
“Hah… hah… hah…”
Ia berlari… ia sudah tak tahu seberapa lama dan seberapa jauh ia berlari. Ia ketakutan, ia dikejar oleh sesuatu yang mengancamnya yang bahkan ia tak tahu apa.
“Tolong… tolong…”
Di sekitarnya gelap, ia tak tahu harus berlari ke mana. Ke mana pun ia melangkah, hanya ada kegelapan.
“Tolong…” Ia sudah ingin menangis ketika ia merasakan ada sesuatu yang berusaha menariknya dari belakang.
Ia tersandung dan terjatuh, dengan ketakutan ia menoleh ke belakang. Tak ada apa-apa…
A-apa? Tadi itu apa?
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan seolah mencari keberadaan sesuatu yang tadinya ia yakini ada. Ia tak mendapati apa-apa sejauh matanya memandang, hanya kegelapan yang ada. Ia baru saja memutuskan untuk melupakan segalanya ketika ia mendengar suara seseorang.
“Ughh… kggh…!” Ia langsung memandang ke arah suara tersebut dan… mendapati dirinya?
Bukan, bukan. Itu dirinya yang lebih muda lagi. 'Ia' yang lebih muda itu mengenakan gaun berwarna hijau terang dengan aksen pita di bagian dada. Tubuhnya terbaring telungkup dengan tangan serta tubuh yang bergetar berusaha memandang ke atas. Bibirnya yang bergetar berujar dengan lirih, “To… long…”
Matanya nyaris kosong seolah siapa pun pemiliknya akan segera tamat, saat itu juga. Ia tahu dirinya yang lebih muda itu sedang di ambang kematian, tapi ia tak tahu harus bagaimana. Ia tak bisa menyentuh tubuh kecilnya itu, meski ia berusaha sekeras apapun sampai ia menangis putus asa.
Tuk… tuk… tuk…
Telinganya menangkap suara langkah kaki tak jauh darinya. Itu… orang yang ia mimpikan sebelumnya! Bagaimana bisa orang itu ada di sini?
Orang itu masih sama, hanya saja tampak lebih muda, dengan jubah bertudung yang menutupi sebagian wajahnya sehingga menyulitkan orang lain untuk melihat rupanya. Ia berhenti tepat di hadapan 'ia' yang lebih muda, kemudian bersimpuh lutut.
Tangannya menyentuh puncak kepala 'ia' yang lebih muda yang sudah tampak sekarat, bahkan hanya untuk bernapas pun tampak sangat sulit untuknya. Tangan orang tersebut membelai lembut rambut pirang keperakannya sebelum berkata, “Ini berbahaya. Bagaimana bisa kau seceroboh ini?”
Perlahan cahaya putih yang tampak hangat dan nyaman mengelilingi, “Apa yang telah hilang, kembalilah pada tuanmu. Kutuk jangan lagi pandang rusaknya tubuh ini, kembalilah kepada pengirimmu itu dengan segera…”
Tubuh kecilnya perlahan menjadi tenang dengan kulit wajah yang tak lagi sepucat tadi. Mata 'ia' yang masih muda mengerjap dan mendapati orang bertudung itu. Mereka terdiam, sebelum akhirnya 'ia' berujar sambil tersenyum, “Terimakasih telah menyelamatkanku. Siapa namamu?”
Orang tersebut tampak tersentak dan membalas dengan pelan, “Hanya o…” ia terhenti dan tersenyum tipis, kemudian membuka tudungnya dan berkata, “Panggil saja aku Al.”
“Aku Via, salam kenal, Al! Sekali lagi, terimakasih!”
Untuk pertama kalinya, dirinya melihat senyuman yang begitu lebar dan tampak sangat ceria. Bukan hanya dirinya yang terkesima, bahkan Al yang adalah lelaki berambut pirang dan bermata ungu itu juga terkesima. Cantik… Batin mereka sambil tetap memandang 'ia' seolah tak ingin kehilangan sedetik pun gambaran malaikat kecil itu.
Tiba-tiba saja, semua hilang. Tak ada lagi 'ia' yang lebih muda, juga tak ada lagi Al, bahkan ruangan gelap itu juga lenyap bergantikan dataran keras nan gersang dengan tubuh tanpa nyawa yang saling menumpuk. Ia melihat darah di mana-mana, bunyi decingan pedang dari arah belakang membuatnya berbalik dengan cemas.
Ia mendapati pria berambut hitam yang berdiri di atas tumpukan tubuh tanpa nyawa dan menghunuskan pedangnya ke atas dada siapa pun yang sedang berteriak kesakitan ini. Seketika hening… ia hanya bisa menutup mulutnya seolah menahan suara terkejut.
Namun, pria tersebut menoleh ke arahnya. Kakinya terpaku di tempat, tak bisa berbalik dan langsung berlari dengan kecepatan kuda, dan hanya bisa memandang ngeri kala pria itu melompat turun setelah menarik pedangnya keluar dari tubuh itu. Darah terciprat ke wajahnya, ia mendekat dengan wajah dan tubuh yang bermandikan darah. Mata merahnya seperti mampu membunuhnya detik itu juga.
Pria itu berhenti di hadapannya dan memandangnya dingin, kemudian berbisik dengan suara rendah, “Ini akhir, Via. Sekarang tidurlah…”
“Al…”
Gelap menelannya, tapi sebelum itu, ia melihat senyum pilu orang itu. Dan perkataan samarnya, “Jangan bertemu… lagi denganku… Via…”
“… na… na… Nona!”
