
Ini kisah awal tentang apa itu Ratu Pertama dan tugasnya. Terjadi jauh sebelum kelahiran Ruvia Marque la Hauer. Dan dikenang sepanjang zaman bahkan sampai pada Era Ghuren, era pada generasi kerajaan yang ke-38 atau era setelah kelahiran Ruvia.
__________
Tahun 375, penanggalan Agatham.
Kerajaan Sarch
“Ibu, apa maksudmu untuk memilihkan calon isteri bagiku?” tanya Pangeran Jouisle, Putra Mahkota dari Kerajaan Agatham.
Wanita dewasa dengan wajah ramah yang dipanggilnya ‘Ibu’ menoleh padanya dan membalas, “Bukankah wajar bila seorang Ibu ingin memilihkan isteri bagi anaknya? Apalagi bila anaknya senakal dirimu.” Ratu Patavinae tertawa kecil melihat putranya tampak salah tingkah. “Ibu hanya akan memilihkan, tapi takkan memaksamu untuk memilihnya bila memang kau tak ingin.”
Pangeran Jouisle hanya bisa tersenyum bimbang sambil menawarkan tangannya pada ibunya yang ingin berdiri dari bangku empuk merah yang tadi ia duduki sambil memeriksa berkas laporan dan keluar dari ruangan berlapis kayu dan kaca yang ia sebut ruang studi. Memang di sana tersedia banyak buku dan ruangan itu sangat luas, dilengkapi dengan perabotan kayu dan kaca seperti bangku panjang, meja panjang, dan suatu kerajinan dari bahan kaca yang ibunya sebut lampu tergantung di masing-masing gantungan di dalam ruangan itu.
Jelas ia ragu, seolah ia tak dibebaskan dalam hal memilih pasangan. Padahal kan ia sudah berusia 16 tahun dan sudah bisa membuat keputusannya sendiri.
Melihat putranya tampak bingung dan heran, Ratu Patavinae berujar, “Ibumu ini hanya ingin mencari wanita yang mampu mendukungmu. Ibu tak ingin hanya ada wanita tanpa akal dan hanya mengandalkan rupa saja yang memasuki istana.” Ia menangkup wajah putranya dan menatapnya dalam. “Dengar, Jouisle, dunia ini sangat kejam dan banyak yang telah menjadi korbannya. Ibu tak ingin kau menjadi salah satu korban malang itu.”
“Tetapi, Ibu, apa hubungannya hal itu dengan Ibu yang memilihkan calon isteri untukku?” tanya Pangeran Jouisle sekali lagi dengan raut muka bingung.
Ratu Patavinae mengelus pipi kanan Pangeran Jouisle dengan sayang dan berujar, “Karena wanita yang terpilih itu adalah ksatria yang akan membantumu melewati kejamnya dunia dan bukan yang berlindung di balikmu ataupun yang mengabaikanmu di masa sulit dan pergi.”
Mendengar itu Pangeran Jouisle hanya bisa menghela napas pasrah. Ia sungguh berharap apapun yang akan dilakukan ibunya sungguh benar adanya. Lagipula, ia penasaran akan wanita seperti apa yang akan ibunya pilihkan untuknya.
Wajar memang Pangeran Jouisle berpikir seperti itu. Pangeran Jouisle dikenal sebagai salah satu pria idaman para wanita di era yang sedang berlangsung ini. Ia takkan kesulitan dalam mencari pendamping hidup, bahkan mungkin ia tinggal tunjuk saja mau yang mana.
“Ya, kita tunggu saja apa yang akan Ibu bawakan untukmu, Kakak.” Itu kata adiknya, Pangeran Francez ruchz de Kior, kala ia menceritakan maksud ibunya. “Ya, benar. Lagipula, aku yakin selera Kakak dan Ibu takkan beda jauh. Buktinya, Ibu memilih Ayah untuk menjadi suami karena Ayah sangat rupawan di eranya!” balas adiknya yang lain, Putri Shachrone alembic el Syricam, dengan mata berbinar kala membahas ayah mereka, Sang Raja.
Yah, dia memang tak bisa menyalahkan adiknya yang satu itu untuk kagum pada ayahnya sendiri. Ayahnya adalah raja yang sangat bijaksana dan setia, ia bahkan berjanji di hadapan altar gereja bahwa ia hanya akan menikahi dan mencintai satu wanita saja selama ia hidup, yaitu Patavinae les Abilegae, ibunya. Sungguh romansa klasik. Tapi hentikan pikiran menggelikan itu.
Ayahnya, Raja Kareenzach Juan ri Elmore, raja ke-14 Kerajaan Sarch, memang setia sampai pada tahap bisa diperbudak oleh isterinya sendiri. Percayalah, bahkan ketiga anaknya itu hanya bisa heran akan kemana perginya cahaya kebijaksanaan dan keberanian ayah mereka ketika berhadapan dengan ibu mereka. Alhasil, hanya yang di atas yang tahu mengapa ciptaan mereka bisa sebegininya.
Malam itu, ditemani lampu sihir yang temaram Ratu Patavinae menggoreskan tinta hitam ke atas perkamen. Isinya, ‘Sahabatku, Gregor. Kau tahu aku selalu menyukai musik di kerajaanmu. Kau juga tahu aku mencintai para putrimu seperti putriku sendiri. Aku bermaksud untuk berkunjung di Hari Putih [8]’.
Ia mencetak lambang kerajaan di akhir surat, kemudian menggulung perkamen itu dan mengirimkannya lewat sihir pengiriman.
Ia lalu memandang ke kegelapan malam, sambil menyenderkan bahu pada kusen jendela kayu berujar, “Apa benar yang kulakukan ini? Hah… Hansen, andai saja kau ada di sini.”
