
“Kau akan membantuku, bukan?”
“Tentu.”
…
“Apa… kau akan bersedih kalau aku mati…?”
…
“Gadis bodoh, apa yang kau katakan? Tentu saja, aku bahkan tak bisa hidup tanpamu.”
…
“Kalau begitu, aku akan menantikan saat itu tiba… karena aku takkan kuat bila kau yang pergi dahulu.”
“Ugh…” Ruvia terbangun dari tidurnya. Malam sebelumnya, ia memeriksa berkas laporan dari pasar pelabuhan. Tak ia sangka akan ketiduran, apalagi ia tertidur dengan bertumpu pada tangannya. Ia merenggangkan tubuhnya dan mulai menyusun ingatannya… atau lebih tepatnya, mimpinya.
Demi apapun, adegan percintaan menggelikan dari mana itu. Bagaimana bisa semudah itu berkata 'tak bisa hidup tanpamu' dan serangkaian kata-kata munafik lainnya? Ruvia tak salah, ia sudah hidup lama, cukup lama untuk tahu bahwa takkan ada seorang pun yang akan bersedih cukup lama bila ia diberikan dorongan manis terus menerus. Setidaknya, itu yang ia alami di kehidupannya dulu.
Tok… tok… tok…
“Nona? Apa Anda sudah bangun?”
Ruvia melihat ke arah jendela besar di sampingnya, cuaca begitu cerah, namun suasana hatinya jadi kelabu karena mimpi itu. “Masuklah.”
“Nona…”
“Neo, kemarilah.” Ruvia langsung tahu siapa yang memanggilnya itu hanya dari ketukan langkah kaki orang tersebut.
Neo berjalan mendekat, kemudian menunduk ketika Ruvia mengisyaratkan dengan jarinya untuk mendekatkan telinganya. “Neo, mari pergi ke pelabuhan bersama, hanya kita berdua.”
Neo sontak mundur, entah terkejut entah malu. Wajahnya tampak memiliki rona merah pudar, ia memegang tengkuknya dengan kikuk. Ruvia, di lain sisi, hanya tersenyum sambil memandangi Neo yang membuat lelaki itu semakin salah tingkah.
Ruvia bermaksud menjahili Neo lebih jauh lagi, ia memasang ekspresi muram, “Neo tidak mau? Neo sudah benci Ru?” ujarnya dengan mata basah. Neo jadi salah tingkah, “Ti-tidak, bukan begitu… baiklah, saya akan pergi bersama Nona.”
Ruvia bersorak, kemudian berdiri dengan semangat. “Nah, Neo, bantu aku.”
“H-hah? Tapi, Nona, saya tidak bisa.” Neo memalingkan wajahnya ke arah lain ketika melihat Ruvia yang sudah membuka pintu kamar mandi.
Ruvia tersenyum, “Tapi, Ru maunya Neo~” ujarnya dengan manis, bahkan ia berpose layaknya kucing yang ingin dimanja.
Neo menghela napas, “Saya takkan bisa melayani Nona di dalam sana, tetapi saya akan menyiapkan keperluan Anda di luar, Nona.”
Ruvia mengangguk, “Baiklah~ Ru selalu suka pakaian yang dipilih Neo, tapi Ru mau yang gelap ya hari ini…” ujarnya dengan senyum nakal dan mengedipkan sebelah matanya dengan maksud menggoda, kemudian menghilang ke dalam kamar mandi.
Neo hanya menghela napas, menenangkan degup jantungnya yang begitu kacau. Tapi, apa tadi? Mengapa Ruvia tiba-tiba ingin mengenakan pakaian bernuansa gelap?
“Oh, ya.” Neo terkejut karena suara Ruvia yang menceletuk tiba-tiba.
“Ya, Nona?” ucap Neo, berusaha untuk tak menampilkan keterkejutannya.
Ruvia tertawa kecil melihat reaksi Neo, “Tidak perlu perhiasan rumit, oh… lebih baik, tidak perlu siapkan perhiasan saja.” Ruvia kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Neo memandang langit yang sedikit tertutup awan, “Pakaian gelap akan menjadi yang terbaik. Ah, sebaiknya, aku juga bawa itu.” Neo menggantung sehelai gaun hitam ke dalam lemari kaca berisi sihir untuk dirapikan dan diberi pewangi, panjang gaun itu mencapai betis Ruvia, terdapat sulaman halus berwarna perak pada bagian dada sampai pinggang, ujung lengan gaun, dan ujung bawah gaun. Ini akan menggantikan ketidakadaan perhiasan, pikir Neo dengan senyum puas.
“Nah, bagus.” Neo menunggu sampai Ruvia keluar dari kamar mandi dan membiarkan pelayan wanita membantu Ruvia berpakaian, sedangkan dirinya menunggu bersama saudaranya, Geo, di ruang utama.
