Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 4



Benar apa yang dikatakan Arga tadi, gaya mengajar pak Ehwan hari ini tidak seseru hari biasanya. Terasa sangat membosankan. Hari ini kami hanya mendengar decitan spidol di whiteboard. Kini anak-anak justru malah mendapat jam kosong karena pak Ehwan hanya menjelaskan rumus dan memberikan lembar latihan soal.


Pak Ehwan yang humoris tidak muncul sama sekali, membuatku juga ikut khawatir dengan keadaannya. Pasti ada banyak hal yang sedang dipikirkan pak Ehwan saat ini. Aku juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada pak Ehwan. Sebab gelagat pak Ehwan yang sedikit murung memang terlihat sangat jelas.


Treng,,


Treng,,


Setelah bel istirahat berbunyi, aku, Mitha dan Angle akan pergi ke kantin, tapi di dekat ruang guru, aku melihat pak Ehwan tengan bersama seorang pria bertubuh jangkung bergaya ala kantoran dengan setelan khas jas hitam. Otot lengannya walaupun dibalut dengan lengan panjang terlihat dengan jelas membuatnya terlihat seperti seorang bodyguard.


Aku pun menghentikan langkahku, mencoba mencari tahu apa yang sedang pak Ehwan bicarakan dengan pria jangkung itu. Sebab wajah pria itu memang tidak terlihat bersahabat. Justru terlihat garang seperti ingin menerkam pak Ehwan. Tapi Mitha dan Angle menyadarinya dan  segera menegurku.


“Ada apa Put?” tanya Mitha sambil menepuk bahuku membuatku terlonjak kaget. “I,, iya pak?” kataku asal bunyi.


“Bapak? Put, kita bukan pak guru! Hari ini kamu kenapa sih? Ngelamun terus! Kebawa suasana ngajarnya pak Ehwan yah?” dumel Angle.


“Hah? Nggak ko. Nggak ada apa-apa. Gue cuman lupa kalau tadi pak Ehwan mint ague buat ketemu dia pas istirahat pertama. Jadi, sekarang gue harus ke ruang guru. Sorry yah, kali ini gue gak ikut ke kantin dulu. Gak papa kan?” jelasku yang sebenarnya adalah kebohongan. Aku tidak tahu dari mana keberanianku untuk berbohong itu muncul. Padahal aku bisa saja mengatakan yang sejujurnya pada mereka. Ini adalah pertama kalinya aku berbohong pada seseorang dan aku tidak menyanngka, aku melakukannya pada Mitha dan juga Angle.


“Yah gak papa kali Put. Gak diantar gak dianter gak papa kan? Gue udah laper banget nih,” ujar Mitha.


“Iya, gak papa, gue sendiri aja. Kalian duluan aja.” Jawabku sambil berusaha nahan gugup.


“Gue juga deh Put, kita pergi duluan yah. Kalau ada kabar baik soal pak Ehwan jangan lupa kasih tahu kita apa,” kata Angle.


“Iya, nanti gue kasih tahu,” kataku dengan tegas. Mereka pun pergi lebih dulu ke kantin setelah mendengar perkataanku barusan.


Setelah Angle dan Mitha pergi, aku kembali memperhatikan pak Ehwan dan pria jangkung itu. Keadaan disana sedikit menegangkan dimana pria dihadapan pak Ehwan itu terlihat marah, ekspresinya menyiratkan kekesalan. Aku mencoba lebih mendekati mereka untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.


Setelah beberapa langkah, aku mendengar pria itu meminta pertanggung jawaban pak Ehwan. Aku tidak tahu maksud pria itu tapi aku merasa kesal dengan pria itu karena mengeluarkan suara yang cukup keras pada pak Ehwan. Padahal, jika diperhatikan lebih jelas, perawakan pria itu jelas sekali lebih muda dari pak Ehwan, seharusnya dia tahu caranya sopan santun terhadap orang yang lebih tua.


Tanpa sadar aku menghampiri mereka dan memarahi pria itu. “Biasa aja dong ngomongnya! Gak usah ngegas! Lihat dong kamu bicara sama siapa! Kalau sama yang seumuran wajar ngomong gitu! Tapi kamu itu lebih muda dari pak Ehwan!” amukku tak tertahankan.


“Hei bocah! Lu gak usah ikut campur! Ini urusan orang dewasa! Hidup baru seumur jagung aja udah sok-sok an jadi pahlawan!” bentak pria itu. Aku benar-benar marah dibuatnya. Pria ini adalah orang pertama dalam hidupun yang berani membentakku seperti barusan.


