
Mitha dan Angle sudah pergi dan sekarang kak Serli dan kak Ivan juga pergi karena mau jalan berdua. Mereka tega sekali meninggalkan aku dengan kak Ari yang masih makan.
"Ri, gue titip adek gue ya. Jangan lo bikin nangis lagi," pinta kak Ivan, setelah itu kak Ivan sama kak Serli benar-benar pergi dari restoran.
"Kak Ari maafin aku ya, kita masih makan tapi mereka udah pergi duluan."
"Gak apa-apa ko." kata kak Ari sambil tersenyum, senyuman yang menandakan kemenangan. Dia kembali melanjutkan makannya.
Ketika aku lagi makan entah kenapa aku merasa kalau dari tadi kak Ari terus memperhatikan aku. Aku membereskan makananku dan bertanya sama Ari kenapa dari tadi kak Ari terus memperhatikan aku.
"Kamu cantik banget hari ini," ungkap kak Ari dengan senyuman menawannya.
"Yang benar?" tanyaku dan kak Ari mengangguk.
"Makasih ka," kataku yang sepertinya kak Ari bisa merasakan ke gugupanku.
"Kamu sudah selesai makannya?" Aku hanya mengangguk buat jawab pertanyaan kak Ari karena masih merasa malu.
"Mau pergi ke rooftop restoran ini nggak?" tawar kak Ari.
"Ngapain?"
"Kata kak Ivan langit di atas restoran ini indah banget."
Aku pun jadi penasaran dan minta kak Ari buat ke rooftop restoran ini. Saat di atas aku benar-benar di manjakan dengan taburan bintang yang terlihat sangat jelas. Seolah bintang-bintang itu ada se jengkal dari mataku. Aku dan kak Ari terduduk di lantai rooftop dengan penuh ke kaguman.
"Ternyata benar yang di katakan kakak kamu. Langit di sini tuh indah banget," kata kak Ivan.
"Iya kak, aku nggak nyangka kalau langit di sini seindah ini. Makasih kak udah ajak aku kesini. Ini indah banget."
Di saat aku masih melihat ke indahan langit dari atas restoran ini tiba-tiba aku merasakan tanganku di genggam. Aku langsung melihat telapak tanganku yang sudah di pegang kak ari. Aku natap kak ari yang sudah natap aku lebih dulu.
"Indah banget kan malam ini?" tanya kak Ari. Lagi-lagi aku hanya mengangguk setelah mendapat pertanyaan dari kak Ari.
"Aku juga seneng banget hari ini. Itu semua karena ada kamu di samping aku."
"Aku?"
Kak Ari menganguk.
"Aku udah bosen Put nyebut namaku sendiri dengan sebutan kakak di depan kamu. Kata aku kayaknya lebih romantis," ujar kak Ari masih menatap wajahku dengan intens dan penuh perhatian.
"Tapi aku masih boleh sebut kakak kan? Sebut kamu ke kakak rasanya kurang sopan," kataku mencoba mengendalikan pikiranku yang sebenarnya hampir tidak karuan.
"Iya terserah kamu aja."
"Put," Panggil kak Ari padaku.
"Ya?"
"Kalau sekarang aku nyatain perasaan aku ke kamu lagi, apa kamu bisa nerima aku?" Aku menelan ludahku mendapat pertanyaan itu.
"Apa kamu udah siap buat nerima aku? Apa kamu udah yakin buat ngejalanin hubungan yang serius sama aku?"
Aku terdiam, aku teramat terkejut kalau ternyata kak Ari bisa secepat ini menyatakan perasaanya lagi ke aku. Aku bisa merasakan kata yang keluar dari mulut kak Ari keluar tanpa keraguan dan penuh ketulusan.
"Aku pengen jagain kamu seutuhnya, aku pengen bahagiain kamu seutuhnya. Dan aku pengen lebih sering berada di samping kamu," lanjut kak Ari yang membuatku merasakan betapa tulusnya kak Ari mengucapkan itu.
"Bukan lagi sebagai teman dari kakakmu tapi sebagai seorang pria yang mencintai kamu."
Mendengar kalimat-kalimatnya hatiku merasa terharu dan air mata lolos terjatuh dari mataku.
