Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 8



Ketika makan sore, kak Ari mengajarkanku bagaimana cara membakar ikan yang benar supaya tak berasa pahit waktu di makan. Setelah kak Ari selesai mengajariku, aku mencoba membuat sendiri dan kak Ivan jadi juri untuk ikan bakan yang aku dan kak Ari buat. Kak Ivan memujiku  karena aku berhasil bakar ikan sesuai yang diajarkan kak Ari. Walau begitu dia juga masih tetap memuji kak Ari karena kemampuan kak Ari saat menjadi algojo dalam acara bakar-bakar memang selalu berhasil, dia selalu bisa membuat makanan yang diabuatnya menjadi enak. Aku sendiri tidak tahu dari mana keahlian itu muncul pada kak Ari.


Kami pun mulai makan sore dengan ikar yang dibuat oleh kami sendiri. Ditengah-tengah makan, kak Ivan menanyakan tentang festival yang akan aku lakukan. Kak Ivan benar-benar berharap aku, Mitha dan Angle  bisa ikut festival itu dengan membawakan konsep yang sudah kak Ivan buat kemarin.


“Kita bertiga masih bingung kak. Mitha sama Angle juga ngerasa kalau mereka bakalan kesusahan banget buat kita latihan konsep dance yang kakak kasih kemarin,” kataku dengan suara pelan. Kelihatannya kak Ivan memakluminya. Dia tidak terlalu kecewa. Itu terlihat dari kak Ivan yang menganggukan kepala setelah mendengar penjelasanku. Aku yakin bahwa kak Ivan akan mengerti apa yang aku dan sahabatku takutkan tentang konsep itu.


“Kalau begitu besok kita bicara dengan mereka. Biar kakak yang jelasin semuanya secara langsung dan coba bujuk mereka lagi. Sayang banget kalau konsep ini nggak jadi kalian pake.”


“Iya deh, besok aku coba ajak mereka ketemuan.”


Tiba-tiba kak Ari ikut bicara dan menanyakan festival apa yang sedang aku dan kak Ivan persiapkan.. aku pun menjelaskan semuanya pada kak Ari tentang keikutsertaanku pada ajang pencarian bakat yang diadakan melalui festival music. Aku tidak menyangkan setelah aku menjelaskan semuanya kak Ari juga ingin ikut membantu penampilanku untuk bagian propertinya semacam logistic yang diperlukan untuk penampilanku nanti.


Sedang asyik-asyiknya berdiskusi tentang rencana penampilanku, kak Ivan tiba-tiba nyeletuk tentang aku yang sampai saat ini belum memiliki pacar padahal aku sudah kelas 3 SMA. Seketika aku langsung mareka karena memang benar, diusiaku yang sekarang ini biasanya sudah mempunyai pacar. Teman sekelasku sudah banyak yang memiliki pacar. Tapi aku masih santai saja dengan kesendirianku, atau mungkin aku terlampau tenang dan tidak peduli dengan status semacam itu.


“Aku belum nemuin cowok yang sayang ke aku kayak kakak sayang ke aku,” jawabku seadanya. Kak Ivan tertawa setelah mendengar pernyataanku. Kak Ivan mengatakan padaku kalau orang seperti kak Ivan di dunia ini hanya ada satu, yaitu kak Ivan sendiri. Mendengar hal itu aku dan kak Ari sama-sama tertawa. Bukan karena ucapannya tidak masuk akal, tapi guyonannya terlampau klasik.


Lagi pula aku mengerti bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sifatnya bisa sama persis seperti orang lain, termasuk orang yang kucari yang seperti kak Ivan. Kalaupun ada belum tentu setampan kak Ivan, hehe. Benar kata kak Ivan, di dunia ini hanya ada satu sifat yang seperti kak Ivan, yaitu kak Ivan sendiri, kakakku. Kakak terbaikku.


Malam harinya aku, kak Ivan dan kak Ari mengadakan bakar jagung. Tanpa disangka, kak Ivan membawa kembali topik pembicaaran tentang aku yang belum punya pacar.


“Udah kak, aku malu kalau harus bahas soal pacar. Nanti dikira aku gak laku lagi!” dumelku.


“Kenapa? Kan seneng punya pacar, gak mungkin juga gak ada yang tertarik sama kamu. Apalagi sekarang kamu ja,,,uh lebih cantik,” ujar kak Ari.


Aku manatap kak Ari sejenak. Entah mengapa, kata cantik, sekarang terdengar cringe buatku. Walau begitu aku tahu kak Ari mengatakannya dengan tulus. “Ribet ah kak, apa-apa segala terbatas. Kalau aku belum punya perasaan  yang baik buat pacaran yang ada nanti malah aku nyakitin orang lain. Lagian belum tentu orang yang deketin aku berani hadapin kalian berdua.”


