
“Ruvia, apa yang kamu lakukan?” ujar ayahnya yang duduk di balik meja kerja berbahan kayu pada kaki meja dan kaca pada bagian atas meja.
Ruvia baru saja kembali dari tempat yang tak seharusnya ia kunjungi, benar, pasar gelap. Anak yang dibelinya itu kini sedang diurus pelayan lainnya, sedangkan Ruvia bersiap diceramahi dalam ruang kerja ayahnya. Sebenarnya, bukan masalah segunung uang yang dihabiskan Ruvia dalam semalam, yang dipermasalahkan adalah Ruvia yang pergi ke luar kediaman hanya bersama Neo, tanpa pengawal atau pelayan lain. Apalagi, fakta Ruvia mengunjungi pasar gelap membuat ayahnya semakin tak habis pikir.
“Aku hanya menyelamatkan orang, Ayah. Bukankah itu yang sedari dulu Ayah ajarkan?” balas Ruvia tanpa melepaskan pandangannya pada ayahnya yang tampak bak seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang kriminal.
Ayahnya menghela napas, kemudian mengacak rambutnya dengan kasar. “Ruvia, bagaimana bisa kamu mengunjungi pasar gelap tanpa pengawalan sama sekali? Kamu bisa dalam bahaya!” sahut ayahnya.
“Masih banyak yang 'mengincar'?” tanya Ruvia sambil berjalan mendekati meja kerja ayahnya. Ia memeluk lengan kiri ayahnya dengan perlahan, membuat ayahnya menoleh, kemudian menghela napas. “Sekarang dan di masa depan akan lebih banyak lagi.”
Ruvia dipeluk ayahnya dan didudukkan di pangkuan ayahnya. “Kamu sangat berharga bagi Ayah, jangan lakukan ini lagi. Ayah mohon…” Ayahnya memohon sambil membenamkan wajahnya pada punggung Ruvia. Ruvia tahu bahwa ayahnya sudah sangat kehilangan ibunya dan hanya tersisa Ruvia, yang sangat mirip dengan ibunya, anak tunggal dari isteri tercintanya itu.
Ruvia tak pernah melihat secara langsung rupa ibunya, ia hanya yakin bahwa rupa ibunya pasti lebih menakjubkan daripada lukisan yang ada. Rambut panjang Ruvia dipegang perlahan oleh ayahnya, “Ayah cemas padamu, Ayah tak ingin kehilanganmu…” Dikecupnya helaian rambut Ruvia yang dipegangnya.
Ruvia memperhatikan segala gerak gerik ayahnya, begitu lembut dan berhati-hati di sekitarnya, seolah Ruvia adalah guci antik yang rapuh. Ruvia dalam pemikiran seorang Kareen, dibuat heran. Kalau sampai sesayang ini, lalu, mengapa ketika Ruvia dihukum gantung, tak ada satupun dari keluarganya yang bersuara, memprotes, atau setidaknya, datang mengunjunginya di penjara?
Ruvia yang asli itu ketakutan karena belum pernah ditinggal di tempat yang gelap, lembab, dan kumuh sendirian. Bahkan para prajurit tak segan-segan menampar dan menendangnya bila Ruvia mulai membuka mulut meminta sesuatu, seperti meminta air bersih untuk diminum atau meminta dipasangkan lentera dalam sel tahanannya agar tak terlalu gelap. Jangankan lentera, air bersih barang semangkuk kecil pun tak diberikan, ia dibiarkan kehausan, dehidrasi, sampai kulitnya yang dulunya bersinar tampak kering dan kusam, bibirnya yang selalu lembab dengan rona merah menjadi kering, pecah-pecah, dan memucat. Ini yang kalian sebut perlakuan untuk manusia? Manusia satu itu tak bersalah, namun dituduh bersalah tanpa bukti jelas, dan begitu saja dibiarkan lewat dan bahkan kematiannya terasa tak begitu berarti?!
Ruvia tak sekalipun menangis, tidak… setelah menangis sampai rasanya air matanya telah terkuras habis, ia tak lagi menangis. Toh kalaupun ia menangis, takkan ada yang peduli padanya, semua orang menolaknya meski ia selalu mengejar mereka. Semua orang mencampakkannya meski ia sangat sayang pada mereka. Semua orang membuangnya padahal ia sendiri takkan pernah membiarkan orang-orang sekitarnya menderita. Lalu… mengapa…?
Tes… Tes… Tes…
Air mata menetes, mengalir ke pipinya, dan jatuh ke atas kepalan tangannya. “Mengapa… mengapa baru sekarang… padahal ia sangat menginginkannya dan tak pernah mendapatkannya…” Ayahnya terkejut melihat Ruvia menangis, putri kecilnya itu tak pernah menangis, seolah tak lagi memiliki perasaan sejak kejadian 'itu'. Maksudnya, kejadian dimana putri tunggalnya diracuni dan nyaris tewas.
“… ia menangis, namun tak ada yang peduli… ia menjerit, namun malah dibungkam… ia tersenyum manis, malah dibalas dengan hinaan. Apa… apa yang salah… hiks… orang itu juga bodoh, malah memilih wanita yang akan menjadi akhir dari hidupnya… hiks… padahal ada wanita yang mampu mendukungnya dengan sangat baik yang mencintainya sepenuh hati… ia malah ughh… aku benci dia! Benci! Benci!” Ruvia menangis dan menyahut dalam frustasi. Wajahnya merah padam, air mata membasahi pipinya, keluar dari matanya tanpa ada tanda akan berhenti.
