
“Katakanlah sesuatu…”
“Apa?”
“Kumohon, katakanlah sesuatu…”
“Siapa?”
Suara-suara itu seolah terbisik ke dalam pikiran Ruvia. Di sana Ruvia berdiri dengan tampang bingung dimana lingkungan sekitarnya hanya kegelapan yang kosong. Pakaiannya berupa gaun tidur yang biasa ia pakai setelah menjadi Ratu Pertama, mengapa? Ia mengenal, tapi juga merasa asing dengan suara ini.
Cermin muncul di hadapannya, memantulkan rupanya yang berambut pirang keperakan dan mata sewarna berlian. Tapi, ini… ini adalah rupanya kala ia berusia tujuh belas tahun, bukan ia yang masih lima tahun. Bagaimana bisa ini terjadi?
Ruvia ingat jelas apa yang akan terjadi di tahun ia menginjak tujuh belas tahun. Ia akan menyerahkan hidupnya sebagai pedang dan perisai Putra Mahkota. Ia masih ingat betapa berdebarnya ia sebelum acara tersebut mulai, tapi ia tak tahu akan segera menyesalinya. Bukan itu saja yang diingatnya, tapi kata-kata tanpa perasaan Putra Mahkota itu yang paling membekas di ingatannya.
“Jangan sekali pun berusaha mendapatkan perasaanku. Itu akan sia-sia bahkan bila kau tukarkan nyawamu sekali pun.”
Kejam memang, tapi Ruvia yang bodoh di masa itu hanya berpikir bahwa ia akan bisa membuat Sang Putra Mahkota jatuh hati padanya. Yah, itu sebuah keinginan bodoh dan naif yang pernah dimiliki oleh Ruvia. Ia takkan menyangkal setiap detik penuh kesia-siaan yang ia habiskan selama bertahun-tahun hidupnya sebagai Ratu Pertama.
Pantulan cermin di hadapannya masih tampak seperti Ruvia menyedihkan yang ia tahu. Dengan putus asa menginginkan sedikit dari perasaan Putra Mahkota. Dirinya di balik cermin tampak menangis, kemudian mengulurkan tangannya ke cermin. “Kumohon, sedikit saja. Katakanlah sesuatu…”
Ruvia seolah tersentil dengan perasaan penuh kehancuran itu. Ia ingat, itu adalah malam sebelum kematiannya dimana Putra Mahkota mengunjunginya. Namun, anehnya, hanya memandangnya, kemudian pergi seolah tak melihat apa-apa. Ia masih ingat jelas bagaimana ia meneriakkan kata-kata menyedihkan tadi kepada Putra Mahkota yang seolah tuli dan bisu.
Ia, yang adalah penulis kisah ini, ikut menangis, ia bertekuk lutut sambil memandang ke bawah. Ia berusaha menutup mulut dan matanya, meski, ia tahu itu semua sia-sia, berusaha menyangkal bahwa ia terluka dan tersakiti oleh hal itu.
Tuk… tuk… tuk…
Ia mendengar langkah kaki yang mendekat dan berhenti tepat di hadapannya, membuatnya menengadahkan kepalanya. Bayangan orang itu tinggi, namun, Ruvia tak dapat melihat wajahnya. Yang dapat Ruvia sadari adalah orang tersebut yang mengulurkan tangannya dan menggendong tubuhnya, kemudian berkata, “Tenanglah, aku di sini. Kau tak perlu khawatir, aku di sini.”
Ruvia refleks memegang bahu orang tersebut, namun, anehnya, tindakan itu seperti sebuah hal yang wajar… seolah-olah ia memang pernah melakukannya terhadap orang ini. Air matanya mengalir, menuruni pipinya. Namun, bibirnya terkatup, tanpa isak tangis sedikit pun kala mendapati senyum tipis dari orang yang setengah menggendongnya ini, membuat ia tampak dipeluk dengan posisi duduk di lengan orang ini.
“Siapa?” ujarnya pelan, namun, tak dibalas.
Percaya atau tidak, kegelapan tadi berubah seluruhnya menjadi padang bunga yang indah. Orang yang menggendongnya itu perlahan menurunkannya dan kini ia merasakan lembutnya rerumputan di bawah kakinya. Semua ini tampak nyata, sangat nyata. Ia menoleh untuk memandang orang tersebut lagi dan ia menyadari, meski ia bisa melihat wajahnya, ia tak bisa melihat mata orang tersebut. Entah itu karena sebagian wajahnya tertutupi tudung jubahnya atau sebab lain.
