Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 7



**Chapter Sebelumnya__**Diluar, kak Ivan sudah siap dengan motor gedenya yang kak Ivan beli satu bulan yang lalu. Tepatnya bulan ketiga kak Ivan mendapat gaji dari perusahaannya. Syuut,,, gaji kak Ivan tidak sebesar itu sampai baru tiga bulan sudah kebeli motor gede. Katanya kak Ivan sudah menabung sejak SMA untuk mendapatkan motor itu. Yah, kak Ivan selalu bertekad membeli motor keinginannya dengan uangnya sendiri dan itu berhasil membuat ayah dan bunda bangga pada kak Ivan.


Chapter Baru__“Udah pamit ke ayah sama bunda?” tanya kak Ivan sambil mengecek persiapan motornya agar tidak terjadi sesuatu di perjalanan. “Udda, kita berangkat sekarang.”


Kak Ivan menyalakan motornya lalu menyuruhku untuk naik ke motornya. Kami pun mulai menjauh dari pekarangan rumah. Aneh sekali, udara hari ini terasa sangat segar, tidak seperti hari biasanya. Banyak burung dan kupu-kupu berlalu lalang di setiap perjalananku dan kak Ivan menuju puncak. Bahkan jalanan pun tidak terlalu macet, padahal hari ini adalah tanggal merah. Hari dimana setiap anak remaja dan dewasa awal menantinya.


Dipuncak kak Ivan menyewa tenda. Kak Ivan lebih menyukai istirahat di tenda di banding harus menyewa vila. Kak Ivan juga sangat tahu kalau aku tidak suka menginap di vila karena banyak mitos di vila itu benar-benar terdengar nyata bagiku. Walaupun beberapa kali kak Ivan bilang di vila tidak ada apa-apa, tetap saja aku selalu berhalusinasi tentang keberadaan hantu yang suka ada di vila.


“Maafin aku yah kak, gara-gara aku gak suka sama vila, kitaa istirahatnya di tenda,” kataku sambil menundukan kepala, taku kalau-kalau kak Ivan merasa marah dengan manjanya aku hari ini.


“Gak papa ko, lagian dengan begini kakak gak perlu bayar mahal-mahal buat sewa vila. Jatah buat sewa vilanya bisa kita pake buat bakar jagung nanti malam,” kata kak Ivan denan senyuman tulusnya yang selalu berhasil membuatku merasa lega. Sungguh, kupikir kak Ivan akan marah karena lagi-lagi aku meminta kak Ivan memasang tenda tapi nyatanya kak Ivan malah bersyukur karena tidak harus membayar vila, hehe.


Ketika makan siang kak Ivan makan sangat lahap, membuatku ikut tersenyum melihatnya. Aku tidak pernah melihat kak Ivan makan selaha ini selama hidupku. Dia selalu menjaga image-nya dan berkelakuan seperti cowok-cowok cool di dalam cerita novel.


“Kakak lagi seneng yah?”


“Iya, kakaki lagi seneng banget. Makasih ya karena kamu udah mau ikut liburan sama kakak, agak sedih juga sih karena bunda dan ayah gak bisa ikut.”


“Kenapa kakak nggak ajak pacar atau temen-temen kakak buat liburan? Kan lebih seru kalau sama mereka.”


“Bisa aja kakak ajak merea. Tapi kalau liburan sama kamu kan lebih susah. Nggak kayak liburan sama temen atau pacar kakak. Sekarang kamu gantiin aja dulu pacar sama temen-temen kaka, buat liburannya makin seru karena ada kamu,” kata kak Ivan yang tak berhenti menguyah makanan.


*Aku bukan adik kak Ivan yang seceria dulu kak, maafin aku*__Putri


Senyum kak Ivan yang sekarang ini benar-benar menawan. Sayang banget kak Serli nggak ikut. Kalau ikut pasti sudah klepek-klepek lihat senyumnya kak Ivan. Aku bersyukur kak Serli yang jadi pacar kak Ivan. Karena kak Serli juga orang yang baik. Dia juga terlihat penyabar, lebih sabar di banding kak Ivan yang terkadang manjanya lebih-lebih dari aku.


