
Hei, hei! Tunggu dulu! Ada apa ini?! Anak lelaki yang tadinya beraksi layaknya iblis yang haus darah kini malah terbaring di tanah, tak berdaya bahkan tampak kesulitan hanya untuk menarik napas.
“Tuan?”
“Ugh… jangan… kau kasihani aku!” sahut anak lelaki itu sambil bersusah payah untuk berdiri. Tapi, gagal. Untung saja Ruvia langsung menopangnya.
“Saya tidak mengasihani Anda, Tuan. Saya hanya ingin menopang Anda.” Ruvia membaringkan tubuh anak itu ke atas rerumputan dan memangku kepala anak itu. Anak itu tampak semakin tenang dan berangsur-angsur dapat bernapas dengan normal. Wajahnya merona dengan kedua lengannya yang tampak berusaha menutupi wajahnya.
Ruvia terpaku, Oh, bisa juga merona. Ia tertawa kecil, “Apa kondisi Tuan telah membaik?” tanyanya sambil memandang anak itu.
“Y-ya. Saya sudah membaik. Terimakasih.” Ruvia tersenyum membalas ucapan itu. “Tentu, Tuan. Sebuah kehormatan bagi saya.” Anak itu memandang Ruvia lekat-lekat, mencari bila ada niat buruk atau hal berbahaya dari gadis itu, Eh? Tak ada sihir?
Ia kembali merona karena merasa melakukan hal yang tak seharusnya seperti menatap lama dan lekat seorang gadis, “O-omong-omong, kau tak tampak berbahaya, siapa namamu?” tanyanya sambil memandang ke atas, ke wajah Ruvia yang tersenyum tipis padanya.
“Saya Ruvia, Tuan. Sebuah kehormatan dapat bertemu dengan Anda.”
“Aku, Al. Jadi, Via, kuharap kau tak masalah dengan aku yang langsung berbicara informal.” Ruvia diam dan hanya mendengar apa pun yang dikatakan Al, meski, pada dasarnya, hal-hal itu hanya seputar keseharian dan pendidikan formal.
Yang Ruvia lupakan adalah fakta bahwa jalan mana pun yang ia pilih, tetap saja ia akan mati!
Bila ia memilih bersama Sang Putra Mahkota yang dijuluki 'Raja Gila', ia akan mati digantung dan dihina sepanjang kematiannya. Bila ia memilih bersama Al atau 'Duke Pembunuh Keji', ia akan mati diracuni oleh entah siapa lah itu. Intinya, tak ada pilihan bagus sama sekali!
Ruvia hanya bisa terdiam di atas ranjang setelah jam makan malam berakhir dan waktunya ia tidur. Ia memandang lurus ke depan, ke arah meja dan sofa dalam kamarnya yang diselimuti kegelapan. Entah kapan ia bisa pergi dari semua omong kosong yang ia lakukan selama 'meminjam' tubuh Ruvia ini.
“Kareen…”
Hah? Siapa yang memanggil tadi?
“Kareen…” Seseorang menyentuh pundaknya membuat ia sontak menoleh. Ah, dewa jahat itu.
Ia melihat 'tubuhnya' tampak tertidur di atas ranjang dengan posisi yang tak indah sama sekali. Mulut terbuka, kaki tertekuk ke belakang, dan tubuhnya yang terbaring di tepi ranjang, nyaris jatuh!
“Hei, hei, jahat sekali kau berkata aku ini jahat. Seorang aku!”
Gadis itu menoleh dan memandang 'si dewa' seolah berkata dengan matanya hentikan-sikap-narsis-menjijikan-itu. “Terserah, bagiku, dengan cara terlahir sebagai karakter 'iblis' dalam kisah yang kubuat itu sudah merupakan perbuatan 'jahat'. Bukan begitu, Tuan Dewa?”
Dewa mencebikkan pipinya dan melipat kedua lengannya sambil membuang muka ke arah lain dengan tampang kesal. Dewa itu memiliki wujud tubuh anak lelaki berusia sekitar delapan tahun dengan rambut perak dan mata biru laut. Pakaiannya terdiri atas kemeja berlengan panjang berwarna biru muda dan berkerah, sweater rajut putih, dan celana pendek berwarna putih gading.
Imut…
Gadis itu tertawa kecil, “Jadi, Dewa, aku yakin aku takkan diseret ke 'alam ini' tanpa alasan. Apa yang diinginkan oleh dewa sepertimu?” ujarnya sambil menatap tajam dewa tersebut.
Dewa itu kembali menoleh pada Kareen, “A-eh, ya. Aku hanya ingin bilang untuk bertahan hidup di sana.” Perkataan itu langsung dibalas dengan pandangan kau-serius dari Kareen dengan tampang kesal. “A-em, aku belum selesai! Aku akan memberi 2 hal untuk membantumu.”
