Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
XIV—Apa Lagi?



Aku mungkin membuat kalian bingung, apakah ini nyata atau hanya bualan semata, aku pun tak tahu. Kebanyakan dari kalian—bahkan aku—akan berpikir “ah, palingan bualanmu yang lain lagi”, tapi kalian tentu tahu, tak ada yang mustahil di dunia ini. Tenanglah, aku paham perasaan itu haha… well, apakah penting untuk memiliki perasaan bila kau tahu kau harus membuang sebuah perasaan jauh-jauh suatu hari nanti?


Aku hanya tahu bahwa 'ia' membawaku untuk 'bermain' karena ia bosan sendirian selama ini. Ia memberiku apa yang kita semua sebut 'hidup', melemparkanku ribuan, bukan, jutaan alasan untuk tetap bernapas, menanamkan padaku apa yang kalian sebut 'harapan'. Sayangnya, aku tahu terlalu banyak, dan kata mendiang ayahku, “Cukup tahu apa yang perlu kau tahu. Sisanya… semakin banyak kau tahu, semakin terancam nyawamu.”


Aku menghabiskan bertahun-tahun hidupku dengan mengingat kata-kata itu. Aku belajar keras untuk mengumpulkan ilmu demi masa depan dan tak mempedulikan masalah orang sekitar. Termasuk… membiarkan Kakak bersama dengan wanita itu, meski aku tahu jelas wanita itu bukan wanita yang 'baik' di menit ketiga aku bertemu dengannya. Merelakan apa yang kukumpulkan, meski aku tahu itu akan digunakan untuk hal menjijikan dan memuakkan. Aku sudah berusaha membicarakan hal ini pada Kakak, tapi apa kalian tahu apa balasan yang kudapat?


“Urus urusanmu dan aku akan mengurus urusanku sendiri.” Itu katanya.


Oh, sudahlah, aku akan urus urusanku sendiri dan membiarkanmu membusuk dalam 'rumah cinta'-mu yang sedari awal hanyalah ilusi. Keluarnya aku dari rumah, membuat Kakak sadar akan semua ilusi bodoh dalam pikirannya, tapi ia sudah terlambat… sudah terlalu dalam ia masuk ke dalam lubang gelap itu. Siapa yang tahu kapan ia akan jatuh, kemudian mati dengan belati beracun yang menghujam seluruh tubuhnya bertubi-tubi.


Kau tak pernah tahu kapan kemalangan mendatangimu, tapi setidaknya, berusahalah untuk menghalangi kedatangan dari sebuah kemalangan! Aku paham itu semua! Tapi, mengapa?! Kakakku yang cerdas, selalu menerima pujian dari guru dan semua orang, bahkan menjadi idola-ku ketika aku masih kecil, kini sudah menjadi 'budak' cinta dari wanita 'iblis' itu!


Aku tahu ini hanya perasaan egoisku—yang berusaha melepaskan orang yang kusayangi dari yang merebutnya, aku juga yakin kalian akan menganggapku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku tahu juga bila aku memberi alasan—apapun itu, kalian pasti akan berkomentar, “Dasar egois”, “Alasan saja”, bahkan orang yang sangat kusayangi dan kucintai diam-diam juga mencela di belakangku.


“Kalau kau seperti ini, mending hidup saja di hutan. Takkan ada yang melarangmu untuk bersikap tinggi dan hanya mau menang sendiri.”


Hahaha… aku bodoh karena percaya pada orang-orang bertopeng yang hidup di dunia yang sama denganku. Aku menangis, meraung-raung, kesakitan sendiri… tak ada seorang pun yang berusaha menenangkan, menghibur, ataupun berpura-pura perhatian padaku. Aku memang benci kepalsuan, tapi, kesendirian ini terus menerus menggerogotiku seperti penyakit akut yang lama-lama menghancurkan kemanusiaanku, kemudian… hidupku.


