
Jadi, di sinilah ia, duduk di bawah atap dan dinding kaca serta dikelilingi berbagai jenis tanaman. Iya, mereka sedang ada di dalam rumah kaca istana. Rumah kaca ini dibuat khusus untuk putri tunggal kerajaan ini. Omong-omong, Kerajaan Sarch selalu hanya memiliki satu atau bahkan tidak memiliki putri kerajaan sama sekali di setiap generasi. Jadi, bila ingin, mereka dapat mengangkat putri dari keluarga kemiliteran atau keluarga Duke.
“Jadi, Ruvia, apa kamu menyukai tehnya?” ujar Coronae setelah menyesap tehnya.
Ruvia di sisi lain, tak begitu suka akan teh kerajaan karena mengingatkannya pada rasa teh yang membuatnya menyesal di Alam Zemřít azken [19]. Ia tahu, teh itu berasal dari daun Venin Bero [20] dan merupakan kesukaan Coronae. Tapi, ia tetap tak bisa menghilangkan ingatan buruk yang dimiliki tubuh ini. Bahkan tubuh ini masih sedikit gemetar kala menyesap rasa yang sangat tak asing di lidahnya ini.
Meski, ia kurang suka, ia hanya bisa tersenyum tipis seolah mengiyakan. Coronae pun ikut tersenyum senang ketika melihat senyuman Ruvia itu. Entah itu memang karena ikatan batin antar sahabat yang tak bisa terputus walau sudah melewati dunia kematian atau hanya karena Putri Coronae yang polos dan mudah bahagia bila 'teman'-nya bahagia.
Putra Mahkota ikut menyesap teh sambil memandang kedua gadis muda yang duduk di kedua sisi, kiri dan kanannya. Matanya tampak meneliti Ruvia dari ujung rambut hingga ke ujung gaun putih polos yang dikenakannya. Bila diperhatikan, gadis yang adalah 'tamu' adiknya itu tampak berbeda dengan gadis bangsawan lain yang pernah ditemuinya. Gadis bangsawan lain biasanya akan terdiam atau menatapnya malu, atau bahkan kabur setelah melihatnya. Tapi, Ruvia ini tak melakukannya dan malah memberi hormat dengan sangat normal kepadanya dan bahkan berani untuk tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya yang seorang Putra Mahkota.
Yang ia tahu, Ruvia adalah putri tunggal dari Duke Marque. Ia juga mengenal ibu dari gadis muda itu, bahkan bisa dikatakan mereka cukup dekat satu sama lain. Hauer Ricky lic Sena, nama wanita yang kini ia percaya sudah tenang di 'dunia pembaharuan'. Wanita berambut pirang keperakan, mata sewarna Kristal Mer Verre [21], dan senyum secerah mentari yang mampu menyinari kegelapan yang meliputinya yang lama tinggal di istana penuh muslihat.
Dari Liz, Viscountess yang ditugaskan mengasuh Ruvia, Putra Mahkota tahu bahwa Ruvia adalah gadis yang dingin dan cenderung datar. Bila menyukai sesuatu, akan tersenyum bahkan tertawa. Bila membenci sesuatu, akan tersenyum palsu dan melontarkan kata-kata bermakna ganda. Dan kini, Ruvia tersenyum tipis, pasti ia tak menyukai teh itu!
Di sisi lain, Coronae sambil tetap tersenyum menyadari bahwa kakaknya yang biasanya tak pernah tertarik dengan siapa pun, kini malah tak henti-hentinya menatap sosok teman barunya itu. Hal itu membuat senyumnya semakin melebar, apalagi Ruvia ini sangat cantik sama seperti bonekanya. Bukan hanya itu, suaranya bahkan sangat merdu dan setiap gerakan yang dibuatnya sangat anggun seolah ia adalah jelmaan dewi kecantikan.
Meski, rasanya yang dijuluki 'jelmaan dewi' malah menyebut yang lain sebagai 'jelmaan dewi'. Haruskah aku mengatakan ini? Mengapa aku seperti melihat tiga manusia terindah yang bagai jelmaan dewa-dewi? Mengapa pula aku melihat kerlipan cahaya yang mengelilingi mereka? Aku paham, aku paham bila mereka ini makhluk indah.
Ruvia memandangi lingkungan yang penuh tumbuhan itu dengan pandangan mata menerawang seolah sudah lama sekali ia tak melihatnya dan sangat rindu. Ia tak meyadari, bukan… ia berusaha untuk tak menyadari tatapan dua orang yang bersamanya saat ini. Jelas ditatap sebegininya membuatnya tak nyaman.
Ia memandang gaun putih polos yang baru saja ia kenakan tepat sebelum ia pergi menemui Sang Permaisuri. Gaun ini adalah gaun buatan ibunya yang sedikit dipermak oleh pelayan pribadi ibunya, Kian, untuk menyesuaikannya dengan tubuh Ruvia. Kian berkata bahwa gaun ini dibuat ibunya sambil membayangkan bagaimana penampilan putrinya dalam balutan gaun tersebut.
