
Gelap…
“Aku teringat bahwa aku sudah mati. Jadi, ini apa? Proses menuju reinkarnasi? Apa memang segelap ini?”
Tiba-tiba, sebuah plat muncul di depan wajahnya. Plat itu terbuat dari kaca dengan sebuah lukisan seorang wanita muda berambut pirang panjang dan bermata abu-abu yang duduk dengan posisi agak menyamping dengan ekspresi datar dan pandangan mata tajam. Sebuah lencana berwujud bunga krisan bertuliskan ‘Ruvia Marque la Hauer’ dengan emas putih yang tampak menarik di ujung kanan-bawah plat.
Sesungguhnya, Kareen sedikit terkejut. Sebab ia tahu pasti siapa ‘Ruvia’ ini. Ruvia ialah tokoh antagonis dalam bukunya yang memiliki kecantikan dan keberuntungan di atas rata-rata. Hanya saja sayangnya, menemui ajal yang tidak kalah tragis dari tokoh-tokoh antagonis di kisah lainnya.
Bagaimana tidak, Ruvia ditunangkan dengan Putra Mahkota yang sedari kecil ia cintai. Namun lelaki itu, bukan hanya tidak membalas cinta dan perhatiannya, ia malah juga jatuh cinta pada wanita lain dan pada akhirnya, membunuh Ruvia dengan cara menjebaknya.
Ruvia yang malang itu ditolak oleh keluarganya, ditolak oleh suaminya, bahkan ditolak oleh rakyat yang selama ini ia cintai sampai ia rela berkorban. Ia digantung tanpa petunjuk apa ia sungguh bersalah atau tidak. Bahkan tubuhnya dibiarkan begitu saja selama seminggu tergantung tanpa daya di hadapan seluruh rakyatnya di tengah kota.
Sesungguhnya, Ruvia sulit untuk dikategorikan sebagai antagonis maupun protagonis. Karena sebenarnya, orang jahat adalah orang baik yang dulu tersakiti. Begitu banyak hal yang membuat Ruvia muak dengan hidupnya. Dan demi apa pun, ia, Kareen Lusch, pencipta dari kisah ini, akan hidup menjadi tokoh yang sedari tadi ia bongkar aibnya?!
Hanya satu cara agar ia tetap hidup. Ubah jalan ceritanya. Ia akan mengubah takdir mengerikan yang akan dihadapi gadis yang ialah dirinya saat ini.
Ruvia memiliki karakter dingin dan datar, tidak peduli terhadap sekitar, dengan perasaan bodoh yang dengan polosnya jatuh hati pada Putra Mahkota yang patut mendapat makian dari Kareen, sang pencipta itu sendiri. Ruvia sangat sempurna, namun meski begitu, perasaannya tetap terabaikan.
Dalam kisahnya, Ruvia hanyalah salah satu pion yang mudah untuk dijatuhkan. Namun, karena sifatnya yang dingin dan tegas, banyak yang takut padanya. Ada rumor mengatakan bahwa Ruvia ialah 'Iblis' kejam. Ia tidak menolerir apa yang ia anggap buruk atau pun 'benda' yang mengusiknya.
Dan di sinilah ia, terbangun dalam ruangan dengan penerangan redup, di atas ranjang berkanopi, dan berselimutkan kain selembut bulu rubah. Ah, itu membuatnya teringat dengan selimut yang dibelikan Giselle untuknya sebagai hadiah untuk ulangtahunnya yang ke-20. Lupakan itu untuk sementara.
Kareen atau yang kini telah berganti nama menjadi Ruvia, hanya bisa memandang sekitar dengan takjub, di sekitarnya sungguh berlapis permata dan logam berharga. Dia memang bukan orang yang mudah tergiur harta, apalagi ia sudah terbiasa dihujani Chantal, Giselle, serta tunangan Radha yang juga sahabatnya, Chris, dengan barang-barang mewah, tapi ia tak bisa menahan diri untuk takjub. Apalagi langit-langit ruangan tempat ia berada saat ini dilukis dengan berbagai rupa malaikat kecil yang manis di mata serta perabotan di dalam ruangan yang berlapiskan emas putih dan bertuliskan huruf Agnisia [3].
Di kala ia masih sibuk mengagumi keindahan sekitarnya, sebuah ketukan terdengar. Kemudian terdengar suara samar orang yang sedang berbicara di bagian lain di seberang pintu. Setelah itu, terdengar tiga kali ketukan yang tegas serta sebuah suara yang ikut menyertainya, “Nona, apa Anda sudah bangun dari tidur? Apa kami diperkenankan untuk masuk melayani Nona pagi ini?” Setelah itu sunyi, kemudian terdengar suara samar gugup-takut berbuat salah di balik pintu itu.
Percayalah, Ruvia sudah sangat heran dengan mereka meski belum bertatap muka langsung. Meski begitu, ia tak boleh membuat mereka menunggu dan semakin takut kalau mereka berbuat salah. Makadari itu, ia membalas, “Masuklah.”