Dunia penuh kepalsuan, teman-teman. Kalian sudah hidup di dalamnya, sama sepertiku, entah berapa lamanya… mungkin dua puluh tahun? Lima puluh tahun? Mungkin juga… kita menghabiskan seluruh umur kita dalam lingkaran hidup yang berulang dalam dunia palsu yang sama. Kalian jelas tahu, konsep ini dan faktor di awal tadi akan mengarah ke sifatku—yang mungkin juga sifat salah satu dari kalian—yang sangat pemilih dalam hal berteman dan tak mudah percaya pada orang lain. Aku tahu ini sifat dan sikap yang tak baik, meski aku beri alasan setebal buku kamus sekalipun, aku yakin… masih banyak yang mencelaku di belakang.


Kalian percaya? Atau mungkin… kalian juga salah satunya?


__________


Tadinya, Ruvia sedang memikirkan 'emosi' lamanya dari 'sosok' Kareen. Harus ia akui, bila ia lihat lagi ke belakang, Kareen atau 'dirinya' yang lama merupakan orang yang menyedihkan. Yah, baiklah, ia menghina dirinya sendiri, dan memang ini sedikit mengganggu pikirannya. Tapi, ah sudahlah… anak lelaki 'baru' ini lebih menggangu daripada pemikiran itu.


“Apa kau tahu? Ada dua hal yang membuat 'si Iblis' kewalahan. Satu, tuntutan untuk lebih dan lebih lagi. Dua, wanita.” Ia menyeringai sambil mundur selangkah.


Ruvia bertemu orang aneh ini tadi, baru saja, ketika ia sedang berjalan-jalan di pasar. Anak lelaki yang tampak seumuran dengan kedua kakaknya dengan rambut pirang dan mata biru, wajahnya pun tampak imut seperti gadis. Sepertinya, bila anak itu berkata bahwa ia seorang gadis pun pasti orang-orang percaya. Ditambah lagi, siapa 'si Iblis' yang dimaksud olehnya?


Anak lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Isaac, mengekori Ruvia sejak tadi. Geo dan Neo yang menemani Ruvia pun sudah merasa ingin sekali melenyapkan sosok Isaac yang sangat menganggu dengan mulutnya yang tak berhenti berbicara sejak dua puluh menit yang lalu. Anak itu termasuk tipe orang cerdas yang sangat ingin dilenyapkan, tahu terlalu banyak, dan tak punya setitik pun kewaspadaan diri. Ah, itu bukanlah hal yang perlu dicemaskan oleh Ruvia atau siapa pun.


“Tuan Isaac,” panggil Ruvia ketika ia tiba-tiba berhenti di dekat sebuah gang sempit yang tampak cukup aman. “Anda tidak sepatutnya mengikuti orang asing. Apa Anda sadar akan apa yang Anda lakukan saat ini?” tanya Ruvia sambil sedikit merendahkan pandangannya dengan sopan. Ah, tindakan beda dengan pikiran dan ucapan, itu pikir Ruvia sambil mengutuki dirinya sendiri.


Isaac sedikit memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung, “Tapi, aku mengikuti seorang teman, dan teman bukanlah orang asing.”


Hah? Bukan hanya Ruvia yang berwajah apa-kau-bercanda seolah terkejut dan bingung, Geo dan Neo pun berekspresi sama. Apa yang anak ini katakan tadi? Teman? Kapan mereka berteman dengan anak ini? Mereka tahu nama masing-masing untuk pertama kali saja baru dua puluh menitan yang lalu!


Geo sudah akan menyingkirkan si Isaac ini, namun, ditahan oleh Ruvia yang menggeleng pelan padanya. “Tuan Isaac, saya dan Anda baru bertemu hari ini, tepatnya dua puluh satu menit yang lalu, kemudian Anda mengikuti kami tanpa persetujuan sama sekali. Bagaimana bisa saya dan Anda adalah teman?” ujar Ruvia dengan sopan sekali lagi.


Isaac terkekeh, kemudian melangkah mendekat. Ia mendekat, Ruvia yang mundur selangkah. Ia terkekeh lagi, kemudian sedikit menundukkan kepalanya, memberi hormat. “Via, Via… bila aku menganggapmu teman, lalu, kau adalah temanku.” Isaac mengecup punggung tangan Ruvia, kemudian mengedipkan sebelah matanya seolah menggoda.


Ugh… Ruvia merasa sedikit geli, tapi ia harus tetap bersikap sopan. Anak satu ini tak bisa diberitahu! Ah, ya sudahlah.


