
“Hei, apa kau siap?”
“Hah? Siap apa? Ini juga, buat apa mataku ditutup seperti ini?” Kareen berucap sambil memegang tangan yang menutup matanya. Ia tak tahu tangan siapa itu karena tangan orang tersebut menggunakan sarung tangan, ia juga tak tahu alasan mengapa matanya ditutupi. Apalah yang terjadi saat ini, begitu pikirnya.
Telinganya menangkap suara ramai, tawa, dan lainnya. Ia semakin mendekat ke tengah keramaian itu, semakin dekat, dan berhenti. Ia bingung mengapa tangan yang menutup matanya belum juga turun atau lepas.
“Happy Birthday to you… Happy Birthday to you…”
Lagu 'Selamat Ulang Tahun' yang tak asing di telinganya terdengar, begitu dekat. Terakhir ia mendengar lagu ini adalah setahun sebelum kedua orangtuanya meninggal. Ia rindu lagu ini, tapi ia bukan orang tak masuk akal yang akan memaksa perayaan ultah yang hanya menghabiskan uang saja. Tapi, siapa yang membuat semua ini? Ah, mungkin bukan untuknya, tapi untuk yang lain, pikirnya dengan senyum tipis yang terkesan sedih.
Tangan itu turun, terlepas dari penglihatannya. Membebaskan matanya dari kegelapan dan langsung menyambut semua senyuman manis dari para sahabatnya, kue yang bertuliskan 'HBD Kareen', dan semua cahaya gemerlap serta kesenangan yang ada di tempat itu. Ia tanpa sadar teringat akan semua itu, kehangatan yang ada seolah melemparnya kembali ke masa lalu, bersama ibu, ayah, dan kakaknya.
Ia menoleh ke belakangnya untuk mencari tahu tangan siapa sebenarnya yang tadi menutupi matanya. “Chris?” Ia memanggil dengan suara dan mata penuh keraguan seolah tak yakin bahwa pria di hadapannya bukanlah ilusi belaka.
“Aku pulang, Re. Kau tak merindukanku?” ujarnya sambil tersenyum. Kareen langsung melompat dan memeluknya, “Gosh! I miss you so so much, Chris!” serunya dengan suara sedikit serak karena matanya sudah tak mampu menahan air matanya.
Chris balas memeluk Kareen dengan sedikit memutar, ia menyayangi wanita itu sama seperti ia menyayangi adiknya, ibunya, atau orang-orang penting lainnya dalam hidupnya. Kareen merupakan salah satu penyusun utama pekerjaannya selama lima tahun ia mengenalnya, inspirasi, seorang muse adalah arti Kareen baginya. Chris tenggelam dalam pesona 'dingin' dan 'sepi' yang dihadirkan Kareen, tapi senyuman wanita itu… itu, itu merupakan mahakarya! Ia memanjakan Kareen, melindunginya, dan membantunya berkembang.
“Ahem! Ehem, ehem…” Suara 'pura-pura' batuk membuat Kareen dan Chris tertawa kecil, kemudian melepaskan pelukan mereka.
“Wah, terimakasih. Kalian hebat, ya, di tengah kesibukan kalian yang mungkin belasan kali lebih padat dariku, kalian masih bisa menyiapkan semua ini.” Kareen tersenyum manis, memunculkan lesung pipinya yang dalam dan deretan gigi yang rapi. Para sahabatnya terkesiap, diam-diam berjanji pada diri mereka sendiri, apapun yang terjadi… mereka ingin senyuman itu tetap tergurat di wajah wanita muda itu dan air mata menjauh sejauh-jauhnya. 'Indah seperti permata, terang dan hangat seperti mentari', itu pujian yang selalu saja orang lontarkan mengenai senyuman, mata, dan rupa seorang Kareen Lusch. Memang benar, persis seperti semua itu, mata dan rupa bagai patung kristal langka serta senyuman 'asli' yang hangat dan mampu melelehkan benteng sekokoh apapun.
Kareen sungguh berterimakasih, semua sahabat di hadapannya berharga baginya. Tapi, meski ia mengenal dan tahu setiap informasi tentang mereka, ia selalu membatasi dirinya untuk tahu dan 'mengenal' karena ia takut… semuanya hanyalah mimpi. Ia tak ingin memiliki perasaan ketergantungan pada semua hal yang kapan saja bisa buyar, kemudian lenyap tanpa jejak.
