
Pak kepala sekolah juga mengumumkan kalau Adit mendapat peringkat kedua setelahku. Air mataku jatuh tidak tertahan lagi, ini semua terjadi karena Adit. Tentu saja karena dirinya.
Dialah yang selalu mengajakku belajar, dia yang selalu mengajakku ke perpustakaan. Dia juga yang memarahiku karena aku datang ke perpustakaan hanya untuk membaca komik sehingga mau tidak mau aku jadi lebih sering belajar.
Anak-anak yang mendapat peringkat ke dua sampai ke sepuluh sudah turun dari panggung. Kemudian pak kepala sekolah mengizinkanku untuk berpidato atas keberhasilanku. "Terima kasih mah, pah, sudah membesarkanku sehingga aku bisa menjadi orang kebanggaan kalian seperti saat ini.
Aku tidak pernah menyangka akan menjadi juara umum. Tapi aku menyadari saat aku bosan aku lebih sering membuka buku di banding membuka akun media sosialku. Walaupun terkadang buku yang kubuka tidak kubaca.
Aku juga lebih sering melihat komik-komik ketika ke perpustakaan. Tapi setiap komik yang kubaca isinya selalu saja tentang sains yang terkadang membuatku bosan, itu adalah buku yang Adit sarankan untukku."
Aku melihat Adit tersenyum padaku. Aku juga melihat mamah dan papah yang menangis. "Saat aku bertanya adakah komik yang temanya selain tentang sains pada Adit. Dengan tegas dia bilang kalau di perpustakaan ini tidak ada komik yang bertema selain sains. Mungkin itu yang membuatku menjadi juara umum.
Untuk teman-teman seangkatanku atau orang yang mengenalku. Maafkan aku karena selama aku sekolah di sini aku menjadi orang yang acuh dan juga sombong. Itu semua bukan karena aku tidak ingin menjadi bagian dari hidup kalian. Aku hanya takut kalau aku di sakiti. Aku takut seseorang mendekatiku hanya karena ingin memanfaatkanku. Tapi sekarang aku sadar, bahwa teman ada memang untuk di manfaatkan.
Maksudku, teman ada untuk saling membantu. Entah itu karena mereka ingin berteman karena ingin nilai Bahasa Inggris mereka naik atau apalah seharusnya aku bisa bahagia membantu kalian walaupun setelah itu kalian akan meninggalkanku. Tapi Kurasa Adit, Mitha dan Angel tidak begitu. Mereka tidak pernah meninggalkanku bahkan ketika aku marah.
Sungguh aku benar-benar meminta maaf karena ke bodohanku. Jika aku tidak sebodoh itu mungkin hari ini aku sudah memiliki banyak sahabat. Terima kasih pada kak Ivan dan juga kak Ari karena sudah mengingatkanku tentang betapa pentingnya seorang teman dan sahabat dalam kehidupanku. Di masa depan aku akan berusaha menjadi seseorang yang bisa menerima siapapun di sampingku seperti yang kalian ajarkan padaku."
"Untuk Adit, maafkan aku karena waktu itu pernah salah menilaimu. Kamu pasti sangat kecewa dengan perlakuanku. Sejujurnya aku tidak bermaksud begitu. Tapi saat itu hatiku sedang kacau jadi saat itu aku bisa menilai orang seburuk itu.
Untuk Angle dan Mitha terima kasih sudah menjadi sahabatku yang selalu ada di sampingku. Kedepannya aku akan berusaha menjadi sahabat yang bisa mengerti kalian."
Acara graduatiin hari ini telah usai dengan di tutup foto berasama satu angkatan. Sekolah juga memberi waktu untuk para peserta graduation berfoto dengan keluarga serta keluarga SMA Nusa Bangsa sebagai kenang-kenangan.
Aku berkalan menuju kelasku. Memasukinya dan duduk di bangkuku. Ini adalah bangku bersejarah yang mengubah hidupku. Putri yang ceria sudah kembali. Walau aku harus pergi. Aku melihat papan tulis yang masih ada tulisan tangan Adit soal pengumuman jatuhnya hari graduation kita. Tulisannya sangat rapi dan memiliki ciri khas.
Kudengar suara ketukan di jendela. Aku menengok ke sumber suara dan melihat kak Ari di balik jendela. Kak ari tersenyum lalu berjalan memasuki kelasku. Dia memberikan se bucket bunga mawar padaku. Lalu duduk di hadapanku.
