Walk For Your Dreams

Walk For Your Dreams
Bab 12



Kak Ari sangat mengerti kalau salah satu di antara aku dan kak Ivan sedih maka yang satunya lagi akan merasa sedih. Untuk itu kak Ari juga berusaha agar tidak membuat salah satunya menangis karena kak Ari. Dan dengan terang-terangan kak Ari bilang bahwa kak Ari sangat menyayangiku juga kak Ivan.


"Jadi kamu nggak perlu khawatir soal persahabatan kakak sama kak Ivan. Persahabatan kami berdua akan abadi selamanya," ujar kak Ari yang berhasil membuat aku meneteskan air mata.


"Kamu nangis? Apa kakak membuatmu terluka? Apa kakak terdengar seperti memaksamu untuk jadi pacar kakak?" tanya kak Ari terdengar sangat khawatir.


"Maafin aku kak," kataku yang semakin terisak. Aku yakin pasti orang-orang di restoran sudah mulai melihat mejaku karena aku menangis


"Kenapa kamu minta maaf? Kalau kamu masih belum bisa jadi pacar kakak, kakak akan nunggu kamu ko."


Aku menggeleng, bukan itu yang kumaksud. Aku hanya merasa bersalah karena selama ini belum bisa percaya sama perasaan kak Ari yang sudah teramat mencintaiku dan kak Ivan.


"Maafin aku ka," tapi lagi-lagi hanya itu yang bisa kukatakan.


"Gak papa ko Put, kakak menerima keputusan kamu. Kakak mengerti kalau kamu sangat menyayangi kak Ivan, kamu nggak mau melihat kak Ivan terluka. Kakak juga nggak bisa ko maksa kamu buat jadi pacar kakak sekarang ini."


"Kak, bisa anter aku ketemu kak Ivan? Aku pengen ketemu kak Ivan." kataku masih sambil menangis.


Tanpa penolakan kak Ari langsung mengantarkan aku bertemu kak ivan yang masih di kantor. Sesampainya di ruangan kak Ivan, kak Ivan sangat terkejut melihatku yang sudah berlinang air mata.


Kak Ivan bertanya langsung pada kak Ari apa yang terjadi sama aku, dan kak Ari hanya bilang kalau dia baru saja menyatakan perasaannya padaku. Setelah itu kak Ari langsung pamit pulang.


"Kenapa kamu bisa sampai nangis kayak gini? Emang kak Ari maksa kamu buat jadi pacarnya?" suara kak Ivan terdengar sangat khawatir. Ini adalah kedua kalinya kak Ivan melihat aku menangis. Yang pertama itu saat aku di kerjain temen-temen aku waktu aku masih umur 4 tahun.


"Aku merasa bersalah banget sama kak Ari."


"Lo kenapa memangnya? Kamu melakukan kesalahan sama dia? Atau kamu udah nolak dia jadi kamu merasa bersalah?" kata kak Ivan. Kak Ivan menenangkan aku di sofa tempat ruang kerjanya dan juga memeberiku minum agar aku bisa lebih tenang.


Dan saat itu aku menjelaskan semuanya pada kak Ivan. Kak Ivan memelukku. Kak Ivan juga berjanji akan bantu aku supaya kak Ari tidak salah paham sama permintaan maafku tadi saat di restoran.


Tapi setelah hari itu aku tidak pernah mendapat kabar lagi dari kak Ari padahal kak Ivan bilang, kak Ivan udah jelasin ke kak Ari tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku benar-benar penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada kak Ari. Apa kak Ari kecewa karena bukan aku yang bilang sendiri soal perasaanku yang sebenarnya?  Tapi aku tahu betul kak Ari bukan hal yang mudah kecewa hanya karena hal seperti ini.


Sungguh, aku sangat merindukan kak Ari sekarang ini. Aku takut kak Ari benar-benar membenciku karena hal itu. Aku mencoba bertanya pada kak Ivan apa yang terjadi dengan kak Ari. Tapi kak Ivan bilang tidak ada masalah apapun dengan kak Ari. Kak Ivan hanya melihat kak Ari akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kak Ivan sendiri juga baru melihat kak Ari yang bekerja sesibuk ini. Bahkan saking sibuknya, kak Ivan tidak berani buat ganggu kak Ari.


Ya aku mengerti. Kalau kak Ivan bertindak lebih dari ini yang ada persahabatan mereka berdua bisa hancur. Aku mulai mengontrol diriku untuk lebih fokus ke acara festival, karena kompetisinya akan di adakan sebentar lagi. Walaupun hatiku masih memikirkan kak Ari yang masih belum juga mengabariku. Biasanya dia akan menelponku sekedar mempertanyakan sudah makan atau belum. Tapi sekarang, satu pesan saja tak terlihat dari layar handphoneku bahwa kak Ari mengabariku.


(Kak, maafin aku kalau aku buat hati kakak terluka).


