Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
XVII—'Teman'



Setiap orang memiliki teman, entah itu yang terlihat maupun tidak… Sihir itu nyata, meski sudah nyaris lenyap keberadaannya. Nyaris nol yang percaya bahwa sebuah keajaiban itu nyata. Tapi, tidak di dunia fantasi, di dunia fiksi buatan 'para pencipta'.


Kareen termasuk salah satunya. Menjadi seorang 'Ruvia', ia tahu siapapun yang ia kenal, siapapun yang berbicara padanya, hanyalah sebuah tokoh fiksi… Hidup, namun tak hidup. Kalian paham?


Ruvia memandang datar taman penuh pohon besar dan bunga di hadapannya. Ia menyesap teh dari cangkirnya dan menghela napas. “Semua ini sia-sia. Ending-nya, aku akan tetap mati…” ujarnya dengan nada datar, tanpa perasaan, seolah hal itu memang sudah ia duga dan pasti akan terjadi.


“Benar… hidup ini sia-sia. Jadi, mengapa Anda masih ingin hidup di dalamnya…?” Sebuah suara muncul dari sisi kirinya, membuat ia menoleh dan mendapati pria misterius yang 'berkunjung' ke ruang tidurnya beberapa malam sebelumnya.


Pria itu tersenyum sampai menampakkan barisan giginya yang serupa dengan vampire, terdapat gigi yang runcing dan tampak bisa membuat 'lubang' yang dalam pada bekas gigitannya. Meski mata pria itu tertutup oleh kain hitam, Ruvia tahu jelas ada ejekan di matanya. Ruvia memandangnya singkat seolah tak tertarik, kemudian menyesap tehnya tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria tersebut.


“Ferneor…” Angin bertiup, mempermainkan rambut dan alam sekeliling. “Itu namamu, masa depan yang indah dan berharga.”


Mulut pria tersebut sedikit terbuka, seolah tak menduga hal tersebut. Tapi, kemudian, ia tersenyum perlahan dan berkata, “Anda begitu murah hati, memilihkan nama yang begitu indah untuk saya yang hi-”


“Selama aku masih di sini, selama masih terikat perjanjian kita itu, bahkan sampai kita telah 'berpisah' sekalipun… Ferne adalah Ferne yang berharga. Apapun yang Ferne lakukan di masa lampau, biarlah itu menjadi pembelajaran, bukan batu sandungan atau tali kekang dalam menempuh masa ke depannya.” Ruvia tersenyum tipis sambil menepuk pelan tangan pria tersebut. “Aku tidak tahu apa yang telah Ferne lakukan, tapi Ferne yang sekarang adalah Ferne yang baru. Aku akan berusaha agar apapun yang terjadi, Ferne tidak akan melakukan kesalahan apapun lagi dan tidak perlu mendapatkan hukuman, apapun itu.”


“Seseorang pernah berkata kepadaku, “Untuk mengubah masa depan, kamu harus menaruh masa lalu di belakangmu. Fokuslah hanya pada masa kini, jangan pernah tinggal dalam masa lalu.” Aku pikir, sebuah kesalahan fatal untukmu terus-terusan mencela dirimu sendiri.”


Ferneor tersenyum, “Ah, saya lega Anda berkata seperti itu.” Pria itu tak lagi berbicara dalam bahasa kuno, ia berbicara dengan bahasa lokal negara itu. Kain yang menutupi matanya tadi perlahan terkikis menjadi butiran cahaya keemasan, kemudian lenyap bersama angin yang bertiup. Menampakkan matanya yang berwarna ungu gelap, sama gelapnya dengan pecahan kristal dalam kalung yang dikenakan pada Ruvia malam itu. Rambut perak panjangnya membingkai wajah pucatnya yang terlihat 'tampan' (setidaknya, ia bisa mencapai peringkat teratas dalam standar ketampanan negeri ini) ditambah dengan bibir tipis semerah darah yang selalu melengkung, membentuk senyuman.


