Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
XIII—Ingatanku dan Mereka



Aku adalah yang kalian sebut 'Dewa Agung'. Semua manusia memujaku dan membutuhkan aku. Namun, lama-lama, aku bosan menghadapi itu semua, menjadi yang terkuat, selalu dipuja, selalu dituruti, dan… ditakuti.


Aku pergi ke dunia-dunia lainnya, menjelajah, mencari apa yang seru untuk dilihat ataupun dilakukan. Baru aku melihat mereka, penulis muda yang selalu berusaha mati-matian untuk menghidupkan karakter dalam kisahnya dan tak percaya akan keberadaanku, pendeta wanita tanpa nama yang mengucapkan permintaan kemusnahan bagi manusia dan bersatu dengan para 'Iblis', dan penulis tua yang berusaha mencari arti dari setiap tulisannya. Mereka menarik, cukup menarik untuk memainkan pertunjukan 'kisah' mereka.


Percaya atau tidak, aku membaca buku tentang mereka. Yang ditulis oleh si penulis muda, Kareen Lusch, tentang Pendeta Wanita Tanpa Nama karya Sanchez Duchan, dan yang ditulis oleh si penulis tua, Larry Jackson. Aku benar-benar baru sadar, mereka menggunakan satu nama karakter yang sama dalam kisah mereka dengan alur yang berbeda. Kareen dengan 'Ruvia' sebagai 'Ratu Pertama', Sanchez dengan 'Ruvia' sebagai 'Yang Terpilih', dan Larry dengan 'Ruvia' sebagai 'Putri Perdana Menteri'.


Aku harus mengumpulkan mereka, itu pikirku. Aku mulai dari mengambil Kareen. Yah, tak sulit untuk mengambilnya karena ia pun tak begitu menghargai kesehatannya. Aku ingat ketika pertama kali Kareen dihadapkan dengannya, gadis itu bersumpah serapah sekasar-kasarnya dalam benaknya. Aku menawarkan 'reinkarnasi' kepadanya dan meski ia menatapku dengan tatapan aku-tak-percaya-padamu, ia tetap menerima tawaranku.


Begitu seterusnya, aku disajikan pertunjukan yang terkadang membosankan. Saking membosankan sampai-sampai aku ingin langsung mengubah jalan ceritanya. Tapi, kutahan, karena tokoh utama itu sendiri 'berusaha' untuk tak 'mati', dan itu cukup menarik. Jangan katakan aku 'sadis', tokoh utama kalian saja 'akan' berbuat sadis nantinya.


Oh, aku hampir lupa. Mereka akan duduk bersamaku sebelum dan setelah mereka 'bermain'. Kareen yang faktanya memainkan 'Ruvia' cukup sering turun ke dunia-dunia lain, dan pendeta wanita tanpa nama atau Estella, memainkan perannya berdampingan dengan 'Ruvia'. Larry menjadi tokoh pangeran tak berguna dalam kisah 'Putra Mahkota Ketiga', menjadi Francez dan didampingi 'Ruvia' dan 'Estella' yang tak memiliki ingatan tentangnya.


Aku masih ingat ketika pertama kali Estella naik ke sini, matanya berwarna merah dan tajam seperti serigala yang siap menyerang. Kareen dengan rambut hitam dan mata birunya memandang Estella singkat, kemudian menyesap tehnya dan bertanya, “Siapa namamu?”


Estella sedikit terkejut melihat Kareen yang tak terkejut atau bersikap biasa saja meski melihat penampilannya yang bak 'iblis' yang tak sempurna berwujud setengah manusia dengan tanduk layaknya banteng ataupun yang kalian sebut 'Iblis'. Yah, itu bukan hal yang mengejutkan, Kareen sudah melihat banyak hal yang tak masuk akal, jadi ini merupakan hal yang cukup masuk akal bila dilihat. Aku memandangi mereka yang diam saja, karena pastinya Kareen menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak mau diulangnya, dan Estella yang ragu menjawabnya.


“Aku… tak punya.” Itu jawaban Estella dengan nada ragu.