Semuanya memberi hadiah pada Kareen, yang mewah, yang manis, dan yang lainnya. Salah satu temannya, pria bertubuh tinggi-besar, memberinya boneka teddy bear coklat seukuran tubuh manusia. Kareen menerimanya sambil berkata dengan nada sedikit meledek, “Wah, bahkan Tuan Vadru yang super busy datang dan memberikan boneka manis ini.”
Vadru menggaruk kulit kepalanya, “I-itu dari anakku. Dia bilang wanita akan suka dengan boneka ini.”
Kareen tertawa, kemudian menepuk pelan bahu pria itu. “Vadru, Vadru ahaha… kamu tak pernah bisa jujur, ya.” Ia terhenti sebentar, kemudian duduk di sofa—agak jauh dari keramaian para sahabatnya—dan memandang Vadru yang ikut duduk, lalu menunduk canggung di sebelahnya. “Kamu tahu, Vadru? Kupikir… menjadi jujur itu sangat sulit, tapi kalau kamu menutupi perasaan yang adalah kebenaran itu…” Ia terhenti lagi, memeluk boneka yang diberikan Vadru lebih erat lagi. “kamu akan sangat menyesal nantinya…”
Vadru melihat ekspresi penuh kekosongan di wajah Kareen. Ia tahu yang dipikirkan Kareen, pasti bukan tentang kematian orangtuanya, tapi tentang 'orang kurang ajar' itu. Ia tak tahan dengan Kareen yang 'terlalu baik' pada orang se—entahlah ia harus menyebut bagaimana kalau bukan menggunakan kata kasar.
Kareen ialah definisi seorang ibu yang baik untuk anaknya dan juga dirinya, itu anggapan Vadru setelah bersahabat dengannya selama lebih dari tujuh tahun. Anaknya tak pernah mau mendengar perkataannya, tapi hanya dengan beberapa kata dari Kareen, anaknya itu akan segera mengangguk dan tak membantah sama sekali. Kareen juga membantu Vadru dalam menghitung pajak-pengeluaran-pendapatan khusus kantor pusat karena Vadru selalu tak tenang bila orang lain yang mengerjakan. Wanita ini akan selalu tersenyum tipis, memberinya saran untuk berbaikan dengan anaknya, dan menghiburnya kala ia depresi ataupun lainnya. Tapi, ketika wanita baik ini dalam masalah, Vadru hanya bisa menahan diri untuk tak ke sisinya dan memeluknya erat, berusaha menghiburnya.
“Aku hanya berpikir bahwa hubunganmu dengan Dion masih bisa 'diselamatkan'. Dion perlahan akan menerima alasan dan perkataanmu, Vadru. Tenang saja,” ujar Kareen sambil tersenyum tipis. Mata birunya yang memancarkan kenyamanan memancing Vadru untuk ikut tersenyum, tak bisa menolak rasa nyaman itu. “Yah, aku akan sangat mensyukurinya kalau itu terjadi. Tapi, tampaknya, ia masih hanya akan mendengarmu, Kareen.”
Kareen tertawa kecil, “Oh, tentu, siapa yang tak terpana akan kecantikanku sampai akan mengangguki semua perkataanku tanpa bantahan sama sekali…” Mereka saling bertatapan, kemudian tersenyum dan tertawa bersama. Ya, benar, ini seharusnya suasana bahagia yang ada dalam sebuah pesta. Vadru menatap Kareen yang tersenyum, ia tahu mengapa semua orang tetap ingin berada dekatnya meski terkadang wanita ini bersikap dingin. Itu semua karena Kareen memiliki sisi pendengar yang baik dan senyuman, mata, dan tawa yang mampu menarik orang-orang ke dalamnya.
Tuk…
Vadru merasakan ada yang menyentuh bahu kanannya, ia melihat ke samping dan mendapati Kareen yang menutup mata sambil bersandar padanya, tampaknya ia tertidur. Pria itu hanya bisa tersenyum, menyisipkan rambut hitam panjang ke belakang telinga wanita itu, menyentuh pipi pucatnya, dan hanya bisa diam.
