Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 14



Mendengar nama kak Ari jantungku terasa rapuh. Aku benar-benar merindukan kak Ari sekarang ini. Aku merasa menyesal karena tidak mengatakan apapun selain kata maaf untuk kak Ari waktu itu.


Kak Ivan melepas pelukannya dan melihat wajahku yang pastinya sudah sangat murung.


"Kamu ko makin murung, ada apa lagi?" tanya kak Ivan terdengar sangat khawatir.


"Kak Ari, aku kangen banget sama dia," kataku dengan suara yang lirih.


"Oh itu. Kakak yakin sekarang ini kak Ari juga lagi kangen banget sama kamu. Kamu sabar dulu aja mungkin memang kak Ari lagi sibuk banget jadi nggak bisa hubungin kamu," ujar kak Ivan.


Aku mengganggukan kepala karena sudah mengerti maksud kak Ivan. Setelah itu kak Ivan pamit pergi menuju pesawatnya karena pesawat yang nanti kak Ivan tumpangi akan berangkat beberapa menit lagi.


Aku pasti akan sangat merindukan kak Ivan. Apalagi kak Ari juga tidak lagi di sampingku sekarang ini. Tapi aku percaya dengan perkataan kak Ivan sebelum kak Ivan pergi dari bandara. Lagipula kak Ivan saja masih bisa percaya sama aku, Angle dan Mitha untuk latihan tanpa kak Ivan. Kak Ivan juga tetap memantau latihan kita di sela-sela pekerjaannya.


Seperti hari ini, kak Ivan menelphone kami dengan video call karena kak Ivan ingin melihat latihan kami secara langsung. Setelah latihan dua sampai tiga kali kak Ivan menyuruh kami istirahat. Angle dan Mitha istirahat di luar sementara aku masih ingin video call dengan kak Ivan karena aku masih merindukan kak Ivan.


"Kak Ivan kapan kembali lagi kesini?" tanyaku, dan lagi-lagi kak Ivan bilang dia akan kembali sebentar lagi. Aku pun akhirnya menutup sambungan video callnya karena kak Ivan harus kembali kerja.


Melihat kak Ivan yang tetap semangat buat bimbing kita, kitapun ikut semangat dan mulai belajar lebih mandiri lagi. Dan latihan-latihan yang biasa di lakukan bersama kak Ivan tetap kita lakukan sesuai sistem yang kak Ivan buat selama kita terpisah.


Tapi tetap saja kami merasa ada yang kurang ketika kak Ivan tidak ada di samping kami untuk melatih kami untuk memberikan nasihat-nasihatnya pada kami. Kami benar-benar merindukan kata semangat yang selalu kak Ivan berikan pada kami di sela-sela latihan.


Keesokannya aku, Mitha dan Angle berniat latihan di studio yang biasa kami bertiga dengan kak Ivan latihan, yaitu di studio tempat kerja kak Ivan. Kami juga sudah meminta izin pada kak Ivan untuk memakai studio ini untuk latihan hari ini.


Karena kami pergi ke studio setelah pulang sekolah Adit jadi mengetahui kalau aku, Mitha dan Angle akan ke kantornya kak Ivan. Tapi yang Adit tahu kami kesana hanya untuk menemui kak Ivan. Adit sendiri menawarkan kami untuk pergi bersamanya karena hari ini dia membawa mobil. Karena kami sudah sangat dekat dengan Adit kami pun mengiyakannya.


Saat kami sudah sampai di studio aku melihat kak Ari di sana sedang duduk menyila dengan satu botol air mineral di tangannya. Senyuman manis keluar dari wajah kak Ari membuatku teramat sangat senang bisa melihat senyumnya lagi. Tanpa sadar aku berlari untuk memeluknya. Tentu saja melihat tingkahku Mitha, Angle dan kak Ari sendiri sangat terkejut.


"Kak, aku kangen sama kakak. Selama ini kakak kemana aja sih? Aku takut gara-gara di restoran itu kakak jadi benci sama aku. Kakak udah dengar penjelasan dari kak Ivan kan?" kataku yang masih memeluk kak Ari.