Orang tersebut tersenyum dan berkata, “Jangan memandangku seperti itu, Via.” Ia tertawa kecil dan hal itu anehnya membuat jantung Ruvia berdebar.
Tanpa sadar, mulutnya berucap, “Jangan tinggalkan aku…” sambil mengulurkan tangan kanannya ke wajah orang tersebut. Orang tersebut memegang tangan Ruvia yang menyentuh wajahnya lembut dan membalas, “Tenanglah, aku di sini. Aku akan tetap di sini. Sekarang tidurlah, aku di sini, kau akan aman.”
Entah mengapa, hanya dengan kata-kata itu, hati Ruvia menjadi lega dan tenang. Matanya perlahan menutup dan kini ia tak kesulitan bernapas. Ia terlelap dengan tenang dan merasa aman dalam pelukan orang tersebut.
“… menjadi… yang terakhir… Al…”
Ia membuka mata, mendapati langit-langit kamarnya yang tak asing lagi. Ia bangun dan duduk di atas ranjang, kemudian memandangi sekitarnya seolah memastikan. Oh, hanya mimpi. Tapi… siapa dia?
Tok… tok… tok…
“Nona? Apa Anda telah bangun?” Itu suara Alen yang entah bagaimana membuatnya sungguh tersadar bahwa ia sudah tak lagi bermimpi.
“Masuklah.” Alen masuk, diikuti Gio di belakangnya. Mereka tampak sedikit berbeda hari ini, cara mereka menata rambut mereka tampak sedikit berbeda dari biasanya.
Biasanya, mereka akan menggulung naik seluruh rambut mereka. Tapi, kini mereka malah setengah mengepangnya dan membiarkan sisa rambut tergerai dengan gelombang yang jelas sudah diperindah dengan maksud tertentu. Bukan itu saja, bahkan mereka yang biasanya mengenakan pakaian berwarna cerah, kini malah mengenakan pekaian berwarna gelap dan tenang serta mengumbar aura kedewasaan.
“Ke mana kalian akan pergi setelah ini?” tanya Ruvia yang jelas menyadari perubahan penampilan mereka.
Alen dan Gio merasa terciduk dan segera menjawab dengan panik, “A-apa kami tidak diizinkan, Nona?” Ruvia mengernyitkan alis kanannya seolah paham. “Tidak, tidak. Kalian kuizinkan. Aku hanya ingin bertanya, ke mana kalian akan pergi?” ujarnya mengulang pertanyaannya sambil tersenyum.
“Kami akan pergi ke Festival Bulan, Nona. Apa Nona juga ada keperluan di luar?” balas Gio sambil membantu Ruvia turun dari ranjang.
Ruvia tahu apa itu Festival Bulan, Liz yang menceritakannya. Festival Bulan adalah perayaan khusus yang diselenggarakan selama tiga hari penuh seminggu sebelum musim dingin dipastikan berganti. Bisa dikatakan, perayaan ini merupakan bentuk ucapan sampai jumpa atau selamat tinggal terhadap musim dingin dan penyambutan terhadap musim semi.
Ruvia tampak berpikir sebentar sambil membiarkan Alen dan Gio memandikannya, memakaikan gaun untuknya, dan menyisir rambutnya.
“Apa Kakak akan ada di sana?” tanyanya setelah segala persiapan telah selesai.
Alen tampak berpandangan dengan Gio seolah mengirimkan kode-kode rahasia lewat mata. Mereka membungkuk seolah merasa bersalah, kemudian berkata, “Maaf, Nona. Kami tidak tahu akan hal itu.”
“Tak apa, bangunlah. Nikmati festival-nya, Alen, Gio.” Ruvia tersenyum dan mempersilakan mereka keluar. Alen dan Gio tampak sangat senang. Mereka membungkuk hormat sebentar dan pamit sebelum keluar dari kamar Ruvia serta keluar dari kediaman Duke Marque itu.
Dari dalam kamarnya, Ruvia memandang Alen dan Gio yang keluar ke halaman dengan mantel mereka. Tangannya ia dekatkan dan sentuhkan ke permukaan kaca jendela yang membatasinya dengan dunia luar. Ia ingin keluar, tapi, terkadang ia terlalu takut semuanya takkan berjalan sesuai rencananya.