__________
“Hah…”
“Kita tidak jadi ke pelabuhan, lalu, kita akan ke mana?” tanya Neo yang ditarik paksa tak tentu arah.
“Neo akan tahu bila sudah tiba.” Ruvia terus-terusan menjawab seperti itu sambil menarik tangan Neo melewati kerumunan orang di pasar, kemudian di jembatan penyeberangan, sampai mereka tiba di ujung sebuah gang sempit.
“Nona, ini jalan bun—” Sebelum Neo sempat menyelesaikan ucapannya, dinding berbahan batu bata tua di hadapan mereka bergeser dan membentuk sebuah lubang yang cukup besar untuk ukuran pria setinggi Neo untuk berjalan memasukinya tanpa menunduk sebagai jalur untuk mereka lalui. Lubang itu tampaknya menuju ruang bawah tanah, pikir Neo.
Ruvia menarik tangan Neo dan menuntunnya, “Ayo!”
Setelah mereka memasuki lubang itu, dinding segera bergeser, menutup jalan masuk mereka. Lentera-lentera batu sihir yang digantung pada permukaan dinding segera menyala kala mereka melangkah lebih jauh. “Nona, ini…” Neo ragu akan situasi ini, ia cemas bila ini bukanlah hal yang baik.
Ruvia sendiri memakai topeng burung gagak dengan aura kegelapan yang kental dengan rantai perak tipis yang tersambung di belakang kepalanya, guna menjaga topeng tak lepas dari pemakainya. Pakaian Ruvia yang bernuansa gelap dan tampak berkelas, membuatnya tampak seperti nyonya bangsawan kelas atas yang datang berkunjung. Apalagi jubah hitam yang dikenakan Ruvia turut memberikan tambahan aura misterius yang membuat orang tanpa sadar merasa segan.
“Mari, Silver Crow, Dark Wolf.” Pria bertubuh besar nan tinggi bertopeng beruang yang berdiri tak jauh dari mereka mempersilakan Ruvia dan Neo untuk mengikuti tuntunannya.
Apa tadi? Panggilan?
Neo melirik ke arah Ruvia seolah meminta penjelasan. Ruvia menyadari tatapan itu, kemudian berucap dengan sihir telepati. “Mereka mengenali para klien dengan julukan dari topeng yang dikenakan. Bila identitas asli klien terpublikasi, mereka tidak akan bertanggung jawab atas masalah ke depannya, klien tersebut bisa saja dikeluarkan dari 'klub' agar tidak membawa masalah.”
Mendengarnya saja membuat Neo menggeleng-gelengkan kepalanya, apa yang sebenarnya majikannya itu lakukan di tempat semacam ini? Tempat dimana identitas asli perlu dirahasiakan… atau akan ada masalah nantinya…
“Silakan duduk di sini, informasi mengenai produk akan muncul pada plat ini setiap produk ditampilkan di panggung. Bila Anda menginginkan produk tersebut, Anda dapat menarik plat perlahan ke bawah. Kami akan segera menyortir pemilihan klien berdasarkan harga yang ditawarkan. Selamat bertransaksi.”
Kata-kata pria bertopeng beruang itu sangat jelas. Ia membiarkan Ruvia dan Neo duduk pada kursi empuk berwarna hijau gelap, berhadapan dengan sebuah meja bulat kecil dengan sebuah plat sihir yang tampak terbuat dari sejenis kristal yang berwarna hijau. Plat itu melayang sekitar satu jengkal dari atas meja. Di bawah mata mereka ada jejeran bangku yang penuh oleh orang dan panggung yang besar di depan semua bangku.
“Apa yang sebenarnya Anda inginkan di sini? Ini tempat yang tidak ada baiknya. Anda bisa meminta pencarian benda apapun yang Anda inginkan. Sebaiknya, kita segera keluar dari tempat ini.” Neo membujuk Ruvia karena ini memang bukan ide yang bagus untuk terlibat dengan pasar gelap seperti ini.
Ruvia tersenyum tipis, “Tidak, yang kuinginkan hanya ada di sini.”
Neo mengernyitkan alis kanannya yang tertutupi topeng, “Apa yang Anda inginkan, sebenarnya?” Neo akan menutup mulut setelah mendengar jawaban Ruvia, namun tidak ada balasan.
Ruvia diam sampai acara dimulai dan muncul banyak informasi 'produk' pada plat hijau di hadapan mereka dan mulai bermunculan angka-angka fantastis pada ujung halaman informasi. Maknanya, pertarungan mendapatkan 'produk' dimulai. Pada produk pertama sampai kelima, Ruvia hanya diam memandangi plat tanpa berusaha menekan kolom informasi lanjutan.
“Hadirin yang saya hormati, ini merupakan 'produk' terakhir pada babak pertama ini. Apa Anda tertarik?” sahut pembicara di panggung dengan suara yang mampu menarik siapapun untuk mengangguk dan mengiyakan perkataannya.
