Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 2



Mimpi itu selalu ada pada setiap orang, mungkin ada yang sudah menyadarinya, ada juga yang belum mengetahuinya. Makanya, ketika aku sudah mengetahuinya aku selalu berteriak kepada diriku agar aku bisa tetap semangat menjalani hari-hariku dan proses yang aku lalu untuk menjadi seorang penulis. Kita harus percaya, kita bisa ikut berjuang menerobos gerbang dunia yang sulit ini. Bagaimana caranya aku juga belum tahu pasti. Orang seperti apa yang pantas untuk menemani kita dalam segala prosesnya, aku juga masih belum yakin. Tapi aku tahu satu hal, seseorang yang sukses itu karena kita memiliki tekad dan keberanian. Karena setelah tekad dan keberanian itu, maka akan muncul cara bagaimana kita mewujudkan mimpi-mimpi kita. Bukan lagi tentang hasil yang saat ini dibicarakan, tapi tentang cara kita menikmati segala macam prosesnya.


Namun, seperti yang aku katakana sebelumnya, masalahku ada di keberanian. Aku sudah lupa caranya menjadi berani. Aku selalu taku apa yang aku pikirkan tidak sejalan dan tidak sesuai dengan yang orang lain pikirkan. Menurutku,, sangat tidak berguna ketika pemikiran kita tidak bisa menjadi apa-apa di masyarakat. Padahal aku sendiri sudah sangat memikirkan hal itu dan bagaimana cara aku keluar dari mindset seperti itu. Bahwa pemikiran orang lain terhadapku bukanlah masalah besar, yang terpenting aku selalu menyuguhkan yang terbaik dari setiap kata-kata yang keluar dari mulutku. Namun semua itu, sampai detik ini belum berhasil. Aku masih tidak memiliki keberanian yang sangat ingin aku miliki.


Hal yang membuatku sedikit kesal adalah ketika aku masih saja merasa takut mengatakan apa yang ingin aku katakan pada orang orang lain padahal aku sendiri tahu bahwa hal itu bisa menghambat kemajuan baik pada masa depanku. Kedepannya aku berharap aku bisa lebih berani lagi mengekspresikan diriku didepan orang lain dan bisa membuat orang lain mengerti dengan maksud perkataanku.


Lagi pula yah dan ibu selalu mewanti-wantiku, begitu juga dengan kak Ivan, agar jangan pernah menyesal karena mengalami kegagalan. Tapi menyesalah karena tidak pernah mencoba sama sekali. Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba karena di dalam mencoba kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Jadi, aku harus bisa menaklukan dunia ini.


Bagaimana langkah awal menaklukan dunia ini? Kak Ivan pernah bilang, “Kita hidup ditakdirkan untuk bahagia.” Bahkan saat itu ketika kak Ari yang juga sedang bersama kita mengungkapkan, bahwa dia pernah membaca sebuah quotes dari Herman Cain yang isinya, sukses bukanlah kebahagian. Kebahagiaan adalah kunci kesuksesan. Saat itu aku tersenyum hanya dengan mendengar kalimatnya, apalagi ketika dia juga mengatakan bahwa jika kita mencintai apa yang kita lakukan, maka kita akan mendapat kesuksesan itu. Rasanya, belum berjuang apa-apa aku sudah merasa sukses, hehe.


Oh iya, aku belum sempat kenalan. Namaku Putri Fidelya. Sekarang aku kelas 12 SMA. Aku bukan seorang siswa teladan dan juga pintar. Tapi, seluruh sekolah sepretinya mengenalku karena pintar dalam mata pelajaran Bahasa. Baik itu Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris. Orang-orang menganggapku sebagai orang yang baik karena aku pendiam. Sendainya mereka melihat sisi lain dari kepribadian dan sikapku, mungkin penilaian mereka tentangku akan berbeda.


Putri yang mereka kenal adalah Putri yang selalu diam sekalipun aku melihat kesalahan orang lain. Aku tidak akan berani menegur siapapun yang melakukan kelasahan. Tapi tidak jika itu berurusan dengan Angle atau Mitha. Aku rasa, aku adalah seorang pengecut yang tidak bisa membela diriku dihadapan orang lain. Aku aku lebih bisa menjagai Mitha dan Angle disbanding menjaga diriku sendiri.


Aku akan membiarkan siapapun berbicara sembarangan dan menyimpulkan sendiri tentang apa yang ingin mereka nilai dariku dan disaat ini aku sedang tidak ingin mempedulikan bagaimana tanggap orang-orang terhadapku. Ada hal yang lebih penting dari sekedar mendengarkan apa kata orang.


Sejujurnya pada awal aku menerima perlakuan itu aku tidak mempedulikannya, apalagi pada saat SMP aku memang sedang ambis-ambisnya belajar agar bisa masuk SMA impianku sekarang. Namun ternyata hal ini berlanjut sampai aku masuk SMA, padahal saat itu aku sudah mulai mengenal perawatan wajah, bagaimana cara mendapatkan tubuh ideal dan berbagai macam hal yang memang biasanya dikhawatirkan banyak wanita. Sampai pada akhirnya aku kehilangan kesempatan-kesempatan untuk belajar. Nilai akademikku tidak terlalu bagus.


Hal yang membuatku tidak bisa lupa dengan kejadian buruk yang pernah menimpaku adalah ketika ada seorang cowok yang sengaja mendekatiku hanya agar mendapat nilai Bahasa Inggris yang bagus. Dia hampir menyatakan perasaannya padaku tapi pergi begitu saja ketika dia sudah mencapai tujuannya. Dia mengaku bahwa dia tidak cocok dengan wajahku! Saat itu benar-benar sakit hati dan kecewa padanya, apalagi saat itu aku sudah menaruh kepercayaan padanya bahwa dia bukan orang jahat.


Bukan hanya itu, pada awal kelas 11, Angle dan Mitha memberitahuku kalau ada banyak murid laki-laki yang suka padaku karena sekarang aku cantic, tapi mereka hanya ingin berpacaran denganku hanya karena aku cantic? Disaat Mitha dan Angle mengatakan itu aku kembali membatasi diriku untuk berinteraksi dengan orang luar yang tidak aku kenal.


Karena dengan mengetahui kalau ada banyak orang yang mendekatiku karena aku cantic ataupun karena mereka memanfaatkanku dalam pelajara Bahasa Inggris aku bisa saja menganggap semua orang yang ada disampingku tidak sungguh-sungguh ingin disampingku sebagai bagian dari hidupku. Aku sudah merasakan betapa pemilihnya manusia mengenai fisik, dan aku menyadari betapa menyebalkan manusia dengan mempermainkan perasaan hanya untuk sebuah angka. Aku tidak ingin satu hal ini membuatku tambah membenci orang-orang.


Walaupun begitu, aku masih bisa berbicara santai dengan kak Ivan, kakakku satu-satunya. Kak Ivan masih sama seperti yang dulu aku kenal. Dia masih selalu mengajakku bercanda soal penampilanku sekarang padahal sekarang aku sudah percaya diri untuk mengatakan bahwa aku cantik. Walau terkadang aku berbicara serius dengannya dia selalu berhasil menggodaku dan membuatku tersenyum. Kak Ivan mengaku padaku kalau dia tidak ingin menjadi seseorang yang tidak aku kenal. Katanya dia tetap kak Ivan yang selalu bersamaku, baik itu ketika mereka masih anak kecil atapun menjadi dewasa seperti sekarang. Kalimat ini, “Seseorang yang akan selalu aku kenal” akan selalu menjadi kalimat termanis yang pernah aku dengar dari kak Ivan.


Bersambung