
Sayangnya, waktu itu aku menolak perasaannya kak Ari karena ada banyak pemikiran dikepalaku dan sedihnya, hanya ada pikiran negatif dalam isi kepalaku saat itu. Aku takut aku menyakiti kak Ari dimasa depan. Aku belum bisa mengerti apa ari sayang dan cinta yang sesungguhnya dari seorang pria. Tapi untungnya kak ari memahami hal itu. Dia masih menjadi seseorang yang aku kenal walaupun aku belum bisa memastikan perasaanku padanya.
“Kamu masih inget lagu ini kan Put? Ayok nyanyi bareng!” ajak kak Ari sambil menampilkan senyuman termanisnya padaku. Aku mengangguk mengiyakan dan mulai ikut bernyanyi bersama mereka berdua.
Sejujurnya, aku masih merasa bersalah karena tidak menjelaskan tentang masalah kerja kelompok itu, aku ingin mengatakan bahwa salah satu diantara mereka berdua bukan pacarku, dengan begitu kak Ari tidak akan merasa kesal ketika kak Ivan membahas tentang hal itu. Tapi aku tidak cukup berani, aku membiarkannya karena aku sendiri tidak mau kak Ari berharap banyak padaku.
Tapi ketika senyumnya kembali muncul hanya karena satu lagu yang dia mainkan, hatiku kembali tenang. Kak Ari, walau terkadang dia merasa kesal, dia selalu bisa mengontrol emosinya dengan baik. Apalagi dalam suasana seperti ini, jika kak Ari murung, tentu piknik kita hari ini tidak akan seseru biasanya.
“Masih kak Ari, kak Ivan, selalu ada untukku dan selalu berhasil membuatku menjadi orang yang paling bahagia. Seperti malam ini. Kak Ari, maafin aku kak, belum bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya pada kakak. Aku janji suatu saat nanti aku akan membalas cinta kakak padaku. Semua rasa peduli dan perhatian yang kakak kasih ke aku. Hanya saja,, masih bukan sekaran kak. Tunggu aku yah kak sampai aku menjadi gadis yang lebih berani lagi.” __Putri
“Seandainya kamu tahu Put, kalau rasanya sakit banget cemburu sama seseorang yang pernah deket sama kamu padahal kamu pun bukan punya aku. Aku pengen kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu. Aku pengen banget bilang sama kamu kalau aku pengen jadi pacar kamu. Aku pengen selalu jadi orang yang bisa kamu datangi untuk pertama kalinya ketika kamu sedih, aku selalu pengen duduk berdua dan denger semua kisah kamu. Aku selalu pengen ungkapin perasaan aku ke kamu lagi dan lagi. Tapi kayaknya sekarang aku jadi pecundang cuman karena ditolak satu kali sama kamu. Apalagi akhir-akhir ini ada yang bilang ke aku kalau cinta pertama itu selalu gagal. Bisa gak yah, aku buktiin kedia kalau cinta pertama itu gak selalu gagal, kalau cinta pertama aku akan berhasil.__Ari
Kak Ivan melihatku dan kak Ari yang sudah terlalu lama saling menatap ditemani alunan music sampai ke akhir nada dari lagu yang mereka bawakan. Anehnya aku tidak terganggu akan hal itu. Aku tidak peduli kak Ivan menatapku seperti apa dan fokusku hanya pada kak Ari. Aku suka memandang wajah tampan kak Ari.
***
Malam yang dekerumuni bintang dan sang rembulan yang hanya tinggal sebelah menemani malam kak Ari. Kak Ivan yang juga belum tidur keluar dari tendanya. Melihat kak Ari tengah meminum kopi sambil menatap rembulan.
“Lo belum tidur Ri?” tanya kak Ivan.
“Gak bisa tidur Van, pikiran gue lagi pada mencar, gak bisa diajak kerja sama,” jawab kak Ari. Dia menyimpan kopinya disamping kursinya lantas menyimpan tangannya dihadapan api unggun agar tangannya terasa hangat. Bagaimanapun sekarang sudah tengah malam, udaranya sudah semakin dingin.