"Maaf ya, pekerjaan kakak banyak akhir-akhir ini jadi nggak sempet hubungin kamu. Kakak nggak benci sama kamu ko, kakak nggak bisa benci sama kamu. Dan kakak udah denger ko penjelasan dari kak Ivan," kata kak Ari menjelaskan semuanya padaku. Aku melepaskan pelukannya.


"Jadi kakak nggak benci sama aku kan?"


Selesai latihan hari ini kak Ari mengajakku makan malam di rumahnya. Awalnya aku ingin menolaknya karena aku malu bertemu dengan keluarga kak Ari. Tapi aku takut kak Ari merasa kecewa dengan penolakanku. Lagipula ini pertama kalinya kak Ari berani mengajakku makan malam di rumahnya tanpa kak Ivan.


Jam tujuh malam kak Ari datang menjemputku. Dengan celana bahan berwarna hitam, kemeja putih serta jas hitam kak Ari tampil sangat menawan. Malam ini papah dan mamah mereka belum pulang kerja jadi kak Ari tidak sempat untuk meminta izin secara langsung. Tapi tadi sore aku sudah menelepon papah sama mamah untuk meminta izin.


Sesampainya di rumah kak Ari, papah dan mamah kak Ari serta kedua adiknya kak Ari yang kembar juga menyembutku. Aku merasa sangat terhormat datang kerumah kak Ari karena keluarganya sangat menghormati kehadiranku.


"Selamat malam om, tante," sapaku sambil tersenyum pada orang tuanya kak Ari. Sementara kedua adiknya kak Ari juga tersenyum melihatku dan melambaikan tangannya kepadaku. Aku juga membalasnya dengan melambaikan kedua tanganku sambil mencoba memberikan senyuman termanisku untuk mereka berdua.


Adik kak Ari ini memang kembar tapi mereka berbeda jenis kelamin. Yang kakaknya adalah yang laki-laki dan adiknya adalah yang perempuan. Mereka baru menginjak umur tujuh tahun.


Setelah aku menyapa mereka, mereka langsung menarikku ke ruang makan. Karena di sanalah tempat yang keluarga  kak Ari siapkan untuk makan malam hari ini. Di sela-sela makan orang tua kak Ari membahas soal aku yang akan mengikuti festival.


Mereka sangat mendukungku dan memberikan semangat untukku walaupun mereka bilang mereka tidak bisa menghadiri festival itu karena ada kerjaan yang sedang menanti papah dan mamahnya kak Ari.


"Gak papa ko, aku mengerti," kataku masih mencoba untuk menampilkan senyuman yang tulus.


"Wahh kak Putri cantik banget, pantas saja kak Ari suka sama kakak. Aku juga suka sama kakak karena kakak sangat cantik," ujar adik cowok kak Ari yang bernama Exel.


Perkataan adik kak Ari barusan berhasil membuatku malu dan itu di sadari oleh kedua orang tua kak Ari juga kak Ari sendiri.


"Maafkan Exel karena berbicara seperti itu" ujar mamahnya kak Ari.


"Tidak apa-apa ko tante, Exel kelihatan sangat lucu."


Hari ini aku senang sekali karena aku bisa berkenalan dengan keluarga kak Ari. Itu membuatku merasa lebih akrab lagi dengan kak Ari. Keluarga kak Ari juga tidak lupa membicarakan soal kak Ivan yang sudah sangat lama menjadi sahabat kak Ari. Mamanya kak Ari bercerita kalau kak Ivan dulu sangat sering datang ke rumah kak Ari tapi setelah mereka kerja mereka sama-sama sibuk.


Wajar saja, aku juga sering merasa kak Ivan sangat sibuk setelah kak Ivan mendapat pekerjaan. Terlebih mereka juga masih kuliah. Tapi aku juga tahu kalau kak Ivan tidak pernah melupakan orang-orang di sekelilingnya. Kak Ivan selalu mencoba untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.


(Kak Ari terima kasih sudah memperkenalkan aku pada keluarga kakak. Aku teramat sangat bahagia hari ini).


Bersambung