Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 13



"Sebagai permintaan maafku bagaimana kalau pulang sekolah makan denganku?"


Adit tampak terkejut dengan penawaranku. Ya, dia pasti sangat terkejut, ini sama sekali bukan gayaku dan ini adalah pertama kalinya aku mengajak makan seseorang.


"Wahh aku merasa terhormat mendapat penawaran itu. Kau yang mengajak, berarti kau yang teraktir?"


Aku mengangguk dan Adit segera menyetujui penawaranku.


Pulang sekolah aku dan Adit bertemu di parkiran karena Adit mengusulkan untuk pergi menggunakan motornya. Aku tidak bisa menolak usulannya karena dia menawarkan kebaikan. Kami pun pergi ke resto yang biasa di kunjungi yaitu restoran chiken.


"By the way, aku seneng banget bisa makan disini sama kamu. Kamu sendiri apa pernah mengajak makan orang lain seperti kamu mengajak aku hari ini?"


Aku menggelengkan kepala karena ini memang pertama kalinya aku mengajak seseorang makan denganku, apalagi sampai mentraktirnya.


"Tapi, dulu ada yang sering mengajakku ke sini dan sekarang dia sedang tidak bisa di hubungi," jelasku panjang lebar. Setelah menyadari kalau baru saja aku bercerita tentang pribadiku padanya aku pun merasa malu dan segera meminta maaf.


Aku tidak mengerti mengapa hari ini aku bisa seceroboh ini padahal sebelum-sebelumnya aku bukanlah orang yang seperti ini apalagi menceritakan soal perasaanku pada orang lain.


"Tidak usah meminta maaf, aku senang bisa mendengar ceritamu. Lalu siapa orang yang sedang tidak bisa kau hubungi itu? Apa temanmu? Atau,, pacarmu?" katanya sambil melahap potongan chiken yang sudah ia potong sendiri.


"Pacar? Tidak ko, dia sahabat kakakku. Namanya kak Ari, dia satu kantor dengan kakakku."


Adit manggut-manggut seolah mengerti dengan maksudku.


Rasanya senang sekali bisa menceritakan apa yang kurasakan pada orang lain. Bebanku serasa berkurang dan aku merasa memiliki banyak orang yang menyayangiku dengan tulus.


(Adit, terima kasih karena hari ini mau mendengarkan ceritaku. Semoga ke depannya aku bisa bersahabat denganmu seperti aku bersahabat dengan Mitha dan angle. Maafkan aku juga karena tidak menyadari kebaikanmu. Mungkin jika dari dulu aku menyadari kebaikanmu kita bisa bersahabat dan menjalani persahabatan kita lebih lama. Ini semua karena kebodohanku, maafkan aku).


Karena kesuksesan kita hari ini di tentukan oleh keputusan kita di masa lalu dan kesuksesan kita pada masa depan di tentukan oleh keputusan kita hari. Tidak penting lagi berapa kali kita terjatuh, tetapi yang penting adalah bagaimana kita berusaha bangkit dari kejatuhan itu.


Aku, Mitha dan Angle mulai menyukai cara berlatih kak Ivan dan mulai menyukai dance modern. Niat Mitha dan Angle yang awalnya hanya akan bekerja setelah lulus kuliah berubah. Mereka berdua ingin menjadi penari profesional sesuai yang pernah kak Ivan katakan.


Satu sampai dua minggu kami berlatih kami sudah seperti seseorang yang teramat profesional di bidang tari. Bahkan bukan hanya tari, tapi juga acting dan bernyanyi. Kak Ivan benar-benar mengarahkan aku, Mitha dan Angle tentang pentingnya tekad seseorang dan keberanian seseorang untuk mencapai masa depan yang lebih indah.


Akhir-akhir ini juga aku lebih sering bersama Adit. Entah mengapa aku merasa senang dan nyaman bersamanya. Mungkin karena dia orang yang asyik juga baik. Aku bahkan merasa Adit sudah seperti kakakku. Dia bersahabat denganku karena ketulusan. Dia tidak pernah memanfaatkanku ataupun ingin menyombongkanku pada orang lain kalau aku bersahabat dengannya.


Karena Adit juga aku lebih sering ke perpustakaan untuk belajar. Tapi niat untuk belajar, aku malah mencari majalah komik karena merasa bosan dengan pelajaran. Adit beberapa kali menemukanku sedang membaca komik dan dia memarahiku karena malas belajar.


Aku tersenyum padanya dan meminta maaf.