Ruvia memandangnya dengan seksama, kemudian tersenyum lebar layaknya anak kecil yang senang atau antusias akan sesuatu. “Indah! Aku suka!”


Ferneor tersenyum, kemudian bersimpuh lutut dan mengecup singkat punggung tangan Ruvia. “Saya akan berjanji di bawah langit Momentan [27] ini, untuk menjadikan Anda satu-satunya pelita penuntun yang akan saya lindungi dengan hidup saya di masa ini.” Setelah berkata seperti itu, ia menghilang dan meninggalkan senyum di wajah Ruvia. “Ehm… terimakasih, Ferneor.”


__________


Festival Cahaya diselenggarakan untuk menyambut awal musim tanam. Bukan hanya Kareen yang tahu bahwa Ruvia dalam bahaya, tapi juga Ferneor. Dalam kisah aslinya, percobaan pembunuhan terhadap Ruvia akan dilakukan malam ini, di dalam taman kediamannya sendiri…! Kareen harus bergerak cepat mengubahnya, tapi… bagaimana ia bisa menghindar bila tak ada tanda sedikitpun?!


Ruvia berjalan cepat di lorong bernuansa merah darah dalam kediamannya. Telinganya menangkap suara langkah kaki, selain miliknya. Matanya kini dihadapkan dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan seseorang yang ia tahu, dirinya sendiri…! Kareen!


Sosok gadis tersebut menoleh ke arahnya, terkaget, dan tersenyum, seolah bertemu teman lama. Anehnya, sosok tersebut seolah terdiri atas Ruvia, diri Kareen sendiri, dan individu lainnya…siapa?





“Ini sia-sia, kau harus mengikuti 'jalan' yang ada… setidaknya, sekali.” Perkataan sosok tersebut membuat siapapun yang mendengarnya akan mendelik dan merasa kesal.


Ruvia terkejut, berwajah kesal, lalu, menyahut, “Kau berharap aku mati di sini?! Bagaimana bisa aku mencari tahu lebih bila aku sudah mati sebelum semuanya benar-benar dimulai?! Kau berharap aku mengikuti perkataanmu?!”


Ruvia marah, sosok itu hanya tersenyum sedih ke arahnya. Mulut sosok tersebut terbuka, sebuah senandung langsung terdengar, begitu lembut, dan menenangkan. Ruvia menjadi tenang begitu saja, dan Ferneor langsung bersiap dengan wajah mengancamnya.


Meski tak berlirik, alunan musik itu setenang gelombang samudera, begitu tenang, dan menyejukkan. Namun, terasa sedikit kecaman, haus darah, dan kesedihan, seolah kau bisa ikut ketakutan dan menangis karenanya. Sebuah pertanyaan akan terlintas bagi yang paham, terasuk oleh setiap nada naik-turun, tergetar oleh genderang suara perang yang terdengar samar dalam balutan musik. “Apa ini?”


Senandung itu terhenti, sosok tersebut memandang Ruvia lekat-lekat. “Ini adalah Forme, musik yang akan kau dengar di 'akhir'…” ujar sosok tersebut, kemudian berbalik pergi. Baru saja hendak melangkah mengejar, Ruvia berhenti, lalu berujar, “Apa harus berakhir? Anda yakin tidak ingin hidup bersama 'mereka'?” Suaranya begitu lembut, lambat, dan sopan. Tidak ada amarah atau ledekan dalam suaranya, yang ada hanya nada cemas yang kentara.


Sosok tersebut terhenti, meski sudah jauh, ia mendengar pertanyaan itu dengan sangat jelas. Jendela di sampingnya tiba-tiba terbuka lebar, mengizinkan angin masuk dan mempermainkan rambut hitamnya, melepaskan ikatan yang ada. Sosok tersebut tak berbalik, namun, kata-katanya terdengar, seolah ia berbicara tepat di sebelah Ruvia.


