
Setelah mendengar cerita panjang nan lebar yang menghabiskan dua jam hidupnya serta dua gelas susu dan sepiring kue kering, Ruvia hanya bisa sedikit mengerutkan alis kanannya heran. Dirinya penasaran, itu faktanya.
“Liz…” panggilnya.
“Iya, Nona?” balas Liz sambil memperbaiki posisi pita pada rambut Ruvia.
“Bagaimana bisa cerita lama bersejarah seperti itu bisa sangat rinci? Itu terjadi bahkan lebih dari lima abad yang lalu!” sahutnya seolah tak sabar dengan kenyataan yang ada.
Liz tertawa kecil, “Maaf, maaf… ehm… jadi, Nona. Apa Nona pernah mendengar istilah 'Pencari Waktu'?” Ruvia lagi-lagi mengerutkan alis kanannya heran akan kosakata baru itu.
“Pencari Waktu ialah istilah bagi orang yang memiliki kemampuan untuk melihat dan merekam serangkaian peristiwa yang terjadi di masa lampau sesuai dengan kehendaknya.”
“Lanjutkan.”
“Kisah mengenai Ratu Pertama disadur atau ditulis kembali oleh banyak pihak. Namun, pertama kali buku yang menceritakan kisah mengenai Ratu Pertama yang paling dipercayai adalah karya Linda Juan mes Ranier.”
'Eh? Mes? Dari kalangan rakyat?' Batin Ruvia.
“Saya tahu masih banyak pihak yang meragukan atau bahkan mencela karya dari kalangan rakyat tersebut, namun telah dibuktikan oleh pihak gereja dan pihak akademik sihir bahwa setiap kata dan peristiwa dalam karya tersebut benar adanya.”
“Jadi… Linda ini adalah 'Pencari Waktu'?” tanya Ruvia seolah memastikan.
“Benar,” jawab Liz. “dan ya, untungnya, Linda ini termasuk 'yang baik'.”
'Hmm? Baik? Memangnya ada yang jahat?'
“Daripada itu, Pencari Waktu merupakan kemampuan yang sangat langka. Orang dengan kemampuan ini dapat hidup lebih dari dua ratus tahun tanpa menua sedikit pun!” jelas Liz sambil bertampang kagum. Bukan tanpa alasan ia begitu, banyak orang yang menginginkan keindahan abadi. Tapi, ya, jelas ada buruknya memiliki hal itu.
'Eh? Tunggu sebentar, rasanya tadi seolah Liz tiba-tiba mengubah topik. Mengapa?' Ruvia membatin sambil memandang Liz seolah menyelidikinya. Tapi, ya sudahlah. Tak ada artinya memandangi orang yang tak mau buka mulut sampai mata kalian keluar dan terjatuh sekalipun.
Dengan begitu, Ruvia hanya membiarkan hal ini berlalu begitu saja tanpa memedulikannya. Yah, meski itu termasuk hal yang akan ia ketahui langsung segera di masa mendatang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Nyonya, apa Anda baik-baik saja?” tanya seorang wanita berparas anggun kepada wanita lainnya yang duduk di hadapannya dengan tampang gelisah.
“Y-ya, saya baik-baik saja.” Wanita yang menjawab itu adalah Feliché el Merida. Wanita berambut merah menyala bagai api dengan mata biru laut setajam serigala yang siap menyerang. Rupanya elok dipandang mata dan alunan suaranya merdu di telinga.
Wanita lain yang bersamanya dalam kereta kuda ini adalah Baroness Linda Juan mes Ranier. Wanita berambut coklat gelap dengan mata hijau layaknya perpaduan hutan dengan pepohonannya. Semua orang pasti akan merasa nyaman berada di dekatnya, suaranya lembut dan penuh pengertian. Matanya tenang dan tak tampak mengancam. Sayangnya, itu tetap tak dapat menenangkan sosok Feliché yang tadinya duduk tegak bagai bangsawan dengan harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi, malah kini tampak seperti gadis kecil yang takut melakukan kesalahan pada debutante pertamanya [13].