“Iya sih, mereka gak akan berani. Apalagi kak Ari posesif banget sama kamu,” ledek kak Ivan. Kak Ari yang merasa tidak terima langsung membantahnya, “Sejak kapan gue posesif sama adek lu? Yang ada lu kali! Dulu, siapa yang minta gue buat buntutin adik lo yang mau kerja kelompok cuman karena temen satu kelompoknya ada cowoknya. Gue masih tahu yang wajar dan nggak, lah elo?”


“Oh iya, kakak lupa, kakak mau sewa tenda dulu buat kak Ari,” kata Ivan yang langsung kabur dari tempat itu. “VAN! WOI! JANGAN GINI! WOI! Ah elah, tuh bocah!” teriak kak Ari terlihat sangat kesal dengan kelakuannya Ivan yang melempar kesalahannya hanya pada Ari.


“Kak Ari!” panggilku berusaha untuk tetap sopan. Lagi pula hal itu bukan murni salahnya kak Ari. Kak Ari mulai menatapku dengan senyuman gugupnya.


“Maaf yah,” kata Ari. Rasanya semakin kesal saja karena aku hanya mendengar kata maaf. Bukan itu yang aku butuhkan. Aku ingin penjelasan.


“Kak,” panggilku sekali lagi berharap kali ini kak Ari mengerti dengan maksudku. Kak Ari menyimpan alat oles mentega yang dia gunakan untuk olesan bakar jagung. Dia menggenggam tanganku dan menarikku untuk duduk.


“Pas kamu kelas tiga SMP. Waktu itu kamu mau kerja kelompok buat praktek membuat miniature kota. Waktu itu aku sama Ivan lagi nyari buku buat bang soal untuk Ujian Nasional dan gak sengaja lihat kamu pergi sama dua cowok. Aku sendiri gak kenal mereka, tapi kata Ivan itu mungkin temen satu kelompok kamu. Ivan bilang ke aku, kalau salah satu cowok yang lagi sama kamu itu ada adik dari temen sekelasnya Ivan pas SMA, keluarganya kurang baik dan saudara mereka ada yang suka keluar masuk penjara, jadi kita berdua khawatir. Mungkin beda cerita kalau kita berdua sama-sama gak kenal sama temen kamu itu. Yaudah, kita ikutin deh sampai kamu pulang dengan selamat. Gak ada yang lain. Aku bicara jujur apa adanya. Semuanya udah aku ceritain.” Jelas kak Ari.


“Emang yang mana kak orangnya?” tanyaku sedikit penasaran. Karena memang salah satu dari mereka sekarang satu SMA juga denganku, bahkan satu kelas denganku. Namun aku hanyaa melihat kak Ari yang menggeleng. Sepertinya ingatannya tidak cukup kuat untuk menjelaskan secara detail orang yang ditanyakan olehku.


“Kamu jangan marah lagi. Ini pertama dan terakhir kalinya kok kita ngikutin kamu,”ujar kak Ari.


“Iya, itu terakhir kalinya. Kakak tahu kamu gak suka kalo privasi kamu diganggu, tapi waktu itu kan kakak juga gak tahu kalau kamu gak suka diikutin, padahal sama kakak sendiri,” ujar Kak Ivan sambil membawa sebotol cola.


“Siapa juga yang suka diikutin? Emangnya kalau aku ikutin kak Ivan pas kak Ivan lagi pacaran kak Ivan seneng?” gertakku ceplas-ceplos. Namun tiba-tiba kak Ivan menggebrak meja dengan menyimpan cola di meja tepat dihadapanku. “Oh jadi waktu itu kamu pacaran? Sama dua cowok sekaligus? Wahhh,,, kakak aduin lo,,,”


“Van, apaan sih, lagian udah lama juga kan. Ngapain masih bahas masa lalu?” kata kak Ari yang juga ikutan kesal. Dia mengambil cola yang baru saja dibeli kak Ivan. Menuangkannya segelas penuh dan langsung dia minum sampai habis. Kak Ivan tampak merasa bersalah.


Sebenarnya aku tahu kenapa kak Ari bertindak seperti itu. Tapi aku tidak mau membahasnya karena takut ada kesalah pahaman lain diantara aku dan kak Ari. Lagi pula seperti yang kak Ari bilang, itu hanya masa lalu dan mereka berdua tidak apapun tentang kehidupan pribadi masa sekolahku.


Bersambung