"Lagi-lagi minta maaf, belajar itu bukan buat aku tapi buat kamu sendiri. Di masa depan kamu akan merasa menyesal karena kamu tidak menghabiskan waktumu untuk belajar."


"Oh siap pak guru, aku mengerti," kataku yang di ikuti dengan senyuman berusaha memprofokasi Adit agar tidak memarahku lagi.


Treng,, treng,,


Bel penanda istirahat berakhir berbunyi aku dan Adit pun segera kembali ke kelas. Setelah sampai di kelas ternyata di sana sudah ada guru. Untungnya guru yang mengajar kali ini adalah pak Ehwan jadi beliau membiarkan kami masuk untuk tetap mengikuti pelajaran. Tapi sebelumnya pak Ehwan sudah mengacak ulang meja kami. Karena kami datang terlambat kami mendapat kursi paling belakang juga duduk sebangku.


"Baik bapak ulangi. Tugas untuk ujian praktek mata pelajaran Bahasa Inggris adalah menyanyi lagu Bahasa Inggris. Entah itu penyanyi dari Inggris, Amerika ataupun Indonesia terserah kalian yang penting berlirik Bahasa Inggris. Karena yang bapak nilai adalah pengucapan Bahasa Inggrisnya, kalian mengertikan?" jelas pak Ehwan.


Semua murid di kelasku mengiyakan ucapan pak Ehwan tanda mengerti apa yang di maksud pak Ehwan tapi Adit tiba-tiba mengacungkan tangannya dan meminta izin untuk bertanya. Dengan senang hati pak Ehwan mempersilahkan Adit bertanya.


"Apa kita tampil per individu?" tanyanya. Pak Ehwan menggeleng dan menjelaskan kalau teman sebangku yang sekarang yang akan menemani kita untuk praktik bernyanyi nanti.


"Maksud bapak kita akan duet vokal?" tanya Adit dengan penuh ke gugupan. Dan pak Ehwan hanya mengangguk sebagai jawaban iya, lalu mulai menjelaskan kriteria-kriteria yang akan menjadi penilaian duet vokal nanti. Sepertinya dia tidak siap untuk melakukan ujian praktik kalau harus duet bersamaku.


Aku memegang tangan kanannya dan mengatakan kalau aku akan berusaha melakukan yang terbaik agar aku tidak membuat nilai Adit memburuk karena satu kelompok denganku. Adit menatapku, dia menggelengkan kepalanya seperti nya tidak setuju dengan yang kukatakan.


"Bukannya aku tidak mempercayaimu untuk duet vokal ini. Tapi aku yang tidak percaya diri karena suaraku jelek. Kalau sampai suaraku membuat nilai praktikmu kecil aku akan merasa sangat bersalah," katanya dengan nada yang pelan agar pak Ehwan tidak mendengarnya.


Aku bisa merasakan ke khawatiran yang di rasakan oleh Adit karena aku tahu betul suaranya seperti apa. Aku pun tersenyum dan mencoba menyemangatinya dan memintanya untuk tetap berpikir positif. Lagipula ujian praktiknya akan di lakukan di semester depan, tepatnya dua minggu sebelum ujian.


Acara festival tinggal satu minggu lagi tapi kak Ivan di tugaskan di luar kota oleh perusahaan membuat kita tidak bisa latihan bersama kak Ivan. Padahal ini adalah waktu-waktu terpenting untuk melatih semua konsep yang sudah kak Ivan ajarkan. Hari ini aku, Mitha dan Angle ikut mengantar kak Ivan ke bandara. Kami merasa akan sangat merindukan latihan bersama kak Ivan nantinya.


"Kak, kakak nggak akan lamakan di sana?" kataku. Kak Ivan tersenyum lalu memelukku.


"Kamu takut kangen ya sama kakak?" ucap kak Ivan. Aku mengangguk mengiyakan ucapan kak Ivan.


"Kakak juga, kakak pasti kangen banget sama kamu. Tapi kakak nggak bakal lama ko. Kakak akan menyelesaikan pekerjaan kakak di sana dengan cepat supaya bisa melatih kalian lagi. Kakak juga bakal coba hubungin kak Ari buat bantu kalian latihan kalau kakak masih di luar kota juga," jelas kak Ivan.


Mendengar nama kak Ari jantungku terasa rapuh. Aku benar-benar merindukan kak Ari sekarang ini. Aku merasa menyesal karena tidak mengatakan apapun selain kata maaf untuk kak Ari waktu itu.


Bersambung