
Hidup ini penuh rahasia, tapi kata mereka ada yang namanya takdir. Meski itu adalah rahasia, semua orang dapat menyadarinya. Seperti kata seseorang, pertemuan pertama hanyalah kebetulan, pertemuan kedua adalah keajaiban, pertemuan ketiga ialah pertemuan yang tak terhindarkan, dan pertemuan keempat adalah takdir. Hanya dengan begitu saja sudah membuatmu percaya, setidaknya, sedikit, pada apa yang disebut ‘takdir’ dan ‘keajaiban’.
Feliché meraih nyaris semua yang para wanita impikan, suami tampan-kaya-cerdas, kehidupan pernikahan yang bahagia, anak-anak yang sangat manis dan menggemaskan, ia bahkan dijunjung tinggi di pergaulan atas. Tapi, kalian tentu tahu, kebahagiaan tak bertahan selamanya. Suaminya yang ‘sempurna’ itu meninggal dengan alasan sakit, padahal jelas siapa pun tahu itu adalah ‘permainan bangsawan’. Ya, benar, suaminya itu diracuni. Cukup untuk menutup mulut pria yang tahu rahasia-rahasia istana—bahkan yang terkelam sekalipun.
Itu yang berbahaya!
Kalau kau cukup cerdas, maka kau akan langsung melarikan diri entah ke ujung dunia mana pun karena pasti kau akan diburu bila tahu ‘terlalu banyak’. Pria itu hanya kekurangan kepastian untuk memercayai orang-orang di sekitarnya, dan ketika ia percaya, kepercayaan itu malah dengan mudahnya dikhianati. Oh, tentu, apa yang kau harapkan dari masa permainan politik busuk dan lingkungan sosial serba materialistis? Hanya sebuah lelucon bila kau mengharapkan tak ada yang bertarung untuk kursi tertinggi, bahkan bila itu artinya dapat memiliki segalanya, keluarganya pun takkan segan ia berikan. Itulah isi dan rentetan hal memuakkan dari dunia manapun yang tak ada bedanya dengan dunia yang sebentar lagi akan hancur oleh karena penghuninya.
Ia tahu itu semua, namun, tak berdaya. Mungkin kalian hanya akan menemukan bagaimana Feliché gugup menghadapi Ruvia, tapi sesungguhnya, ia bukan orang yang seperti itu. Kematian suaminya membuat ia tak mudah percaya pada orang lain, bahkan sering mencurigai dan mengutuk dirinya sendiri. Ia takut bahwa gadis itu tak suka padanya dan bisa saja mencelakai dirinya, tapi yang paling ia takutkan adalah bahwa gadis kecil itu tak bisa menerimanya sebagaimana ia ingin diterima. Itu ribuan kali lebih menakutkan dan mengerikan dibanding dengan dikhianati di akhir, tak dipercaya ketika ingin dipercayai itu lebih menyakitkan.
Ketika ia berhadapan dengan Ruvia, gadis itu persis seperti boneka dan agaknya, memang seperti yang dirumorkan… ‘Iblis’. Raut wajah gadis itu datar dan matanya dingin, tak seperti malaikat kecil yang diharapkan semua orang untuk tersenyum lebar ketika mereka bertemu. Gadis ini hanya memandangi Feliché tanpa mengeluarkan satu kata pun. Kedua putranya belum bertemu dengan gadis ini, mungkin mereka akan sangat senang mendapatkan saudari yang sangat serupa dengan boneka yang manis, tapi ia juga ragu mereka dapat akrab dengan ‘boneka dingin’ itu.
Sebelum ia benar-benar menikahi Duke Marque, ayah dari Ruvia, Feliché sempat tinggal bersama kedua anaknya di kediaman Duke Marque, meski kedua anaknya baru menyusul setelah Feliché tinggal selama tiga hari. Malam itu, malam kedua ia menginap di sana, ia hanya ingin menanyakan sesuatu tentang Ruvia pada calon suaminya, tapi, di sana, di ruang baca pria itu, Ruvia berdiri. Ruvia melangkah kecil mendekat ke ayahnya, kemudian menyentuh kaki ayahnya.
Sang Duke langsung menggendong tubuh kecil itu dan meletakkannya ke atas pangkuan. “Ada apa, Ru?”
Ruvia terdiam untuk beberapa saat, kemudian menatap mata ayahnya dan berkata, “Mengapa Ibu tidak kembali, Ayah?”
Detik itu juga, bukan hanya Sang Duke yang terdiam, Feliché pun terdiam sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Mereka sadar, ibu dari anak itu takkan pernah kembali lagi, tapi… bagaimana menjelaskannya?