Lagi seru-serunya ngobrol dan menikmati makan siang, tiba-tiba ada orang yang datang. Orang itu ternyata adalah kak Ari. Sahabat kak Ivan yang sudah aku ceritain wakti itu. Sahabat yang kedekatannya sudah seperti saudara kandung. Hubungan persahabatan yang selalu membuatku iri.


Kak Ari menjawab dengan bisik-bisik ke kak Ivan membuat aku tidak tahu apa yang dikatakan kak Ari. Tapi aku melihat kak Ivan langsung tertawa setelah kak Ari membisikan sesuatu ke kak Ivan. Kak Ivan pun menyuruh kak Ari duduk dan ikut makan bersama. Tanpa ada penolakan, kak Ari menuruti perkataan kak Ivan untuk ikut makan.


“Hai Put, kamu juga ikut ya? Kak Ari kira kak Ivan kesininya cuman sendirian, jadi kak Ari juga kesini. Bohong lu Van ke gue!” kata kak Ari. Belum sempat menjawab pertanyaan kak Ari, kak Ivan sudah membalas perkataannya kak Ari,


“Modus lu! Gue nggak bilang kayak gitu ko. Lo nya aja yang kesenengan gue ajak liburan. Kalau bukan karena ada adek gue, lo pasti gak mau ikut!”


Aku yang sedang meminum jus jeruk tiba-tiba tersedak karena mendengar perkataannya kak Ivan. Kak Ari yang melihat aku tersedeak langsung memberi aku minum.


“Aku?” tanyaku setelah meminum air yang diberikan kak Ari. Aku bingung apa maksud kak Ivan bilang seperti itu.


“Iya, awalnya kakak ngajakin dia buat liburan, tapi dia nolak. Eh pas kakak bilang liburannya sama kamu dia juga mau ikut. Padahal katanya dia lagi sibu,” kak Ivan tiba-tiba nyerocos kayak ibu-ibu. Bisa dilihat, persahabatan sejati antara kak Ivan dan kak Ari yang tidak ada batas gengsinya. Kak Ari bahkan tidak menahan kak Ivan untuk mengatakan hal tersebut, padahal mungkin saja perkataan itu membuat malu kak Ari.


“Bohong kakak kamu mah. Dia bilangnya sendirian, jadi kakak nggak tega ngebiarin kakak kamu liburan sendirian,” bantah kak Ari masih sambil melahap makanannya.


“Wahh, kak Ari laper banget yah? Cepet banget makannya,” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. Hal ini aku lakukan agar kak Ivan sama kak Ari tidak lagi membicarakan soal alasan kak Ari datang kesini. Aku sudah tahu apa maksud sebenarnya dari pembicaraan mereka barusan.


Hanya saja, aku masih belum yakin dengan perasaanku pada kak Ari. Aku takut mengecewakan kak Ari kalau aku juga memperlihatkan rasa sukaku ke kak Ari. Kak Ari itu sama baikny seperti kak Ivan, tapi yang harus digaris bawahi adalah aku masih belum tahu kak Ari ini benar-benar sayang padaku atau tidak.


“Emang, dia tuh kalau makan malu-maluin banget,” sindir kak Ivan. Aku sendiri hanya bisa tersenyum melihat tingkah kak Ari. Kak Ari memang lebih lebih humoris di banding kak Ivan. Seru kalau di ajak ngobrol. Tidak ada kata kehilangan topik pembicaraan kalau sudah ngobrol dengan kak Ari. Sampai hal terkecil pun kak Ari pasti menceritakannya pada lawan bicaranya. Membuat lawan bicaranya tidak bosan dengan apa yang dia bicarakan.


Tuhan, jika aku diberi kesempatan untuk memiliki umur yang panjang, dan kau izinkan aku tetap bersama mereka berdua, itu sudah lebih cukup dari terlepas dari apa yang sedang aku inginkan terhadap kak Ari.


Bersambung