“Apa mereka akan datang?” tanyanya terlebih kepada dirinya sendiri.
Tok… tok… tok…
“Masuklah.”
Ruvia mendapati Gerald yang kemudian membungkuk hormat padanya sebelum berkata, “Nona, kedua Tuan Muda telah datang.” Ruvia tampak terbengong, ia tak menyangka apa yang baru saja ia inginkan langsung terkabul.
“Tunjukkan jalannya, Gerald.”
“Baik, Nona.” Gerald menawarkan tangannya yang langsung disambut oleh Ruvia. Ia dituntun menuju ruang tengah atau ruang perapian utama. Di sana, Ruvia mendapati dua anak lelaki berusia sepuluh tahunan dengan rambut merah menyala, salah satunya dengan mata sewarna emas dan lainnya dengan mata sewarna lautan.
Salah satu dari mereka menyadari kehadiran Ruvia, kemudian berdiri dan berlari ke arah Ruvia. “Apa kabar, Ru? Kakak sungguh rindu padamu!” sahutnya sambil menggendong naik tubuh Ruvia. Ruvia refleks langsung memegang bahu kakaknya itu sambil tersenyum tipis, “Sungguh? Ru juga, Kak Leon.”
Kakaknya itu menggendong dan membawanya ke atas sofa. Ia mendudukkan Ruvia di sebelah kembarannya yang langsung menyapanya.
Ia tersenyum dan berujar, “Halo, Ru. Sudah lama tak jumpa, kamu semakin manis dan cantik saja.”
Ruvia berpikir pantas saja kakaknya itu diperebutkan banyak gadis. Rupanya, seperti ini kata-katanya pada gadis.
“Ah, Kak Theo bisa saja.”
Yang menyapanya tadi adalah Theodoricus Franz le Feliché. Anak lelaki dengan mata sebiru laut yang mampu membuat siapa pun yang menatapnya, ikut tenggelam ke dalamnya. Ia mahir dalam berpedang dan akademis. Bahkan ia juga merupakan salah satu murid dari Akademik Khusus Pendidikan Sihir yang masuk dengan jalur undangan. Ia mampu menggunakan sihir elemen air dan penyembuhan atau yang biasa disebut healer.
Sebagai info saja, jalur undangan merupakan jalur masuk paling bergengsi yang sulit didapatkan. Biasanya, kemampuan sihir seseorang harus melampaui batas kemampuan normal [22] dengan penguasaan lebih dari satu sihir elemen barulah berpotensi mendapat undangan. Omong-omong, tak peduli status sosial setinggi apapun, bila tak memenuhi syarat, maka, takkan mendapat undangan ini.
Sama halnya dengan kembarannya, Leonidas Franz je Feliché. Anak lelaki dengan mata sewarna emas dan kepribadian ceria yang mampu mencairkan suasana di manapun ia berada. Ia mahir dalam akademis dan musik, anehnya, ia sangat suka berburu. Ia juga masuk Akademik Khusus Pendidikan Sihir melalui jalur undangan. Ia mampu menggunakan sihir elemen api, petir, dan pendukung. Bisa dibilang, pendukung merupakan pecahan dari healer dengan kemampuan bertarung, namun, juga turut menyembuhkan cedera rekan.
“Jadi, Ru, apa yang kamu pikirkan sampai terdiam seperti itu? Aku tahu aku ini tampan.” Kumohon, Kak Leon… hentikan sikap narsismu itu.
Ruvia tertawa kecil, “Tentu, tentu. Kak Leon dan Kak Theo jelas lelaki yang tampan sampai membuat para gadis histeris hanya dengan melihat ujung jubah Kak Leon dan Kak Theo.” Ruvia tak melebih-lebihkannya karena itulah kenyataannya. Para gadis sungguh akan histeris hanya dengan pemandangan ujung jubah atau ujung rambut kedua kakaknya itu.
Kedua kakaknya hanya tertawa karena merasa kata-kata dari adik mereka yang satu itu terlalu berlebihan. “Baiklah, baiklah. Kami ingin mengajak Ru ke Festival Bulan. Apa Ru mau?” tanya Leon sambil menekan-nekan lembut tangan Ruvia.
“Acchoo!” Dewa di dunia sana malah bersin.
“Jadi, bagaimana, Ru?” tanya Theo menggantikan Leon yang sudah terlalu asyik dengan tangan Ruvia.