“Kau yakin tak mau segera 'mengambilnya'?” tanya sebuah suara. Vadru menengadah dan ia menemukan Giselle yang melipat tangan di depan dada seolah tak sabar menunggu jawabannya.
Vadru tersenyum tipis, “Kupikir aku hanya menunggu waktu yang tepat…”
Giselle mendecakkan lidahnya kesal, “Kalau kau menunggu 'waktu yang tepat', ia bisa saja sudah 'diambil'. Kau mau menangis darah ketika kehilangannya dan belum tahu perasaannya terhadapmu?” sahutnya dengan nada kesal yang sangat jelas. Ia berpikir, mengapa ada pria seperti Vadru yang menunggu 'waktu yang tepat'… waktu tepat itu kapan? Tunggu sampai kau yakin akan perasaan 'lawan'-mu? Itu sudah sangat terlambat!
“Tidak, aku takkan kehilangan dia. Tapi, bila takdirku bukan bersamanya…” Ia terhenti, kemudian tersenyum sedih. “Aku hanya bisa mendoakannya, kan?”
Giselle memandangnya Vadru seolah ia memandang a big idiot, tapi ia hanya bisa menghela napas. “Hah… terserah kau saja. Kau yang lebih tahu akan perasaanmu sendiri.” Ia berbalik dan berjalan pergi, tapi baru beberapa langkah saja, ia berhenti tanpa berbalik dan berkata, “Kau tahu, Vadru? Aku merasa bila kau tak segera menyatakan perasaanmu, maka kau akan benar-benar kehilangan Kareen selamanya.”
Giselle berjalan pergi, meninggalkan Vadru yang hanya bisa terdiam di tempatnya. Vadru menoleh ke sampingnya, mengelus pelan puncak kepala Kareen, kemudian hanya memandangi wanita itu. Setiap bagian dari diri Kareen terlihat indah dan sempurna di matanya, meski ia tahu ada bekas luka mengerikan yang disembunyikan dari semua mata, kecuali dirinya.
“Haha… aku tak tahu mengapa semua yang wanita lakukan selalu terkesan ambigu.” Ia tertawa kecil, kemudian berbisik, “Apapun itu, keberadaanmu mengubahku. Good night, my princess.”
__________
“Aku sudah lama ingin bertemu denganmu, Nona Marque.” Anak lelaki yang berjalan mendekatinya berucap sambil tersenyum jahil. Itu adalah Guido, lelaki yang paling disayangi Ruvia setelah Putra Mahkota. Anak itu tak berubah sama sekali, persis sama, dengan senyum jahilnya yang entah mengapa mampu mengundang rona di pipi para gadis.
Ruvia sedikit membungkuk, tanda hormat. “Saya merasa terhormat Pangera—”
Ruvia tersenyum tipis, “Ruvia merasa terhormat Guido memberi kesempatan seperti itu,” ujarnya dengan suara khas gadis kecil perlahan.
Guido tersenyum puas, kemudian menggandeng tangan kiri Ruvia untuk ikut berjalan di sisinya. Mereka berjalan menuju tempat Coronae berada, istananya. Guido melempar beberapa candaan dan terkadang dibalas dengan candaan oleh Ruvia, ini menyenangkan dan ia sangat bersyukur dapat merasakan serta mendengarkan suara dan candaan Guido lagi.
“Guido…”
“Hm?”
“Aku hanya ingin memohon,” Ia terhenti, seolah kata-katanya tak mampu keluar dari mulutnya. “tolong lindungi apa yang tidak bisa kulindungi dulu, Ido…” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Angin bertiup, namun tak tampak mengganggu mereka sedikit pun. Rambut mereka termainkan oleh angin, Ruvia dengan rambutnya yang seolah memperdalam rasa sepi di dalam mata dan senyumnya, Guido dengan rambut hitamnya yang seolah berusaha menamparnya untuk kembali ke kenyataan. Apa tadi? Matanya yang sewarna batu zamrud melebar seolah tak yakin akan apa yang baru saja ia dengar.
