena biasanya ketika akhir tahun buku catatan sekolah akan aku jadikan buku untuk menulis karya-karya imajinasiku.


Aku berharap dengan hobiku yang suka menulis ini, aku akan menjadi penulis terkenal yang bisa memotifasi banyak orang dengan karyaku. Aku sangat ingin orang-orang terhibur dengan karyaku. Aku ingin, dengan karyaku, seseorang yang awalnya sakit bisa sembuh begitu membaca karyaku. Aku ingin seseorang bisa tertawa dan bahagia karena karyaku di publikasikan. Aku juga ingin suatu saat idolaku bisa memerankan tokoh utama dalam salah satu karya tulisku.


Tapi sejujurnya, aku sangat mempesona di sekolah karena mempunyai orang-orang yang begitu mencintaiku, yang berusaha memiliki aku bagaimanapun caranya hanya agar mereka bisa menunjukan pada temannya bahwa mereka bisa menaklukan gadis paling pendiam di sekolah ini. Yah alasan sederhana itu membuat mereka sering kali menjailiku, menggodaku, dan yah, masih banyak lagi. Aku benci orang-orang seperti itu.


Aku tidak butuh mereka yang hanya ingin menjilatku, memanfaatkanku demi ketenaran mereka, atau demi mendapatkan orang-orang yang ada disisiku. Aku benar-benar tidak tertarik dengan cara hidup seperti itu. Aku tidak akan pernah membuat hidupku yang tenang menjadi bising hanya karena ulah manusia-manusia bodoh. Lagipula mimipi-mimpi yang sedang aku kejar saat ini adalah mimpi besar yang harus dikejar tanpa orang-orang menyebalkan seperti mereka. Atau mungkin seharusnya aku jauh-jauh dari mereka.


By the way, aku memiliki dua orang sahabat, mereka adalah Mitha dan Angel. Keduanya tidak terlalu peduli dengan nilai sekolah. Mereka tidak pernah merasa tegang dengan ujian akhir semester dan mereka berdua adalah tipe murid yang tidak terlalu mengkhawatirkan nilai akhir mereka. Mereka bilang setelah lulus SMA, mereka hanya akan bekerja untuk mendapatkan uang agar ayah dan ibu mereka senang karena anak gadis yang mereka besarkan berhasil menjadi gadis yang mandiri dan bisa menggantikan mereka menghasilkan uang di keluarganya.


Tapi menurutku, bukan itu yang di inginkan setiap orang tua di bumi ini. Menurutku,, yang orang tua inginkan dari anaknya adalah bisa melihat kita sukses. Bisa membahagiakan keluarganya dimasa yang akan datang dengan mencapai mimpi besar mereka sendiri. Bukan hanya untuk menghasilkan uang dari perusahaan orang lain, tapi bisa menghasilkan uang dari perusahaanny sendiri,  yang bisa kita turunkan kepada anak cucu kita nanti. Serta bukan tentang keinginan orang tua yang harus mereka capat tapi bagaimana orang tua kita bisa melihat anaknya menjadi sosok anak yang bahagia dengan segala proses untuk mencapai mimipi-mimpinya.


Seperti yang kalian lihat, aku memiliki beberapa kata-kata yang bagus untuk mengisi setiap kalimat untuk mengutarakan isi pikiranku. Namun, aku sangat benci ketika kata-kata ini tidak pernah bisa aku ucapkan pada orang lain. Bukan karena aku pemilih untuk berbicara dengan siapa, tapi aku tidak lagi punya keberanian untuk itu. Aku takut, ketika aku mulai dekat dengan seseorang, ketika aku bisa bercerita banyak hal dengan seseorang maka mereka akan berpikir aku sudah lebih mudah untuk didapatkan.


Maka dari itu, aku sudah terbiasa membuat orang salah paham dengan sifaku yang pengecutku. Dengan diamku mereka bisa keliru dengan maksudku. Jadi, karena itu jugalah semangatku untuk menjadi seorang penulis lebih kuat lagi, mungking sangat kuat, hehe.


Menurutku dengan menjadi seorang penulis, maka aku akan mempunyai keberanian untuk mengatakan apa yang ingin aku katakana. Aku tidak perlu merasa ragu dengan kalimat yang akan aku sampaikan karena aku telah merancangnya dengan sabaik mungkin agar mereka bisa mengerti dengan apa yang ingin aku sampaikan.


Bersambung