“Em, bila Kakak tidak keberatan, Ru ingin ikut.”
“Tentu! Ayo!” Leon langsung berseru senang dan menggendong Ruvia keluar dari ruang tengah.
“Leon, kau melupakan mantelmu.” Ucapan Theo membuatnya kembali ke ruangan itu untuk mengambil mantelnya dan mengenakannya. Sedangkan Ruvia sudah dikenakan mantel oleh Liz dan menunggu di dekat pintu utama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mereka bertiga, Theo, Leon, dan Ruvia, serta Gerald, pergi ke Festival Bulan menggunakan kereta kuda. Ruang dalam kereta kuda cukup luas dengan sofa hangat yang berhadapan. Mereka sampai ke pusat kota atau tempat festival itu diselenggarakan dalam waktu yang cukup singkat.
Ruvia lagi-lagi digendong oleh Leon yang tak membiarkannya untuk turun dan berjalan dengan kakinya sendiri. Ya sudahlah, tak perlu memaksa. Theo pun tampak tak keberatan Ruvia digendong dan malah lebih menyarankan begitu daripada nantinya gadis itu kelelahan berjalan.
Mereka berjalan santai dari satu kios ke kios lainnya, dari kios pernak-pernik hingga kios makanan.
“Datanglah, datanglah! Belilah budak-budak baru dari Negeri Sircham [23] ini! Mari, mari!” Suara keras dari pria bertubuh gempal memancing Ruvia untuk menoleh ke arahnya.
Bukan hanya pria itu bertubuh gempal, ia juga bertampang licik dan menjijikan. Apalagi cambuk di tangannya yang tak segan-segan dipecut kala 'barang jualan'-nya tak patuh. Satu yang menarik perhatian Ruvia, seorang anak lelaki berambut hitam panjang yang sampai menutupi sebagian wajahnya yang tampak seusia dengan kedua kakaknya dengan tubuh penuh luka dan duduk berlutut di dekat tenda.
Ruvia menarik pelan sudut kerah Leon, “Ada apa, Ru? Apa ada yang Ru inginkan?” Ruvia pun menunjuk ke arah 'pasar' budak itu sebagai jawaban atas pertanyaan Leon.
“Apa kamu yakin, Ru? Itu bukan tempat yang elok untuk dipandang mata,” ujar Theo yang ikut melihat arah yang ditunjuk Ruvia. Gadis itu mengangguk tanpa ragu dan mereka berjalan mendekati 'pasar' budak itu.
“Tidak ada cambukan.” Ucapan Theo itu pelan, namun, tegas, jelas dapat terdengar oleh sang penjual dan orang di sekitar.
“Silakan, silakan, Tuan Muda. Pilihlah budak yang kau inginkan.” Itu ucapan sang penjual, Ruvia jelas berusaha untuk tak protes akan suaranya yang keras dan sangat bising di telinga Ruvia yang pecinta ketenangan.
Theo mengambil Ruvia dari gendongan Leon agar Ruvia dapat melihat lebih dekat dan dapat memilih langsung dengan baik. “Pilihlah, Ru.” Ruvia langsung menunjuk anak lelaki berambut hitam yang tadi dilihatnya. “Aku ingin dia.”
“Tidak, tidak! Jangan kakakku!” Seorang anak lelaki berambut hitam lainnya keluar dari tenda dan berlari ke arah mereka dengan cepat.
“Dasar sialan!” Cambuk di tangan penjual budak dipecut dan suara pecutan cambuk itu membuat tubuh Ruvia gemetar. Meski, ia tahu bukan ia yang dipecut, tapi tetap saja hal itu membuatnya tanpa sadar merinding ketakutan.
Baru saja sang penjual akan mencambuk lagi, Gerald langsung menahan dan menarik cambuk itu, kemudian langsung melemparkannya ke tanah dan berkata dengan suara rendah, “Bukankah Tuan Muda berkata 'tidak ada cambukan'?”
Meski, Gerald hanya kepala pelayan berusia paruh baya, tak bisa dipungkiri bahwa ia masih saja bisa mengintimidasi orang dengan suara dan tatapannya. Terbukti dari sang penjual yang merinding ketakutan seraya memohon maaf.
“Tak apa, Ru. Lupakan saja yang tadi.” Theo mengusap punggung Ruvia untuk menenangkannya. Ruvia sesungguhnya hanya terkejut, tapi ya sudahlah, lupakan saja hal itu.