Ruvia terbangun. Tubuhnya basah oleh keringat dengan air mata yang mengalir ke pipinya. Ia melihat Geo dan Neo yang memandangnya cemas.
Ia menarik napas untuk menenangkan debaran jantungnya kacau. Apa itu tadi?
Geo dan Neo adalah pengganti sementara untuk Alen dan Gio selama mereka menikmati Festival Bulan dan liburan bersama keluarga mereka. Mereka cukup mahir dalam menyiapkan segalanya sampai memilih pakaian, aksesoris, dan model rambut. Yang jelas, mereka akan meminta Liz yang memandikan Ruvia. Yah, gadis itu pun takkan membiarkan mereka melakukannya, meski, bila mereka tak masalah sekali pun.
“Apa Nona bermimpi buruk?” ujar Geo sambil menuangkan teh ke dalam cangkir untuk Ruvia. Hari ini Ruvia tak berniat sama sekali untuk keluar dari kamarnya, bahkan ia menikmati sarapannya di kamarnya seperti saat ini.
Ruvia memandang Geo sekilas sambil menyesap teh dari cangkirnya. Geo dan Neo memiliki rambut panjang, itu yang dilihat Ruvia ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Geo memilih untuk mengikatnya, sedangkan Neo memilih untuk memotongnya sampai batas di atas leher, meski menyisakan poni yang sedikit menutupi mata kirinya.
“Apa Nona ada merasa tidak nyaman di mana pun?” tanya Neo sambil menyisir rambut Ruvia, kemudian mengikatnya longgar hanya agar tak mengganggu pandangan dan sesi sarapan Ruvia.
Lagi-lagi Ruvia hanya diam memperhatikan sambil menyesap tehnya. Tepat setelah cangkir pertamanya habis, ia berujar, “Aku bermimpi dikejar, aku tidak tahu siapa itu atau bahkan apa itu.”
Geo dan Neo hanya diam menunggu kelanjutan dari kata-katanya. “Lalu, aku bertemu 'Al'. Aku tak tahu bagaimana dan mengapa akhir-akhir ini aku memimpikan hal-hal aneh yang entah mengapa seolah sangat tak asing denganku.”
“Nona, siapa 'Al'?”
Pertanyaan Geo membuat Ruvia kebingungan, Ah, iya… siapa dia sebenarnya?
“Daripada itu, Nona…” Neo berujar sambil menyodorkan sebuah cangkir usang berwarna bening. Meski Ruvia merasa terselamatkan karena tak perlu menjawab pertanyaan Geo yang juga membingungkan dirinya, ia malah kembali dibuat bingung dengan benda yang disodorkan oleh Neo.
Sekilas cangkir ini tampak seperti cangkir berwarna bening biasa yang baru saja keluar dari gudang penuh debu. Ruvia melihat ukiran halus samar yang membentuk sesuatu di permukaan cangkir tersebut, tapi ia pun tak tahu apa itu. Lalu, cangkir ini juga anehnya mengeluarkan hawa aneh yang samar. Meski samar dan nyaris tak ada, Ruvia bisa merasakan. Rasanya seperti… kematian…!
“Apa Nona tahu apa yang tertulis di sana?” tanya Neo sambil menunjuk sudut dekat pegangan cangkir. Ruvia melenyapkan pemikirannya yang tak jelas dan tak berdasar itu, kemudian mendekatkan cangkir itu sambil memicingkan matanya agar tulisan yang dimaksud dapat dilihatnya dengan lebih jelas, tapi hasilnya… nihil.
Ia pun menoleh pada Neo dengan alis kanan yang mengernyit, “Apa yang Neo maksudkan dengan tulisan? Aku tidak melihat apa pun.” Baru saja Neo akan membalas, pintu masuk kamar Ruvia langsung terbuka lebar dengan bunyi hantaman yang teramat keras.
Dan ya, kalian bisa mendapati Leon dengan kaos berlengan panjang berwarna putih gading dan celana panjang dengan warna senada yang tampak longgar di tubuhnya. Kalung perak berliontin Batu Feuer Quarzitrina [24] yang biasanya melingkar di lehernya dan ia sembunyikan di balik kemejanya, kini dengan sangat jelas tampak.
“Ada apa, Kak Leon?” tanya Ruvia sambil sedikit memiringkan kepalanya setelah meletakkan cangkir usang tadi ke atas meja di sebelah ranjangnya. Leon berjalan mendekat dan secara alami Geo serta Neo mundur untuk memberi jalan.
Leon memegang bahu Ruvia dan menatap matanya dalam-dalam, “Tak mungkin yang Ru maksud itu adalah 'Al', Alexander Alfonsus de Jennite, si 'Seribu Taktik' itu, kan?”
Hah? Siapa?
__________
[24] Batu Feuer Quarzitrina adalah batu permata langka dengan harga yang cukup mahal. Bebatuan yang umumnya dijual oleh pedagang asing dari luar benua ini berwarna kekuningan dengan kilau dan tingkat kekerasan bagai berlian. Dan baru-baru ini, ditemukan cara mendapatkan batu permata ini selain dari benua lain, yaitu, dengan cara membiarkan Kaca Tuyo Secar menyerap campuran getah pohon tertentu dan air. Batu permata ini biasanya dijadikan aksesoris atau pun sebagai penahan mana (bisa dibilang sebagai alat yang membantu menahan sihir keluar dari tubuh di waktu tertentu).