Melihat pertengkaran yang mulai memanas dan aku terlihat adu mulut dengan pria itu, sebenarnya pak Ehwan sempat melarangku untuk ikut campur. Tapi akhir-akhir ini aku memang sedikit sensitive dan egoku sedikit sulit untuk dibendung. Hingga akhirnya pria itu menyerah berdebat denganku dan tetap berkata meminta pak Ehwan untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi.


Setelah mengatakan hal itu, pria itu pun beranjak pergi. Dia perdi dan aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada pak Ehwan apa yang sebenarnya terjadi. “Kita bicara di dalam saja,” kata pak Ehwan. Aku mengokrinya masuk ke dalam ruang guru.


“Duduk Put,” suruh pak Ehwan. Aku menurut dan menunggu pak Ehwan bercerita. Beliau mengeluarkan sebuah brosur padaku. Disana tertulis judul besar dengan tulisan Festical Music Star Competition.


“Begini Put, pria yang barusan adalah anak buaahnya Direktur dari Festival Music inii. Sebagian besar acara itu bapak yang pegang. Termasuk pendistribusian tiket para peserta serta pemasaran untuk segala macam bentuk untuk menunjang acara tersebut. Tapi anehnya, setelah puluhan peserta yang mendaftar pada satu hari sebelum acara, tepatnya kemarin sore, para peserta mengundurkan diri. Ada berbagai alasan yang mereka sampaikan pada bapak. Memang tidak semua, tapi karena hanya ada sedikit, jadi kemungkinan acara kami akan tertunda dan akan mengeluarkan lebih banyak biaya lagi,” suara lirih keluar dari mulut pak Ehwan yang membuatku yang kini sedang berjalan menuju kelas tetap ingat setiap detail perkataannya.


(Dan yang lebih parahnya lagi adalah season kedua untuk festival ini. Jika acara yang pertama saja sudah sekacau ini, bagaimana mungkin acara yang kedua akan sesukses yang bapak pikirkan? Sangat kecil kemungkinannya acara ini bisa sukses sampai season kedua. Sementara para staff sudah di kontrak sampai ke season kedua, tapi pendapat yang diterima di season satu jauh dibawah pengeluaran yang sudah kita keluarkan.)


Seperti itu kalimat yang terus terngiang-ngiang dipikiranku. Aku sungguh ingin membantu pak Ehwan dalam memperbaiki festival music ini, tapu jika hanya aku yang berpartisipasi dalam acara ini tentu tidak ada gunanya. Pak Ehwan pasti akan tetap kekurangan peserta, sekalipun aku berusaha memberikan yang terbaik untuk menjadi peserta disana.


Sesampainya di kelas, aku terus memikirkan bagaimana caranya aku bisa membantu pak Ehwan. Aku sampai lupa untuk menyusul Mitha dan Angle ke kantin. Jujur saja, walaupun pak Ehwan terus bilang padaku agar aku tidak khawatir, tetap saja aku tidak bisa dia saja dan membiarkan pak Ehwan mengatasi masalah ini sendirian, sementara aku tahu apa yang terjadi.


Selama ini pak Ehwan sudah banyak membantuku yang tidak terlalu suka berinteraksi dengan murid lain. Aku juga ingin membantunya sekecil appaun itu. Tapi aku ingin bantuanku juga membuahkan hasil yang baik untuk pak Ehwan.


Lantas karena aku terus melamunkan hal itu, aku sampai tidak sadar kalau Mitha dan Angle sudah ada dibangku mereka. Bahkan Mitha yang menyadari aku terus melamun langsung mengagetkanku dengan suara nyaringnya itu.


“Apaan sih Mith? Ngagetin aja!” dumelku setengah marah.


“Sorry, sorry, lagian dari tadi gue panggil, lo nya gak nyaut-nyaut. Lagi mikirin apa sih?” tanya Mitha yang kali ini Angle pun ikut menatapku dan menunggu jawabanku.


“Soal,, pak Ehwan Mith, Jél,,” kalimatku terpotong karena ulah Mitha lagi.


“Kamu udah nemuin masalahnya? Jadi, apa masalah yang sebenarnya terjadi sama pak Ehwan Put?” tanya Mitha selalu terdengar buru-buru.


“Ini gue mau jelasin Mith, makanya jangan sembarangan motong pembicaraan orang!” gerutuku. Mitha mun mengulum bibirnya dan memberi kode bahwa kali ini bibirnya akan diam mendengarkan dengan seksama apa yang akan aku bicarakan.


Bersambung