“Bila itu 'permainan' yang ada, ikuti. Bila bukan, jangan coba, itu akan menghancurkan jalan keluarmu yang sudah sangat sempit.” Sosok tersebut melangkah pergi, ketukan tumit sepatunya menggema di sepanjang lorong. Rambutnya tergerai di atas punggungnya, tak lagi termainkan oleh angin kala ia melewati jendela besar itu. “Dengarkan kata-kataku, maka kau takkan menjadi sepertiku. Got it, Le cher de Dieu?”


Le cher de Dieu memiliki arti kesayangan Dewa. Meski tahu pasti maksudnya, Ruvia hanya bisa memandang sosok tersebut melangkah semakin jauh sampai hilang tanpa jejak. Ferneor memandangi Ruvia, membuka mulut, namun, kembali menutupnya. Ferneor tahu, apapun maksudnya yang tadi itu, masa depan tuannya yang baru ini takkan semudah yang direncanakan. Ah, ia berharap tuannya takkan berhenti tengah jalan hanya untuk 'berkeliaran' di antara 'semak belukar'.


“Malam ini… takkan terjadi. 'Ia' telah mengubahnya…” ucap Ruvia perlahan. Ferneor mengerutkan alis kanannya, bingung. “Apa yang Anda maksud, Nona?” tanyanya.


Ruvia mulai melangkah, diikuti Ferneor dari belakang. “Akan kuceritakan lain kali. Sekarang… mari kita nikmati sisa hari ini, Ferne!” Suara Ruvia terdengar antusias, dengan senyuman manis di wajahnya. Ia menarik tangan Ferneor seraya berkata, “Mari…!” Ferneor hanya bisa tersenyum dan mengikuti tangan Ruvia yang menuntunnya. 'Hukuman ini tidak buruk juga', pikirnya sambil tersenyum semakin lebar lagi.


__________


“Apa kau sudah bangun?” ujar sebuah suara yang terdengar manis.


Mata orang yang dimaksud perlahan terbuka, kemudian mendapati seorang gadis berambut pirang yang duduk tepat di samping kakinya. Ia tampak bingung dan merasa asing dengan gadis itu, namun anehnya, ia juga merasa sangat akrab dengan suara itu. Seperti… teman lama?


“Siapa?” katanya sambil beranjak untuk duduk di atas ranjang yang ditempatinya. Suaranya sedikit berat dan serak, meski rupanya indah seperti seorang gadis. Gadis itu tertawa, suaranya begitu manis seolah dengan melihatnya, kau takkan menyesal bila mati saat itu juga.


“Oh, Tuhan… bagaimana bisa kau melupakanku, Tio.” Gadis itu tertawa lagi, seolah itu adalah hal yang lucu. “Baiklah, bila kau lupa, aku hanya perlu mengingatkanmu lagi. Lagipula, aku, Leila, adalah temanmu selama lebih dari sepuluh tahun, aku tak bisa meninggalkanmu sendiri, kan?” Gadis itu terkekeh, kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya.


“Kau selalu melupakan hal-hal penting. Siapa yang menginginkan lelaki pelupa sepertimu sebagai suami nantinya…?” ujarnya dengan nada mengejek, kemudian tertawa kecil. “Oh, ayolah…! Bila tak ada yang menginginkanmu, aku yang akan menikahimu!” sahutnya sambil berlari menuju pintu keluar.


Lelaki itu ditinggal sendiri, di dalam ruangan besar yang tampak mewah. Lelaki itu menyadari wajahnya panas setelah mendengar ucapan gadis tadi. Jadi, 'Tio' adalah namanya, dan 'Leila' adalah nama gadis itu. Lalu, apa sebenarnya maksud ini se—!


Tiba-tiba, ruangan mewah yang ditempatinya berubah, melebur, bergantikan dengan tanah kering dan berbatu. Tangannya yang tadinya halus tanpa luka maupun goresan, kini penuh dengan bekas luka dan perban dengan darah yang mewarnainya. Mata kirinya pun tak dapat melihat dengan jelas, tapi yang pasti, di hadapannya adalah sebuah medan perang!