Dua orang gadis berusia sekitar 17-18 tahun memasuki ruangan itu. Satu, dengan wajah sedikit berbintik dan rambut sewarna madu yang digulung naik sama dengan gadis di sebelahnya, membawa nampan kayu berukir yang berisi makanan dan minuman. Yang lainnya, dengan wajah kaku bersih dan rambut serta mata yang sewarna dengan Pohon Akasia, membawa basin kayu berukiran bunga yang berisi air untuk membasuh muka.
Mereka segera melakukan tugas mereka, Ruvia hanya mengikuti arus saja. Sampai setelah Ruvia dikenakan sehelai gaun putih selutut, berlengan panjang, dengan aksen pita dan renda di bagian leher dan pinggang. Ia terduduk di sofa di tengah ruang kamarnya sambil membaca buku tebal bersampul hijau dengan posisi agak menyamping namun tetap dengan punggung tegak. Rambut pirang panjangnya disisir dan dikepang bersama dengan pita berwarna putih yang membuat hasil akhirnya, ia yang tampak seperti boneka hidup yang sedang membaca. Kedua pelayan itu hanya bisa memasang wajah kagum akan keindahan yang dipancarkan gadis kecil di hadapan mereka. Bahkan mereka bisa melihat cahaya terpancar darinya.
“Nona, bagaimana menurut Nona?” Pelayan dengan sedikit bintik di wajah menggeser cermin besar ke dekat Ruvia. Gadis itu menutup buku yang ia baca dan berjalan ke depan cermin.
Gadis kecil itu memutar-mutar tubuhnya di depan cermin seolah memeriksa keseluruhan pakaian dan hiasan yang ia kenakan, kemudian berbalik dan berkata, “Cantik.”
Perkataan singkat yang disertai senyuman tipis itu membuat kedua pelayan langsung jatuh hati. Dalam hati mereka meneriakkan perasaan mereka akan keimutan dari Nona Marque yang mereka layani ini. Jelas mereka segera menampik semua rumor buruk tentang Ruvia Marque la Hauer yang mereka dengar di luar. Enak saja mereka bilang malaikat kecil ini iblis kejam! Percayalah, setelah mereka selesai melayani untuk hari ini, mereka sudah siap untuk memamerkan betapa indah dan baiknya nona mereka.
“Terimakasih…” Bibir gadis kecil itu terhenti dan menunjukkan sorot mata seolah mempertanyakan identitas kedua pelayan itu.
Seolah sadar, keduanya menunduk kemudian salah satu dari mereka yang bermuka kaku berujar, “Kami putri pertama dan ketiga dari Baron Berzilaec, Alenassyra dan Gioneiralych, Nona.”
Ia tersenyum, “Mohon bantuan untuk ke depannya, Alen, Gio.”
Cara pertama untuk menghancurkan takdir mengerikannya adalah dapatkan hati semua orang. Berhasil dilakukan!
Well, meski belum semua haha… Oh, sungguh, aku menantikan pertunjukan selanjutnya darinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari dimana ia terbangun ialah hari pertama turunnya salju. Kareen belum pernah melihat salju secara langsung mengingat sebulan sebelum musim itu tiba, biasanya ia akan melakukan pencarian inspirasi di daerah bermusim hangat. Tak heran ia tak tahu bagaimana bentuk salju. Dan itulah yang membuat ia takjub.
Di dalam tangkupan tangannya ada salju, ini salju!
“Ugh…” Wajahnya terhantam sesuatu yang dingin. Ia terjatuh ke belakang dan bangkit terduduk dengan heran.
Meski begitu, Ruvia hanya memandangnya bingung. “Alen, ini apa?” tanyanya sambil mengangkat bekas 'senjata' yang menghantam wajahnya dan meninggalkan hawa dingin di wajahnya.
Melihat hal itu, Alen menjawab, “Itu bola salju, Nona. Kita membuatnya dari salju yang dipadatkan menjadi bentuk bola,” ujarnya sambil mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengusap wajah Ruvia.
“Bagaimana?” tanya Ruvia pelan sambil memperhatikan salju di bawah kakinya.
Alen menunjukkan caranya dan diikuti dengan tangan Ruvia yang ikut menirunya. Dan jadilah bola salju. Baru saja ia ingin tertawa senang, wajahnya kembali diserang dengan 'senjata' dingin. Dan pelakunya adalah Gio yang dengan tanpa dosa tertawa.
Ruvia yang tak terima juga melempar bola salju ciptaan pertamanya dan langsung menghantam wajah penuh tawa menyebalkan Gio.
Ia tersenyum tipis melihat keberhasilannya, sedangkan Gio malah berwajah sebal dan siap melempar 'amunisi' baru. Dan jadilah perang salju. Meski awalnya Ruvia sangat lambat, tapi ia mulai terbiasa dan dapat dengan cepat mengisi ulang 'amunisi' yang terpakai. Dengan bantuan Alen dalam timnya, ia berhasil mengalahkan Gio.
Ruvia tertawa senang dan berujar, “Ini menyenangkan.” Gio yang tadinya berwajah sebal karena kalah langsung terpana mendapati wajah cantik penuh tawa dari Ruvia yang 'langka'. Percayalah ia serta kakaknya, Alen, langsung jatuh hati lagi pada nona kecil mereka.
