Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 16



Hari ini adalah hari ke dua sebelum pentas. Kak Ari dan kak Ivan menyarankan aku, Mitha dan Angle buat gladi kotor supaya kita bertiga lebih percaya diri untuk tampil nanti. Gladi kotor itu di mana kita latihan menampilkan semua konsep yang sudah di buat untuk di tampilkan di acara yang sesungguhnya.


Setelah gladinya selesai kak Ivan dan kak Ari bertepuk tangan dan tersenyum penuh ke banggaan dalam wajah mereka.


"Sejak awal kakak udah yakin kalau kalian pasti bisa bawain konsep ini. Latihan kalian aja udah bagus apalagi tampil yang sebenarnya. Kalian pakai properti juga lampu yang sudah di set. Kalian akan terlihat seperti musisi yang sesungguhnya," puji kak Ivan yang masih tersenyum.


"Benar apa yang di katakan kak Ivan. Kalian sudah terlihat seperti musisi papan atas yang ada di Inidonesia. Kalau penampilan kalian sekeren ini kalian bisa terkenal di beberapa negara," giliran kak Ari yang memberikan pujian yang berhasil membuat kami bertiga merasa malu.


Tapi tiba-tiba kak Ivan terlihat murung. Saat kami menanyakan apa yang terjadi ternyata kak Ivan takut kalau kita bertiga sudah sukses kita bertiga akan lupa dengan kak Ivan dan juga kaka Ari.


"Setelah penampilan kalian, kalian pasti banyak di tawarkan perusahaan-perusahan entertainment untuk jadi artis mereka. Tapi kakak sarankan jangan terima tawaran mereka," lanjut kak Ivan.


"Lo kenapa kak? Kan bagus kita bisa dapet uang. Kakak nggak usah khawatir, kita nggak bakal lupain jasa kak Ivan sama kak Ari ko, ya kan Mit, Jel?" kataku. Angle dan Mitha mengangguk tanda setuju dengan yang kukatakan.


"Kalian bisa lebih banyak dapet uang kalau kalian menjalani sendiri apa yang sudah kalian bangun dari nol hanya oleh keringat kalian."


"Maksud kakak kita bikin manajemen sendiri?" tanya Mitha dengan nada suara yang cukup tinggi.


"Iya, itu lebih bagus buat kalian yang masih muda," saran kak Ari.


"Yasudah kalau begitu kakak jadi CEOnya. Kan kakak yang selama ini yang banyak berjuang buat ini," usulku.


"Kakak bisa aja kayak gitu. Tapi kakak sama kak Ari sudah terpaut kontrak. Kalau kakak sama kak Ari nggak bakal buat perusahaan entertainment sendiri. Perusahaan bakal nuntut kita ke pengadilan kalau kita mengundurkan diri untuk buat perusahaan sendiri. Itu namanya kayak pencurian karya. Kakak cuman bisa jadi pelatih kalian kayak kemarin. Gak lebih dari itu."


"Jadi kakak ngelakuin semua ini, karena kakak nggak bisa buat perusahaan entertainment sendiri?" tanya Angle. Kak Ari sama kak Ivan sama-sama mengganggukan kepalanya. Ada raut ke sedihan dari wajah ke duanya.


"Baik kak, kalau begitu kami yang akan melanjutkan cita-cita kakak. Kami akan membangun perusahaan entertainment sendiri untuk kakak," Kata mitha penuh semangat.


"Setuju," kataku dan Angle bersamaan yang membuat kak Ari dan juga kak Ivan tersenyum. Senyum kak Ivan dan kak Ari memang sudah seperti pangeran, sangat menawan.


Untung Mitha dan Angle sudah tahu kalau kak Ivan sudah punya pacar dan mereka juga sudah tahu kalau aku dan kak Ari saling mencintai. Walaupun aku dan kak Ari belum resmi berpacaran.


Setelah gladi kita selesai kak Ari tiba-tiba mengajak kita untuk makan-makan dan kak Ari sendiri yang akan mentraktir kita semua. Semuanya pun tanpa penolakan dulu langsung mengiyakan tawaran kak Ari. Kita makan di restoran chiken yang waktu itu kak Ari dan aku kunjungi.


