Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
Bab VII—Aula Tarian Sihir



Tuk… tuk… tuk…


Ketukan demi ketukan terdengar dari sepatu bertumit rendah berwarna putih dengan hiasan pita yang melilit kakinya hingga batas di bawah lutut. Ia hanya berjalan santai, tanpa bermaksud menimbulkan bunyi ataupun irama dengan langkah-langkahnya. Tapi, mau bagaimana lagi, lantai di bawah kakinya seolah menggemakan setiap langkahnya meski pelan sekalipun.


Tadinya, ia tak bermaksud sama sekali untuk menerima kata-kata dari 'ibu tiri'-nya.


“Apa maksud Ibu?” tanya Ruvia setelah meredakan keterkejutannya.


“Ya, maksud Ibu persis sama seperti yang Ibu nyatakan tadi. Ru akan segera mengenyam pendidikan khusus Ratu Pertama.” Feliché tersenyum manis setelah mengatakannya seolah tak menyadari perubahan ekspresi dari Ruvia.


Tunggu dulu! Pada alur cerita yang sesungguhnya, Ruvia baru akan memasuki istana dan menerima pendidikan itu pada usianya yang menginjak tujuh tahun. Bagaimana bisa ini terjadi?! Kini ia baru berusia lima tahun!


Ruvia tak habis pikir mengapa cerita yang ada menjadi sangat… berubah. Tapi, karena ia tak ingin hubungan 'Ruvia' ini dengan ibu tirinya berakhir perang dingin, sebaiknya ia lakukan hal lainnya.


“Datanglah bersamaku.”


Terkejut, seolah kata-kata itu adalah hal yang ia sangat pasti salah dengar. “A-apa?”


“I-bu-te-ma-ni-Ru.” Ruvia bahkan menekankan setiap penggalan suku kata yang ada seolah menegaskan pernyataannya tadi.


Tapi ya, susah dikata. Mau tolak pun bisa dianggap melukai harga diri pihak kerajaan. Mau diterima pun lelah di batin. Ya sudah lah, terima saja apa yang sudah ditentukan. Meski kupikir, alurnya terlalu berubah. Ahaha… yang penting, ini waktunya Sang Ruvia membuat dunia terpesona!


Dan begitulah awal mengapa ia bisa berada di sini, di Aula Hermodori [16]. Ruvia menoleh ke kiri dan ke kanan, kosong… ruangan besar itu 'sangat' kosong. Meski biasanya ruangan ini berkilau dengan kerlipan yang indah, namun, pagi ini, itu tak terjadi.


Aula itu tampak gelap dan suram dengan aura dingin yang masih saja betah menyelimutinya. Cahaya pagi terhalangi oleh tirai-tirai besar berwarna putih tebal yang menutup rapat jendela besar nan tinggi di sisi kiri dan kanan ruangan itu. Lantai campuran marmer dan Kaca Tuyo Secar di bawahnya berpendar samar layaknya para peri cahaya yang tak kunjung bangun dari lelap mereka.


Ya sudahlah, kita mulai saja.


“Hmmm~ nananana~” Ia mulai menyenandungkan musik yang ia ingat kala berlatih berbagai jenis tarian di studio tari milik Ibu Giselle.


Tubuhnya bergerak dengan sangat luwes tanpa ragu sedikit pun. Seolah Dewa Angin berdansa dengannya saat ini, maka ia tak takut akan jatuh karena ada yang bersamanya. Tak ada satu pun gerakan kaku dibuatnya, bahkan tubuhnya bagai bermandikan cahaya kala tirai di sisi kanannya saat ini ditepikan oleh angin yang seolah tak ingin melewatkan tariannya. Ia menutup tarian indah itu dengan tangan dan kakinya yang ditekuk merendah.


Ruvia tersenyum puas. Rupanya, ia masih ingat dengan jelas setiap gerakan dan alunan nada yang ia praktekkan dalam kelas menari. Ia sungguh bersyukur dan merasa berterimakasih kepada sahabatnya, Chantal, yang selalu memaksanya untuk pergi dan berlatih. Thank you, Chan!