Ruvia menyeringai, “Ini yang kuinginkan.” Ruvia menekan angka harga yang ia tawarkan untuk 'produk' ini yang jauh lebih tinggi dari yang lain.
Neo sekali lagi mengernyitkan alis kanannya karena jawaban Ruvia yang langsung mengarah ke pembelian 'produk' ini. Neo melihat ke arah panggung, berdiri seorang anak lelaki yang tampak berusia tujuh tahun dan berambut seputih salju dengan mata buta. Neo dapat melihat dengan jelas memar pada beberapa bagian tubuh anak itu, bahkan Neo yakin anak itu kekurangan nutrisi terlihat dari tubuhnya yang tampak bagai tulang berbalut kulit. Mengapa membeli anak itu? Tanya Neo dalam hati.
Terimakasih atas transaksi Anda.
Tulisan tersebut muncul pada plat hijau di hadapan mereka, Ruvia tersenyum puas, kemudian berdiri dari duduknya. “Ayo, aku tidak butuh yang berikutnya.” Neo mengangguk dalam diam dan mengekori Ruvia.
“Terimakasih atas transaksi Anda, Silver Crow.” Sekarang ada pria bertubuh besar nan tinggi lainnya dengan topeng harimau yang berdiri sambil sedikit membungkuk hormat di hadapan Ruvia dan Neo.
“Di mana dia?” tanya Ruvia dengan suaranya yang telah diubah dengan sihir menjadi serupa dengan wanita tua.
“Akan saya bawakan.” Pria bertopeng harimau itu masuk ke balik tirai hitam di hadapan mereka, kemudian keluar sambil menggendong anak lelaki berambut putih yang tadi dilihat mereka.
Ia menurunkan anak itu perlahan, kemudian berkata, “Ia kesulitan berjalan karena lama dikurung dalam kandang kecil oleh pemilik sebelumnya. Kami akan mengganti produk bila Anda membatalkan transaksi produk i—”
“Tidak perlu,” sahut Ruvia perlahan sambil berjalan mendekati anak lelaki itu. “saya puas dengan ini. Terimakasih.” Ruvia tersenyum tipis sambil mengusap rambut anak lelaki itu dengan lembut.
Ruvia mendongak dan menatap pria bertopeng harimau itu, “Apa kami bisa menggunakan ruang teleportasi sekarang?” tanya Ruvia sambil menarik anak lelaki itu perlahan ke dekatnya.
Pria bertopeng harimau itu sempat ternganga, namun, ia mengangguk tak lama kemudian. “Iya, Anda dapat menggunakannya sekarang. Mari, saya antarkan.”
Neo langsung menggendong anak lelaki berambut putih itu kala melihatnya berusaha melangkah dengan susah payah meski Ruvia baru berjalan dua langkah. Anak itu terkejut, namun Neo langsung berkata, “Supaya cepat.” Kata-kata itu langsung membuat anak itu tersentak karena ia lagi-lagi menjadi penghambat.
Mereka sampai di hadapan sebuah pintu kayu yang tampak sudah lapuk. Pria bertopeng harimau itu membuka pintu sedikit, “Si Buaya ada di dalam, Anda akan langsung diteleportasikan menurut tujuan yang Anda katakan padanya.”
Ruvia, Neo, dan anak lelaki berambut putih yang berada dalam gendongan Neo masuk, pintu di belakang mereka ditutup dan hanya menyisakan mereka pilihan untuk berjalan lurus ke depan, ke dalam kegelapan.
Tak lama, cahaya muncul, di bawah kaki mereka, ada lingkaran sihir raksasa dengan huruf kuno dan simbol kuno. Terdapat seseorang bertopeng buaya di luar lingkaran sihir, sedang memandangi mereka. Sosok itu hanya diam di luar lingkaran sihir, seolah mengawasi mereka.
“Rumah saya.” Ruvia berucap menggunakan sihir telepati. Sosok tersebut mengangguk, “Semoga perjalanan Anda menyenangkan.” Sosok tersebut membalas dengan sihir telepati sambil mengaktifkan lingkaran sihir.
Kemudian, semua sunyi. Pintu dibuka, kemudian masuk pria bertopeng harimau. “Bagaimana?”
Sosok bertopeng buaya itu membalas, “Ia akan aman.”
“Mengapa kau yakin?” tanya pria bertopeng harimau itu dengan ragu karena ia merasa tak yakin dengan hal ini.
Sosok bertopeng buaya itu berujar, “Karena beliau yang diramalkan. Pelindung terakhir yang membuat semua berakhir.”
Ada kengerian dalam suaranya, namun ada kelegaan juga dalamnya. “Kali ini akan selesai, kita tak bisa gagal untuk ketiga kalinya.”
“Dua manusia itu takkan mengusiknya seperti yang lalu, kali ini pasti selesai.”