'Kau ada di sana bersama kumpulan cahaya
Terlalu jauh dan tinggi untuk kucapai
Aku terjebak dalam dinding penuh kemustahilan
Terperangkap di antara rantai tak kasat mata yang menahan
Kapankah kau akan sampai?
Atau terlebih, kapankah para penjemputku tiba?
Agar aku dapat kembali ke dalam pelukanmu
Yang kurindukan di setiap lelap dan airmataku'
Maka, setelah bertahun-tahun lamanya, ia kembali teringat mengapa ia ingin memilihkan pasangan untuk putranya. Itu tak lain dan tak bukan karena ia tak ingin putranya berakhir menjadi seperti dirinya, atau ayahnya, atau orang yang dirindukannya, Hansen.
Wajahnya muram sedih dan percayalah sepasang mata yang mengintip lewat celah pintu pun turut merasakan kesedihan yang ada, meski wanita yang ia perhatikan itu membelakanginya. Tapi yang membuatnya penasaran, siapakah Hansen?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Raja Gregormarcum Hazzaac sa Ebeliz telah menerima surat dari Ratu Patavinae. Sebuah senyuman tergurat di wajahnya, sudah lama ia tak bertemu wanita itu. Kira-kira delapan tahun lalu waktu terakhir mereka bertemu, meski setelah itu mereka saling surat menyurat.
“Ayah?” Panggilan dengan suara kecil itu membuat sang raja menoleh. “Ada apa, Cyl?” tanyanya sambil tersenyum dan merentangkan tangannya seolah ingin memeluk.
Gadis berambut perak dengan mata sewarna berlian yang memanggilnya tadi mendekat ke sofa coklat tempat duduknya pria itu, lalu duduk di atas pangkuan sang raja, dalam pelukannya.
“Jadi, ada apa, Cyl?” tanyanya sekali lagi sambil mengecup puncak kepala gadis dan mengelus rambutnya lembut.
“Ayah, apa aku dan Kakak akan dikirim?” tanya gadis itu sambil memandang ke depan.
“Hm? Dikirim ke mana?”
“Aku mendengar kabar tentang pemilihan calon isteri untuk Putra Mahkota Kerajaan Sarch dengan kriteria tertentu. Apa aku dan Kakak akan dikirim?” jelasnya tanpa menoleh.
Raja Gregor paham siapa yang gadis itu maksud, ia juga paham apa yang gadis itu ingin sampaikan. Ia paham bila putri bungsunya ini cemas, bukan karena tidak siap, tetapi ia merasa takkan cocok di sana.
“Cyl hanya perlu lakukan apa yang menurut Cyl benar. Bila salah, mintalah maaf dengan sopan. Bila merasa benar, belalah dirimu dengan kehormatan.” Mendengar itu, gadis itu hanya bisa diam.
“Ayah tahu bukan bahwa perbedaan tempat dan waktu membuka jurang perbedaan yang sangat dalam, bagaimana bisa mempertahankan diri dengan hukum tak dikenal dari negeri sana.” Ia berusaha memberi penjelasan yang masuk akal, namun lagi-lagi terdiam.
Namun tak lama, ia tampak menggigit bibir bagian bawahnya dan berkata, “Mereka… mungkin sama dengan 'wanita' itu…” suaranya agak bergetar seolah menyiratkan ketakutan dan ketidaksukaannya pada siapapun 'wanita' yang ia maksudkan itu.
Raja Gregor lagi-lagi menunjukkan rasa sayangnya dengan sebuah pelukan. “Tenang saja, tak semua seperti dirinya. Dan, Cyl… Ayah rasa ini sudah waktunya untuk Cyl berdamai dengannya. Selama tahun-tahun ini, Cyl sudah menjadi lebih berani dan hebat, bukan?”
Gadis itu hanya bisa terdiam dengan ekspresi gelap, “A-aku… itu masih belum bisa… semuanya itu mengerikan! Aku tak bisa menghadapinya!” Ia yang tadinya tenang, mulai berseru frustasi.
“Itu semua menyakitkan… hiks… sakit… a-aku tak bisa, Ayah…” Ia mulai menangis, ia memeluk tubuhnya yang bergetar seolah ingin melindunginya dari sesuatu yang mengancamnya.
Raja Gregor memeluknya untuk menenangkannya, “Shh… shh… sudah, Cyl. Semuanya akan baik-baik saja. Tak ada yang mengerikan, Cyl. Tenang…”
Gadis itu tetap menangis, namun berangsur-angsur diam. Dalam pelukan pria itu, ia menjadi tenang. Ia merasa sangat aman sampai ia tak takut untuk menutup mata untuk melewati malam.
Gadis itu tertidur, Raja Gregor memindahkannya ke atas ranjang dan berbaring di sampingnya. “Tak ada yang mengerikan. Bila pun ada, itu akan segera berlalu. Tenanglah…” ujarnya dengan suara tenang dan dalam sambil mengelus lembut rambut gadis itu, kemudian mengecup kening halusnya dan ikut terlelap di sampingnya.
Sungguh… ada kata-kata yang membuatnya selalu takut. Tapi ada satu yang bahkan selalu membuat ia gemetar tiada henti. Bukan karena ketakutan, tapi karena ada bara api yang menyulut, memusnahkan segala etika yang ada dalam dada kala mendengarnya. Penolakan, itu yang menghancurkan segalanya.
__________
[8] Hari Putih adalah hari peringatan kematian tahunan seseorang. Hari ini biasanya diperingati dengan pemakaian pakaian berwarna gelap ataupun putih sebagai tanda penghormatan bagi keluarga kerajaan ataupun tentara yang telah meninggal.
__________
Rindu itu hal wajar, tak ada yang melarang. Tapi jangan sampai rindu menelanmu sampai kau tak bisa kembali lagi.
—Xynias