Aku benar-benar bahagia bisa melihat kak Ivan sebahagia ini. Di tambah lagi ada kak Ari, Mitha dan Angle di sampingku sekarang ini. Komplit sudah kebahahagiaanku sekarang ini. Walaupun ayah dan ibu pasti sedang sibuk bekerja aku yakin mereka bisa merasakan kebahagiaan yang sedang di rasakan olehku dan kak Ivan sekarang ini.


"Ehm boleh ngomong sesuatu nggak?" Kata kak Ivan terdengar seperti meminta izin.


"Kenapa harus minta izin? Bilang langsung aja kak," kataku.


"Kakak ajak kak Serli ke sini nggak apa-apakan?" tanya kak Ivan ragu. Mitha dan Angle yang sebelumnya sudah tahu cerita dariku tentang pacar kak Ivan pun tanpa ragu langsung mengizinkannya begitupun dengan kak Ari. Tidak lama kemudian kak Serli datang.


Kak Serli menggunakan pakaian yang keren walaupun terlihat sangat simple. Penampilan kak Serli membuat kak Ivan benar-benar terpaku. Kak Ivan tak henti-hentinya memandangi kak Serli walaupun kak Serli terlihat malu di pandang terus sama kak Ivan.


"Udah kak liatinnya, kak Serlinya udah malu kayak gitu. Tega amat sih bikin kak Serli malu sampai segitunya." Mendengar suara Mitha yang cempreng abis, kak Ivan pun mulai sadar dan meminta maaf pada kak Serli. Kak Serli sendiri tanpa ragu langsung memaafkan kak Ivan.


Hari ini, kak Ari dan kak Ivan benar-benar membuat banyak orang bahagia. Tuhan, terima kasih sudah melahirkan mereka di sampingku, hanya itu yang terus muncul dalam pikiranku setiap kali melihat kak Ivan dan kak Ari.


Tidak semua orang mendapatkan orang yang benar-benar mencintai kita setulus ini, untuk itu aku teramat bersyukur memiliki kak Ivan dan kak Ari dalam hidupku.


"Kalau boleh tahu kak Ivan dan kak Serli bisa ketemu di mana sampai bisa saling jatuh cinta?" tanya Angle yang mulai kambuh rasa penasarannya.


"Itu, kita bertemu di tempat kerja, waktu itu kak Serli sedang mencari barang di gudang, tapi barang itu ada di rak dan berada di rak paling atas. kak Serli hampir jatuh dan untungnya ada kak Ivan yang nolongin kakak," jelas kak Serli dengan suara anggunnya.


"Wah suaranya bisa bikin leleh hati orang kayaknya. Kak Ari, kakak nggak leleh juga kan?" ledek Mitha. Kak Ari yang dapet pertanyaan itu langsung menatapku.


"Suara kak Serli emang anggun, tapi perasaan kakak udah stuck di satu orang, tanya ada sama kak Ivan. Dia tahu banget perasaan kakak," ungkap ka Ari yang membuat Angle dan Mitha menyenggol-nyenggol tanganku.


"Apa sih kalian ini?" kataku. Aku melihat kak Ari yang masih menatapku penuh dengan wajah kebahagiaan. Dan tiba-tiba saja Mitha dan Angle pamit pulang duluan. Di depan pintu keluar Mitha dan Angle tiba-tiba diam dan malah kembali kemeja kita.


"Kak Ivan, katanya mau pergi berdua sama kak Serli, mending sekarang aja, kalau di tunggu nanti takutnya kemalaman. Kasian kak Serlinya tahu kak," oceh Mitha.


Kak Ivan seperti mengerti maksud Mitha dan langsung mengajak kak Serli pergi dari restoran ini. Mitha dan Angle sudah pergi dan sekarang kak Serli dan kak Ivan juga pergi karena mau jalan berdua. Mereka tega sekali meninggalkan aku dengan kak Ari yang masih makan.


Bersambung