
Sekarang adalah satu hari sebelum aku, Mitha dan Angle tampil. Papah dan mamah mengadakan doa bersama agar penampilanku bisa selancar saat latihan bahkan lebih bagus dari latihan. Teman sekelasku juga hadir untuk sama-sama berdoa untuk penampilan mereka nanti.
Bahkan kak Serli pun datang untuk ikut berdoa. Setelah doa bersama selesai ternyata papah dan mamah sudah menyiapkan makanan untuk makan malam bersama. Hari ini adalah kebahagiaan yang kesekian kalinya dalam hidupku, bahkan kali ini papah dan mamah meluangkan waktunya untuk keberhasilanku untuk penampilan besok. Padahal aku tahu mereka sangat sibuk.
Hari ini juga adalah hari di mana aku dan kak Ivan memerkenalkan pacar kami masing-masing pada papah sama mamah. Malah kak Ivan sudah merencankan untuk melamar kak Serli dalam waktu dekat ini. Papah sama mamah yang mendapat kabar gembira ini memberikan ucapan selamat dan ikut mendukung kita.
(Tuhan, terima kasih sudah memberikan keluarga ini padaku. Terima kasih juga sudah melahirkan Mitha, Angle, juga kak Ari untukku. Kumohon untuk sekarang dan seterusnya jangan pisahkan kami karena kami saling mencintai. Aku juga akan berusaha agar mereka merasa senang berada di sampingku).
Aku menghampiri kak Ari yang sebelumnya sedang mengobrol dengan kak Ivan. Kak Ivan yang melihatku menghampiri mereka segera pamit untuk menemani kak Serli.
"Kak, terima kasih karena sudah mencintaiku," Kataku. Aku melihat kak Ari tersenyum begitu tulus. Kak Ari menarikku ke dalam pelukannya.
"Aku seharusnya yang berterima kasih padamu karena sudah mencintaiku juga. Aku tidak tahu seperti apa aku kalau kemarin kamu masih menolakku," ungkap kak Ari. Kak Ari melepaskan peluka lalu menatapku penuh ketulusan. Aku tersenyum.
"Jangan tersenyum," pinta kak Ari tiba-tiba.
"Lo kenapa?" Kataku karena bingung kenapa kak Ari tiba-tiba melarangku untuk tersenyum.
"Nanti ada teman kamu yang suka sama senyuman kamu yang bisa jadi saingan aku." Setelah mendengar itu aku dan kak Ari sama-sama tertawa. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang timbul karena cinta.
Tiba-tiba saja Adit datang menghampiriku dan kak Ari.
"Kak, aku minta maaf karena pernah suka sama Putri." Itu adalah suara yang keluar dari mulut Adit. Ya, sekarang Adit sedang berbicara dengan kak Ari. Aku sedikit kaget karena baru tahu kalau ternyata Adit pernah menyukaiku. Kapan dia pernah menyukaiku saja aku tidak tahu.
Kak Ari tersenyum.
"Tidak apa-apa, cinta itu hal yang wajar. Apalagi gadis yang kita cintai adalah gadis sempurna seperti Putri. Selain kamu, kakak yakin di luar sana ada banyak pria yang menyukainya," ucap kak Ari berusaha bersikap tenang di hadapan Adit. Terlihat berwibawa sekali. Sikap kak Ari saat itu terdengar sangat bijaksana.
"Kakak berterima kasih sama kamu, karena selama kakak tidak di samping Putri kamu sudah berusaha untuk berada di sampingnya. By the way, walaupun Putri sudah menjadi pacar kakak, kamu akan tetap menjadi sahabatnyakan?"
Adit menatap kak Ari dengan wajah tidak percaya kalau kak Ari meminta Adit untuk tetap menjadi sahabatku.
"Apa kakak akan baik-baik saja kalau aku tetap jadi sahabatnya Putri? Biasanyakan,," tanya Adit dengan wajah kagetnya.
Kak Ari tampak menepuk bahu Adit.