Karena sedari tadi tak ada orang yang datang, ia menjadi heran kemana perginya ibunya itu. Maka dari itu, ia berbalik menuju arah pintu masuk atau pintu utama dan melangkah cepat. Ia perlu dengan segera mencari keberadaan ibunya untuk mendapat informasi lebih mengenai keadaan istana saat ini. Saking sibuknya, ia yang biasanya sangat peka pun tak menyadari kehadiran seseorang dari balik tangga menuju ruang peristirahatan.


Kedua mata orang itu tampak menyipit seperti harimau yang sedang mengawasi mangsanya dengan raut wajah datar yang membuat pikirannya sudah ditebak. “Dia… indah…” ucapnya tanpa benar-benar sadar akan apa yang ia ucapkan. Kemudian ia berbalik pergi lewat pintu belakang menuju taman istana utama.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Salam hormat saya kepada Yang Mulia Permaisuri, Denise Bruno ol Allina. Semoga Tuhan menyertai dan memberkati Anda dengan kebaikan-Nya.”


“Em… bangkitlah, Ruvia.”


Setelah sesi penghormatan, mereka, Ruvia dan Sang Permaisuri ditinggal berdua di dalam ruang tidur Permaisuri. Hanya berdua… tanpa pelayan ataupun hewan peliharaan yang berkeliaran, dan yah kita tak perlu pusingkan soal bakteri yang bertebaran di udara karena di sini ketahanan tubuh yang dimiliki setiap individu lebih kuat sampai kata 'lemah' pun sulit ditemukan ataupun didengar.


“Saya dengar Anda akan bertemu dengan putriku, Coronae. Benar, Nona Ruvia?” ujar Permaisuri.


“Benar, Yang Mulia.”


Permaisuri tertawa kecil sambil menutup setengah wajahnya dengan kipas tangannya. “Tak perlu sikap resmi itu, Ruvia. Panggil aku 'Ibunda'. Sebentar lagi, kita akan menjadi keluarga, bukan?” Kata-kata itu membuat Ruvia terkejut, meski tak ditunjukkan langsung dengan raut wajahnya.


E-eh? Apa?


Sebentar, sebentar! Apa yang dikatakannya tadi? Menjadi 'keluarga'? Bagaimana bisa? Bagaimana mung—


Oh… Ruvia seolah tersadar dan paham. Namun, ia tetap diam seolah menunggu kata-kata 'penjelasan' dari Permaisuri.


Permaisuri menatapnya seperti hendak mengeruk jiwanya keluar, itu hanya ungkapan, bukan secara harfiah haha… Tapi sungguh, tatapan itu sungguh membuat tak nyaman.


“Ruvia, maukah kau menjadi pendamping dari putraku? Menjadi pedang dan perisainya dalam pertarungan politik busuk dalam kerajaan yang tak pernah ada habisnya?” ujar Permaisuri dengan nada serius.


Dengan alis kanan yang agak mengerut, Ruvia membalas, “Dengan segala hormat, Yang Mulia, saya menolak.”


Hening…


“Apa?”


“Dengan segala hormat, Yang Mulia, saya menolak.” Ruvia mengulang perkataannya.


“Mengapa? Apa yang kurang dari putraku?” Permaisuri yang tadinya tenang, kini tampak heran dan bingung luar biasa sambil mengguncang tubuh Ruvia seolah tak terima. Bagaimana putranya yang manis, cerdas, dan menjadi idaman para wanita bahkan di usia mudanya saat ini malah ditolak oleh Ruvia, 'calon' ratu sempurna itu?


“Sebelum itu, Yang Mulia. Tenanglah terlebih dahulu.” Setelah melihat Sang Permaisuri tenang dan tampak tak 'liar' lagi, ia mulai menjelaskan. “Yang Mulia, saya sangat merasa terhormat mendapat kesempatan tersebut. Namun, saya akan menolaknya karena Putra Mahkota berhak memilih calon isteri sesuai dengan keinginannya. Bukan atas keinginan yang lain, saya percaya bila itu terjadi, maka takkan ada akhir baik darinya.”


Setelah mendengar itu, Permaisuri tersenyum tipis seolah sudah menduga jawaban itu. “Tentu sebutan 'Ratu Paling Sempurna' itu bukan hanya omong kosong yang tersemat padamu, Nona Ruvia. Jadi, kembali ke pertanyaan awal saya.”