"Kamu nangis? Itu berarti aku nggak bisa nepatin janji aku ke kakak kamu buat nggak bikin kamu nangis lagi."
"Kamu masih belum bisa terima aku? Gak apa-apa ko, kamu jangan merasa bersalah lagi. Kakak masih bisa menunggu kamu. Kamu juga nggak perlu merasa kalau kakak bakal benci sama kamu. Karena cinta kakak ke kamu udah harga mati buat kakak," kata kak kakak kembali muncul lagi. Apa kak Ari memang terlahir menjadi orang yang penyabar seperti ini menghadapiku yang masih teramat cengeng?
Aku menggeleng-geleng, tapi kak Ari belum tahu maksudku.
"Seterusnya,, aku pengen kakak manggil diri kakak di depan aku dengan sebutan aku kalau itu buat kakak seneng. Itu benar-benar terdengar romantis," kataku yang masih terisak.
"Tapi kamu bisa terbebani dengan itu kalau kamu belum bisa terima kakak."
"Aku,,, udah,,, nerima kakak ko," Kataku singkat sambil menghadapkan wajahku padaku Ari., berharap dia bisa melihat ketulusanku saat mengatakannya. Sesuai dugaan, kak Ari tampak terkejut, kak Ari pun tampak meneteskan air mata. Ada sorot kebahagiaan. Lega dan semacamnya yang membuat wajah kak Ari setampan malaikat.
"Kamu,," kak Ari sempat ingin berbicara walau tampak gugup.
"Aku seneng banget bisa jadi bagian dari hidup kak Ari. Aku seneng aku bisa selalu di samping kakak. Aku bakal bahagia banget kalau kakak bisa selalu ada didekat aku. Bahagiain aku seutuhnya, aku juga akan lakuin itu. Aku juga bakal seneng banget kalau kakak bersedia di samping aku lebih sering sebagai,, seorang pria yang,,, teramat sangat mencintaiku," kataku masih sambil terisak.
Kak Ari langsung memelukku dan beberapa kali mengucapkan terima kasih. Entah mengapa untuk saat ini, aku tidak bisa melepaskan pelukan dari kak Ari secepat biasanya. Aku merasa begitu nyaman berada di pelukan kak Ari. Senyaman aku berada di pelukan kak Ivan.
"Aku seneng banget bisa jadi pacar kamu Put. Ini adalah kado terindah yang Pernah aku terima dalam hidup aku, makasih Put," kata kak Ari yang masih sama terharunya.
"Akh iya. Aku belum ngasih kakak kado ulang tahun. Aku sempet bingung mau ngasih kado ulang tahun kakak ke mana."
"Nggak apa-apa Put, dengan kamu menerima aku jadi pacar kamu udah buat aku bahagia. Ini kado sepanjang masa untukku." Pelukan kak Ari semakin erat. Aku bisa merasakan bahwa dia enggan melepaskannya.
(Aku lebih seneng bisa dapetin kakak. Kakak sangat sempurna bagiku. Aku akan berusaha jadi pacar yang baik buat kakak).
(Makasih banyak El, aku akan berusaha jadi pacar yang baik untuk kamu. Aku nggak akan pernah sia-siakan hari indah ini. Aku akan berusaha untuk jadi suami kamu yang baik di masa depan. Terima kasih karena akhirnya kamu nerima aku sebagai pacar kamu. Aku tidak akan pernah melupakan momen ini).
*Kamu tidak akan pernah tahu kapan cinta jatuh padamu. Kamu tidak akan tahu seseorang datang dalam kehidupan asmaramu. Dari awal bertemu kau hanya tahu bahwa kau nyaman menatapnya. Kau suka dengan senyumannya. Bahagia akan kehadirannya.
Saat waktunya tiba,,,
Kamu bisa memanggil perasaan itu dengan sebutan cinta.
Karena cinta tidak bisa di tebak kapan datangnya. Maka berbahagialah ketika kau sudah mendapatkannya. Jaga sekuat yang kamu bisa. Hargai setiap waktu bersam dia. Karena cinta mengerti ketulusan dan kasih sayang*.
Bersambung