“Hah… jangan berburuk sangka dulu, Nyonya. Saya yakin Nona akan memahami tujuan baik Anda. Kedua Tuan Muda juga akan terus menemani Nyonya, jadi Anda tak perlu cemas.”
Memang benar seperti itu, tetapi sejak awal pernikahannya yang seorang janda beranak dua dengan Duke Marque, ia selalu merasa tak dapat menggapai putri dari suaminya tersebut.
Ru, sapaan akrab dari Duke Marque terhadap putrinya bahkan kedua putranya pun memanggil gadis kecil yang kala itu baru berusia empat tahun itu dengan sapaan yang sama. Gadis itu bertampang datar, namun tetap mengangguk seolah menerima sapaan itu. Tetapi, ketika ia ikut memanggil gadis itu dengan sapaan yang sama, ia malah disajikan dengan tatapan dingin dari gadis kecil itu.
Sungguh, ia merasa tak diterima oleh putri tirinya. Meski gadis itu masih sangat muda, ia seolah berpikiran layaknya wanita dewasa. Meski begitu, suaminya hanya berkata, “Ia hanya tidak terbiasa dengan kehadiran wanita lain selain pelayannya. Semakin lama juga ia akan terbiasa.”
Namun, sama saja. Sudah lebih dari satu tahun dan ia tetap saja mendapatkan perlakuan yang sama. Yah, meski ia sedikitnya paham bahwa tak ada yang dapat menggantikan posisi ibu kandung di hati gadis itu.
“Nyonya, kita telah tiba.” Linda berucap seolah menariknya kembali dari lamunannya. “Ah, baik.” Ia turun dibantu kusir dan di sinilah ia, di hadapan rumah besar berlantai dua dengan luas halaman yang tak kalah besar dengan halaman istana. Baiklah, mungkin terlalu besar untuk disebut sebagai rumah, lebih tepatnya ini istana! Aha, itulah pendapat Feliché ketika pertama kali datang ke kediaman ini.
“Selamat datang, Nyonya.” Seorang pelayan pria berusia lima puluhan menyambutnya di depan gerbang kediaman sambil membungkuk hormat. “Selamat pagi, Gerald.”
“Ah, ini Baroness Juan. Ia datang untuk menemani saya hari ini.”
“Selamat datang Baroness Linda Juan mes Ranier, semoga kunjungan Anda menyenangkan di sini. Mari, saya antarkan ke kediaman.” Feliché sudah tak terkejut lagi kala sang pelayan pria tertua di rumah ini tahu informasi lebih dari informasi singkat yang disampaikan pihak lainnya. Ia menoleh ke arah Linda dan mendapati wanita itu yang tak tampak terkejut. 'Sepertinya kemampuan pelayan dari rumah Duke Marque sangat ternama.' Batinnya.
Mereka mengikuti tuntunan Gerald melewati halaman penuh pohon yang berselimutkan salju. Meski begitu, lantai yang mereka langkahi sekarang terasa tak licin sama sekali. Tampaknya, lantai ini telah disingkirkan dari salju dan dikeringkan atau… lantai ini terbuat dari Kaca Tuyo Secar [14]!
Tentu Linda tampak terkejut, sebab kaca itu terbilang sebagai bahan yang sangat mewah yang bahkan hanya bisa digunakan keluarga kerajaan. Ah, ya, ia teringat, rumah yang membuat jenis kaca ini adalah rumah Duke Marque. Dan lebih lagi, rumornya, putri tunggal Duke Marque lah yang mencetuskan ide untuk membuat jenis kaca ini.
“Saya ingin menemui Ruvia.”
