
“Yaudah, kalo gitu sekarang kita ke rumah lo buat bahas festival nanti. Kita harus mulai diskusi dari sekarang biar persiapannya mateng.” Itu saran Angle.
Mitha dan Angle pun kumpul di rumahku untuk membicarakan soal penampilan yang akan kita pertunjukan di festical nanti. Karena kita memutuskan untuk menjadi satu tim, kita sepakat untuk jadi lebih professional dalam menjalankan tugas, gak boleh seenaknya apalagi tugas kali ini cukup serius.
“Kita mau nampilin apa nih? Gue gak ada gambaran banget selain nyanyi pop, tapi kalo nyanyi pop kan bagusnya sendirian,” kata Mitha.
“Vocal group kan banyakan Mith, boy or girl band juga banyakan,” balasku.
“Iya sih, tapi mau nyanyi aja nih? Kita kan kalo nyanyi di kamar mandi doing baru bagus,” ujar Mitha lagi.
“Gimana kalau ditambah nari modern, kayak idol-idol KPop gitu, jadi yang dinilainya bukan suara aja. Kalaupun suara kita jeles masih ada tariannya yang dinilai. Lagian modern dance kan masih ada unsur musiknya juga.” Usul Angle.
“Bagus tuh,” kataku seadanya sebagai respon saja kalau aku setuju dengan usulan Angle.
“Bagus tuh, apalagi kita juga bisa bikin tarian sendiri kan?” lanjut Mitha yang tampaknya juga setuju dengan usulan Angle.
“Setuju, setuju,” kata Angle.
“HAH? Bentar, bentar, kalian yakin? Tari modern juga bukan hal yang mudah kali. Apalagi harus buat gerakan sendiri. Cover dance orang aja belum tentu bisa. Bisa malu kita kalau sampai gerakan yang kita buat gak bagus buat ditonton di festival besar kayak gini,” kataku.
Sedang serius-seriusnya berdiskusi, tiba-tiba kak Ivan datang. Dia melihat brosur festival yang ada ditengah-tengah aku, Mitha dan Angle.
“Kalian bakal ikutan Festival? Festival apa?” tanya kak Ivan sepertinya tertarik dengan apa yang kita diskusikan. Angle dan Mitha pun menjelaskan festival apa yang akan kita ikuti dan tanpa sadar kak Ivan ikut mendiskusikan festival ini juga untuk kami bertiga.
Angle dan Mitha yang mendapat penjelasan tentang konsep tari modern yang terdengar keren itu dijelaskan sesedarhana mungkin tentang rencana kak Ivan untuk tari modern yang akan kami tampilkan. Kak Ivan memang tidak bisa diragukan lagi jika itu membahas tentang festival. Itu memang keahliannya. Bahkan di universitasnya, kak Ivan selalu mendapat nilai terbaik karena konsep-konsep seni yang kak Ivan buat benar-benar luar bias. Cukup luar biasa untuk didengar anak SMA seperti yang tidak tahu apa-apa tentang seni.
Sekarang kak Ivan juga sampai membuatkan konsep untuk penampilan kita. Kita yang mendengar penjelasn tentang apa itu intro dance, breakdance yang dia kasih dalam penampilan membuat kami merinding. Kita bertiga hanya hanyalah pemula, tidak mungkin bisa memakan konsep yang dijelaskan kak Ivan secara gamblang. Kita bertiga bukan dancer atau idol-idol Korea Selatan yang pandai mengerti ataupun tahu teknik menari. Lagi pula kami pikir bahkan artis yang sudah professional saja akan sulit membawakan konsep yang kak Ivan berikan sekarang.
Tapi kak Ivan, dengan jiwa tegass dan penuh percaya dirinya itu segea menasihati kita bahwa tidak ada yang tidak mampu membawa konsep yang dia kasih itu. Katanya, siapapun kalau berlatih akan berhasil membawakan konsep yang kak Ivan berikan. Kak Ivan menjelaskan bahwa artis-artis yang berhasil menampilkan sesuatu yang menakjubkan itu karena mereka percaya dengan kemampuan mereka untuk berlatih dan memberikan yang terbaik.