Hari ini kantin tidak terlihat ramai karena sebagian murid yang mengikuti festival sudah mulai banyak berlatih untuk menunjukan yang terbaik di festival nanti. Hanya terlihat beberapa orang di sana itu pun mereka pada sibuk membicarakan soal festival.


Aku, Mitha dan Angle memilih meja di pojok kantin yang biasa kita gunakan tapi di sana sudah ada Gilang dan Adit. Kami memutuskan untuk duduk di sebelah meja mereka. Sebelum kami duduk Adit memanggil kami untuk duduk bersama dengan mereka. Kami hanya menurut dan Mitha langsung memesan makanan.


"Bagaimana persiapan kalian? Aku belum melihat kalian latihan ataupun berdiskusi untuk festival itu. Apa kalian tidak akan ikut dalam festival itu?" tanya Adit selalu dengan senyuman manisnya.


Sebelum aku atau pun Angle menjawab pertanyaan Adit, Mitha datang terlebih dulu dengan membawa pesanan kita dan juga menjelaskan bahwa kita tidak bisa latihan di sekolah karena akan mengganggu pelajaran. Jadi, kita hanya akan latihan di luar jam pelajaran.


Mendengar penjelasan yang terlontar dari mulut Mitha tiba-tiba Adit dan Gilang bertepuk tangan. Mereka bilang mereka sangat kagum dengan cara kita yang tidak mengorbankan waktu belajar di sekolah.


"Masih sama, belum ada latihan yang mendalam. Masih latihan-latihan kecil seperti biasanya karena kami benar-benar memikirkan konsep yang cocok untuk kita pakai di festival." Jawab Gilang.


Pembicaran berakhir di situ karena kita melanjutkannya dengan makan makanan yang sudah kami pesan sebelumnya. Sementara Adit dan Gilang masih sibuk memikirkan tentang konsep yang akan mereka gunakan. Setelah itu aku, Angle dan Mitha kembali ke kelas.


Berbeda dengan suasana di kantin tadi, suasana di kelas lebih ramai. Mulai dari yang sedang diskusi, beradu pendapat, latihan vokal, latihan dance bahkan latihan untuk seni teater. Keributan di kelas seperti ini hanya akan berakhir ketika bel atau guru datang. Jadi, selama itu aku harus menahan diri untuk memaklumi kebisingan ini.


Aku tiduran dibangkuku tapi tiba-tiba ponselku berbunyi. Itu merupakan bunyi alarm dari kalender yang sudah kutandai. Aku melihat layar ponselku, di sana tertulis Ulang tahun kak Ari satu hari lagi.


Ya benar, aku baru ingat kalau besok adalah ulang tahun kak Ari. Aku bahkan belum menyiapkan kado untuknya. Tapi kado kali ini kemana akan kukasih? Aku masih belum mendapat kabar dari kak Ari. Mungkin sekarang ini kak Ari masih belum bisa menemuiku atau sedang membenciku karena sikapku waktu itu.


Saat aku sedang memikirkan kak Ari tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Aku berbalik dan melihat Adit di sana.


"Oh kamu? Mengagetkan saja." kataku. Adit melangkah kemeja di depanku dan duduk di bangku hadapanku.


"Kau sedang memikirkan apa? Apa tentang festival?" katanya yang selalu saja dengan senyuman.


"Adit!" panggilku. Adit menatapku dengan wajah penasaran.


"Ada apa?" tanyanya sederhana.


"Apa kau selalu tersenyum saat berbicara dengan orang lain?"


"Mungkin, tapi kenapa kamu menanyakan itu? Apa itu menggangumu?"


Aku menggeleng, aku menjelaskan padanya bahwa orang akan salah paham jika dia terus memberikan senyumannya kepada orang lain apalagi terhadap seorang gadis. Tak di sangka Adit malah tertawa.


"Kau belum terlalu mengenalku ternyata. Tersenyum itu hanya menggambarkan bahwa kita senang bisa berbicara dengan lawan bicara kita. Itu saja yang kumaksud," katanya.


Selama ini aku salah menilai Adit. Hatinya benar-benar tulus. Dia hanya ingin lebih akrab dengan orang lain bukan mencoba mencari perhatian siapapun.


"Adit!" panggilku lagi. Adit langsung menatapku.


"Maaf karena salah menilaimu, aku,,"


"Tidak apa-apa, aku mengerti maksudmu. Kau tidak perlu meminta maaf. Lagipula jika di pikir lagi aku harus mengurangi senyumanku agar orang lain tidak salah paham. Terima kasih, karena kamu sudah mengingatkanku," jelasnya yang semakin membuatku merasa berasalah karena selama ini salah menilainya.


"Sebagai permintaan maafku bagaimana kalau pulang sekolah makan denganku?"


Adit tampak terkejut dengan penawaranku. Ya, dia pasti sangat terkejut. Ini sama sekali bukan gayaku dan ini adalah pertama kalinya aku mengajak makan seseorang.


"Wahh aku merasa terhormat mendapat penawaran itu. Kau yang mengajak, berarti kau yang teraktir?"


Aku mengangguk dan Adit segera menyetujui penawaranku.


Bersambung