“Nona sedang berada di ruang tidurnya saat ini. Nona akan berada di ruang makan utama pada saat makan malam, Nyonya. Biar para pelayan membawa Nyonya serta Baroness ke ruang masing-masing terlebih dahulu sebelum menuju ruang tersebut.” Gerald berucap seperti itu, kemudian membiarkan para pelayan membawa mereka ke ruangan berbeda dan mempersiapkan diri mereka untuk menemui Sang Nona di rumah ini.
Gerald mengetuk sebuah pintu besar tiga kali sebelum masuk setelah mendengar balasan, “Masuklah.”
Ia membungkuk hormat, “Nona, Nyonya dan Baroness Juan telah datang.”
“Ya, Tuan Besar dan kedua Tuan Muda akan segera datang juga.” Ruvia menoleh setelah kepangannya dikatakan telah jadi. “Begitukah? Tolong katakan kepada kepala pelayan, Madam Renee dan kepala dapur, Sir Terry, untuk mempersiapkan segalanya. Apa ada lagi?” katanya sambil melihat hasil kepangan yang dibuat pada pantulan cermin di hadapannya sambil memutar-mutar tubuhnya seolah menyelaraskan dengan gaun putih gading selutut yang ia kenakan saat ini.
“Yang Mulia Putri Coronae Terente ol Britannicae mengundang Anda ke istananya.”
Gerakan Ruvia terhenti, kemudian ia memutar tubuhnya menghadap Gerald dan memasang tatapan tajam seolah meminta informasi lebih lanjut. “Saya dengar Putri Coronae mengharapkan teman seusianya, maka Yang Mulia Raja memberikan beberapa kandidat sebagai pilihan dan Putri Coronae memilih Anda.”
Haha… baiklah, ini masalah.
Menurut alur yang sebenarnya, Putri Coronae adalah sahabat dari Ruvia. Hanya saja karena ia membela Ruvia ketika difitnah, ia dianggap sebagai pengkhianat kerajaan yang berusaha menutupi kesalahan Ruvia. Namun, karena ia masih keluarga kerajaan, ia hanya dihukum dengan kurungan dalam istananya selama enam bulan.
Tapi buat apa ia hidup bila ia bahkan tak bisa melindungi temannya sendiri. Ia membuat racun dari pengetahuan yang ia dapat dari buku yang diberikan Ruvia sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke-9, inilah penyebab kematian Putri Coronae yang menyebabkan kemarahan dari tunangannya dari Kerajaan Angg, Pangeran Guido ach Jill. Hal ini juga yang menyebabkan perang besar terjadi dan peristiwa ini yang menewaskan Sang Raja.
Meski, faktanya Ruvia cukup puas dengan kematian Sang Raja yang ia harapkan setragis-tragisnya. Tapi, ia tak ingin gadis cantik itu tewas mengenaskan hanya karena kesedihan mendalam. Padahal pula ia sudah berusaha menghindar dari mata masyarakat, jadi ia takkan menarik perhatian keluarga kerajaan. Tapi, ini adalah undangan kerajaan. Rasanya, suatu kewajiban tersirat untuk menerimanya.
“Kirim balasan, aku akan memenuhi undangan tersebut.”
“Baik, Nona. Akan segera saya laksanakan.” Gerald keluar dari ruangan dan menyisakan ruangan itu sunyi-sepi.
Ruvia memandang keluar jendela besar dalam kamarnya yang telah dibuka tirainya. 'Kita akan bertemu lagi, Nae. Aku rindu…'
Matahari akan segera kembali ke dalam pelukan tanah ini. Ruvia sudah berada di ruang makan dengan gaun malam putih gadingnya yang selalu membuat semua gadis baik seusianya ataupun yang lebih tua darinya, iri padanya. Jelas dari kualitas kain, gaun malam polos itu terbuat dari kain kualitas terbaik yang diidam-idamkan semua wanita pecinta mode. Baiklah, bukan itu hal utama yang ingin diperlihatkan.