Ruvia melihat anak lelaki yang tadi dicambuk merangkak cepat ke sisi anak lelaki berambut hitam yang tadi dipilihnya. Ia bisa melihat bagaimana mereka tak bisa dipisahkan dan betapa hancurnya mereka bila itu terjadi. Apalagi, keadaan mereka saat ini sangat mengibakan. Dengan luka dan memar di seluruh tubuh yang terbalut dalam kain kasar yang bahkan tak layak lagi dikenakan.
“Mereka saja,” bisik Ruvia kepada Theo sambil memeluk lehernya. Theo jelas mendengarnya, “Kami akan beli mereka. Saya yakin pendengaran Anda masih cukup baik untuk mendengar kata-kata saya tadi.” Ucapan Theo membuat penjual itu merinding, apalagi bukan hanya Gerald yang memandangnya tajam, tapi juga Leon dan Theo.
“Te-tentu saja, Tuan Muda.” Penjual itu memberikan surat perjanjian budak. Gerald menandatangani surat itu atas nama Ruvia dan lagi-lagi melayangkan tatapan tajam kepada penjual menjijikan itu.
Kini dua anak lelaki itu berjalan bersama mereka. Ruvia jelas kasihan karena mereka berjalan tanpa alas kaki dengan pakaian yang bahkan tak mampu menutupi tiga per empat bagian dari tubuh mereka dari dinginnya udara.
“Gerald, kembalilah bersama mereka terlebih dahulu.” Seolah paham maksud Nona-nya, Gerald membungkuk hormat, “Baik, Nona.” kemudian menuntun dua orang baru tersebut ke kereta kuda.
Ruvia memandang langit yang mulai mengumbar semburat merahnya. “Yah, aku rasa aku akan tidur tenang malam ini.”
“Ya, tentu, Ru.”
Mereka berkeliling sebentar dan membeli beberapa perhiasan kecil serta beberapa roti manis kukus. Gerald kembali dan menjemput mereka tak lama setelah mereka selesai berbelanja. Ruvia duduk di pangkuan Theo sambil menikmati roti manis kukusnya.
Mereka tiba di kediaman Duke Marque dan langsung disambut oleh Liz dan beberapa pelayan.
“Nona, bagaimana festival-nya?” tanya Liz sambil membuka mantel Ruvia dan menuntunnya ke ruang tidurnya. “Menyenangkan!”
Theo dan Leon hanya tersenyum mendengar suara antusias adik mereka, kemudian melepaskan mantel mereka dan membiarkan pelayan melepaskan jubah dalam. Lalu, mereka pergi ke ruang tidur mereka sambil berbincang singkat.
Ia disuguhi teh hangat dan kue kering di ruangan yang hangat itu. Ruvia menyesap sedikit teh itu untuk menghangatkan tubuhnya, kemudian seolah tersadar, ia berujar, “Liz, di mana dua kakak yang datang bersama Gerald tadi?”
“Oh, mereka sedang berada di ruang pemulihan. Saya pikir mereka sedang diobati setelah membersihkan diri dan makan kudapan ringan tadi. Saya akan memanggil mereka bila mereka telah selesai diobati.” Liz kembali menuntun Ruvia ke kamar mandi yang luas di sisi kanan ruang tersebut.
Ruvia sudah terbiasa dengan kemewahan yang ditawarkan dari status yang dimilikinya. Tapi, dibanding itu, ia malah penasaran dengan dua anak lelaki dari 'pasar' budak itu. Sambil membiarkan Liz memandikannya sampai mengenakan gaun tidur padanya, ia berusaha mengingat siapa dua anak itu.
Ah! Geo dan Neo! Ia ingat, dua bersaudara yang memiliki kemampuan sihir gelap yang mampu menghancurkan satu kerajaan besar dalam satu jentikan jari. Seingatnya, Ruvia tak pernah bertemu dengan mereka dan sesungguhnya, setelah diingat-ingat, yang membeli mereka nantinya adalah Lidia Kart loch Gisha yang merupakan rekan Ruvia. Aha, ya, setidaknya, ia menghilangkan satu kesempatan untuk memusnahkan kerajaan.
“Nona, mereka telah tiba.” Ucapan Liz menariknya keluar dari pikirannya yang penuh dengan informasi.