“Se-sebentar, Ruvia. Aku tahu aku yang meminta untuk santai saja, tapi bagaimana kau tahu panggilan itu…?” Ia mengucapkannya dengan nada sedikit ragu. Entah mengapa ia merasa bahwa panggilan itu adalah hal wajar dan seolah pernah diucapkan oleh seseorang yang dekat dengannya… Guido memandang Ruvia, ada suatu perasaan yang mengatakan bahwa gadis yang baru saja ia temui hari ini merupakan sesuatu yang ia rindukan dan tak ingin kehilangan.
“Namamu itu berarti penuntun, kan? 'Ido' atau 'Io' berarti yang dekat pada bahaya, namun juga berbahaya.” Guido terdiam, berbahaya? Dia? Ruvia perlahan tersenyum, “Tapi, untuk menjadi penuntun yang baik, kamu harus mampu melindungi yang dipimpin bukan? Meski, yang dipimpin itu menjadi takut padamu, tetap tugasmu untuk melindunginya.”
Guido terdiam, ia tertawa canggung, kemudian berujar, “Kau aneh, bagaimana bisa kau begitu berlebihan tentang masa depan yang bahkan tak kau ketahui.”
Ruvia tersenyum tipis, nyaris datar seolah mengatakan 'bukankah jawabannya sudah jelas'. “Karena masa itulah yang pernah kutinggali sampai aku muak dengannya.” Gadis itu sedikit membungkuk, tanda hormat, kemudian pamit dan pergi meninggalkan Guido yang terbengong karena pernyataan Ruvia tadi.
__________
“Kupikir temanmu itu sedikit 'berbeda', Nae… apa yang terjadi dengannya?” tanya Guido dengan ragu pada Coronae ketika ia berada di rumah kaca, hanya bersama Coronae.
Coronae mengerjapkan matanya beberapa kali seolah tak menyangka akan hadirnya pertanyaan itu. Ia kemudian menyesap tehnya, tampak mengabaikan pertanyaan Guido, namun di dalam, ia sedang berpikir. Apakah Ruvia dianggap 'berbeda' karena kejadian 'itu'? Gadis itu menimbang-nimbang apakah perlu ia membicarakan hal itu atau tidak.
Ia akhirnya memutuskan untuk membuka mulut, “Ketika ia berusia tiga atau empat tahun, ia pernah diracuni dan tak sadarkan diri selama berminggu-minggu. Sampai akhirnya ia terbangun, tidak ada satu orang pun yang mengungkit peristiwa tersebut. Tidak lama kemudian, Duke Marque membawa pulang Nona Feliché yang sekarang adalah istrinya, dan dua malam setelah wanita itu datang, Via mengalami demam tinggi dan tidak ada satu tabib pun yang berhasil menyembuhkannya.” Coronae menoleh ke arah pintu masuk rumah kaca seolah berjaga-jaga, “Tapi, di minggu kedua musim dingin, Via terbangun. Semua pelayan yang menanganinya secara langsung digantikan dengan yang baru, kecuali kepala pelayan dan pengasuh yang diutus Baginda Raja.”
Coronae menyesap teh dengan perlahan, kemudian menoleh dan tersenyum pada Guido. “Apa itu sudah memuaskan rasa ingin tahu yang ada?” tanyanya dengan sorot mata mengawasi.
Guido meletakkan tangannya ke bawah dagu, tampak berpikir. “Kalau itu yang terjadi, apa hubungannya dengan 'masa depan' yang ia katakan…?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.
Coronae sedikit memiringkan kepalanya, “Ia misterius dan sulit dibaca. Bahkan Ayah saja tidak bisa menerka apa yang dipikirkannya ketika mereka berbincang. Hm…” Coronae melipat kedua tangannya di depan dada dan berekspresi seolah sedang berpikir. “sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku sama sekali tidak merasakan energi sihir darinya seolah memang ia tak memiliki sihir. Pihak gereja belum mengujinya, jadi kita tidak tahu pasti.”
Coronae sedikit mencondongkan diri ke arah Guido dan berbisik, “Aku mencari informasi tentang ini dan aku menemukannya. Sama seperti kata-kata di Legenda Gadis Penyelamat. Tidak memiliki jejak sihir, nyaman dan indah, dicintai peri cahaya dan peri lainnya, dan yang akan menyelamatkan dunia sebanyak lima kali…” Mereka terdiam, “Lalu, apa maksudmu… ia adalah perwujudan dari ini?” tanya Guido sambil berbisik.