“Ru menunggu Ibu untuk kembali, Ru pikir Ayah membawa Ibu pulang sewaktu itu. Tapi, wajahnya tidak serupa dengan lukisan Ibu…” Ruvia menunduk dengan tatapan mata yang kosong seolah sudah tahu jawabannya, tapi masih tak ingin menerima kenyataan. Ayahnya masih diam, memandangi putri kesayangannya dengan tatapan iba. Ia tak pernah tahu rasanya ‘tak pernah bertemu dengan ibu kandung’ karena ia selalu bersama ibunya sejak kecil sampai sekarang.
Pria itu menghela napas, sambil mengelus rambut Ruvia pelan, ia berujar, “Ru, mengapa ingin bertemu dengan Ibu?” Pertanyaan bodoh memang, tapi, ia butuh tahu alasan putrinya ingin bertemu ibunya setelah ia berlaku biasa saja selama ini.
Ruvia menoleh dan menatap kosong ayahnya seolah itu memanglah pertanyaan bodoh, tapi gadis itu menjawab, “Ru ingin menceritakan banyak hal, ketika ‘itu’ terjadi, seluruh dada Ru sesak, semuanya gelap, kemudian…” Ia tersenyum kecil, “Ru mendengar suara Ibu, Ibu berkata bahwa Ru belum boleh bertemu dengannya. Maka, Ru menunggu dan menunggu. Ketika Ayah membawa seseorang, Ru pikir itu Ibu, tetapi bukan…” Ruvia menyinggung soal peristiwa dimana gadis kecil itu diracuni dan nyaris mati bila dibiarkan sedikit lebih lama lagi. Ruvia juga menyayangkan tak bisa bertemu dengan ibunya dan wanita yang dibawa ayahnya bukanlah ibunya, padahal ia sangat ingin bertemu ibunya.
Duke Marque, pria yang sangat mencintai isterinya, pria yang sangat menyayangi putrinya dan memperlakukannya sama seperti harta paling berharga di dunia, pria yang dicintai masyarakat di daerah kekuasaannya, sekarang hanya bisa terdiam menghadapi seorang gadis berwajah mirip dengan mendiang isterinya. Ia tersenyum sedih, Hauer adalah wanita paling memukau yang pernah ia temui, paling ramah, dan paling tahu. Ia jatuh cinta pada cara Hauer tersenyum, pada cara wanita itu mengajarinya banyak hal, pada cara malaikat itu membuatnya mencintai malaikat lainnya.
“Ru, dengarkan Ayah. Ayah pikir Ru belum siap menerima hal ini, tapi, Ru harus mendengarkan hal ini.” Ia terhenti, Ruvia tetap menatapnya kosong seolah tahu apapun yang sebenarnya ingin ia katakan. “Ibumu sudah tiada, Ru. Ru takkan bisa melihatnya lagi ‘di sini’, di dunia ini.”
Ruvia terdiam, ia menundukkan kepalanya dengan pandangan datar. Semua orang bisa saja mengasihaninya, tapi gadis itu takkan terima. Ia terbiasa berdiri dengan senyuman dan pujian—yang meski ia tahu hanyalah kepalsuan—yang terarah padanya, ia tak suka tatapan iba menjijikan itu.
“Ayah… apa Ibu membenci Ru?” tanya Ruvia dengan mata yang memandang jauh. Ayahnya tersenyum dengan senyuman yang sangat lembut, “Tidak, Ibumu sangat menyayangimu.”
Ruvia tersenyum perlahan, melompat kecil untuk turun dari pangkuan ayahnya, kemudian berjalan ke arah pintu. Feliché langsung melangkah dengan suara sepelan mungkin ke sisi yang tak terlihat ketika melihat gadis itu melompat turun. Duke Marque melihat putrinya berlaku seperti itu hanya diam dan berpikir apakah putrinya itu paham dan baik-baik saja.
Gadis itu berbalik dan tersenyum kecil, “Kemudian, putrimu akan pergi beristirahat, Ayah. Ayah juga, bergegaslah untuk istirahat.” Ia membuka pintu, kemudian menutupnya perlahan, dan melangkah menuju kamarnya.
“Apa Anda yakin hanya butuh tubuh ini?” ujarnya sambil memandang ke udara kosong.
“Apa Anda yakin beliau akan menerima tubuh lemah ini?” Ia bertanya lagi seolah tak yakin, Feliché mengamatinya dan merasa sedikit aneh. Apa itu? Mengapa Ruvia berbicara sendiri seolah memang benar ada lawan bicaranya itu?
“Bila Nona tersebut dan Anda menganggap saya layak, kemudian saya akan menerima apa yang Anda tawarkan. Tetapi, saya ingin dapat menyampaikan keinginan saya secara pribadi padanya. Apa boleh?” Gadis itu tersenyum kecil dan menunduk seolah keinginannya terkabul. “Ah, Anda bilang bahwa jalur mana pun yang Nona pilih, takkan berakhir hidup. Apa Nona mengetahui dan menerimanya?”
