Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
Vol1 S1 Fin | XX Mesin Pembunuh



“…”


“Mengapa diam? Diam takkan menjawab apapun yang menjadi pertanyaanku.”


Saat ini Ruvia sedang berhadapan dengan anak yang dibelinya di pasar gelap. Anak itu sudah berpakaian rapi dan diobati lukanya. Namun, tampak sekali anak itu ketakutan pada Ruvia. Meski, Ruvia tak memiliki maksud jahat sekalipun.


“Xander,” Anak berambut putih itu mendongak setelah sedaritadi menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapan Ruvia. “itu namamu. Nah, Xander, ceritakan tentang dirimu.”


“…”


Anak yang kini bernama Xander itu membuka mulut, namun segera menutupnya.


“Mereka akan tahu,” bisiknya dengan suara yang sangat kecil.


“Kuganti. Kau peramal, bukan?” Xander tersentak, mata butanya yang (dikatakan) tak bisa disembuhkan dengan sihir penyembuh tingkat tinggi seolah menatap ke dalam kedua mata Ruvia.


“… y-ya… apa Anda akan 'menyelesaikan' saya?” tanya Xander ragu, ada nada ngeri dalam suaranya ketika ia mengucapkannya.


Berbeda dengan penyihir, peramal yang ada dianggap punya eksistensi yang buruk. Keberadaan mereka pertanda hal buruk bisa terjadi atau hal tak diinginkan bisa tiba-tiba muncul. Bangsa peramal hidup bersembunyi dengan membutakan mata mereka sendiri dengan sihir karena ciri khas para peramal adalah mata mereka yang berwarna merah pudar. Sulit dan mengibakan memang hidup mereka, kemampuan meramal itu juga turunan, sama seperti rasa takut ketahuan bahwa mereka adalah peramal begitu mendarah daging.


“Tidak,” ucap Ruvia dengan santai. “aku hanya akan memberikanmu pada sahabatku. Ia akan membutuhkanmu di masa depan.”


Xander memiringkan kepalanya, “… Nadine Celuoc…”


“Aha… kau sudah tahu tujuanmu. Iya, benar, Nadine akan membutuhkanmu. Aku perkirakan, kamu akan dibutuhkan ketika ia bertunangan.” Ruvia berucap sambil melirik ke arah jendela di sisi kanannya. Xander terkejut, apakah Ruvia termasuk perama—


“Aku bukan peramal… dan aku tidak bisa membaca pikiran,” tambah Ruvia karena melihat wajah heran Xander.


“Dengar, aku akan mengikuti ramalan yang pernah kalian ucapkan. Namun, aku takkan begitu saja mengikuti alur ramalan kalian yang menyedihkan itu. Aku akan memastikan akhir yang sama, tidak dengan prosesnya. Kau paham?” Ruvia menatap lurus ke dalam mata Xander.


“Lagi,” Ruvia mendekatkan tangan kanannya dan menutupi kedua mata Xander dengannya. “kau tak perlu bersembunyi lagi.” Mata buta Xander (tampak seperti katarak, terdapat selaput tebal) perlahan kembali ke warna matanya yang asli, merah pudar.


“Ba-bagaimana…!” Xander terkejut ketika pandangannya berubah dari gelap menjadi terang dan jelas. Sihir pada matanya itu 'dipercaya' tak bisa ditangkis atau disembuhkan dengan sihir penyembuh manapun dan milik siapapun.


Ruvia mendekatkan jari telunjuknya pada bibirnya, “Ini 'pernah' terjadi, tidak perlu kau terkejut. Rumahku pun 'cukup' aman, jadi tenang saja. Kau tahu jelas maksudku…”


Meski Xander merasa ini baru pertama kali ia mengalami hal semacam ini, ia memilih diam. Apa maksud 'pernah'? Ia tak tahu, ia juga merasa ia tak perlu tahu. Tahu apa yang perlu kau tahu, selebihnya, bisa membunuhmu.


“Jadi, Anda takkan mengikuti tuan pemilik kerajaan (putra mahkota) atau tuan penyayang ibu (putra tunggal duke lain) ataupun tuan pemuja Anda (ini… siapa?)?” tanya Xander.


Ruvia tak tahu pasti siapa yang dimaksud Xander, tetapi yang ia tahu, ia takkan bersama pria manapun. Sebagaimanapun inginnya ia bersama mereka, pada akhirnya, hanya ada penyesalan. Ia tak ingin menjadi Ruvia menyedihkan dari serial novel ciptaannya.