“Tapi kak, kita masih pemula, kita juga masih SMA, gak tahu apa-apa soal konsep yang kak Ivan kasih ke kita, lagian kita cuman punya waktu sebulan lagi buat latihan,” rengek Mitha yang membuat gendang telingaku cukup terganggu.
Melihat kak Ivan yang sangat percaya diri akhirnya Mitha dan Angle luluh dan mau menerima konsep yang kak Ivan berikan. Apalagi dengan profesionalnya kak Ivan juga membuatkan jadwal latihan agar pekerjaannya ataupun jam belajar kita tidak terganggu dengan acara ini.
“Loh kak, kenapa latihannya gak mulai besok aja? Kan besok tanggal merah?” tanya Angle to the point, terbawa professional dari auaranya kak Ivan, hehe.
“Besok kak Ivan udah janjian mau liburan sama temen kak Ivan.”
Kak ivan mengaku kalau dia baru saja mendapatkan gaji pertama dari perusahaan di tempat kak Ivan bekerja sekarang. Mitha dan Angle pun mengangguk mengerti, bagaimanapun latihan pertama kita bertiga tidak mungkin latihan tanpa kak Ivan. Kita harus mendapat panduang terlebih dahulu dari kak Ivan agar tahu apa yang harus kita lakukan.
Keeseokan harinya, kak Ivan datang ke kamarku dengan pakaiannya yang sudah rapi khas pria dewasa awal yang suka memakai jeans hitam dan juga jaket kulit kebanggaan kaum mereka.
“Kamu jadi ikut liburan sama kakak kan? Beruntung sekarang libur kita sama-sama libur jadi kamu bisa ikut,” kata kak Ivan sambil duduk di kursi belajarku. Kak Ivan membalikan kursinya jadi menghadapku yang masih malas-malasan dikasur.
“Loh bukannya kemarin kakak bilang, kakak mau liburan sama temen kakak?” tanyaku.
“Ari, kakak ngajak kak Ari juga, tapi katanya sih gak jadi pergi, mungkin karena kakak bilang kakak gak ajak kamu,” sindir kak Ivan tepat sasaran.
“Yaudah, iya aku ikut. Kakak keluar dulu sana! Aku mau mandi,” kataku sambil mengucek-ngucek mata karena masih terasa berat untuk di buka.
“Yaudah kalau gitu kakak siapin dulu motornya. Jangan lupa sarapan yah, nanti kalau kamu sakit maag, kakak juga yang dimarahin bunda.” Ucapan kak Ivan yang perhatian seperti ini membuatku tidak pernah merasa lelah hidup di dunia yang serba tak pasti ini. Walaupun keberanian untuk mengekspresikan diriku masih dibawah rata-rata dan aku tidak tahu caranya mengatakan bahwa aku beruntung menjadi adiknya kak Ivan, ada saat-saat dimana aku sangat ingin mengatakannya.
Kak Ivan benar-benar menyayangiku sepenuh hatinya. Tidak pernah sedikitpun terlihat dari kak Ivan untuk membuatku merasa marah padanya atau membuatku menangis karenanya. Menurutku kak Ivan adalah kakak terbaik yang pernah ada di dunia ini.
Setelah selesai sarapan, aku langsung pamit sama ayah dan bunda untuk segera pergi. Pagi ini ayah sama bunda ada di rumah tapi aku dan kak Ivan tidak bisa mengajak mereka ikut bergabung dalam liburan ini karena nanti siang mereka harus kembali kerja.
Diluar, kak Ivan sudah siap dengan motor gedenya yang kak Ivan beli satu bulan yang lalu. Tepatnya bulan ketiga kak Ivan mendapat gaji dari perusahaannya. Syuut,,, gaji kak Ivan tidak sebesar itu sampai baru tiga bulan sudah kebeli motor gede. Katanya kak Ivan sudah menabung sejak SMA untuk mendapatkan motor itu. Yah, kak Ivan selalu bertekad membeli motor keinginannya dengan uangnya sendiri dan itu berhasil membuat ayah dan bunda bangga pada kak Ivan.
Bersambung