“Mungkin… aku pernah sekilas melihat peri cahaya dan peri angin yang mengelilinginya ketika ia menari. Maka, kupikir, ia bisa menggunakan sihir cahaya dan angin, tapi ia tidak memiliki jejak sihir sedikit pun, dan meski indah—baik tarian ataupun orangnya—peri tidak mungkin muncul begitu saja hanya karena hal itu. Itu sebabnya, hal paling mengena adalah legenda ini.” Coronae menjelaskan dengan alis kanannya yang sedikit mengerut, seolah tak yakin apakah hal itu benar atau salah.
Mereka terduduk tegak di kursi mereka masing-masing. Mereka diam dan membiarkan alam sekitar yang berbunyi. Mereka saling memandangi satu sama lain, lalu tersenyum tipis.
“Aku pikir, apapun itu, ia pastilah orang baik.” Guido sambil tersenyum lebar mengatakan hal itu. Coronae pun mengangguk dan membalas, “Benar, ia adalah seorang teman yang berharga. Apapun yang akan ia lakukan, aku akan mendukungnya.”
“Omong-omong, kita sedaritadi hanya membicarakan gadis itu. Bagaimana kalau kita juga membicarakan tentang diri kita masing-masing.” Guido mengambil duduk pimpinan dan menuntun Coronae dalam pembicaraannya. Coronae tersenyum kecil dan membalas, “Tentu.”
__________
Aku hanya bisa mengatakan bahwa yang paling indah adalah kebersamaan. Aku mengharapkan suatu kebersamaan yang tak pernah berakhir, meski maut memisahkan sekali pun. Masih ada dalam hati semua kebersamaan itu. Saat kalian pergi nanti, akan ada yang menangis, merindukan keberadaan kalian ketika sedang berbincang, sesekali tersenyum mengingat kekonyolan kalian, dan pada akhirnya, mungkin ada yang menyesal tak berterusterang pada kalian.
Semua dari kita berhak untuk tersenyum, tertawa, dan menangis. Bila kalian merasa kalian tak pantas untuk itu semua, ingatlah bahwa meski seluruh dunia membencimu, akan ada satu yang selalu tersenyum dan mengulurkan tangannya padamu. Kalian tak sendiri, meski kalian bisa berdiri di kaki sendiri dan bisa sendiri tanpa bantuan yang lain, kalian masih butuh seseorang. Entah itu hanya untuk berbicara dan bersenda gurau, ataupun menjadi bahu untuk kalian bersandar.
Aku tak tahu apakah ada yang menungguku di luar sana untuk menampilkan semuanya. Entah dengan kata-kata indah untuk menyenangkan kalian, ataupun kata-kata untuk menasehati tanpa maksud menggurui. Aku juga tak tahu apakah ketika kalian membaca ini kalian sedang menunggu seseorang atau hanya sendiri, berharap menemukan apa yang mampu melenyapkan rasa sepi kalian. Yang kutahu, menunggu ataupun ditunggu, itu adalah sebuah kata bermakna janji dan tekad.
Jangan khianati janjimu, maka tekad akan sebuah ikatan takkan sirna. Sekali saja melanggar ini, sebuah gelar 'tercela' akan tertanam di depan biji matamu. Hanya sebuah peringatan… karena aku tak ingin kamu yang selanjutnya 'kena'…
Sebuah lembaran foto bergambar seorang pria berkacamata tergeletak di atas ranjang berlapis kain berwarna putih gading, di dalam ruang tidur besar dan kosong. Tiada jejak dari pemiliknya selama beberapa waktu, seolah ruangan itu tak tersentuh sedetikpun. Masih ada selimut di atas karpet berbulu di depan ranjang, tak terlipat dan dibiarkan begitu saja. Masih ada laptop yang diletakkan di atas ranjang, di sebelah foto tersebut.
Di belakang foto tersebut, tertulis kata-kata bertinta biru. 'Kau hidup, namun tak hidup. Apa kau ingin hidup seperti itu, Kakak? Hanya menunggu detik 'waktu' untuk berhenti itu bukan gayamu, Kak.'