Ruvia jelas heran, bukankah para gadis menyukai pita, renda, dan permata? Mengapa gaun itu malah tampak sangat polos dan hanya dihiasi bordiran berwujud bunga mawar dari benang perak halus di bagian pinggang? Kian berkata bahwa ibunya ingin anaknya kelak menjadi orang yang indah dengan kesederhanaan dan mendapat cinta sejati tanpa makna terselubung. Ruvia menyukai filosofi semacam itu, namun, ia merasa sayang karena tak dapat bertatap muka langsung dengan ibunya dan mengatakan bahwa ia menyukai gaun yang dibuat ibunya ini.
Gaun itu sungguh tampak seperti keluar dari lukisan, bagian lengannya sedikit memanjang dengan wujud seperti terompet yang berlapis. Dengan model V-neck dan bagian bawah gaun yang tak mengembang dengan berlebihan, membuat pemakainya persis seperti sosok dalam lukisan. Ditambah lagi, kini Ruvia memakai sarung tangan putihnya, kalung liontin putih gading sederhana, serta rambut pirang keperakannya yang digerai dan dihiasi sirkam sederhana berwujud kumpulan bunga kecil yang tersusun melengkung yang seolah merantai rambut di belakangnya. Ketika dipandang dari samping atau sisi mana pun, akan tampak persis seperti lukisan indah seorang putri kerajaan.
Coronae sebagai seorang putri tunggal kerajaan jelas tak pernah kurang sesuatu apa pun. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa kain yang polos dengan sedikit hiasan dapat membuat seseorang menjadi sangat indah. Ia puas hanya dengan melihat penampilan Ruvia yang meski cukup sederhana, mampu memikat kakaknya yang acuh tak acuh.
“Saya dengar Anda akan bertemu dengan tunangan Anda, Pangeran Guido ach Jill, Pangeran Kedua dari Kerajaan Angg, beberapa hari lagi. Apa Anda siap?”
Coronae yang awalnya tak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam itu terdiam. Ia belum pernah melihat tunangannya dan ia juga termasuk gadis pemalu yang pastinya akan sangat membosankan bagi pangeran yang menurut rumor merupakan pangeran paling ceria.
Diamnya Coronae membuat Ruvia tersenyum menenangkan, “Tak apa, Yang Mulia. Saya akan menemani Anda ketika hari itu tiba. Anda bisa memanggil saya bila itu yang Anda inginkan.” Coronae tampak terkejut, namun juga lega. Putra Mahkota masih saja diam memperhatikan setiap gerak-gerik dari Ruvia.
Mentari mulai mewarnai langit dengan semburat merah malunya seolah malu karena ia harus kembali ke pelukan tanah. Ruvia membungkuk hormat dan pamit pulang ke kediamannya. Ia meninggalkan dua orang yang masih saja terdiam memandangnya sampai punggungnya tak terlihat lagi di ujung jalan.
Putra Mahkota berdiri dan berjalan keluar dari rumah kaca tanpa kata-kata, Coronae sudah terbiasa menjadi seperti angin lalu di hadapan kakaknya. Namun, kakaknya itu berhenti tepat di depan pintu masuk rumah kaca dan berkata, “Nae,” Coronae tanpa sadar langsung menjawabnya, “Y-ya, Kakak?”
Putra Mahkota terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “perjamuan teh kali ini tidak buruk. Semoga beruntung dengan tunanganmu itu. Selamat malam.” Kemudian ia melangkah pergi dan menyisakan Coronae yang terbengong mendengar perkataannya.
Detik berikutnya, senyumnya mengembang dan sambil membiarkan pelayan membereskan perlengkapan perjamuan teh, ia berjalan keluar dengan hati yang lega. Sepertinya, mulai hari ini, ia akan terus dikejutkan dengan fakta sederhana yang mampu membuatnya terkagum dan dunia penuh hal menakjubkan yang menunggunya. Jelas itu semua karena keberadaan Ruvia. Semoga kita menjadi sahabat selamanya, aku akan menjagamu. Janji Coronae dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Bagaimana pertemuan Anda, Yang Mulia? Apa menyenangkan?” ujar seorang wanita berusia tiga puluhan sambil menyisir rambut seorang gadis.
“Cloe! Ia sungguh indah! Aku tak pernah tahu bahwa gaun polos bisa tampak sangat indah. Kupikir hanya gaun paling mahal yang dipadu dengan perhiasan paling indah saja yang mampu menunjang kecantikan seseorang.”
Itu adalah jawaban Coronae, putri yang tampak antusias kala pengasuhnya, Cloe, menanyainya. Cloe adalah Duchess yang mengasuhnya dari kecil dan sudah ia anggap seperti Ibu sendiri. Ia sudah diasuh oleh wanita itu bahkan sebelum ibunya, Britannicae, meninggal karena sakit keras sekitar empat tahun yang lalu.