Ia terdiam lama, seolah menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Ia kemudian tersenyum perlahan, namun, terkesan sedih. “Begitu… saya pikir Nona cepat atau lambat akan mengetahui dan mampu membuat akhir yang menakjubkan. Benar bukan, Tuan Dewa?”
“Huh…?!”
“Hm?” Ruvia menoleh ke arah pintu kamarnya, ia mendengar suara tadinya. Ia turun dari ranjang, berjalan menuju pintu tersebut, membukanya, dan memeriksa bagian luar. Kosong…
Mungkin hanya ia yang salah dengar, pikirnya, kemudian menutup pintu rapat. Ia melangkah menuju ranjangnya, kemudian berbicara lagi dengan siapa pun lawan bicaranya itu. Ia tadinya merasa kosong karena kenyataan selalu menyakitkan dan membuat lubang besar di hatinya yang sudah tak utuh sejak dulu. Kini, meski ia tak lupa, ia punya tujuan dan alasan untuk memberikan semua itu dan semua darinya untuk seseorang yang membutuhkannya. Walau bila itu artinya nyawa dan namanya bukan lagi miliknya, ia takkan cemas karena meski belum bertemu muka, ia tahu siapa pun yang mendapat pesan Dewa, orang itu pastilah menakjubkan.
Semua bagian rumah tak memiliki satu pencahayaan pun, tidak lilin, tidak lampu sihir ataupun lampu minyak, hanya secerca cahaya dari bulan dan cahaya remang dari Kaca Tuyo Secar yang membentuk jalan menuju rumah utama. Feliché bersembunyi dalam kegelapan, ia tak percaya pendengarannya tadi. Ruvia berbicara pada Dewa? Ia takut apa yang diramalkan itu terjadi. Meski ia tak memiliki hubungan yang cukup baik dengan gadis itu, ia tetap saja ingin dan perlu melindungi gadis itu.
“Ia akan pergi dan yang lain akan menggantikannya. Menunjukkan apa yang disebut keselamatan dengan nyawanya sebagai ganti. Gadis dengan cahaya, dengan jiwa rapuh, dan hidup menyesakkan, ia yang akan membawanya. Kau akan menemukannya dalam perkataan buruk, tapi ia akan tunjukkan kau apa yang sungguh kau ingini.”
Hahaha… ia hanya bisa menertawai dirinya yang bodoh. Setelah semuanya, lelaki yang ia cintai lenyap karena orang-orang berhati keji, ia tak ingin lagi kehilangan sesuatu atau seseorang yang bahkan belum ia miliki sebagai suatu ikatan. Cinta itu kejam, rasa kekaguman juga keji, seperti belati yang diasah menjadi tajam, dan akhirnya hanya bisa membuat orang menahan napas ngeri. Ia mau tak mau harus percaya pada kata 'takdir', entah ramalan itu bisa dipercaya atau tidak, ia akan lihat di masa depan.
Kau tahu? Hidup itu kejam, sama halnya dengan takdir, atau bahkan mungkin lebih kejam lagi. Kau dipertemukan orang yang begitu penting dan menjadi bagian dari dirimu, tapi tak lama kalian harus melepaskannya, mau tidak mau. Takdir seolah suka bermain-main, mempermainkan kita yang tak bisa mengubahnya.
“Kau pasti Ru, aku Leon. Salam kenal!” ujar Leon dengan senyum lebar, Ruvia menatapnya, kemudian mengangguk singkat. “Aku Theo, salam kenal, Ru.” Theo tersenyum tipis. Ruvia menatapnya lama, ia menyentuh pipi Theo, kemudian tersenyum tipis. “Selamat datang, Kakak.”
Mereka yang berada dalam ruangan itu takjub, gadis yang jarang sekali tersenyum, kini tersenyum di hadapan mereka. Duke Marque melihat senyuman Ruvia yang ‘langka’ itu. Benar-benar seperti dirimu, Hauer. Tapi, berbeda dengan Feliché yang tahu maksudnya, Ia sudah nyaris berganti dengannya. Mungkin hanya tebakan saja, tapi ketika melihat gadis itu tersenyum dengan kekosongan dan rasa rindu di matanya, ia tahu, ia akan segera pergi.
“Aku akan merindukan Kakak nantinya.” Itu yang membuktikan tebakan Feliché. Tetapi, tak ada yang tahu hal ini. Theo tersenyum dan membalas, “Em. Ru bisa bertemu Kakak sebanyak dan sepuas yang Ru inginkan. Jangan cemas, masih banyak waktu tersisa.”
__________
Hidup itu kejam, lebih kejam lagi takdir. Cinta itu menyeramkan, kau tak dapat menghindarinya. Kematian itu mengerikan, karena aku, kau, ataupun kita semua takkan ingat 'semua'. Menyedihkan, kau setuju?
—Kareen Lusch.