“Then, please suit yourself, Sire.” Ruvia memberi hormat singkat, kemudian berbalik dan pergi. Isaac tak lagi mengikuti gadis itu, ia kembali terkekeh sambil sedikit menutup mulutnya dan matanya yang memandang bayangan punggung gadis itu hingga hilang di balik kerumunan orang. Menarik. Aku suka!


“Pangeran! Pangeran!”


“Hm?”


“Pangeran… huhu… saya pikir saya tak dapat bertemu lagi dengan Pangeran…” Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan berlari ke arahnya dengan wajah cemas, kemudian memeluk tubuh anak lelaki itu sambil menangis lega.


“Pangeran!” Kali ini, suara yang memanggil terdengar lebih keras, namun, agak berat. Isaac melihat empat orang pria berseragam prajurit dengan lambang Kerajaan Angg berwujud simbol angin dan air pada bagian pinggang mereka, mendekat ke arahnya dengan langkah besar dan cepat.


“Pangeran, Anda tidak diperkenankan keluar dari istana sendiri. Bagaimana bila Anda berada dalam bahaya?” ucap seorang prajurit yang bermata emas dan berambut coklat tua sambil menundukkan kepalanya, tanda hormat. Hal yang sama dilakukan oleh prajurit lainnya.


Isaac hanya memandangi mereka singkat, kemudian mengelus rambut wanita paruh baya yang masih memeluknya, “Tak apa, Bibi Ro. Aku tak terluka, aku hanya ingin melihat pasar di wilayah ini. Siapa tahu aku dapat menemukan dan membeli makanan dari Zuofeld [26] hihi…” ujar Isaac sambil tertawa kecil.


Bibi Ro menatapnya sebentar, menghapus jejak air matanya, kemudian berdiri, “Saya akan menemani Pangeran, kenalan saya menjual makanan dan pernak-pernik dari negara tersebut. Namun, sebelumnya, Anda harus menemui kakak Anda terlebih dahulu, Pangeran.”


“Oh, baiklah, aku akan bertemu dengannya, kemudian setelah itu, kita ke kedai yang Bibi Ro katakan itu. Kalau begitu, tunggu apa lagi?!” serunya dengan nada antusias sambil menarik-narik tangan Bibi Ro. Wanita itu tersenyum, kemudian menuruti perkataan tuannya yang menjadi alasan ia masih hidup sampai detik ini.


Bibi Ro sudah cukup tua, ia berusia sekitar empat puluh lima tahun, meski masih tampak rupawan, ia memilih untuk tak menikah lagi. Suaminya meninggal dalam perang, kedua putranya meninggal karena wabah penyakit, dan putri bungsunya meninggal karena menjadi korban 'salah bunuh'. Cukup menyedihkan, tak salah Bibi Ro pernah nyaris bunuh diri. Namun, kelahiran Isaac, dan ia yang ditunjuk sebagai pengasuh anak lelaki itu, mengubahnya menjadi semakin baik, dan lebih baik lagi, dengan kesehariannya mengurus Isaac.


Singkatnya, Isaac mengubah hidupnya. Tak ada lagi pikiran ingin bunuh diri, tak ada lagi pikiran ingin mati. Hanya ingin hidup dan bernapas, sampai anak lelaki yang manis itu tumbuh menjadi pria gagah dan menikah dengan wanita baik. Kemudian, bila masih bisa, ia ingin mengasuh anak dari pria gagah yang dulunya ia rawat seperti putranya sendiri.


“Bibi Ro, aku ingin yang itu, yang ini, ah, dan yang ini.” Isaac dengan senyum lebar di wajahnya menunjuk segala macam hal yang ia inginkan. Bibi Ro mengangguk dan menurutinya. Senyuman Isaac sangat berharga baginya, dan ia ingin menjaga senyum itu selama yang ia bisa.


Ruvia tak melihat semua itu, ah, kalau pun dilihat, takkan mengubah apapun. Ruvia bersama dengan Geo dan Neo sempat mampir ke kedai yang sama dengan yang dikunjungi Isaac dan Bibi Ro. Ia memandang satu per satu perhiasan yang ada, kemudian obat dan makanan yang ada.