"Kau itu orang yang baik, mana bisa kakak menghalangimu untuk tetap bersahabat dengan Putr? Kakak yakin Putri juga senang bersahabat denganmu," jelas kak Ari yang membuatku terharu. Tak pernah aku mendengar kak Ari berbicara tidak tulus. Dia selalu berbicara apa adanya.
"Terima kasih kak, aku akan berusaha menjadi sahabat yang baik untuknya, aku juga gak akan macem-macem kok, aku bakaln jaga kepercayaan kakak" jawab Adit.
Dari pembicaraan mereka malam ini membuat mereka lebih akrab dan beberapa kali saling bercanda.
Keesokan harinya adalah acara festival. Banyak peserta yang tampil bagus hari ini, termasuk penampilan dari teman-teman sekelasku. Aku yang awalnya sudah percaya diripun mulai gugup kembali setelah melihat para peserta tampil dengan bagus.
Di backstage tiba-tiba tanganku gemeteran, itu pasti efek dari rasa gugupku. Tapi kak Ari datang dengan sejuta leluconnya dan juga nasehat yang bisa membuatku tersenyum.
"Setiap orang pasti berusaha menampilkan yang terbaik. Tapi menurutku kamulah yang terbaik. Maka kamu juga harus percaya pada dirimu sendiri kalau kamu dan timmu adalah yang terbaik di sini." Suara kak Ari yang seperti ini yang mengingatkanku kepada suara kak Ivan juga yang selalu membuatku merasa nyaman. Tuhan, aku teramat bahagia memiliki dua pangeran seperti kak Ari dan kak Ivan. Kumohon jangan pisahkan kami.
Tibalah kami menampilkan hasil kerja keras kami. Kami menampilkan konsep sesuai yang kak Ivan ajarkan sama kita selama ini. Dari belakang panggung aku bisa melihat papah sama mamah, kak Ari dan kak Ivan bahkan kak Serli tersenyum padaku untuk memberikan semangat.
Pembawa acara memanggil nama timku. Aku, Angle, dan Mitha naik keatas panggung untuk memperkenalkan nama kami dan memeperkenalkan konsep kami. Setelah kamiĀ memperkenalkan nama dan konsep kami lampu panggung mati. Aku dan Anglepun turun dari panggung. Karena yang tampil lebih dulu di konsep pertama adalah Mitha.
Di segmen pertama mitha tampil menyanyi dengan teknik fokal menyanyi pada umumnya. Kemudian Angle dengan nada dan instrumen yang mulai memuncak. Kemudian aku tampil dengan lagu yang lebih cepat, bisa di bilang ini genre hiphop tapi kekentalan pop yang di buat kak Ivan sangat kuat.
Di segmen kedua aku dan Mitha serta Angle memainkan cerita musikal berdurasi 5 menit yang menceritakan kehidupan nyata dari kak Ivan yang berjuang keras untuk penampilan ini. Dan di segmen akhir konsep yang terakhir kak Ivan membuat timku menampilkan bakat-bakat kita.
Bisa di bilang ini bakat buatan. Tapi kak Ivan bilang inilah bakat kita sebenarnya. Kami menari dan bernyanyi tanpa lipsing di tambah ekspresi yang kak Ivan ajarkan benar-benar keren. Sampai akhir pertunjukan kami, para penonton tak henti-hentinya memandangi kita.
Bahkan di akhir kita melihat para penonton berdiri untuk memberikan tepuk tangan pada penampilan timku. Dan penampilan ini membuat timku memenangkan festival ini.
Dalam beberapa hari seteleh kompetisi itu aku, Angle dan Mitha mulai terkenal bahkan di beberapa negara. Seperti yang di katakan kak Ivan sejak awal, ada bayak perusahaan entertainment yang meminta timku menjadi artis mereka bahkan perusahaan kak Ivan juga ikut meminta timku untuk menjadi artis mereka. Padahal saat itu kami masih menjadi anak sekolah.
Bersambung