"Selamat untuk kelulusanmu dan selamat untuk juara umummu."
"Terima kasih." Kak Ari mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu tahu tidak? Kalau dulu ini juga kelasku saat aku kelas dua belas."
"Benarkah?"
"Iya. Aku dan kak Ivan duduk sebangku. Kita duduk di barisan paling belakang karena takut jadi incaran guru untuk bertanya serta mengerjakan sesuatu di papan tulis."
"Itu pasti karena pelajaran Matematika. Kak Ivan benci sekali dengan pelajaran Matematika." Kak Ari tersenyum.
"Benar sekali. Kami benci pelajaran Matematika."
"Kurasa aku juga begitu."
"Adit mencuci otakku. Setiap aku belajar dengannya pasti jadi belajar Matematika. Aku terkadang menghindarinya tapi entah kenapa selalu saja bertemu. Dan setiap kali bertemu pasti bahas pelajaran."
"Tuhan tidak mau melewatkan waktu emasmu. Menghadirkan Adit untuk membuat Putri yang semangat belajar. Aku harus berterima kasih padanya."
"Mungkin itu salah satunya. Tapi ada alasan utamanya."
"Apa itu?"
"Aku ingin kakak bangga sama aku. Aku ingin pantas berada di samping kakak. Sampai kakak hanya jatuh dalam pesonaku. Sampai kakak tidak bisa beralih menatap wanita lain."
Kak Ari tersenyum. Aku bisa melihat pipi kak Ari mulai memerah.
"Terima kasih. Aku lebih dari bangga padamu. Tidak ada yang lebih pantas dari kamu untuk berada di sampingku. Jika boleh jujur, sudah sejak dulu aku jatuh dalam pesonamu sampai tidak ingin kehilanganmu. Lihatkan? Aku bertahan selama delapan tahun agar bisa selalu bersamamu."
"Aku menginkan sesuatu dari kakak."
"Apa itu?"
"Cintai aku selamanya."
Kak Ari tampak terkejut. Dia beranjak dari kursinya. Berdiri di samping kursiku. Aku ikut berdiri dan menatapnya. Kak Ari memegang wajahku dengan ke dua tangannya. Pipiku rasanya hangat karena karena tangan kak Ari berdiam diri disana,
"Tanpa kamu minta aku akan melakukannya." Setelahnya kak Ari memelukku. Tapi baru beberapa detik saja berpelukan, "Ekhem, ekhem." Suara dehaman terdengar dari depan pintu. Aku dan kak Ari menengok ke sumber suara dan melihat Mitha, Angel, Adit dan Gilang.
"Di cari-cari ternyata sedang pacaran," sindir Mitha.
Kak Ari melepas pelukannya.
"Kalian akan berfoto?" tanya kak Ari. Angel dan Mitha mengangguk.
Kak Ari bilang sudah menyiapkan kamera. Kamera itu ada di aula. Dia meminta izin untuk mengambilnya dulu. Aku dan ke empat temanku ini berbicara soal masa-masa SMA kita selagi kak Ari mengambil kamera.
Kak ari datang bersama kak Ivan, kak Serli dan ke dua orang tuaku. Aku juga di kagetkan dengan kehadiran kedua orang tua kak Ari. Mamahnya kak Ari menghampiriku sembari membawa bucket bunga mawar putih. Cukup besar. Katanya sih itu adalah seratus mawar yang menandakan kesucian cinta.
Kedua orang tua kak Ari sudah tahu tentang hubunganku dengan kak Ari. Mereka mengharapkan hubungan kita selalu baik-baik saja dan semakin romantis ke depannya. Mereka juga tak lupa memberikan selamat atas ke lulusanku.
Pertama aku berfoto dengan Angel, Mitha, Adit dan Gilang. Yang kedua bersama kak Ivan, kak Serli dan kedua orang tuaku. Kemudian bersama kak Ari dan kedua orang tuanya. Selanjutnya aku berfoto berdua bersama kak Ari yang langsung mendapat senyiman dari orang-orang yanga ada di ruangan itu. Berakhir dengan aku berfoto sendiri bersama medali serta sertifikat juara umumku plus bucket bunga dari kak Ari.
Bersambung