Kareen hanya diam, menyesap tehnya, kemudian berujar, “Sungguh? Bahkan si Kemarahan pun tak memberimu satu?”


“Kemarahan? Oh…!” serunya seolah mengingat sesuatu. “Estella, ia memanggilku begitu.”


Kareen tersenyum tipis, “Begitu, tak kusangka para pendosa itu punya selera yang bagus.” Ia bergeser dari posisi duduknya dan mendekat ke Estella, “Nah, sekarang, Estella, kamu hanya perlu mengingat apa yang perlu kamu sampaikan pada mereka yang mencintaimu.”


“Eh?” Estella memandangi Kareen dengan bingung dan terkejut kala tangan gadis itu menyentuh lembut pipinya, kemudian kelopak matanya. Estella menoleh padaku seolah bertanya apakah Kareen 'normal' atau sebaliknya, aku hanya bisa mengangguk (entah itu normal atau tidak, hanya 'ia' sendiri yang paham), meninggalkannya dengan keanehan Kareen.


Estella memandang Kareen dengan ragu, mata birunya membuat Estella tenggelam dan seolah terhipnotis. “Aku, mereka tidak pernah salah. Aku pikir mereka yang patut dikasihani, tapi aku bahkan tidak bisa menolong mereka untuk keluar dari lubang neraka. Aku… aku hanya ingin minta maaf… aku menjanjikan hal yang mustahil… uh… maaf…”


Estella mulai meneteskan air mata, tetes demi tetes dengan kilau layaknya berlian. Kareen tertawa kecil seolah meledek, “Oh, korban lain dari janji kosong. Ehm…” Ia menoleh ke arahku dengan tampang sombongnya, “Oi, Dewa Agung!” ujarnya tanpa ketulusan sama sekali dan yah, aku tak bisa menyalahkannya yang selalu bersikap seperti itu karena aku selalu membuatnya memainkan 'peran' yang 'menyebalkan'.


“Apa sekarang?” sahutku tanpa berusaha mendekatkan diri padanya sambil melipat kedua lenganku di depan dada.


“Aku akan jadi 'anak' dari pedagang 'itu', kan?” Kareen melipat kedua lengannya di depan dada sambil memandangku, dan kuangguki dengan alis kananku yang ikut naik, heran. “Berikan aku kemampuan 'Peniru'. Itu akan sangat berguna nantinya.”


Ya, ya, dasar! Dia pikir aku pesuruhnya apa?!


“Oh, dan jangan cemas, Dewa Agung… kali ini, aku akan memberi kejutan dalam pertunjukannya.”


Aku tahu sedari awal bahwa Kareen bukanlah orang biasa, ia 'terlalu' mudah 'tenggelam'. Eh? Tapi, sekarang bila kupikirkan lagi. Aku merasa aneh, terkadang aku berpikir bahwa kemunculan bahaya-bahaya 'itu' tak ada dalam daftar hal yang kulakukan. Lalu, bagaimana bisa ada lebih banyak fenomena berbahaya yang tak direncanakan? Apa aku yang sudah terlalu tua sampai melupakan hal yang kulakukan? Ah, mungkin saja itu yang terjadi.


Larry Jackson, si Pak Tua keras kepala dengan cengiran yang disebut Kareen 'cengiran bodoh'. Ia bergabung dengan kami tak lama setelah Kareen kembali dengan akhir yang… yah, cukup indah. Larry dengan sifatnya yang mudah akrab, langsung menggaet Estella ke 'tim'-nya dan menggeser Kareen dari posisi semula.


“Well, Kare… kupikir kau harus mengalah pada yang lebih tua kali ini,” ucapku karena tak ingin ada 'noda' di 'kediaman' ini.


Kareen menatapku tajam, “Oh, maaf sekali. Aku bukan tipe pengalah, dan namaku 'Kareen' bukan 'Kari'. Aku bukan makanan, tahu'!” sahutnya dengan raut wajah kesal.