“Baiklah, Nona, saatnya menghangatkan diri Anda di dalam.” Hal itu diucapkan oleh Viscountess Liz E Belizean yang ditugaskan untuk merawatnya.
Ruvia menoleh dan mengangguk paham. Ia menjulurkan tangannya ke atas seolah minta digendong dan memang itulah yang dilakukan Viscountess Liz. Ia mengangkat Ruvia dan menggendongnya masuk diikuti Alen dan Gio di belakang.
Ruvia tahu jelas apa yang terjadi pada wanita bangsawan yang menjadi pengasuhnya ini. Viscountess Liz E Belizean adalah wanita yang disayangi keluarga kerajaan. Rumornya, Liz akan ditunangkan dengan adik Raja, Duke Alcibiade, hanya saja ditolak oleh Liz karena ia sudah jatuh cinta pada Viscount Ruscinone Castrum an Joelle.
Liz adalah wanita dari luar benua, ia mengenal Viscount Ruscinone ketika ia berkunjung ke benua ini dan singgah di Pelabuhan Signi [4]. Ia langsung jatuh cinta akan kegagahan juga ketampanan Viscount itu, setidaknya rumor berkata seperti itu. Ya, kemudian semua berlanjut seperti kisah cinta lainnya. Mereka kencan, kemudian menikah, memiliki putra, dan hidup bahagia.
Sayangnya, semua kisah dengan awal bahagia belum tentu mendapat akhir bahagia. Liz kehilangan putra tunggalnya karena wabah di Jerinade [5] pada tahun 451, penanggalan Agathae [6]. Belum selesai ia berkabung karena kematian putranya, ia harus kembali berkabung karena suaminya gugur dalam Perang Rogne [7].
Karena raja yang merasa iba padanya, akhirnya menugaskannya untuk mengasuh Ruvia, putri yang nyaris sempurna dari Duke Marque. Dan di sini lah ia, memeluk gadis itu, dan mengasuhnya sama seperti ia mengasuh mendiang putra kecilnya.
Ruvia sudah melepas mantel dan berada di dalam ruang tengah dengan perapian yang hangat. “Liz, ceritakan sesuatu.” Ia berucap sambil menyandarkan punggungnya ke sofa hijau zamrud dengan ukiran huruf Agnisia pada lengan sofa.
Liz meletakkan sepiring kue kering dan segelas susu hangat di atas meja kaca di hadapan gadis itu, kemudian ia duduk di sebelahnya. “Apa yang ingin Anda dengar?”
“Apapun.”
“Baiklah. Bagaimana dengan kisah seorang putri yang tertidur?”
Haha… Jangan beritahu aku bila itu adalah Sleeping Beauty.
Ruvia menggeleng pelan, “Aku tidak sedang ingin mendengar kisah romansa yang terlalu mengkhayal itu. Ceritakan aku yang lain, Liz.”
Tampak berpikir, Liz akhirnya bersuara, “Baiklah, saya akan menceritakan tentang Ratu Pertama yang pertama, Eberyna Marcum lac Foru.”
Seolah tampak tertarik, Ruvia menegakkan punggungnya dan tersenyum kecil seolah menantikan kapan kisah itu akan dimulai.
Lalu, Liz mulai bercerita tentang awal ‘Sang Ratu Pertama’ dan yang menyertainya.
__________
[3] Huruf Agnisia adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan kata-kata ataupun kalimat pujian bagi Tuhan atau Kaisar atau bangsawan. Biasanya tertulis ataupun terukir pada perkamen kenegaraan dan dinding rumah serta perabotan. Huruf ini wajib dipelajari oleh para pengrajin dan pekerja di gereja.
[4] Pelabuhan Signi adalah pelabuhan yang terletak di bagian Timur Kerajaan Sarch (Benua Gulf) yang merupakan daerah penjualan makanan laut serta kain dan aksesoris dengan kualitas terbaik. Diambil dari nama mendiang putri kembar kesayangan Ibu Suri Elbe Zic ol Caly, Putri Lisigeon dan Putri Ranieri.
[5] Jerinade adalah pulau yang terletak sekitar 6.789 km dari Benua Gulf yang terkenal akan bahan tambang berkualitas tingginya. Sayangnya, daerah ini menjadi titik terbesar penyebaran wabah pada tahun 452, penanggalan Agathae.
[6] Penanggalan Agathae adalah penanggalan yang digunakan setelah masa kepemimpinan Raja Su Caan ri Fichna (raja ke-28 Kerajaan Sarch). Nama penanggalan akan berubah setiap berganti 10 raja.
[7] Perang Rogne adalah perang terbesar kedua antara Kerajaan Sarch terhadap Kerajaan Angg yang disebabkan dendam terkait ketidakpuasan dalam pembagian wilayah. Perang ini menewaskan lebih dari 500.000 pasukan baik dari rakyat jelata maupun bangsawan kelas bawah (Baron, Viscount). Hal ini tercatat dalam sejarah dan wajib dipelajari dalam pendidikan formal para gadis bangsawan.