Ruvia mengangguk, “Kau benar. Oh, aku ingin menunjukkanmu sesuatu.”


Ruvia berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mendekati lemari kecil di samping ranjangnya. Dibukanya laci teratas dan dikeluarkannya sebuah cangkir. Cangkir berukir aneh yang pernah membuatnya kebingungan, dan mendatangkan 'sesuatu' padanya, bahkan sampai kini pun ia merasa kebingungannya tidak sepenuhnya terselesaikan.


“Xander, apa kau mengetahui apa ini?” tanya Ruvia, ia berjalan mendekati Xander, kemudian menyodorkan cangkir kristal itu.


Xander mengambilnya dengan raut wajah bingung, namun seketika berubah menjadi terkejut dan panik. “Di mana Anda mendapatkan ini?” Tangannya yang memegang cangkir tersebut bergetar hebat, namun tak cukup untuk menjatuhkan atau memecahkan cangkir yang tampak rapuh itu.


Ruvia mengerutkan alis kanannya, “Neo, salah satu pelayan pribadiku, yang memberikannya. Ada apa? Apa sebenarnya cangkir ini?”


“Nona! Ini, ini… ini adalah salah satu kunci dari tujuh gerbang surgawi!”


“?”


“Apa maksud dari 'gerbang surgawi' itu?” Ruvia bertanya sambil mendudukkan dirinya di samping Xander.


Xander tampak ragu sejenak, namun akhirnya membuka mulut. “Meski namanya 'gerbang surgawi', bila ketujuh kunci tersebut berada di tangan para pendosa atau para pengkhianat, maka 'gerbang neraka' bisa terbuka lebar dan membebaskan para makhluk kuat, abadi, dan tak berakal. Singkatnya, mesin pembunuh!”


__________


__________


“Sudah kubilang, mati pun takkan kupedulikan.”


“Ya, nyawamu tak penting, tapi nyawaku penting!”


“Kau sudah kalah. Sadar diri lah! Kau itu hanya ras hewan kotor yang tak tahu diuntung!”


“Kau yang memulai. Jangan salahkan aku bila besok kau tak lagi melihat!”


Tap… Tap… Tap…



Ruvia memutar bola mata malas, “Kau? Membunuhku? Tidak semudah itu, Tuan Berkepala Botak.”


Ruvia menendang jeruji besi di hadapannya dengan sepatu bertumit tingginya. “Tunggu saja giliranmu. Aku akan segera sampai padamu, aku adalah orang yang bekerja dengan aturan.”


Ruvia tersenyum miring sambil melihat ke orang-orang yang berlutut ketakutan di balik jeruji besi. “Nikmati selagi bisa. Selamat tinggal.”



“Katakan, Guido. Kali ini aku akan mati sungguhan, bagaimana Guido akan menangani hal ini?” Ruvia memandang lurus ke depan.


Guido mengepalkan tangan kanannya di balik punggungnya. “Kau takkan mati. Kalaupun kau mati, aku akan pastikan kematianmu itu dikenang selamanya. Aku takkan jadi 'tiran' seperti yang kau katakan. Aku takkan membuat… Aku jamin itu!”



“Nona tahu? Nona adalah wanita yang mampu membuat saya percaya bahwa keberadaan saya dibutuhkan ketika ibu kandung saya saja membuang saya.”



“W-wah… ada apa dengan cahaya ini?”


“Luka-lukanya…!”


“Apa ini…! Sihir cahaya yang hanya ada di legenda?”



“Tak perlu jadi perisaiku… aku sudah ditakdirkan seperti ini. Mati pun sudah tidak masalah, kalian bisa hidup tanpa kehadiranku.”


“Jangan berbicara seperti itu! Keberadaan Anda saja sudah menjadi alasan jantung kami masih berdetak, jadi…”


“Aku takkan berakhir secepat ini. Tetapi, cepat ataupun lambat, aku akan berakhir… jadi, hiduplah dengan baik tanpaku, apa jawabanmu?”



“Aku… ingin menannyakan hal ini dari dulu… mengapa kau membunuhku hari itu? Kau tahu jelas bukan aku pelakunya…”


“… bila itu artinya aku bisa bertemu denganmu lagi, apapun akan kulakukan…”


Segala hal yang terjadi pasti memiliki sebab. Pertanyaannya hanya apakah kita bisa tahu sebab dari apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang jahat.


__________


Sekian dari Key, ciao~