Baru saja aku ingin menenangkan Kareen yang merengut kesal, suara tertawa besar dan berat terdengar. “Hahaha… kalian tampak seperti pasangan suami-isteri yang sedang 'bertengkar. Oh, and by the way, Tuan Dewa menyebutnya 'Kare'. Kau tahu ketika huruf 'e' pada satu bahasa dibaca 'i' pada bahasa lainnya.” Larry menjelaskan dengan senyum girangnya, kemudian menceletuk, “Dan oh… kalian tampak cocok satu sama lain bahahaha… uumph…!”


“Diam kau…!” Ya, and here it is. Kareen membekap mulut Larry dengan tampang 'Iblis' yang siap menelan orang tua itu hidup-hidup.


“Okay, Kare, calm down… aku tahu dia sudah mati, tapi dia bisa saja mati lagi kalau kau perlakukan seperti itu,” ujarku dengan nada sedikit cemas. Itu sungguhan, orang yang sudah mati itu dapat mati lagi bila dibunuh, apalagi oleh si 'sadis' ini.


“Oh? Begitukah?” ujar Kareen sambil menyeringai dan siap-siap meremukkan rahang Larry. Poor Larry, semoga engkau tenang di alam sana.


Baka! Ia sudah di alam sana, mati pun akan kembali lagi. Tapi, tampaknya, Kareen sudah lebih tenang dengan 'balas dendam' yang ia lakukan tadi. Yah, Larry dapat hidup kembali kapan saja, lagipula, dia sudah mati. Estella berusaha menengahi Kareen dan Larry ketika pria tua itu sudah kembali, good job, Estella~


“Tapi, omong-omong, apa hanya akan seperti itu?” tanya Larry sambil menengok ke 'kolam kisah'. Kareen yang tadinya ingin merontokkan beberapa gigi menyilaukan dari mulut menyebalkan pria itu, kini ikut melihat ke arah yang sama. Mereka semua, melihat ke arah yang sama.


Kareen menegakkan punggungnya dan berkata dengan santai, “Yah, apa yang kamu harapkan dari 'pangeran' tak berguna macam itu?” Ia menunjuk sosok dalam 'kolam kisah' itu. Ia benar-benar bermaksud akan ucapannya itu. Apa yang kau harapkan dari pion kecil yang mudah digeser dan lenyap itu?


Estella memegang dagunya dengan raut wajah berusaha mencerna segalanya, “Tapi, Kareen, kupikir tujuan utamanya adalah membuatnya menjadi pemimpin yang berkualitas. Itu 'kan 'peran' kita?” tanyanya, kemudian menoleh ke arahku seolah meminta jawaban.


Mereka semua menatapku seolah aku adalah Yang Maha Tahu. Oke, dalam hal ini, aku yang cukup Maha Tahu. Tapi, mengapa kalian semua menatapku seolah ingin memangsaku, hah?! Terutama Kare itu, matanya seolah mau melumatku huhu…


Aku pasrah, “Ya, benar yang diucapkan Estella, itu tugas dari 'Estella' dan 'Ruvia' di sini.” Aku menghadap ke arah Larry dan menunjuknya singkat, “Dan kau… kau yang akan mencari mereka, bukan mereka yang mencari kau. Karena mereka takkan mengingat rincian apapun yang dibicarakan di sini.”


Larry hanya bisa tersenyum canggung, tapi, kemudian menepuk dadanya dan berkata, “Em! Serahkan padaku! Aku akan mencari para nona muda cantik ini segera setelah aku 'masuk'.”


Kareen tersenyum, “Kurasa aku harus diberi segel sebelum aku 'masuk', Dewa.” Perkataannya membuatku bingung, “Kenapa?” Kemudian, ia menjawab sambil bersandar padaku, “Karena aku tak ingin hilang 'lagi'.” Enam kata ini membuatku merasa kasihan padanya. Aku mengelus rambutnya pelan dan berkata, “Tenang, aku takkan membiarkanmu menghilang yet again, Kare.”


“Ehm… aku harap dapat memercayai kata-kata itu.”


Tenanglah, aku hanya memperlakukannya seperti anakku. Tak ada perasaan romansa, bila itu yang kalian harapkan. Yah, kalian boleh berharap sedikit, karena mungkin aku… takkan bisa lama tak jatuh padanya…