Owh? Ini tampak menarik…
“Jadi, pada dasarnya, tokoh Ruvia yang kau 'buat' ini memiliki sihir yang sangat kuat.” Dewa memandang ke arah Kareen seolah memastikan gadis itu mendengarkan. “Sayangnya, sihir ini akan memakan 'jiwa' dari pemakainya setiap kali pemakaian. Sihir ini dinamakan 'Cahaya Kelam'… kalau kau tahu sihir 'Gelap', mereka memiliki konsep penggunaan yang sama. Menghancurkan lawan atau benda dalam jarak tertentu dengan kekuatan yang besar sekaligus, meski begitu, masih bisa digunakan dalam sihir 'Pemulihan' dengan efek yang dapat menghidupkan yang 'mati'.”
Kareen jelas dibuat terkagum, bagaimana bisa ia yang membuat kisah itu tak tahu akan hal itu, tapi malah si dewa ini yang tahu lebih banyak tentang karakter dalam kisah ini. Tapi, selain itu, meski ia tahu adanya sihir melegenda seperti 'Cahaya Kelam' dalam kisahnya, ia tak benar-benar menciptakan keberadaannya. 'Legenda Gadis Penyelamat', hanya sebuah legenda tentang seorang gadis yang menyerahkan keseluruhan jiwanya untuk menyelamatkan umat manusia.
“Aku yakin kau tahu pasti tentang 'Legenda Gadis Penyelamat' itu. Legenda itulah yang memuat keberadaan dari jenis sihir ini, tapi, karena kelangkaan dan tingkat berbahaya yang diakibatkannya, ada atau tidaknya sihir ini dijadikan rahasia oleh pihak gereja dan menara sihir. Perbedaannya dengan sihir 'Gelap' adalah pemakainya hanya bisa menggunakannya sebanyak lima kali dengan bayaran jiwa pemakainya akan terluka atau lenyap…”
Ho… lenyap, ya. Dengan kata lain, ia akan mati bila menggunakan sihirnya.
Ruvia mengangkat tangan layaknya yang dilakukan seorang murid ketika ingin bertanya. “Singkatnya, aku akan mati demi negara yang tak menginginkanku dan bahkan nyaris membunuhku?”
Ya, hanya karena uang, mereka, para manusia serakah, tega meracuni anak yang bahkan belum benar-benar menginjak usia tiga tahun. Ia tahu jelas apa yang dimaksudkan dewa itu, tapi… Ah, ya sudahlah. Lagipula, mereka sudah jelas akan menerima apa yang setimpal dengan perbuatan mereka. Haruskah aku benar-benar melepaskan mereka?
Melihat dewa hanya tersenyum, Kareen tak bisa tak membalas dengan senyum tipisnya karena meski dewa ini memakai wujud anak kecil, dewa itu masihlah dewa yang setidaknya mampu menghapus peradaban kalau ia mau. Bukannya takut, Kareen hanya merasa sedikit senang karena orang kuat ada di sisinya dan bahkan mengingatkannya bahwa masih ada yang cemas akan dirinya.
Well, thanks, my Lord.
Dewa tampak sedikit merona dan terkejut mendengar apa yang dibatinkan Kareen. Ia bahkan menggaruk-garuk kepalanya meski tak gatal. Kau juga, aku mendapat pertunjukan yang bagus karena kau ada di dalamnya.
Kareen tersenyum semakin lebar dan kali ini, senyumnya tak dibuat-buat. Kata-kata yang disampaikan ke dalam pikirannya meretakkan sedikit dari dinding tebal yang ia buat untuk membatasi dirinya dengan dunia yang selalu membuatnya terluka. Ia sungguh senang, diakui dan dihargai seperti ini lebih baik daripada sejuta koin emas putih yang disodorkan ke hadapanmu tanpa perlu bekerja sedikit pun.
“Kau tahu, kau tak sejahat itu. Aku cukup bersyukur karena terlahir kembali dan dapat bertemu denganmu.”
“Yah, kau harus kembali sekarang atau kau akan kehilangan waktu tidurmu yang berharga itu haha…” Dewa itu menyentuh pelan puncak kepala Kareen dan berujar, “Hidup itu sudah penuh sarat, jangan kau tambahkan lagi dengan syarat yang membuat dirimu sekarat. Itu pesanku.”
Fuss…
Ia terbangun dalam kamarnya. Kedua matanya memandang langit-langit kamarnya, kemudian menoleh ke arah jendela yang tertutup tirai. Dapat terlihat cahaya temaram… eh?
Cahaya temaram itu perlahan menjadi sangat menyilaukan mata, kemudian menghantam jendela menuju ke dirinya. Terdengar suara kaca yang pecah, bahkan salah satu pecahan itu melukai tangan Ruvia yang berusaha melindungi wajahnya. Darah mengalir dari luka yang entah bagaimana dalam, membuat gadis kecil itu tersadar bahwa… ia mungkin dalam bahaya!