Ayahnya hanya bisa diam sambil mengelus punggung Ruvia untuk menenangkan gadis itu. Menurutnya, bila putrinya itu tak menceritakannya, berarti itu bukanlah hal yang perlu membuat dirinya terlibat ke dalamnya. Tangan Ruvia yang mengepal dipegang ayahnya seolah pria itu berusaha menahan agar kuku gadis itu tak melukai tangan yang tampak begitu mungil dibandingkan dengan tangannya sendiri. Ayahnya memang tak tahu siapapun yang dikatai 'benci' oleh Ruvia, yang ia tahu siapapun itu, pasti tak punya maksud baik terhadap putrinya.
Tok… Tok… Tok…
“Tuan,” Suara Neo terdengar dari balik pintu. “apa boleh saya masuk?” Sang Duke tak langsung membalas, melainkan hening untuk beberapa saat. Setelah melihat Ruvia di pangkuannya yang berangsur menjadi tenang, ia membalas, “Masuklah.”
Neo masuk, kemudian menunduk hormat sebentar. “Makan siang telah disiapkan.”
Neo menunduk, “Saya mengerti.” Ia berjalan mendekat dan menggendong Ruvia yang tampak setengah terlelap.
“Neo.” Suara Sang Duke membuat Neo berhenti tepat sebelum ia melangkah keluar dari ruang kerja. Neo berbalik dan mendapati Sang Duke yang berdiri membelakanginya, menghadap ke jendela besar di hadapannya.
“Jaga Ruvia untukku. Para 'serigala' dan 'rubah' itu mulai mengincarnya. Siapa yang tahu kapan mereka akan menunjukkan taring dan cakar mereka… satu lagi,” Sang Duke berbalik dan tersenyum, bukan senyum angkuh, melainkan senyum lembut yang terkesan langka. “ajarkan dia perasaan. Egois pun tak apa, anak itu telah lama tampak ketakutan pada keluarga kerajaan, ia telah menarik orang-orang luar untuk menjadi pedangnya, namun bukan perisainya.”
“Aku… telah melihat banyak hal sepanjang hidupku. Lautan tenang dan kaya akan sumber daya yang damai serta menyenangkan, sampai daratan kering kerontang yang penuh noda dan orang-orang haus akan kematian.” Sang Duke menunjuk Ruvia, “Anak itu juga melihatnya, pasti… ia adalah anak yang diramalkan, yang telah melihat masa lalu dan masa hadapan, yang tahu kematian dan kelakuan tiap makhluk, yang tahu persis kapan lonceng kematian akan berdentang…”
“Bila ia tak diajarkan perasaan yang seharusnya, ia akan berakhir dengan menghancurkan ramalan yang ada, bukan demi dirinya, melainkan yang lain. Aku tak peduli pada ramalan itu, namun itu berbeda bila anak itu celaka karena berusaha memenuhi tuntutan yang lain tanpa menyisakan ruang untuk dirinya sendiri.”
“Tuan, maaf bila saya terdengar tidak sopan. Tetapi, bukankah lebih baik tidak memiliki perasaan bila hidup tidak akan berubah atas ada atau tidaknya perasaan tersebut?” Neo melirik Ruvia dalam gendongannya, dalam pelukannya. Ia mengeratkan pegangannya pada Ruvia. Kata-katanya tadi… itulah hal yang ditorehkannya dan saudaranya, Geo, dalam hati mereka selagi masih menjadi budak. Tak ada yang peduli akan perasaanmu di dunia semacam ini.
“Haha… bukan hanya kau yang berkata seperti itu. Bahkan isteriku juga berkata demikian…” Senyum Sang Duke tampak sangat lembut. “Terkadang hidup berubah bukan karena seseorang, tapi karena untuk dirimu sendirilah itu berubah. Semua jawabannya ada pada dirimu, apa kau akan hidup atas nama orang lain atau… atas nama dirimu sendiri.”
Neo tersentak.
“Neo…”
“Nona…”
Ruvia baru saja terbangun dari tidurnya. Tadinya, Neo menggendong Ruvia ke kamar tidurnya dan meletakkan Ruvia ke dalam balutan selimut. Neo memutuskan untuk menemani Ruvia dengan duduk di sofa sambil memikirkan perkataan tuannya tadi. Kini gadis itu telah bangun dan menatapnya dengan mata nyaris kosong.
“Neo…”
Neo berjalan mendekat, “Iya, Nona?”
Ruvia menarik ujung lengan kemejanya, kemudian tersenyum lembut. “Terimakasih sudah menemaniku. Kupikir aku akan sendiri ketika terbangun, ternyata ada Neo. Sungguh… terimakasih.”
Neo hanya bisa membalas tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa. Ia ingin berkata 'bukan apa-apa', namun bibirnya tak kunjung bergerak membentuk dan menyuarakan kata-kata itu. Seolah diam dan tersenyum seperti ini adalah satu-satunya pilihan paling benar yang perlu ia lakukan sekarang. Jantungnya berdetak cepat, sampai nyeri dada dibuatnya. Namun, ia tahu… bukan haknya untuk bersama gadis hebat ini, gadis penyelamatnya… yang selamanya akan ia puja dalam diam.