“Kalian sungguh menyedihkan…”


Eh? Suara itu! Tio langsung menoleh ke arah suara itu dan menemukan seorang gadis berambut pirang dengan pedang di tangannya. Gadis itu tampak terluka parah, dikelilingi oleh banyak orang berzirah, namun, hanya tersenyum tipis. Matanya dan gadis itu bertemu, membuat senyum gadis itu semakin melebar.


“Panggil namaku, Tio…” ucapnya hanya dengan gerakan bibir, tanpa suara.


“Leila…” Suaranya berat dan bergetar. Tanpa ia sadari, air mata telah mengalir di pipinya. Bukan karena rasa sakit yang raganya rasakan, tapi senyum gadis manis itu terasa sangat menyedihkan dan… menyakitkan.


Gadis itu tersenyum sambil sedikit menunduk, “Terimakasih, Tio… aku tak punya penyesalan lagi. Kini… saatnya semua berakhir…”


Gadis itu melipat kedua tangannya dan berlutut di atas tanah, membuat semua orang berzirah itu langsung menyerangnya. Namun, tidak, mereka tak bisa menyentuh gadis itu. Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan membuat mereka semua terpaksa menghalangi pandangan mereka dan berjalan mundur.


“Jiwaku untuk duniaku. Jiwaku untuk orang-orangku. Jiwaku untuk kekasihku… kuserahkan pada-Mu, Tuanku…”


Fuss…


Angin kencang menerpa mereka, membawa gadis itu ke atas langit. Mereka menyipitkan pandangan mereka, tanpa terkecuali, Tio, berusaha melihat apapun yang ada di depan, karena debu dan pasir seolah berusaha menutupi kebenaran yang ada dari pandangan mereka. Segalanya kacau, termainkan oleh angin yang seolah dapat langsung mengambil napas mereka semua yang ada di sana.


“Leila…”


Mata gadis itu yang tadinya tertutup, terbuka oleh panggilan itu. Tio memandanginya dengan perasaan yang sulit dijelaskan, sedih, terluka, marah, dan lainnya, melebur jadi satu. Ia tanpa sadar berlutut dengan mata yang basah, menatap Leila, seolah memohon gadis itu untuk turun dan kembali padanya.


“Hihi… delapan belas tahun ini menyenangkan, Tio… kuharap aku dapat bertemu denganmu lagi. Selamat tinggal, Tio…” Gadis itu meneteskan air matanya, seolah ini semua memang akhir yang menyedihkan. Ya… semua ini berakhir.


Mengapa…? Mengapa hanya tragedi yang menimpa para orang baik…? Tio tak habis pikir akan apa yang dewa pikirkan sampai membiarkan orang baik menderita dan orang jahat berkuasa. Bahkan… sampai Leila… gadis kesayangannya, tiada…


“Aku akan menunggu… Tio…” Tio dengan terkejut menoleh karena mendengar suara itu. “Leila? Di mana kau? Leila!” Yah, sia-sia memang. Sekeras apapun ia berteriak, kesayangannya itu takkan kembali. Hanya tubuh tak bernyawa gadis itu yang perlahan turun dari langit ke pelukannya.


Dalam pelukannya, hanya ada Leila yang tak bernyawa, tak bernapas, dan tak lagi tersenyum padanya. Meski masih ada sedikit kehangatan dari tubuh gadis itu, namun, segalanya sudah tamat. Tio hanya bisa meneriakkan kesedihannya sambil memeluk tubuh tanpa jiwa itu.


Tuk… tuk… tuk…


Langkah kaki terdengar jelas olehnya, seolah menciptakan irama, dan harmoni, hanya dengan ketukan itu. Ia menoleh, mendapati seorang gadis berambut hitam panjang dengan beberapa helai yang berwarna keperakan, tergerai sampai ke pinggang. Gadis itu berjalan mendekatinya, semakin lama semakin jelas terlihat oleh Tio, gaun putih polos selutut dan sepatu bertumit tinggi.