“Permisi, Bibi. Saya kurang tahu olahan dari Timur, jadi, apa yang Bibi sarankan untuk saya beli?” tanya Ruvia sambil tersenyum pada penjual di kedai tersebut.


“Oh, Nona, kau sungguh manis dan sopan haha… saya menyarankan roti daging kukus ini dan mi pangsit ini. Saya juga menyarankan roti manis ini, roti ini dicampur dengan obat yang dapat meningkatkan stamina tubuh dan menghangatkan tubuh di musim dingin atau malam hari.” Penjual tersebut berucap sambil menunjukkan makanan yang ia sarankan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


Penjual itu sedikit terkejut, namun, kemudian ia tersenyum kembali, “Em! Serahkan padaku. Nona dan tuan-tuan muda di belakang Nona dapat duduk dulu di sini.” Ia menunjuk bangku panjang dengan warna coklat tua di tengah ruang kedai. Kemudian, ia berbalik pergi ke belakang sebuah meja besi dan menyiapkan pesanan dibantu oleh tiga orang wanita lainnya.


Ruvia duduk, namun, Geo dan Neo tetap berdiri. Hal ini memicu pertanyaan dari Ruvia, “Mengapa kalian tidak duduk? Sini,” ujarnya sambil menepuk tempat di sisi kiri dan kanannya. Geo dan Neo menatapnya singkat sebelum menjawab, “Kami hanya pelayan, tidak layak untuk duduk setara dengan Nona.” Itu kata Geo.


Ruvia sedikit menaikkan alis kanannya, “Duduklah, aku tidak pernah memperlakukan 'orang-orang'-ku seperti itu.”


“Nona, kami…” Baru saja Neo ingin membalas perkataan Ruvia, ia langsung disuguhi pandangan mata gadis itu yang tampak malas berdebat. “Apa lagi? Sudahlah, duduk saja, takkan ada yang berani mengkritik bila kalian bersamaku.” Dengan begitu, Geo duduk di sisi kiri dan Neo duduk di sisi kanan Ruvia.


Ruvia tersenyum puas, kemudian berkata, “Ini lebih baik. Dengar, jangan pernah menganggap diri kalian rendah. Karena di detik pertama kalian menganggap diri kalian rendah, maka orang lain juga akan begitu terhadap kalian.” Geo dan Neo mengangguk singkat mendengar perkataan Ruvia.


Sepuluh menit menunggu, mereka sudah disuguhi minuman berupa teh. Ruvia menyesapnya setelah Geo memeriksa apakah aman atau tidak teh tersebut. Mata Neo terpaku pada perhiasan yang dipajang di atas salah satu meja di hadapannya. Ia berdiri, kemudian mendekat untuk melihat lebih dekat. Ia menyentuh kalung dengan rantai kecil berbahan emas putih dan berhiaskan permata berwarna merah berbentuk seperti tetesan air dengan ukiran huruf-huruf yang entah dari bahasa apa di bagian tengah permata.


Ruvia menyadari ketertarikan Neo terhadap kalung itu, “Apa Neo menginginkannya?” tanyanya sambil melihat bagaimana Neo menyentuh kalung itu. Neo hanya melihat kalung itu, kemudian menghadap Ruvia dan berkata, “Tidak, Nona.”


Ruvia hanya mengangguk kecil, ia memandangi perhiasan lainnya. Matanya terpaku pada sebuah gelang yang berada di dalam kotak kaca transparan di meja yang sama. Gelang itu tampak terbuat dari rantai berbahan emas putih tipis dan berhiaskan kristal kecil berwarna kuning gelap berwujud seperti mata yang dapat kalian temukan di lukisan dinding di Mesir. Hm? Apa hanya bayanganku? Ruvia tadinya melihat bayangan mirip Anubis (Dewa Kematian, menurut kepercayaan Mesir Kuno) terpancar dari kristal itu dan seperti biasa, ketika ia melihat sosok Anubis, ia selalu akan mengatakan, “betapa kesepian mata itu”.



Pesanan mereka telah selesai dan tiba di hadapan mereka, penjualnya menawarkan orang-orangnya untuk mengantarkan makanan tersebut, namun, ditolak dengan sopan oleh Ruvia. Makanan-makanan itu disimpan oleh Geo yang bisa menggunakan sihir 'Ruang' setelah membayar tujuh koin emas putih dan dua koin perak. Cukup murah untuk makanan dari daging hewan magis tingkat tinggi dan obat-obatan dari tanaman langka.