Mata Permaisuri tampak seolah meneliti setiap ujung dan pangkal dari kepunyaan Ruvia. “Saya dengar Anda akan bertemu dengan putriku, Coronae. Apa yang Anda akan lakukan ketika telah dekat dengannya?”


Eh? Apa maksudnya?


Biar aku jelaskan dulu, karena kisahnya terasa sangat bercampur aduk, Kareen Lusch yang adalah Ruvia saat ini, mendapati dirinya bingung untuk beberapa saat seolah tak tahu sama sekali apa yang dipikirkan oleh para tokoh ciptaannya.


“Hanya sebuah permohonan maaf yang tak pernah terwujud karena hidup ini berakhir begitu cepat…” ujarnya pelan kala berjalan menuju taman istana utama. Ia melangkah seolah sudah sangat hapal dengan lingkungan yang ada, ya jelas, karena ia pada dasarnya, pernah hidup di sini.


Ia langsung berhadapan dengan sebuah pohon putih, maksudnya sungguh keseluruhan putih. Mulai dari kulit kayu, daun, dahan, ranting, bahkan bunga dan buahnya pun putih seperti salju. Bahkan tanah dan udara di sekitar seperti diselimuti salju abadi yang tak pernah meleleh meski terpapar sinar mentari.


Ia mendekat dan menyentuh tengah pohon itu dengan tangan kirinya seolah rindu. Ia mendekatkan keningnya ke atas kulit kayu pohon tersebut, “Aku tak ingin lagi ada perasaan bodoh itu, kuharap tak ada lagi takdir mematikan yang perlu kujalani. Bukan begitu, Teramo [17]?”


“Apa maksud dari kata-kata tersebut?”


Sebuah suara yang tiba-tiba muncul disertai dengan kemunculan seorang anak lelaki yang tampak seusia dengannya dari balik pohon membuat Ruvia terkejut. Buru-buru ia membungkuk hormat, “Putra Mahkota, semoga Tuhan selalu menyertai dan memberkati Anda dengan kebaikan-Nya.”


Wajah sang 'Putra Mahkota' tampak seolah berkata bagaimana-kau-tahu, tapi siapa pula yang tak tahu Putra Mahkota yang paling sempurna sepanjang sejarah kerajaan yang membosankan ini. Ruvia juga tahu, Putra Mahkota ini juga yang menyebabkan kematiannya dan ketika ia berusaha untuk tak bertemu dengannya, mereka malah dipertemukan di bawah Pohon Teramo [18].


Hah… mengapa dewa atau tuhan itu tak bisa bekerja dengan benar dalam mengabulkan permohonanku? Bahkan satu pun tidak!


Dewa atau tuhan di kediamannya malah bersin, “Sepertinya, ada yang berkata buruk tentangku.”


“Kutanya lagi, apa maksud kata-kata tersebut?” Kali ini Sang Putra Mahkota memandangnya dingin dan tajam. Yah, Ruvia takkan takut pada tatapan sejenis itu karena bahkan dirinya sering melakukannya terhadap orang lain.


“Kakak, apa yang Kakak lakukan pada tamuku?”


Dan itulah kemunculan Coronae, putri dengan julukan 'Gadis Jelmaan Dewa'.


__________


[16] Aula Hermodori atau yang lebih dikenal sebagai aula penuh harmoni. Nama 'Hermodori' diambil dari pasangan Putra Mahkota ke-25, Althur Joannes lac Melissa, dan Ratu Pertama yang ke-10, Medina Martin ri Liana, yang menari untuk terakhir kalinya di aula tersebut sebelum akhirnya mereka meninggal di tangan pembunuh bayaran dalam perjalanan politik mereka. Untuk mengenang kisah mereka yang pernah ada, aula ini dinamakan 'Hermodori'.


[17] Teramo adalah istilah yang ditujukan pada benda ataupun hewan, tumbuhan, dan manusia yang dianggap mendapat berkat Tuhan karena penampilan dan sifat yang berbeda dari yang lain pada umumnya.


[18] Ada kisah mengenai Pohon Teramo dimana apapun yang bertemu di bawah Pohon Teramo, akan bertemu lagi ke mana pun mereka pergi dan menjauh. Dan pasti akan menghadapi kematian yang serupa, meski waktunya kemungkinan berbeda. Meski kisah ini beredar di pedesaan, tapi nyaris tak ada lagi yang percaya akan dongeng seperti itu.