
"**Kak tahu? Aku sangat ingin sekali mengajakmu kencan sebelum hari pernikahan kita. Malam ini. Tapi melihatmu sangat lelah aku jadi tidak tega. Jadi biar aku mengantarmu pulang saja."
"Ish, candaan macam apa itu? Yang kakak inginkan kencan atau pulang?" dumelku yang membuat kak Ari menahan tawa. Entah mengapa, setiap kali aku mendumel kak Ari selalu terlihat menahan tawa. Mungkin lucu atau bagaimana.
"Kencan. Tapi kau terlalu lelah. Aku bisa melihatnya dari tubuhmu yangembungkuk meminta segera istirahat."
"Maksud kak Ari aku tidak cantik?" Kak Ari menggeleng.
"Kau sangat cantik. Tidak ada yang menandingin kecantikan calon istriku."
"Kak aku punya permintaan."
"Apa itu? Akan kulakukan asal jangan memintaku pergi darimu."
"Mana mungkin aku meminta kakak pergi dariku. Apa kakak tidak seberapa takutnya aku kehilangan kakak?"
"Lalu apa permintaanmu?"
"Nyanyika aku lagu Graduation Day."
"Loh iyukan lagu perpisahan. Kita tidak sedang akan berpisah."
"Kita akan berpisah kak." Kak Ari memasang wakah khawatir dan takut. Dia menggenggam tanganku lebih erat seolah memintaku untuk tidak melepaskannya.
"Kita akan mengucapkan selamat tinggal pada masa-masa pacaran kita. Kita akan memulainya dengan yang baru. Kumohon nyanhikan lagu itu untukku."
Kak Ari tersenyum. Dia menarikku ke atas panggung. Menyiapkan dua kursi di sana. Beruntungnya gedung sudah kosong. Aku bisa menikmati lagunya berdua saja dengan kak Ari.
"Silahkan duduk tuan putri."
"Terima kasih."
Kak Ari menyiapkan gitar akustik. Duduk di sebelahku dan mulai memetik senar gitarnya. Alunan nada lembut terdengar. Kak Ari mulai mengeluarkan suara merdunya. Yang selalu berhasil mengingatkanku pada masa-masa kita bertemu. Saling memperhatikan. Menyatakan perasaan. Semua itu terputar kembali dalam pikiranku.
Hari dimana kak Ari menyusulku dan kak Ivan ke Puncak. Di saat aku mendemgar lagu Graduation Day untuk yang kedua kalinya.
Aku juga tidak bisa lupa aat kami berada di restoran chiken. Di sana kak Ari menyatakan perasaannya padaku untuk yang kedua kalinya.
Aku menatap kak Ari yang fokus pada nada-nadanya. Aku tersenyum sendiri bisa melihat wajah tampannya.
Pasti inilah yang membuatku rindu pada kak Ari ketika kak Ari tiba-tiba tidak bisa di hubungi dan tidak menghubungiku. Saat itu aku hanya tahu bahwa dia sibuk dengan pekerjaannya. Wajah kak Ari membuatku candu dan tidak bisa membuatku lama-lama kehilangannya.
Di reff lagu yang merupakan bagian kak Ivan aku mendengar suara kak Ivan di kursi penonton. Suaranya masih sama dengan pertama kali aku mendengar lagu ini.
Dulu aku sangat manja dan tidak mudah di mengerti. Kak Ivanlah yang selalu berhasil mengertiku. Mengantar jemputku ke sekolah. Memberikan konsep penampilan untuk festival sampai aku bisa sesukses ini.
Kak Ivan jugalah yang membawa kak Ari padaku. Yang membuatku jatuh sejatuhnya pada pesona kak Ari.
Aku meneteskan air mata. Tertunduk rapuh karena sebentar lagi aku adalh wanita bersuami. Yang harus mulai mandiri menjalani hidup. Tidak salah jika kak Ivan memang penompang hidupku selam ini bahkan sampai detik ini.
Mungkin aku akan lebih sering berdiskusi dengan kak Ari di banding kak Ivan setelah menikah. Jika boleh. Jika bisa. Aku ingin tinggal sagu rumah denga kak Ivan. Tapi itu tidak mungkin. Bagaimanapun kita akan memiliki keluarga masing-masing.
Di saat aku tertunduk aku merasakan seseorang memelukku. Dia mengelus punggungku. Aku tidak sadar kak Ivan sudah menghentikan nyanyiannya. Dan yang memelukku adalah kak Ivan.
"Kita tidak akan pernah berpisah seperti lagu ini. Sebaliknya. Kakak akan menjaga kamu dari balik tubuh kak Ari. Papah sama pasti seneng banget akhirnya kamu menikah. Selalu jadi gadis baik," kata kak Ivan dengan suara pelan. Kak Ivan melepas lelukannya.
Kak Ivan menghadap kak Ari.
"Ri, gue titip adik gue. Sayangi dia kayak lo sayang sama diri lo sendiri."
"Pasti Van."
"Gue percaya lo bisa bahagiain Elsa. Mengisi sisa hidupnya hanya dengan kebahagiaan."
"Thanks. Gue nggak akan latahin kepercayaan lo."
Kak Ivan mengangguk-ngangguk. Aku bisa melihat satu tetes air mata jatuh ke pipi kak Ivan yang langsung kak Ivan hapus.
"Kalau gitu gue pulang dulu. Kasian Rivan udah ngantuk."
"Iya. Biar gue yang anter pulang Elsa." Kak Ivan kembali mengangguk.
"Kakak pulang dulu ya El." Aku mengangguk ragu. Jika aku anak kecil mungkin aku sudah merengek ingin ikut pulang bersama kak Ivan. Aku terlalu besar untuk melakukan hal semanja itu.
Kak Ivan kembali memelukku sebelum pergi.
Kak Ari menatapku begitu kak Ivan telah meninggalkan gedung.
"I love you," ungkap kak Ari.
"I,,, love you too."
Kak Ari memegang wajahku dengan kedua telapak tangannya. Lantas menciumku dengan penuh kelembutan.
THE END**