Omong-omong, sistem penggunaan uang yang ada di sini sangat mudah dipahami. Mirip seperti penggunaan koin di abad pertengahan Eropa. 100 koin perunggu \= 1 koin perak, 50 koin perak \= 1 koin emas, 30 koin emas \= 1 koin emas putih. Bayangkan saja, seekor anakan hewan magis tingkat tinggi berusia seminggu saja dapat menghabiskan lebih dari seribu koin emas putih, hanya untuk pembelian. Belum lagi perawatan, pelatihan, dan kontrak yang ada.


Sebelum mereka pergi, Ruvia masih saja tak dapat lepas dari memandangi perhiasan-perhiasan itu. Ia juga ingat kalung yang tadinya menarik perhatian Neo, Ruvia pun bertanya pada penjual mengenai produk tersebut.


“Bibi, ini dan itu, apa dapat dibeli?” tanyanya sambil menunjuk kalung yang tadinya dilihat Neo dan gelang dalam kotak kaca. Penjual berjalan mendekat dan menjawab, “Ya, Nona. Tapi, kau tak dapat langsung membawanya pulang. Kami harus melengkapi surat pembelian benda ini. Paling lama, besok bisa kami serahkan.”


“Hm, begitu? Baiklah, Geo, pilihlah yang Geo mau.”


“E-eh? N-nona, saya tidak dapat menerimanya. Saya…”


“Tak apa, anggap saja, ini hadiah 'selamat datang' untuk Geo dan Neo.” Ruvia tersenyum manis, Geo hanya bisa menghela napas karena tak bisa menolak lebih jauh, takut bila Ruvia akan kesal atau sebagainya.


Geo mengedarkan pandangannya ke atas meja yang memajang banyak perhiasan dan pernak-pernik. Matanya tertuju pada sebuah gelang berbahan mirip giok putih dan berukiran halus huruf-huruf dari bahasa asing. Geo tampak tertarik pada gelang itu, maka Ruvia langsung meminta gelang itu untuk dibeli.


“Ah, Bibi, apa bisa juga saya meminta Bibi untuk datang ke kediaman saya dan membawa perhiasan ataupun pernak-pernik indah lainnya besok? Saya ingin meminta teman-teman saya untuk memilih sendiri.” Ruvia tersenyum, penjual tersebut balas tersenyum, “Em! Bisa, Nona! Nona hanya perlu menuliskan letak kediaman Nona dan kami akan berkunjung ke sana di keesokan hari.”


“Terimakasih, Bibi. Kalau begitu, sampai jumpa.” Ruvia melambaikan tangannya, kemudian pergi bersama Geo dan Neo kembali ke kediamannya.


__________


[26] Zuofeld adalah negara Timur yang dikenal sebagai habitat dari hewan-hewan magis tingkat tinggi dan terkenal akan para pemburunya, penyihirnya, dan makanan, obat-obatan, serta pernak-pernik yang diolah. Mulai dari makanan kukus dengan menggunakan daging hewan magis tingkat tinggi, obat-obatan dari tanaman langka yang diolah ke dalam manisan, juga perhiasan sederhana dengan bebatuan inti dari hewan-hewan magis tingkat tinggi yang diolah menjadi makanan (biasanya, dijadikan jimat untuk melindungi pemakai dari sihir yang tak diinginkan).


__________


Dunia ini penuh muslihat


Kawanmu dapat berganti jadi lawan


Kau sudah lihat


Bagaimana kau ditinggalkan oleh yang kau sebut teman


Karena itulah, supaya kau hidup


Camkan kata-kataku


Cukup tahu apa yang perlu kau tahu


Sisanya… semakin kau tahu


Maka, semakin terancam nyawamu


Kalau kau selamat, bagiku, itu sudah cukup


—Ayahmu yang mencintaimu.


——Pictures credit to it's owner & Happy New Year (already third day though). Well, semoga kita semua bahagia terus, meraih impian kita, dan menjadi lebih baik lagi daripada tahun-tahun sebelumnya.


Kira-kira seperti ini wujud Isaac.