“Sorry yah, tiba-tiba gue bahas soal anak itu lagi.”
“Gue kok yang bahas duluan,” balas kak Ari.
“Sebenarnya adik gue pernah bilang kalau dia juga sayang sama lo, cuman dia belum tahu sayang kayak apa yang dia punya. Dia masih gak yakin dia nganggep lo temen, sahabat, kakak atau justru lebih dari itu. Gue juga gak bisa nanya lebih dari itu,” ungkap kak Ivan.
Kak Ari tersenyum kecil, “Makasih Van, gue ngerti kok.”
“Lagian masa udah delapan tahun lo nggak bisa pindah ke orang lain aja sih? Adik gue kan sekarang nyebelin. Banget! Nyebelin banget! Makin susah diatur dan ngomongnya juga sekarang ceplas-ceplos, gak kakayk dulu,” ujar kak Ivan yang sepertinya mencoba menghibur kak Ari dan berharap kak Ari tidak terlalu berharap banyak dengan perasaan adiknya yang tidak menentu.
“Kalau nanti gue pindah, terus ternyata dia suka sama gue gimana?” tanya kak Ari meledek. “Yah itu urusan dia, siapa suruh lelet? Sabar juga ada batasnya kali, nunggu juga ada kadaluarsanya! Lo gak usah nggak enak sama gue. Lagian perasaankan gak bisa dipaksain Ri.”
“Apaan sih, bucin banget!” dumel kak Ivan.
“Adik lo pake pel*t apa sih? Ko gue bisa lengket gini kedia?”
“Tahu tuh,, padahal gak cantic-cantik amat, kenapa juga lo bisa sesayang itu sama dia, nunggu sampai delapan tahun gak ada kepastian dan gak bisa jatuh cinta sama cewek lain. Gue kasian sama lu Ri. Baru kali ini gue sekasian ini sama lo.”
Mendengar itu kak Ari langsung menggeplak kepalanya kak Ivan, “Yeh,, nyebelin loh! Jadi gini cara loh hibur gue?” gerutu kak Ari. Kak Ivan sebenarnya hampir ngamuk ketika kak Ari memukul kepalanya, tapi kali ini kak Ivan tidak membalasnya.
“Makasih Ri, udah jagain adik gue, peduli sama dia dan selalu ada buat dia. Makasih karena nerima dia apa adanya. Maafin gue juga karena gak bisa bantu lo lebih jauh selain yah,, kayak acara-acara kecil kayak gini,” jelas kak Ivan terdengar sangat tulus. Hal itu berhasil membuat kak Ari tersenyum.
“Acara kayak gini berarti banget buat gue Van. Gue seneng bisa ketemu dia disaat gue sama dia sama-sama sibuk. Makasih lo tetep percaya sama gue.”
“Udahlah sedih-sedihnya, lagian kita juga gak tahu pasti tentang isi kepala tuh anak kita juga gak tahu tuh cowok emang pacarnya adik gue atau bukan. Adik gue gak pernah cerita kalau dia pernah punya pacar. Lagian dia gak akan berani pacaran dibelakang gue. Lo tahukan kalo dia penakut? Apalagi sejak SMA.”
“Siapa juga yang sedih?” elak kak Ari.
“Alahh, tadi siapa yang bilang gak bisa tidur dan pikirannya lagi mencar-mencar?”
“Gue kayak gitu karena lagi mikir aja, gimana kalo besok gue udah kangen lagi sama adik lo? Gue harus nyari waktu kapan lagi buat bisa ketemu sama dia.”
“Aduhh, nyesel deh gue ngomong kayak gitu, nih bocah satu bucinnya udah tingkat dewa. Udah ah, gue mau tidur! Lo mikir aja sendiri sonoh!”
“Dihh emang dari tadi juga mikir sendiri!”
Mendengar itu kak Ivan kembali ke tenda, sebelum kak Ivan benar-benar masuk kak Ari bilang, “Kalau gue butuh bantuan lo buat ketemu dia lagi, lo bantuin gue kan?”
“Kalau masih masuk akal gue bantuin,” jawab kak Ivan tanpa ragu.
Bersambung