“Apa kau ingin bertemu dengannya sekarang?” ujar gadis itu sambil menyentuh pipi Tio. Suara gemerincing gelang yang dipakai gadis itu seolah menyadarkan Tio, memancingnya untuk segera menjawab pertanyaan itu.


“Ya… bagaimana…?” tanya Tio, entah sadar atau tidak.


Gadis itu tersenyum tipis, “Namun… kau harus menghadapi dosa-dosa, dan menunggu kedatangan 'Leila' lainnya… kemudian, hukumanmu menanti.” Gadis itu terdiam sebentar, sedikit menekuk lututnya, kemudian mengusap air mata di pipi Tio. “Apa kau masih bersedia…?”


“… ia akan hidup…?” tanya Tio ragu.


“Benar… kuanggap kau setuju dengan tawaranku…” Gadis itu berlutut, kemudian mendekatkan keningnya sampai menempel ke kening Tio. “Perjanjian ini terkunci dengan darah kita, biarlah engkau melakukan apa yang telah ditetapkan, dan mendapat apa yang telah digariskan. Tuanmu yang akan jadi penyelamatmu, jalanmu, dan hukumanmu yang terakhir…” Gadis itu mengelus pelan pipi Tio selagi mengucapkan kata demi kata dengan perlahan. Kemudian berganti, mengelus rambut Tio, seolah menenangkan Tio.


“Seorang teman takkan meninggalkanmu… benar, bukan…?” Gadis itu tersenyum, kemudian memeluk Tio, menepuk-nepuk punggung lelaki itu. “Aku adalah temanmu… kini ataupun nanti… aku takkan meninggalkanmu.”


Cahaya menelan mereka perlahan, beberapa peri cahaya, peri angin, dan peri tanaman, mengelilingi mereka dengan tawa mereka. “Hihi… teman, teman! Jangan sedih, kami hibur! Senyum, senyum!”


Yah, Tio bukanlah Tio lagi sekarang. Matanya kini tertutup kain, dan hanya bisa berjalan pelan mengikuti tangan serta suara manis yang menuntunnya. “Sekarang… temukan perjalanan dan tuanmu… sampai jumpa, Tio…” Gadis itu tertawa kecil, kemudian mendorong pelan punggung Tio.


Tio terdorong ke dalam kegelapan, sendiri, dan dingin. Sampai nantinya, ia terpanggil, dan harus melakukan dosa-dosa. Sampai saatnya, ia dipanggil oleh 'hukuman terakhir'-nya. Sampai saat itu tiba, kalian hanya perlu ingat bahwa kalian tak pernah sendiri.


__________


[27] Momentan adalah istilah untuk menyebut dunia yang fana atau sementara. Istilah ini biasanya digunakan dalam membentuk perjanjian antara makhluk sihir dengan calon tuannya. Meski begitu, makna yang lebih dalam akan istilah ini belum benar-benar jelas dipahami. Istilah ini diucapkan pertama kali oleh Putri Mariae Martin ol Erinee yang meninggal bersama Duke Raymond Aidan ol Yva, tunangannya, dalam perjalanan melewati Laut Tengah.


__________


“Kau tak pernah sendiri. Walau seluruh dunia membencimu, masih ada orang yang akan mencintaimu. Ia adalah sahabat, seorang teman, dan seorang saudara, yang selalu ada dalam kesesakan dan kesenanganmu. Jaga mereka, maka kau tak perlu cemas akan hari esok dan masa depan.”


—Chantal Marga, sebuah kehormatan & kebahagiaan untuk memilikimu, menjadi sahabatmu, dan menjadi yang penting bagimu. Terimakasih sudah muncul dalam hidupku, meski, hanya sebentar.