Ia menunggu kedua orang itu untuk berhadapan dengannya dan mempersilakan mereka untuk duduk. “Jadi, siapa nama kalian?” tanya Ruvia memulai pembicaraan.
Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab, bahkan keduanya menunduk dan menatap kaki mereka. “Apa kalian tidak memiliki nama?” tanya Ruvia sekali lagi. Tetap tak ada jawaban, namun, jelas Ruvia menyadari adanya sentakan seolah mereka terkejut ketika ia bertanya tadi.
Rambut mereka yang panjang tampak seperti tirai hitam yang halus. Ruvia juga menyadari bahwa kulit mereka berwarna sangat pucat seolah tak ada darah sama sekali dalam tubuh mereka. Luka dan memar pada tubuh mereka tampaknya sudah lenyap setelah pengobatan, tapi, yang Ruvia dan semua 'manusia' pasti tahu, mereka yang mengalami 'perlakuan' tak manusiawi, pasti akan menderita luka mental yang entah kapan bisa sembuh.
“Baiklah, mulai hari ini, kamu adalah George dan kamu adalah Juaneo. Mohon kerjasamanya, Geo, Neo!” ujar Ruvia sambil tersenyum.
Dua anak itu menengadah seolah mendapatkan keberanian mereka kembali. Ruvia kini menyadari bahwa yang ia panggil 'Geo' memiliki mata semerah darah dan yang ia panggil 'Neo' memiliki mata ungu gelap.
“Apa tak apa?” ujar Geo sambil memandangnya dengan ragu. Ruvia menyukai nada suaranya yang pelan dan meski terdengar ragu, tetap jelas setiap katanya. Ruvia paham, maksud perkataannya tadi karena yang 'dianggap' bukan 'manusia' dianggap tak layak mendapat nama.
Ruvia mengangguk seolah melenyapkan pemikiran semacam itu, “Tentu, kalian adalah manusia dan akan tetap diperlakukan sebagai manusia. Itu hukumnya, bukan? Bila kalian memiliki nama, aku pastikan kalian akan diperlakukan sebagai manusia, bukan budak, bukan hewan.”
“Nona, makan malam telah siap. Kedua Tuan Muda telah menunggu Anda di meja makan.” Liz menyela, kemudian mendekat ke arah Ruvia.
Ruvia mengangguk, “Ikutlah makan malam bersama kami…” ajaknya. Geo dan Neo saling berpandangan seolah ragu dan bermaksud menolak, namun, Ruvia beraksi lebih cepat dengan menarik kedua tangan mereka untuk ikut bersamanya.
Dan begitulah, makan malam selesai. Geo dan Neo yang awalnya tak terbiasa dan merasa sangat canggung mulai terbiasa. Kedua kakak Ruvia, Theo dan Leon, juga memperlakukan mereka sebagai manusia. Dan sadar atau tidak, sejak malam itu, tidak, sejak detik mereka dibeli, mereka sudah menyerahkan jiwa dan raga mereka pada Ruvia, yang menarik mereka keluar dari penyiksaan yang tak manusiawi.
Ruvia tak sadar bila pemujanya bertambah lagi. Kini, dua orang itu akan menjadi anggota dalam pasukan yang akan melindungi gadis kecil itu. Mereka akan berada di sisinya, apapun yang terjadi.
__________
[22] Batas Kemampuan Normal adalah batas kemampuan seseorang dalam usia tertentu dalam menguasai sihir. Biasanya, batasan ini diurutkan per sepuluh tahun. Jadi, 4-14 tahun dengan batas 660/840. 15-25 tahun dengan batas 850/1080. Untuk usia di atas 25 tahun, biasanya, akan diukur khusus oleh pihak gereja atau Menara Pendidikan Sihir. Bila melebihi batas normal yang ditentukan, berpotensi untun diangkat sebagai pekerja sihir di bawah pengaruh kerajaan atau bebas.
[23] Negeri Sircham merupakan negeri atau negara dengan angka perdagangan manusia yang tinggi. Meski, yang diperdagangkan tak bisa dikatakan seratus persen manusia atau disebut juga mi-biest karena terdapat darah campuran dengan bangsa lain seperti peri, elf, drag, atau pun beast-man. Selain itu, negeri ini terkenal sebagai negeri dengan orang-orang berbakat dalam hal memanah, berpedang, berburu, menari, bernyanyi, bahkan pandai besi yang paling berbakat pun berasal dari sana.