Ia makan roti gandum dengan selai beri merah. Siapapun akan mengakui betapa ia tampak seperti seorang putri berlapis harta. Lihat saja dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan ujung jarinya pun mengumbar kata 'mahal'. Ditambah lagi, adanya rumor akan Ruvia yang sungguh manja dan apapun yang ia inginkan harus dituruti. Meski, faktanya jauh dari isi rumor tersebut.
“Ru?” Ruvia menoleh kala mendengar panggilan yang biasanya digunakan oleh ayah serta kedua kakak tirinya. Ia mendapati wanita yang kebanyakan orang anggap sebagai 'perebut'.
Ia hanya memandangi wanita itu sebentar, kemudian menyesap teh yang barusaja dihidangkan tadi. “Duduklah.”
Seolah sadar, wanita itu berjalan pelan mendekati Ruvia, kemudian duduk di bangku di sebelahnya. “Katakan, apa yang 'Ibu' inginkan sampai datang jauh-jauh dari ibukota?” Kata 'Ibu' yang disebut Ruvia terdengar agak aneh, seolah dipaksakan atau tak biasa menyebutnya.
“Ah, itu- Ibu ingin mengajak Ru pergi ke ibukota. Apa Ru bersedia?” Sungguh, Feliché merasa saat ini puluhan kali lebih menegangkan daripada saat ia menemui kedua orangtua suaminya ketika meminta restu pernikahan mereka sekitar 1 tahun yang lalu.
“Ada apa? Apa Ayah butuh bantuanku?” balas Ruvia.
Feliché menjadi sedikit lebih tenang karena nada suara Ruvia menjadi lebih ramah kala kata ayahnya muncul dalam pembicaraan antara mereka. “Sebentar lagi, Ru akan mendapatkan pendidikan khusus Ratu Pertama [15] bukan?”
Hah?
Ruvia membelalak terkejut, “Hah?”
__________
[13] Debudante Pertama adalah acara khusus bagi para gadis yang baru berusia lima belas tahun dari segala kalangan untuk berkumpul dan diperkenalkan ke muka umum. Biasanya diadakan serentak pada akhir setiap tahun sebagai bentuk ucapan selamat dari keluarga kerajaan dan pemberian instruksi pendidikan khusus Ratu Pertama pada setiap individu. Biasanya, para kandidat akan takut berbuat salah sebab bila terjadi, maka kesempatan untuk dapat beradaptasi pada lingkungan bangsawan akan menjadi semakin kecil.
[14] Kaca Tuyo Secar atau istilahnya kaca kering adalah kaca yang dapat menyerap dan menahan air atau bahan lembab ke dalamnya kemudian dikeraskan dan dijadikan sama seperti bahan kaca lainnya. Bahkan kemampuannya bukan hanya menjadikan bahan lembab menjadi penambah tingkat kepadatan kaca tersebut, tapi juga dapat mengubahnya menjadi kumpulan kristal berwarna cerah yang menghiasi kaca bagian dalamnya. Kaca ini juga berfungsi layaknya cahaya lembut pada malam hari. Jenis kaca ini dapat diperoleh dengan harga yang sangat tinggi, bahkan keluarga kerajaan sekalipun yang memesan, butuh menunggu selama dua minggu hanya untuk mendapatkan sebesar 5 meter × 3 meter.
[15] Pendidikan khusus Ratu Pertama adalah pendidikan khusus untuk membina gadis-gadis dari berbagai kalangan demi menemukan calon Ratu Pertama yang cocok untuk mendampingi kinerja Raja di masa mendatang. Pendidikan ini biasanya dimulai seminggu setelah debudante pertama dan akan berjalan selama tiga tahun sampai debudante berikutnya di usia mereka yang ke-18.
__________
Aku selalu merasa marah
Pada para insan yang memainkan amarah
Pengetahuan seolah tak didapat mereka
Sehingga mereka hanya bisa bawa celaka
Hanya beberapa yang kupikir layak
Untuk mendapat cinta dari khalayak
Salah satunya adalah kau
Yang perginya buatku pilu
—Shachrone alembic el Syricam