Cahaya yang terang itu lenyap, hanya ruangan gelap seperti sebelumnya, hanya saja sekarang cahaya serta angin malam dari luar bebas masuk lewat lubang besar yang dibuat oleh siapapun atau apapun yang menghantamnya. Tapi, ia tak lagi sendiri seperti tadi. Kini, di depan matanya, berdiri seorang pria tinggi dengan mata yang ditutup oleh kain hitam.
Pria itu menyentuh pipi Ruvia dengan tangannya yang terasa dingin dan kasar. Kulit pucatnya membuat Ruvia sekilas berpikir bahwa pria di hadapannya dapat pingsan kapan saja. Bekas luka besar memanjang dari leher sampai bagian perut pria itu yang tak tertutup kain dapat terlihat jelas olehnya, tanpa sadar ia merasa sakit sendiri melihatnya.
Ruvia tanpa sadar mengulurkan tangannya dan menyentuh bekas luka tersebut. “Ini… apa masih sakit? Apa kau kesakitan?” tanya Ruvia dengan mata yang sewaktu-waktu dapat meneteskan air mata. Pria tersebut diam, kemudian memegang tangan Ruvia sambil sedikit menunduk dan mencium punggung tangan gadis kecil itu. “Anda sungguh baik, saya paham mengapa saya diminta untuk menunggu ketibaan Anda.”
Pria itu berlutut, sambil memegang kedua tangan Ruvia, ia mengucapkan kata-kata yang seolah langsung terukir di udara dengan cahaya berwarna emas. Ruvia dapat membaca dengan jelas kata-kata dari huruf Agnisia itu.
'Seribu permohonan kepada Seribu Pohon Kehidupan. Aku yang menunggu kehadiran tuanku yang lama dalam gelap, telah menemukan cahaya hangat tuanku yang baru. Ini adalah bentuk permohonan antara aku dan tuanku. Supaya aku tak menghancurkan masa depan.'
Apa? Menghancurkan masa depan? Apa mungkin orang ini tahu tentang masa depan itu sendiri? Ruvia menatap bingung pria yang baru saja ia temui malam ini, ia tak bisa percaya bahwa pria ini tahu akan apa yang ia tahu.
'Supaya aku bersama tuanku, meski Sang Waktu membatasi dan Sang Kematian mengambilnya daripadaku. Nyawaku hanya untuk tuanku. Ini yang terakhir sebelum aku menelan hukuman kekal atas kelalaian-kelalaianku.'
Hukuman? Hukuman apa yang dimaksud? Apa yang mungkin pria seperti di hadapannya ini lalaikan? Ini semakin membingungkan Ruvia, siapa pula pria ini? Ia tak ingat pernah menuliskan tentang pria ini di bagian manapun dari kisah fiksi yang dibuatnya.
Cahaya emas seolah meledak dari mereka, kemudian membungkus mereka ke dalamnya. Ruvia melihat lukanya perlahan lenyap dan tak menyisakan bekas sedikit pun. Cahaya itu hilang, ruangan itu kembali gelap, dan ia sendiri. Pria itu tak ada ke mana pun matanya mencari.
Ia menyadari ada sebuah kalung dengan tali tipis berbahan perak berhiaskan bola kristal kecil dengan cairan berwarna bening dan sebuah pecahan kristal berwarna ungu gelap nyaris hitam di dalamnya. Ia tak tahu darimana kalung ini dan apa maksudnya semua ini. Namun, ia yakin bahwa siapapun pria tadi, ia adalah orang yang baik.
Tapi, tunggu dulu!
Mengapa kamarnya tampak seperti tak terjadi apa-apa? Bahkan jendela yang tadi pecah dan berhiaskan lubang sebesar nampan besi yang biasanya digunakan untuk membawa hidangan di rumah makan, sekarang licin, rata, dan tak tampak retak sedikit pun. Apa mungkin… apa mungkin yang tadi itu hanya mimpi?
__________
Aku akan bertanya, apakah yang menjadi pertanyaan bagi kalian ketika hidup? Maksudku, yang mungkin sampai sekarang tak kalian ketahui jawabannya. Ini murni sebuah pertanyaan, karena aku dan kalian semua pasti memiliki pertanyaan, bahkan mungkin lebih dari satu dan tak jelas jawaban apapun yang kalian dapat.
Pertanyaanku, apakah yang kita 'percaya' selama ini adalah nyata dan bukan ilusi ataupun cerita tanpa kebenaran? Aku mencari jawaban akan hal ini, namun tak ada jawaban yang benar-benar memuaskan atau menjawab pertanyaanku. Malah aku seolah didorong untuk menjawab pertanyaan yang bahkan aku tak tahu penyelesaiannya itu sendiri. Kata orang, “Aku tanya, kok kamu tanya balik…” Itu persis apa yang aku dan segelintir orang rasakan ketika melontarkan pertanyaan.
Menurut kalian, apa jawaban atas pertanyaanku? Apa yang menjadi pertanyaan kalian bila ditanya seperti ini? Maukah kalian membaginya? Atau hanya menelannya sendiri tanpa menemukan jawaban sampai kalian 'kembali'…?