Gadis itu langsung berdiri dengan antusias mengangguk dan berkata, “Em! Aku sangat bahagia! Cloe tahu? Suaranya sangat merdu, aku merasa seperti sedang mendengar alunan musik setiap kali mendengarnya berkata-kata.” Coronae tampak tenggelam dalam antusiasmenya. Cloe hanya tersenyum dan menuntun gadis itu ke atas ranjang. “Bagaimana menurutmu, Cloe? Ruvia ini, maksudku.”
Cloe tampak berpikir sejenak sambil menarik selimut tebal sampai menutupi bagian dada Coronae. “Saya pikir Nona Ruvia adalah sosok yang baik. Nona Ruvia tampak tenang dan mampu menjaga tutur kata dan perilaku. Saya juga mendengar rumor mengenai Nona Ruvia bahwa ia merupakan calon Ratu Pertama paling sempurna di usianya saat ini. Saya pikir jelas bukan orang sembarangan yang bisa mendapat julukan atau gelar seperti itu.”
Coronae tersenyum senang, “Sudah kuduga, kakak iparku pasti akan semenakjubkan dirinya. Ruvia bahkan mengatakan padaku bahwa ia akan menemaniku kala bertemu dengan Pangeran Guido ach Jill! Aku tak ingin ada suatu kecanggungan di antara kami, maksudku, tunanganku dan aku. Jadi, aku sungguh berterimakasih karena ia ingin menemaniku.”
Tangannya ia ulurkan ke atas seolah ingin meraih sesuatu, “Aku pasti akan menjaganya sama seperti menjaga nyawaku.” Cloe tersenyum tipis, “Jangan paksakan diri Anda, hidup itu bukan Yang Mulia yang mengatur. Hanya Sang Pencipta yang bisa melindungi Yang Mulia, Nona Ruvia, dan orang-orang yang disayangi Yang Mulia.”
“Kalau begitu, aku akan berdoa agar Sang Pencipta melindungi semua orang.” Coronae tak tahu jelas apa yang menantinya di masa depan. Tapi Ruvia tahu, maka ia merasa sangat sulit bahkan hanya untuk bernapas kala ia tahu bagaimana nasib setiap orang.
Dilihatnya keluar jendela, Ruvia hanya bisa mengulurkan tangannya seolah meraih sesuatu dari hembusan udara malam yang kosong. “Kita lagi-lagi akan bertemu, Ido. Aku harap kau tak pernah ingat dan malah berlaku kejam kala kehilangan.”
Bintang-bintang di langit tampak bercahaya lemah malam ini. Ruvia memandang mereka sekilas sebelum masuk kembali dan menutup jendela dengan rapat, kemudian masuk ke dalam pelukan selimut dan ranjang. Katanya sebelum lelap menjemputnya, “Aku berharap apa yang kuharap tak terlalu banyak, sehingga kalian tak perlu berubah terlalu banyak.”
__________
[19] Alam Zemřít azken adalah istilah untuk menyebut 'dunia orang mati' yang terakhir. Menurut mitos yang beredar di kalangan rakyat, 'dunia orang mati' terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap kedatangan, tahap pemulihan, dan tahap akhir perjalanan. Kebanyakan jiwa dipercaya akan ragu untuk melangkah ke 'dunia pembaharuan' di tahap akhir perjalanan karena di tahap ini, dipercaya seluruh keadaan sekitar setelah kematian akan ditunjukkan kepada jiwa tersebut.
[20] Venin Bero adalah tanaman herbal dengan aroma manis samar yang baik untuk kesehatan tubuh dan dapat menenangkan saraf dan otot yang kaku. Namun, bila dalam proses penyeduhan teh digunakan suhu yang tinggi, kemudian langsung dimasukkan ke dalam wadah kedap udara dan ditutup, maka kandungan racun belum sempat menguap dan akan bercampur dengan larutan teh.
[21] Kristal Mer Verre dikenal sebagai salah satu batu permata yang disukai oleh berbagai kalangan bahkan pria pun menyukainya. Dikenal akan karakteristiknya yang keras, sedikit mengkilap, berwarna biru pudar, dan dapat memperkuat tongkat atau alat sihir hingga sepuluh kali lipat. Meski begitu, harga batu permata ini cukup mahal dan biasanya hanya akan disediakan oleh Akademik Khusus Pendidikan Sihir yang memiliki izin resmi untuk mendapatkannya. Batu permata ini ditemukan oleh Sena, nenek dari Ruvia, kala berkunjung ke penambangan dekat laut milik Kerajaan Jurisch.
__________
Dewi Hujan sudah datang
Membasahi bumi dengan air matanya
Aku takkan berdusta
Tentang bagaimana aku merasa senang
Tanah yang kering kerontang ini
Akan segera lenyap dan berganti tanah indah
Tanah menakjubkan yang kau impikan selama ini
Aku sungguh tak ingin menyudahi segalanya
Tapi ini yang terakhir dariku yang menyukaimu
Dari lubuk hatiku yang pernah terlukai olehmu
—Eberyna Marcum lac Foru